10

1013 Kata
Pelayan toko menggeleng. "Maaf, kami tidak bisa membantu." "Oke." Setelah itu mereka keluar. Ketiganya berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi hasilnya sama. Sampai akhirnya mereka tiba di toko terakhir di kota itu. "Kami tidak memiliki stok. Pemerintah Belgia menarik semua energi andorid dari pasar," terang pelayan toko energi. Splash mendesah. "Baiklah, terima kasih atas informasinya." Baru mau keluar dari toko itu, pelayan toko menahan mereka. "Tunggu." Splash menoleh. "Ya?" Pelayan toko mengedarkan pandangan, memastikan tidsk ada orang lain di sekitarnya, lalu berkata dengan suara lirih, "Semua energi android disimpan di dalam gudang kepolisian Belgia." Splash terhenyak. "Dari mana kamu tahu?" "Ini rahasia. Tapi saudaraku yang bekerja di kepolisian yang bercerita," tukas pelayan toko itu. "Apakah saudaramu bisa menolong kami mendapatkannya?" Pelayan toko mencerna pikiran sejenak. "Maaf, terlalu berisiko. Aku tidak mau terjadi sesuatu demgan saudaraku. Tapi aku juga bisa memahami kesulitan kalian. Saranku kalian cari cara untuk dapat mengambilnya di gudang itu." Splash mengangguk. "Terima kasih." Splash, Orreo, dan Orange berjalan kembali ke penginapan. Perjalanan jauh yang ditempuh membuat cahaya Orreo dan Orange makin redup. Bukan persoalan mudah memutuskan mengambil energi di gudang militer. Apalagi melihat kondisi mereka sekarang. Ketika baru berbelok, mereka melihat belasan mobil polisi berjalan ke arah mereka. Mereka pun buru-buru bersembunyi. Ternyata itu merupakan pasukan kepolisian yang sedang membawa Cloud dan Milk. "Bagaimana mungkin?" Splash bergumam, "Ayo kita ikuti mereka." Ketiganya menguntit belasan mobil itu. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya para polisi itu membawa mereka masuk ke dalam markas kepolisian. "Profesor Reufille dan Milk dimasukkan ke ruang tahanan. Kita harus mencari cara membebaskan mereka." Splash menyelisik ke sekitarnya. "Tidak ada jalan masuk ke dalam ruang tahanan. Mungkin di bagian belakang area ini ada jalan masuk ke sana. Ayo!" Mereka mengendap-endap di bawah bayangan di antara bangunan-bangunan, dan mengitari area markas kepolisian. Ketika sampai di bagian belakang markas, Splash melihat sebuah bangunan. Beberapa petugas tampak hilir-mudik membawa tabung-tabung ke dalam bangunan itu. "Sepertinya di sana gudang." Splash mencerna pikiran sejenak. "Sebaiknya kita mengambil energi dan mengisi tenaga kalian sedikit. Aku khawatir ada yang menghadang kita ketika menyelamtkan Profesor Reufille dan Milk." Mereka pun mengitari gudang itu, sampai tiba dibelakang bangunan. Dilihatnya sebuah lubang di bagian atas gudang. Splash memberi aba-aba dan terbang ke lubang itu. Ternyata lubang itu merupakan lorong cerobong yang terdapat di gudang itu. Ketiganya merangkak perlahan-lahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara. Akhirnya mereka sampai di satu lubang berkisi-kisi yang dapat melihat bagian bawahnya. Mereka mengamati sesaat dari sana. Tabung-tabung energi menumpuk di sana. Beberapa petugas polisi pun terlihat sedang menjaga gudang itu. "Orreo, bisakah kamu mencari saklar gedung ini dan memadamkannya?" tanya Splash. "Tentu," jawab Orreo dari kotaknya. "Berhati-hatilah. Jangan sampai ada yang melihatmu." Orreo merangkak ke luar, dan meninggalkan kedua temannya di sana. Tak lama kemudian lampu padam. "Hei! Kenapa tiba-tiba lampu mati?" tanya salah seorang polisi. "Sepertinya tegangannya terlalu tinggi. Sebentar, biar aku menyalakannya kembali," jawab polisi lain seraya berjalan ke luar gudang. Polisi itu berjalan ke belakang gudang. Tepat di saat ia mau menyalakan saklar, Orreo memukulnya dari belakang dan membuatnya tidak sadarkan