12

1034 Kata
Di pinggir Kota Mons, terdapat hutan belantara. Di dalamnya terdapat pemukiman sederhana. Rumah-rumah kecil berbentuk kubus berjajar. Rumah-rumah itu hanya berjumlah sekitar lima puluh rumah. Di antara rumah-rumah itu terdapat satu rumah yang sama sederhananya tetapi di depannya berdiri bendera hitam yang bergambar tangan menggenggam bintang. Cloud dan kawan-kawan berada dijamu pemilik rumah itu yang tidak lain adalah Sand. "Jadi Anda adalah pemimpin Liberte?" tanya Milk, setelah melihat bendera di depan rumah. Liberte merupakan salah satu pemberontak pemerintah Belgia. Mereka juga merupakan sekutu pemberontak terbesar di Prancis yang bernama Bannière Rouge. Kedua kelompok itu memiliki motif yang sama untuk menggulingkan tirani Belgia dan Prancis, yang mana kedua negara tersebut sering kali bekerjasama dalam berbagai bidang. Kedua pemerintahan itu juga bekerjasama untuk menumpas para pemberontak. Cloud dan kawan-kawan tidak pernah menyangka dapat bertemu dengan pemimpin kelompok itu, apalagi sampai diselamatkan. Sand mengangguk seraya tersenyum. "Benar." "Tapi bagaimana bisa Anda akhirnya menyelamatkan kami?" tanya Splash. "Maafkan aku tidak berkata jujur dari awal, Splash. Aku terpaksa memanfaatkan kalian untuk menarik perhatian mereka. Kalau tidak seperti itu, kami sulit membebaskan Profesor Reufille dam Profesor Milk," ungkap Sand. Kendati merasa kesal, Splash akhirnya bisa memahami alasan itu. Lagi pula kalau tanpa bantuan Sand, mungkin mereka tidak bisa selamat. "Kami beruntung bisa bertemu dengan kalian," lanjut Sand. "Harusnya kami yang berkata begitu. Kalau bukan karena Anda—" "Tidak perlu terlalu formal denganku, Profesor Reufille," sergah Sand. Cloud tersenyum. "Ah, kalau begitu panggil saja aku 'Cloud', maka aku juga tidak akan formal." Sand mengangguk repetitif. "Baiklah, Cloud. Oh, iya kalau aku boleh tahu apa tujuan kalian ke Belgia? Mungkin aku bisa membantu." "Kami ingin membangkitkan Sodda, dan membutuhkan Volenthium. Kami dengar Volenthium dijual di pasar gelap Kota Ath. Benarkah?" Sand berpikir sejenak. "Entahlah. Volenthium merupakan bahan yang sangat langka. Tapi bisa saja di Kota Ath ada yang menjualnya. Kenapa harus menggunakan Volenthium?" "Sodda merupakan kreasi terakhirku dan yang paling ungguk di antara temuan-temuanku. Aku menggunakan Volenthium karena bahan itu sangat kuat, dan yang terbaik. Selain itu ada efek lain dari Vo ..., ah, lupakan." Sand memandang Cloud, berusaha mengajuk kata-kata yang tak jadi diucapkan. Namun, tidak bijak kalau ia memaksa supaya Cloud menceritakannya. "Aku memang tidak tahu. Tapi kami bisa membantumu," tukas Sand. "Membantu?" Sand mengangguk. "Kalau mau ke Kota Ath menempuh jalur biasa, tenti sangat berisiko bertemu dengan polisi. Kami tahu jalur lain yang aman dari polisi. Namun, jalur itu berbahaya." "Maksudmu berbahaya?" tanya Milk. "Kalian harus melewati hutan Manrove. Hutan itu adalah labirin. Jika tidak tahu, kalian akan tersesat di sana," terang Sand, "jangan khawatir, orang kepercayaanku akan menemani kalian." "Terima kasih, Sand. Tapi kami tidak bisa segera berangkat. Energi kami habis," tukas Sodda. "Silakan, Kawan-Kawan. Aku senang kalau kalian beristirahat di rumah sederhanaku ini. Kalian bisa menggunakan tabung energi yang tadi diambil dari markas kepolisian," ujar Sand. "Apakah keberadaan kami di sini akan terlacak polisi?" tanya Splash, khawatir. Sand tersenyum. "Kalau mereka dapat melacak, sudah dari dulu kami tertangkap. Tenanglah. Pasukanku selalu menjaga di setiap titik hutan ini." "Baiklah." Setelah itu Sand mempersilakan mereka ke kamar untuk beristirahat. *** Kejadian di Kota Mons membuat para petinggi dua negara bertemu. Presiden Storm dan jajarannya bertemu dengan Perdana Menteri Salad beserta para menterinya di istana negara Prancis. Pertemuan itu merupakan pertemuan darurat. Kedua belah pihak merupakan sekutu yang paling dekat baik dari ideologi serta kebijakannya, meskipun memiliki bentuk pemerintahan yang berbeda. "Selamat datang, Sahabatku." Presiden Storm memeluk Perdana Menteri Salad. "Silakan duduk." Para tamu dari Belgia itu pun duduk di meja bundar yang megah. "Anda selalu menyambut kami dengan baik," tukas Perdana Menteri Salad. Presiden Storm terssenyum. "Tentu saja. Ah, tapi aku merasa tidak enak hati karena warga negaraku berbuat onar di negara Anda." Perdana Menteri menggeleng samar. "Tidak, Presiden. Di setiap negara pasti selalu ada yang berbuat onar. Hanya kebetulan saja pembuat onar itu datang ke negara kami." "Tidak bisa seperti itu, Sahabatku. Aku ingin para pembuat onar itu segera ditangkap. Kalau perlu kita menyatukan pasukan elit kita untuk menangkap mereka." Bibir Perdana Menteri Salad melengkung membentuk senyuman. "Sebenarnya itulah maksud kedatangan kami ke sini." Presiden Storm mengangguk repetitif. "Kalau begitu mari kita bahas cara menangkap mereka." "Presiden. Aku yakin mereka datang ke Belgia karena suatu tujuan. Tidak mungkin mereka datang untuk meminta suaka, pasalnya mereka pasti tahu kedekatan kita," ujar Perdana Menteri Salad. Presiden Storm mengangguk setuju. "Aku pun berpikir begitu. Tapi apa kira-kira yang tujuan mereka sebenarnya?" Semua hadirin terdiam seraya berpikir, tetapi tiba-tiba Wind mengangkat tangan. "Wind." Presiden Storm mempersilakan Wind menyampaikan pendapatnya. "Terima kasih, Presiden Storm. Beberapa jam sebelum Sodda hancur, kami melakukan penelitian. Kami menemukan ada materi langka yang terdapat di tubuhnya. Selain itu, pada saat mereka telah meninggalkan tempat daur ulang, kami juga melakukan pengecekan terhadap besi-besi daur ulang dan tidak menemukan badan Sodda di sana," terang Wind. "Jadi maksudmu?" tanya Presiden Storm. "Presiden. Dugaan kami Profesor Reufille berniat merakit ulang Sodda, tetapi ia masih memerlukan bahan langka itu. Barang langka tersebut merupakan Volenthium. Menurut kabar yang beredar, di pasar gelap Kota Ath, ada pedagang yang menjual Volenthium." Wind mengungkapkan. Perdana Menteri Salad segera menimpali, "Biar aku perintahkan anak buahku menjaga Kota Ath." "Tunggu ..., menurutku janggal ...." "Janggal?" Presiden Storm mengangguk. "Kalau ia merakit ulang Sodda, tidak bisa dikatakan itu merupakan android yang sama. Pasalnya, memori Sodda sudah disimpan di dalam Bank Memori. Bisa jadi wujudnya serupa, tetapi jati dirinya tetap bukan Sodda. Bukan begitu, Wind?" Wind berpikir beberapa saat, lalu mengangguk. "Ah, bodohnya aku. Kenapa hal seperti itu terlewatkan?!" "Lantas apa tujuannya mencari Volenthium?" tanya Perdana Menteri Salad. "Yang pasti ia ingin menggunakan Volenthium di badan Sodda. Meskipun kita todak tahu tujuan yang sebenarnya," tukas Presiden Storm. "Presiden!" Jendral Volt mengangkat tangan dan dijawab dengan anggukan Presiden Storm. "Menurutku, apa pun tujuannya kita tidak perlu pusingkan, kalau kita dapat menangkapnya semua rencananya akan sia-sia." Presiden Storm mengangguk. "Kamu benar. Baiklah aku akan mengirim pasukan elit untuk membantu kepolisian Belgia." "Itu akan sangat membantu kami, Kawanku," ujar Perdana Menteri Salad. "Presiden izinkan aku mengirim Kolonel Beef untuk memimpin pasukan elit," usul Jendral Volt. "Alasannya?" "Para pasukan elit memiliki ego tinggi. Mereka tidak mau dipimpin rekannya. Karena itulah kita perlu mengirim salah satu pemimpin tinggi yang disegani. Menurutku, Kolonel Beef merupakan orang yang tepat." Presiden mengangguk setuju. "Berangkatkan mereka segera, Volt." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN