3

1127 Kata
Tiba-tiba Cloud terhenyak mendengar pintu terbuka. Dilihatnya Sodda baru saja masuk. Tatapan mereka bertemu, seakan-akan sedang menyelami kesedihan masing-masing. Hanya sebentar, karena berikutnya Sodda memaksa ujung bibirnya terangkat tinggi. "Selamat siang!" Soda berseru riang, berusaha menutupi deritan mesin di dadanya. "Mana perempuan menyebalkan itu?" Cloud tak mendengar pertanyaan itu. Ia termenung memandang lantai. Sodda tersungging, kemudian mengendap-endap ke belakang Cloud. "Woaaa!" "Hiyaaaaaa!" Saking terkejutnya Cloud hampir tersungkur kalau saja Sodda tidak lekas menariknya. Sodda terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. "Hahaha! Itulah akibatnya kalau melamun!" Suasana hati Cloud tengah mendung; emosinya mudah tersulut; dadanya kembang-kempis. "Tidak tahukah kalau aku sedang memikirkan keselamatanmu yang terancam menjadi besi rongsokan?!" Suasana mendadak hening. Cloud baru sadar telah melontarkan kata-kata yang seharusnya masih tersimpan rapat. "Maaf..., bukan maksudku...." "Aku sudah mendengarnya di televisi." Sodda berkata lirih. Ia menunduk. Roda-roda gigi di dalam dadanya berderit pelan. Dari ujung matanya mengalir cairan yang membasahi pipi. "Android sepertiku lambat laun akan berkarat, tererosi, dan melebur bersama tumpukan besi-besi rongsok. Itulah proses alami yang harus kulalui. Jadi, sekarang atau nanti, sama saja bagi—" "Tidak!" Cloud berseru, membuat Sodda tersentak. "Apa maksudmu?" "Sodda, kupastikan mereka tidak bisa membawamu." Cloud berkata penuh keyakinan. "Tidak mungkin kita sanggup melawan. Sudahlah, memang semestinya mereka membawa—" "Memang kita tidak mampu melawan, tetapi kita bisa melarikan diri." Cloud kembali menginterupsi. Sodda menghela udara. "Kamu benar-benar sudah gila." Cloud memegang kedua pundak Sodda dan menatapnya lekat-lekat. "Percayakan semua padaku." Sodda menatap mata Cloud, mencoba menyelami kesungguhannya. Beberapa detik kemudian ia mengangguk. "Kapan kita berangkat?" "Sekarang." Kursi Cloud melayang menuju kamar. "Bantu aku menyiapkan barang-barang seperlunya." "Baiklah." Baru saja Sodda beranjak, tiba-tiba terdengar suara bel. Sodda dan Cloud bertukar pandang sesaat. Mendadak kecemasan pun menyeruak. "Biar kita lihat di layar." Sodda bergegas ke pintu, lantas menyalakan layar hologram pada dinding di sebelah pintu. Pada layar hologram dapat terlihat empat orang berpakaian serba perak berdiri di depan pintu. "Siapa?" tanya Cloud dari microphone di kursinya. "Kami Steel Stove. Tim bentukan pemerintah untuk menjemput android 50DD4!" Sodda dan Cloud terkejut. Mereka tidak menyangka tim penjemput datang lebih cepat dari jadwal yang sudah ditetapkan. Cloud tertegun, merasa janggal dengan kedatangan mereka. "Tuan Reufille, kami harap Anda kooperatif, atau kami akan memaksa masuk!" "Tunggu sebentar!" Cloud melambai pada Sodda. "Sodda." "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sodda cemas. "Kita harus melompat dari jendela belakang." "Kamu pikir kita di lantai dasar?! Ini lantai tiga puluh! Dan kita tidak memiliki sayap!" protes Sodda. "Dengar kalau ka—" "Jika Anda tidak segera membuka pintu, kami akan memaksa masuk! Di akhir hitungan mundur Anda harus sudah membuka pintu! Tiga... dua...." Steel Stove berteriak. Cloud buru-buru menarik tangan Sodda. "Kita sudah tidak ada waktu lagi. Ayo!" "Satu...." Pintu membentur dinding dengan keras. Empat orang berpakaian perak menyeruak masuk. Mereka menodongkan pistol laser ke arah Cloud dan Sodda. "Monsieur, Anda tidak mau kooperatif, karena itu ikutlah bersama kami!" Pemimpin Steel Stove yang memakai lencana, berseru pada Cloud dan Sodda yang sudah berada di dekat jendela. Cloud memberi setengah-seringai. "Jangan harap!" Tangannya mengusap layar pada lengan kursi dan langsung melesat menerobos jendela. "Sodda! Cepat lompat!" "Bagaimana caranya?" "Renggangkan semua jari tanganmu!" teriak Cloud yang terbang menjauh. "O-oke...." Sodda memandang ke bawah. Roda-roda gigi bergesekan cepat. "Cepat menyerah!" "Lebih baik remuk daripada tertangkap!" Sodda berlari, sambil merenggangkan jari-jarinya. Tak lama kemudian, muncul sayap besi di punggungnya. "Cloud, mestinya kamu memberitahuku sejak dulu! Wuhuuu! Tunggu aku!" Cloud dan Sodda melesat di udara, meninggalkan Steel Stove yang memandang geram. *** Cuaca dingin tak menghalangi orang-orang berlalu-lalang di Plaza Kota. Mereka memadati jalanan yang sebagian tertutup salju tebal. Cloud dan Sodda tampak sedang melintas di antara orang-orang di sana. "Kenapa kita tidak terbang saja?" "Kita sudah menggunakan banyak energi untuk ke sini. Kalau dipaksakan, aku khawatir kehabisan energi saat di udara. Lagi pula sebentar lagi kita sampai." Asap putih menguar dari mulut Cloud yang pucat. "Apakah kamu kedinginan?" "Cuaca ini membuatku hampir beku," keluh Cloud, sembari merapatkan mantel. "Tidak apa-apa. Sesampainya di tempat Summer aku akan memintanya menyalakan heater." "Tapi kenapa harus menemuinya?" "Ada yang mau kutanyakan, sekaligus meminta bantuannya," jawab Cloud, sembari mengusap layar dan membuat kursi berbelok ke kanan. "Aku pikir ia justru akan membawa masalah." Mata Sodda berputar, seraya menghela udara. Cloud tersenyum. "Rupanya cuaca memengaruhi mesinmu, sampai kamu tidak bisa berpikir positif." "Ya, ya, ya..., terserah apa katamu. Tapi tetap tidak mengubah pendapatku." Ketika berpapasan dengan orang-orang di jalan, Sodda merasa ada kejanggalan. "Cloud, apakah kamu merasa kalau mereka memperhatikan kita?" "Kamu berlebihan Sodda. Kalau ada waktu, aku akan memeriksa mesinmu. Mungkin cuaca dingin membuat kering roda-roda giginya." Cloud dan Sodda berjalan hingga tiba di jalanan yang penuh sesak oleh orang-orang yang menyaksikan siaran pada layar hologram raksasa. Mereka memadati jalanan seperti antrean yang panjang. Cloud dan Sodda berusaha menerobos kerumunan itu. "Kenapa kita harus melewati kerumunan ini?" keluh Sodda. "Apartemen Summer ada di ujung jalan. Jadi, mau tidak mau kita harus melewati mereka." Alih-alih mendengarkan Cloud, siaran pada layar hologram raksasa menarik perhatian Sodda. "Cloud lihat itu...." Cloud mendongak, menyaksikan siaran berita yang diputar saat itu. "Berikut ini adalah daftar pencarian orang-orang yang melawan kebijakan peraturan baru: Orange dan 5PL45H, Milk dan 0RR30, serta...." Sodda dan Cloud saling bertukar pandang. "Cloud, dan 50DD4...." "Oh, tidak...." Mata Sodda membulat, menyaksikan layar di hadapannya. "Bagi yang dapat menangkap Orange, 5PL45H, Milk, dan 0RR30 akan mendapatkan 10.000 Bucky. Sedangkan untuk Cloud, dan 50DD4, akan mendapatkan 25.000 Bucky!" "Sodda, ayo kita bergegas dari sini." Baru saja Cloud selesai berbicara, tiba-tiba pandangan beberapa orang terpaku ke arah mereka. "Hei! Mereka buronan senilai 25.000 Bucky!" Pria berbadan besar berseru. "Ayo!" Sodda menarik kursi Cloud, dan membawanya berlari. Orang-orang mengejar mereka dari belakang. Lama-lama jumlah mereka makin bertambah. Kini bukan hanya manusia, para android pun turut mengejar. Sodda berusaha berlari semampunya sambil membawa Cloud. "Hei! Tidak perlu menyeret! Kursi ini bisa melesat—" Tiba-tiba sinar laser menghunjam kursi difabel, hingga Cloud terlempar di udara. "Waaaa!" Sodda melompat, sambil merentangkan tangan ke depan. "Gotcha!" "Terima kasih...," ucap Cloud, sambil mengusap-usap dadanya. "Hampir sa—iiik!" Sinar laser melesat dan menggores lengan Sodda. Ia menoleh ke belakang, dan melihat beberapa polisi mengarahkan pistol. "Ada polisi yang mengejar!" "Berhenti!" Salah seorang polisi berteriak. "Cepat itu apartemennya!" Cloud menunjuk apartemen titanium di sebelah kiri. "Tidak mungkin! Kalau mereka mengejar ke sana, kita terjepit!" "Lalu?" "Terbang!" Sodda melompat sembari merentangkan jemarinya, lalu muncul sayap besi yang mengepak cepat. "Yeaaa! Mereka tidak bisa mengejar kita!" Sodda berbelok ke kanan, dan melesat dengan kecepatan tinggi. "Kamu sudah gila! Sudah kukatakan energimu akan habis, So—waaa!" Sayap-sayap Sodda berhenti mengepak. Mereka pun meluncur deras ke bawah. Belum sempat menghunjam tanah, tiba-tiba ada yang berkelebat dan membawa mereka terbang. Sodda dan Cloud terkejut melihat android bertubuh kaleng rongsok membawa mereka melesat. "Kamu siapa?" Tulisan di dalam kotak hologram di dadanya berganti. "Aku Orreo." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN