11

1008 Kata
Begitu perisai hancur, Splash dan kawan-kawan langsung merangsek ke arah CubeBrick. Serangan itu begitu cepat, dan membuat CubeBrick tidak sempat berkelit. "Orange!" teriak Splash. Splash segera masuk ketika pintu Orange terbuka. "Thunder Bolt!" Orange berkelebat secepat kilat. Pukulannya mendera Brick, bersamaan dengan tembakan Orreo. Blar! Serangan keduanya menimbulkan ledakan dan membuat lantai hancur; debu-debu berhamburan dan memenuhi udara; seluruhbarea berguncang hebat. Sementara itu di tempat lain, tepatnya di ruangan Cloud dan Milk disekap. Keduanya terikat dengan laser. Laser itu membuat mereka tenaga mereka melemah. Guncangan itu membuat keduanya terkejut. "Apa yang terjadi?" Milk terlihat panik. Cloud menggeleng. "Entah." "Hei, siapa itu, Cloud?" Milk melemparkan pandangan ke arah pintu. Tampak seseorang berpakaian zirah serba hitam masuk ke dalam dan bergegas mendekati mereka. Orang itu berambut pirang. Wajahnya tirus dan membingkai sepasang mata sipit, alis tebal, hidung pipih, dan jenggot yang menghiasi dagunya. Tak lama kemudian lima orang berpakaian sama dan enam android ikut masuk ke dalam. Salah satu di antara android itu berbentuk manusia. Tubuhnya setinggi tiga meter dan kurus. Rambutnya merah. Dia mengenakan jubah hitam sampai menyentuh lantai. Orang itu melepaskan tembakan ke gelang besi yang mengeluarkan ikatan laser dan menghancurkannya. "Profesor Cloud, Profesor Milk, kalian sudah bisa pergi," tukas laki-laki itu. "Terima kasih. Siapakah Saudara? Kenapa menolong kami?" tanya Cloud, bertubi-tubi. "Aku Sand. Nanti akan aki ceritakan semuanya. Ikutlah bersama pasukanku keluar dari sini. Biar aku yang menolong teman kalian." Cloud dan Milk tersentak. "Maksudmu seorang perempuan dan dua android?" tanya Cloud. Sand mengangguk. "Mereka datang untuk menyelamatkan kalian, tetapi ketahuan dan sekarang sedang dikepung polisi Belgia di dalam gudang. Kalau tidak segera ditolong, aku khawatir mereka tertangkap." "Tidak. Aku harus ikut. Mereka datang untuk menyelamatkan kami. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka," tegas Milk. Cloud mengangguk setuju. "Aku juga." Sand memandang keduanya bergantian. Dari sorot mata Cloud dan Milk, Samd tahu kalau keduanya kukuh dengan pendirian mereka. "Baiklah. Kalau begitu kita selamatkan mereka bersama." Pandangan Sand beralih pada lima orang pasukannya. Kalian beritahu pasukan di luar untuk membuat kekacauan di area ini, biar kami yang masuk ke dalam gudang." "Siap, Kolonel!" "Wich, ikutlah bersamaku," perintah Sand pada android berambut merah dan dijawab dengan anggukan. Setelah itu mereka keluar dari tempat penyekapan. Cloud, Milk dan SandWich melintasi jalan, menuju gudang. Ketika mereka sedang berlari, tiba-tiba terdengar ledakan di beberapa bangunan di area itu. Clud dan Milk menoleh ke sekitar. Beberapa bangunan dilahap api yang berkobar-kobar; sirene meraung-raung di seantero area; ratusan pakaian berpakaian hitam terlihat sedang melakukan pengerusakan di sana-sini. Tak lama kemudian polisi-polisi keluar dan berusaha menghadang orang-orang berpakaian hitam dan terjadi bentrokan di antara kedua belah pihak. Di dalam gudang, Splash dan kawan-kawan masih bertarung sengit. Rupanya serangan mereka berhasil dihindari CubeBrick dengan sempurna. Kini CubeBrick berhasil mendesak Splash. Seandainya Orange dan Orreo dalam kondisi maksimal, tentu pertarungan tidak akan berat sebelah. Brick menatap marah pada Splash dan kawan-kawan. "Sepertinya kalian mendapatkan bala bantuan. Percuma, pasukanku akan menghancurkan mereka. Tapi kalian juga tidak akan lolos dariku." Bersamaan dengan itu, Cube dan Brick menghambur ke arah ketiga lawannya. Meskipun mereka bertubuh besar, kecepatan mereka sangat luar biasa. Bahkan hampir menyamai kecepatan Orange jika dalam kondisi maksimal. Tinju-tinju Brick merangsek dari berbagai arah dan terlihat bagai ratusan tinju. Sedangkan Cube melemparkan kotak-kotak bom ke arah Splash dan kawan-kawan. Orange dan Orreo berusah payah berkelit sambil menepis serangan-serangan itu. Walaupun dapat terhindar, serangan yang datang bertubi-tubi membuat mereka kepayahan. Kalau kondisi seperti itu dibiarkan, hanya masalah waktu mereka menjadi korban serangan CubeBrick. Melihat lawan-lawannya kewalahan tergelaklah Brick karena merasa jemawa. "Sebentar lagi kalian tidaknakan bisa bertahan. Bersiaplah menerima seranganku!" Brick memukul lantai keras-keras hingga terjadi guncangan berkekuatan 8 richter. Guncangan itu bagaikan gempa, membuat Orange dan Orreo oleng, tak kukuh berpijak. Tepat pada saat itu Cube melontarkan ratusan kotak-kotak kecil yang melesat cepat ke arah Orange dan Orreo. Boom! Ledakan itu mengguncang seluruh area. Lantai berserakan, bahkan sebagiannya menjadi serpihan. Debu tebal menutupi pandangan. Brick tertawa keras, merasa kemenangan telah diraihnya. Tatkala debu memudar, ia dikejutkan dengan tiga sosok lain di hadapannya. "Kalian ...." Brick menatap ketiganya. Di hadapannya telah berdiri Cloud, Milk, dan Sand. Sand mengeluarkan pasir yang melindungi mereka dari serangan itu. "Jangan pikir kami akan membiarkanmu," tukas Cloud, menyeringai. "Jangan banyak bicara!" CubeBrick kembali menerjang. Namun, Cloud dan kawan-kawan telah siap menyambut. Mereka menyerang CubeBrick dengan serentak. Cloud, Orreo, dan Milk melepaskan bola energi ke arah Brick; Orange menerjang Cube dengan pukulan-pukulannya. CubeBrick tidak bisa berkutik karena Sand mengikat mereka dengan pasir. Blar! Serangan itu membuat CubeBrick terlontar jauh dan terhempas dengan keras. Cube seketika itu berhenti berfungsi; serangan dahsyat yang menderanya membuat mesinnya lumpuh. Sementara itu Brick mencoba bangkit, tetapi sedetik kemudian ia limbung, sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. "Terima kasih sudah menolong kami," tukas Splash dari dalam ruang kendali, lantas mengalihkan pandangan ke arah Sand. "Bukankah Anda ...." Ya, ternyata Sand adalah penjual di toko energi yang tadi memberitahu lokasi penyimpanan energi padanya. Sand tersenyum. "Aku berjanji akan menceritakan semuanya nanti. Sekarang yang paling penting, kita harus membantu teman-temanku di luar." Cloud mengangguk. "Tentu saja." Mereka pun keluar dari dalam gudang. Kekacauan di luar masih berlangsung. Pertempuran polisi dan pasukan Sand berlangsung sengit. Korban dari kedua belah pihak sudah berjatuhan. Namun, bantuan Cloud dan kawan-kawan berhasil memukul polisi. Sebagian di antara mereka terluka; sebagian lainnya tewas;juga ada yang melarikan diri. Setelah semuanya reda, Sand memerintahkan anak buahnya untuk mengangkut tabung-tabung energi dari dalam gudang. "Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu, Sand," tukas Cloud. Sand mengangguk. "Tujuan kita sama. Aku berbuat ini bukan sekadar menolong kalian. Ayo ikut aku. Aku masih ada utang untuk menceritakan semuanya pada kalian." Sesaat kemudian Cloud dan kawan-kawan melesat, mengikuti Sand dari belakang. Mereka terbang cepat ke arah utara. Kendati berhasil selamat, bukan berarti semuanya telah usai. Bisa jadi bala bantuan kepolisian akan segera datang. Karena itulah mereka bergegas pergi dari markas kepolisian. Sama seperti kejadian di Kota Nice, kejadian barusan menyebar cepat dan menjadi pemberitaan di mana-mana. Bedanya, pemerintah Belgia yang semula sekadar membantu, kini dibuat benar-benar geram. Cloud dan kawan-kawan dinyatakan sebagai musuh pemerintah Belgia. Namun, mereka tahu, cepat atau lambat, antek-antek Prancis akan menjadi musuh mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN