Aku melihat sebal Mas Dar yang berjalan santai sambil tertawa senang menuju ke ruang TV. "Mbak nemu dimana sih suami yang model Mas Aji? Baik banget romatis lagi," kata Hawa sambil memandangku penasaran. "Itu di kampus tempat kalian kuliah nanti, Mbak gak terima penolakan ya!" tegasku kepada keduanya. "Terima kasih Mbak!" tiba-tiba saja Hawa berdiri dari tempatnya duduk dan memelukku erat di susul dengan Adam. "Aku merasa bersalah sudah hampir menghajar suami Mbak itu," ucap Adam pelan. Aku dan Bunda yang mendengarnya hanya terkekeh pelan. "Besok minta maaf ya Dam," ujar Bunda. "Kalian anak-anak kesayangan Bunda," Bunda ikut bergabung memelukku hingga akhirnya kami saling peluk memeluk. Rasanya aku bersyukur masih dapat merasakan kasih sayang mereka walaupun harus di umurku yang sud