diri. Sementara itu di dalam lorong, Splash dan Orange masih mengamati keadaan di bawah. "Ayo, Orange." Lengan Orange manyalak dan menghancurkan kisi-kisi. Sontak, polisi-polisi di sana terkejut. Namun, belum sempat mereka menyalakan sirene, Splash menembakkan listrik kejut dan membuat mereka pingsan. "Orreo. Sudah, aman. Kamu bisa ke sini dan mengisi tenaga sebentar," tukas Splash melalui alat komunikasi, "kita hanya punya waktu sebentar." Detik demi detik berganti, menit pun berlalu cepat. Orreo dan Orange masih mengisi energi di dua tabung yang ada di sana. Energi mereka meningkat hanya dua puluh persen, sehingga total energi mereka sekitar lima puluh persen. "Kurasa sudah cu—" "Kenapa lampu gudang padam?" "Ayo kita periksa." Suara-suara itu menginterupsi Splash yang segera bersembunyi. Ketika dua polisi itu masuk ke dalam, Splash melesatkan listrik kejut. Hanya seorang yang berhasil dilumpuhan sementara tembakan lainnya meleset. Melihat adanya bahaya, polisi itu segera menyalakan sirene. "Sial!" Splash menekan tombol hologram dan membuka pintu tabung. "Orreo, Orange! Bersiap-siaplah!" Benar saja dugaan Splash, selang beberapa saat kemudian, puluhan polisi menyeruak ke dalam gudang. Ketiganya pun terkepung. Tidaka ada ruang bagi mereka untuk lari dari sana. "Hah! Lihat ini! Rupanya mereka datang mau menyelamatkan dua tawanan lain." Suara itu berasal dari belakang pasukan polisi. Tak lama kemudian ia menyeruak di antara kerumunan. Ia adalah seorang laki-laki berbadan tinggi dan kekar. Laki-laki itu berambut pendek dam pirang. Wajahnya persegi yang membingkai hidung yang bengkok kebawah, alis tipis, mata zamrud dan sipit, serta rahang yang kukuh. Ia mengenakan pakaian lengan buntung dan celana tentara. Di sampingnya ialah sebuah android berbentuk persegi. Warnanya abu-abu gelap—nyaris hitam. Di antara sikunya agak renggang, dan terpancar cahaya hijau dari bagian dalam. Jika melihat wujudnya, ia lebih kirip golem, tetapi kepala dan badannya menyatu. Pasangan itu merupakan salah satu yang terbaik di militer Belgia. Mereka bernama CubeBrick. Pria bernama Brick terkekeh. "Akan aku antar kalian pulang ke negera kalian. Tapi sebelumnya aku ingin bermain-main." Brick mengusap-usap tinjunya seraya menyeringai dan menatap tajam ke arah Splash, Orreo, dan Orange. Kendati tahu keadaan mereka terdesak, Splash tidak mau menunjukkannya. Ia berusaha menggertak lawan, "Kalian belum tahu siapa kami." Brick tergelak keras. "Tidak tahu siapa kalian?! Hah! Kalian adalah orang-orang pengecut! Kalau tidak, tentu saja kalian tidak melarikan diri!" Sudut bibir Splash setengah terpantik, menunjukkan setengah seringai. "Kami bukan melarikan diri. Tapi kami akan menghajar kalian perlahan-lahan." "Ah, benarkah? Aku tidak suka basa-basi. Kalau kamu bukan pembual, tunjukkan kemampuanmu, Splash!" Bersamaan dengan usainya kata-kata itu, Brick dan Cube menerjang ke arah Splash dan kawan-kawan. Tinju-tinju Brick merangsek dari segala arah. Sedangkan Cube berputar seperu gasing ke arah ketiga lawannya. Para polisi pun tidak tinggal diam. Mereka memberondong Splash dan kawan-kawan. Orange yang sudah bersiap-siap, segara berputar. Tak lama kemudian muncul cahaya yang berpendar dan menyelubungi dirinya dan kedua temannya. Serangan lawan-lawan mereka terhalang perisai cahaya. Alih-alih surut, Brick mengangkat tinjunya tinggi-tinggi. "Tahukan kalian kenapa aku disebut Brick?" Brick mengayunkan tinjunya ke perisai cahaya dengan keras, sehingga membuat perisai itu retak. "Karena aku bisa menghancurkan lawan semudah menghancurkan bata-bata yang rapuh!" Tinjunya kembali mendera perisai cahaya dan membuatnya hancur berkeping-keping. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN