Cloud dan Sodda berada di udara. Tubuh mereka terlilit tali besi yang menjuntai dari punggung Orreo. Tak lama kemudian, Orreo menurunkan kecepatan dan melayang rendah. Cloud dan Sodda bertukar pandang. Mereka tidak tahu tempat yang dituju android kaleng tersebut.
"Kami dibawa ke mana?" tanya Sodda.
Tulisan digital dalam kotak di d**a Orreo bergerak. "Kita sudah sampai."
Cloud menunduk. Dilihatnya besi-besi tua menggunung di atas tanah yang tandus. Tempat itu adalah lokasi pembuangan sampah yang berada di pinggir Kota Paris.
"Terre D'ordure (Daratan Sampah)," gumam Cloud.
Orreo mengurangi kecepatan, lalu mendarat di depan tumpukan kaleng. Ia melepaskan tali besi yang melilit Cloud dan Sodda. Keduanya pun memandang tumpukan kaleng di hadapan mereka. Jika dilihat sepintas, tidak ada yang yang menyadari kalau itu adalah sebuah rumah. Sebenarnya kalau diperhatikan dengan teliti, terdapat garis pintu dan jendela pada ketiga sisinya.
"Milk menunggu kalian di dalam." Orreo memberitahu melalui kotak digital.
"Cloud...."
"Mereka juga buruan pemerintah. Tampaknya kita di pihak yang sama. Tak perlu khawatir, Sodda."
Soda mengangguk, kemudian menggendong Cloud. "Semoga dugaanmu benar," tukasnya, sembari berjalan memasuki rumah kaleng.
Setibanya di dalam, pandangan Sodda menyapu sekeliling. Ruangan di dalam tampak luas, tak seperti penampilan dari luar. Meja panjang menempel di sepanjang kedua sisi dinding, sementara pada satu dinding lain terdapat tabung setinggi dua meter yang berdiri miring. Besi-besi tua rongsok bertebaran di lantai, dan sebagiannya di atas meja. Pandangan Soda berhenti pada seseorang yang duduk menghadap layar hologram, memunggungi mereka.
"Kemarilah," ujar orang tersebut.
Soda berjalan menghampiri sampai tiba di belakang orang itu.
"Apakah Anda Milk?" tanya Cloud.
Kursi orang tersebut berputar, hingga akhirnya sosoknya terlihat. Ia adalah pria berumur lima puluhan tahun. Rambutnya perak dan berantakan. Wajahnya tirus, dengan mata bulat kecil; hidung pesek dan lebar; serta kumisnya berwarna perak dan lebat yang menutupi bibirnya. Ia tersenyum ramah menyambut Cloud dan Soda.
"Kamu...." Cloud terkejut melihat sosok di hadapannya.
"Apa kabar, Profesor Cloud Reufille?" sapanya.
"Bread...."
"Aku senang kalau kamu masih mengingatku. Tapi itu namaku yang dulu. Sekarang aku sudah berganti nama menjadi Milk." Milk mengusap layar di lengan kursi. Tak lama kemudian, sebuah kursi melayang dan berhenti di samping Cloud. "Duduklah, Profesor."
Soda membantu Cloud duduk di kursi tersebut. Meskipun terbuat dari kaleng rongsok, kursi itu jauh lebih baik ketimbang merasa pegal dalam gendongan Sodda.
"Bagaimana akhirnya kamu bisa...." Cloud tak meneruskan pertanyaannya.
"Berada di sini?" Milk tersenyum, melirik Soda. "Setelah berhasil selamat dari insiden di Rêver Laboratory, aku berpikir ada kejanggalan dari insiden tersebut. Karena sebelum kejadian, aku yang bertugas memeriksa seluruh komponen, dan semuanya sempurna. Akhirnya aku menyelidiki kejadian itu, dan menemukan ada yang menyabotase kabel pengantar daya energi ke tabung kapsul. Rupanya upayaku diketahui, lantas aku pun diburu. Tapi aku berhasil melarikan diri. Di sinilah aku sekarang, dengan identitas baruku. Sayang, sekarang aku tidak bisa menyembunyikan identitasku yang lama. Sehingga 'Milk dan Orreo' menjadi buruan pemerintah. Untungnya mereka belum berhasil melacak keberadaanku."
"Lalu siapa yang menyabotase?"
Milk menggeleng. "Aku belum berhasil mengungkapnya. Namun, aku yakin semua itu terkait kemampuan Sodda yang luar biasa, dan dianggap mengancam pemerintah. Aku juga percaya kalau peraturan baru terkait kelangkaan bahan baku adalah rekayasa yang berkaitan dengan insiden sebelas tahun lalu."
Cloud mencerna pikiran sesaat, sebelum akhirnya kembali bertanya, "Ada yang mengetahui tentang ini selainku?"
"Summer. Dia yang selama ini membantuku, tetapi hanya kamu yang tahu tempat ini. Aku yakin kamu bukan bagian dari rekayasa kotor itu, karena kamu adalah korban utama. Itulah alasanku berani mengajakmu ke sini."
"Tadinya kami mau menemui Summer. Tapi saat itu orang-orang sedang mengejar kami. Beruntung, akhirnya Orreo datang dan menyelamatkan kami," terang Cloud.
"Tunggulah petang ini. Aku dan Orreo akan mengantarmu ke sana."
Cloud mengangguk. Pertemuannya dengan Milk mulai mengurai misteri yang selama ini tersimpan rapat di dalam pikirannya. Ya. Sebenarnya sejak lama Cloud merasakan ada yang janggal. Namun ia lebih memilih tidak mengusik kejadian itu, dan hidup damai. Sekarang kehidupannya yang damai telah terusik. Ia pun terpaksa bertindak.
***
Cloud memperhatikan Milk yang sedang memasang sekrup pada kursi difabel. Kursi buatan Milk itu terbuat dari besi-besi bekas. Meskipun rongsokan, teknologi yang disematkan tidak kalah dibandingkan kursi difabel mutakhir.
"Maaf aku tidak bisa membantu dengan badan seperti ini," ucap Cloud, mengerling besi-besi di tubuhnya.
"Tidak masalah. Aku memang senang merakit sesuatu, Prof—"
"Cloud. Panggil saja aku Cloud. Aku sudah bukan atasanmu," sergah Cloud.
"Rasanya aneh kalau aku hanya me—"
"Aku memaksa." Cloud kembali menginterupsi, seraya tersenyum.
"Oke..., Cloud," ucap Milk, sambil memasukkan baut ke dalam lubang. "Kenapa kamu lebih memilih kursi ketimbang tubuh android?"
"Karena...." Cloud tak melanjutkan. Matanya melengkung turun, memandang nanar lantai ruangan.
Milk melirik Cloud, sekilas. "Maaf. Lupakan saja."
Suasana berubah hening. Cloud tercenung, menatap hampa lantai ruangan. Setelah beberapa saat, akhirnya Cloud memecah kesunyian.
"Tubuh android hanya akan mengingatkanku pada kejadian sebelas tahun lalu." Cloud menyergah, lirih.
Milk mengerling Sodda yang sedang mengisi energi di dalam tabung. "Bagaimana dengan dia? Bukankah kejadian itu berhubungan dengannya?"
Cloud menengok Sodda yang dalam mode 'rest'. "Aku tidak pernah membencinya. Dialah yang menyelamatkanku ketika insiden itu. Kejadian itu yang membuatku terluka, bukan Sodda."
Milk mengangguk. "Aku paham. Tapi apa kamu tahu tujuan sabotase?"
Cloud mencerna pikirannya. "Tidak."
Milk memandang Cloud, mencoba menyelami pikirannya. Ia merasa Cloud menyembunyikan sesuatu. "Oke.... Nah, sudah selesai.
"Keahlianmu sama sekali belum pudar."
"Dulu kamu yang banyak mengajariku." Milk bangkit lalu memapah Cloud ke kursi. "Mari kubantu duduk."
Cloud tersenyum lebar. "Wah, ini terasa nyaman."
"Besi-besi rongsok tidak buruk, 'kan?!"
Cloud mengangguk. "Tidak salah dulu aku memilihmu sebagai Asisten Dua."
Milk tersenyum. "Istirahatlah Cloud. Tiga jam lagi kita berangkat. Aku mau menyiapkan perlengkapan Orreo."
"Sekaligus membuatnya bisa bicara?"
"Tidak. Dia lebih senang berkomunikasi melalui kotak digital."
"Sampai nanti, Milk." Tangannya mengusap lengan kursi, membuat kursi melayang ke arah ranjang di pojok ruangan.
***
Pada malam hari, Milk, Orreo, Sodda, dan Cloud, berkumpul di dekat tumpukan besi-besi rongsok. Mereka sudah mengenakan jaket, bersiap terbang menembus cuaca dingin. Cloud dan Milk mengecek bahan bakar untuk terbang sebelum berangkat.
"Bukankah mencolok kalau pergi berempat?" tanya Sodda, cemas.
"Pasti. Tapi kita berangkat malam hari, supaya tidak ada yang melihat kita. Kalau ada serangan di perjalanan, akan lebih mudah menghadapinya berempat," ucap Milk.
Cloud menunduk. "Sebaiknya aku tinggal di sini, daripada menjadi beban kalian di perjalanan. Pertanyaanku pada Summer akan kutitipkan pada kalian sa—"
"Bicara apa kamu?! Kecerdasanmu sering menjadi penyelamat di saat terjepit," protes Sodda.
"Tapi—"
"Kamu bukan anak kecil, Cloud. Kami mengajakmu karena tidak berpikir kamu menjadi beban. Tapi kalau kamu tidak mau berangkat, itu pilihanmu." Milk menekan layar di tangannya. Tak lama kemudian api biru ke luar dari lubang di bawah tasnya. "Aku dan Orreo berangkat."
Milk dan Orreo melesat ke udara, sebelum akhirnya melesat meninggalkan mereka.
"Jadi?" tanya Sodda.
"Akan kupastikan dapat berguna." Setelah itu kursinya terbang cepat.
"Itulah Cloud yang kukenal." Sayap besi Sodda mengepak cepat, menyusul ketiga temannya.
Mereka melayang sejajar, menyibak udara, dan terkadang menembus awan-awan putih. Cuaca malam itu sangat dingin. Mungkin kalau tidak mengenakan jaket tebal, mereka sudah menyerah. Akhirnya setelah menempuh perjalanan puluhan kilometer, pucuk-pucuk gedung mulai terlihat. Itulah Kota Paris, tempat tujuan mereka.
"Kita sudah dekat." Orreo berkata.
"Ya, aku tahu." Sodda menambah kecepatan, memimpin teman-temannya di depan.
Tak lama kemudian, gedung titanium tampak di sebelah kanan. Mereka berbelok, kemudian menukik menuju gedung tersebut. Keempatnya melihat sekeliling, meningkatkan kewaspadaan. Tak sekali pun mereka gegabah. Meskipun sedang berada di udara, bisa saja ada yang melihat mereka. Namun, tampaknya sampai saat ini semua berjalan seperti yang diharapkan.
"Lantai berapa?" Sodda bertanya.
Milk menjawab, "Lantai 41."
Mereka menurunkan kecepatan, dan melayang tenang ketika berada makin dekat dengan tempat tujuan.
"Jangan sampai menarik perhatian orang lain," tukas Cloud.
Milk mengangguk. "Kita turun di teras Summer."
Di hadapan mereka terdapat teras yang luas. Keadaan di sana sunyi dan lengang. Beberapa saat kemudian keempatnya mendarat di bagian teras yang gelap.
"Sepertinya aman." Pandangan Cloud menyapu sekitar. Kursinya melayang ke pintu kaca, lantas ia mengetuk beberapa kali.
"Siapa?" Summer bertanya seraya berjalan ke pintu kaca. "Oh, Tuhan!"
"Maaf, mengejutkanmu. Aku bersama mereka." Cloud melayangkan pandangan pada ketiga temannya.
Summer mengedarkan pandangan, memastikan keadaan aman. "Masuk."
"Kami tidak bisa lama."
"Jika ketahuan ada buronan di tempatmu, kamu akan mendapat masalah," ujar Milk.
Summer mengangguk. "Apa yang bisa kubantu?"
"Summer, apakah kamu tahu kenapa mereka menjemput Sodda sebelum waktunya? Bukankah bertentangan dengan peraturan?"
Summer menghela napas. "Aku juga baru tahu setelah Steel Stove ke tempatmu. Kudengar Perdana Menteri yang memerintahkan penjemputan tersebut."
"Apa hanya Sodda saja dijemput sebelum waktunya?"
"Benar. Tapi aku tidak tahu alasannya." Summer mengambil ponsel lalu menunjukkan pesan Menteri Pemberdayaan Energi. "Aku hanya mendapat perintah Monsieur Wind untuk memimpin Tim Daur Ulang, dan menyambut Sodda lebih dulu."
"Aneh, kenapa Sodda yang lebih dulu di—"
Tiba-tiba terdengar bel. Seisi ruangan saling bertukar pandang. Tak lama kemudian, terdengar suara dari speaker.
"Buka, Summer. Ini aku, Colla!"
"Cepat kalian sembunyi." Ia menekan tombol hologram, membuka salah satu dinding ruangan. "Colla merupakan android perang model terbaru yang ditugaskan mencari kalian!"
"Summer! Cepat buka, atau aku akan menghancurkan pintumu!"
"Sebentar!" Summer menoleh pada teman-temannya. "Cepat!"
Mereka bergegas masuk ke ruang rahasia. Setelah itu, Summer bergegas membuka pintu. Di hadapannya berdiri android tinggi, dan kekar yang mengenakan pakaian serba hitam. Android itu menatap Summer, dingin.
"Halo, Colla. Ada apa malam-malam datang ke sini?" sambut Summer.
Colla tak menjawab sambil melangkah masuk. Pandangannya menyelisik sekitar, sebelum berhenti di depan dinding rahasia. "Radarku menangkap ada orang lain di sini."
"Mmm..., tadi keluargaku datang." Summer menjawab, gugup.
"Ah, begitu." Colla tersenyum, seraya menempelkan telapaknya di dinding. "Tapi aku penasaran dengan isi dinding ini!"
Dari tangan Colla meluncur energi merah dan meledakkan dinding sampai berkeping-keping. Cloud, dan kawan-kawan tidak terkejut. Mereka sudah siap menghadapi kemungkinan itu dan menerjang Colla serentak. Namun, Colla bukan sembarang android. Semua serangan itu dapat ditepis dengan sempurna dan melancarkan serangan balik. Colla merangsek dengan tangan yang siap menembak lawan-lawannya, tetapi tiba-tiba ia dihempaskan cahaya biru dari belakang.
Colla menatap Summer dengan mata menyala-nyala. "Summer..., pengkhianat...."
"Cepat!" Summer berlari ke teras, diikuti Cloud, dan kawan-kawan.
"Ikutlah kami, Summer!" teriak Cloud.
"Tapi—" Belum sempat Summer selesai berbicara, tiba-tiba Orreo membawanya terbang.
Cloud, Sodda, dan Milk melesat, mengekor Orreo dari belakang.
"Jangan harap bisa lolos!" Cola memacu kecepatan mengejar musuh-musuhnya.
Kecepatannya sangat luar biasa. Hanya dalam beberapa menit, ia berhasil mempersempit jarak. Ketika sudah berada dalam jangkauan, Cola memberondong mereka. Cloud dan kawan-kawan meliuk, dan terhindar dari serangan itu. Melihat semua serangannya gagal, Cola menjadi geram. Ia mencopot kepalan tangan kanannya, dan mengubahnya menjadi pistol besar. Sedetik kemudian, energi listrik mengalir dan menyelubungi lengannya itu.
"Rasakan ini!"
Dari tangan Cola meluncur peluru besar yang menerjang secepat kilat. Kali ini sasarannya cuma satu....
"Awas, Cloud!" seru Sodda.
Sodda mendorong Cloud, akibatnya peluru menghunjam bahu Sodda dan membuatnya terpelanting. Sodda menjerit merasakan bahunya terbakar.
"Sodda!" Cloud melesat cepat menghampiri Sodda. "Apakah kamu tidak apa-apa, Sodda?"
***