43

1670 Kata
Jarak rumah Noodle tidak jauh lagi, sehingga hanya dalam waktu sebentar Sand dan Une telah tiba. Dari jauh, Sand melihat Deux dan Trois sedang bertarung hebat dengan Noodle. “Hei, cepat kamu bebaskan temanmu di rumah itu. Biar aku bantu Deux dan Trois.” Usai berkata demikian Une melesat ke arena pertempuran. Sand melanting menuju rumah kayu. Di dalam rumah, Bird bersandar di pojok ruangan. Suara-suara Une Deux Trois dapat terdengar olehnya. Tiba-tiba ia mendengar suara jendela terbuka, lalu melihat Sand masuk melalui jendela dan berjalan menghampirinya. Setelah berada di dekatnya, tangan Sand berkelebat melepaskan ikatan laser Bird. “Paman!” Bird memeluk Sand erat-erat. Ia merasa lega telah terlepas dari ancaman Noodle. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Sand. Bird mengangguk. “Untung saja orang-orang aneh itu datang.” “Iya, ternyata mereka orang baik. Bahkan salah seorang di antara mereka membangunkanku, dan mengajakku ke sini,” tukas Sand, “Bird, maaf tadi aku tidak memedulikan peringatanmu.” “Tidak apa-apa Paman. Siapa saja bisa tertipu oleh penampilan dan kata-katanya yang menarik.” Baru saja Sand mau menjawab, tiba-tiba dinding rumah jebol tertabrak Trois yang terhempas, sehingga membuat rumah kayu tersebut terbagi dua dan berantakan oleh tumpukan atap rumah. “Saudara, tidak apa-apa?” tanya Sand sambil mengangkat Trois berdiri. “Berani sekali penjahat itu mengelanukiki dan membuatku lengah!” geram Trois, lalu mengolah energinya dan melesat menerjang Noodle. Sand kemudian membawa Bird keluar dan meletakkannya di tempat yang jauh dari pertempuran. “Tunggu di sini.” “Paman kenapa tidak membantu mereka?” tanya Bird, melihat Sand hanya menyaksikan pertarungan itu. “Ketiga orang aneh itu bukan orang sembarangan. Jika mereka bergabung, aku juga belum tentu bisa menang. Jadi kurasa mereka tidak membutuhkanku,” terang Sand, yang sesungguhnya mengkhawatirkan Bird kalau ditinggal sendirian. “Bird, kamu dapat belajar banyak dengan menyaksikan pertarungan mereka. Coba kamu perhatikan mereka. Menurut kamu siapa di antara mereka yang akan menang?” Bird diam sambil mengamati pertarungan yang berlangsung menarik. “Tiga orang aneh terdesak, sepertinya laki-laki itu yang akan menang.” Sand tersenyum. “Perhatikan langkah orang-orang aneh itu. Mereka sengaja menyurutkan langkah untuk memancing Noodle masuk ke dalam perangkap mereka.” Benar apa yang dikatakan Sand. Deux menangkis serangan Noodle seraya kakinya melangkah mundur. Sementara Une dan Trois menepis serangan-serangan Noodle. Une Deux dan Trois sangat berpengalaman, hanya dalam beberapa saat mereka tahu serangan-serangan Noodle memerlukan energi besar. Di saat energi Noodle berkurang, konsentrasinya memudar; kecepatannya menurun, sehingga pertahanannya pun terbuka. Une Deux dan Trois merangsek dengan serangan-serangan andalan. Deux menendang-nendang secepat kilat hingga menimbulkan kilatan-kilatan energi yang hebat. Sedangkan Trois menerjang Noodle dengan tendangannya. Jejakan-jejakan kaki Trois tidak lebih cepat dari sebelumnya, tetapi jauh lebih berenergi. Une memutar kakinya lebih cepat seperti gasing, hingga menimbulkan pusaran angin yang dahsyat. Serangan ketiganya berhasil menyambar kepala, d**a, serta kaki Noodle hingga membuatnya terhempas dan memuntahkan darah segar. Noodle mencoba bangkit berdiri dengan susah payah, sebelum akhirnya jatuh tidak sadarkan diri. “Luar biasa energi ketiga orang aneh,” gumam Sand mengagumi kehebatan Une Deux Trois. Une Deux Trois mendarat di hadapan Sand dan Bird sambil tertawa-tawa. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Une pada Bird. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menolongku, dan maaf tadi aku salah paham dengan kalian,” jawab Bird menunduk. “Kebaikan kalian tidak akan kami lupakan,” tukas Sand. “Perkenalkan, namaku Une,” sahut Une sambil memutar-mutar kepangnya dengan jari. “Aku Deux,” kata Deux singkat, seraya mengusap-usap kepang jenggotnya. “Kalau aku Trois. Orang-orang menyebut kami dengan sebutan Trois Jumeaux Mignons,” jelas Lu sambil mengusap-usap perut. Mendengar julukan Trois Jumeaux Mignons, terkejutlah Sand. Pantas saja ketiganya memiliki energi luar biasa, karena mereka terkenal karena kehebatannya. Trois Jumeaux Mignons tidak pernah peduli politik. Mereka bertindak sesuka hati, tetapi senang menolong. Karena itulah nama mereka harum di masyarakat Belgia. “Maaf kalau sebelumnya aku tidak mengenali Kalian dan berbuat lancing,” ucap Sand memberi hormat. “Ah sudah …, sudah,” tukas Une. “Ayo, Paman. Sekarang ajari aku supaya kejadian tadi tidak terjadi l;agi,” ujar Bird, tiba-tiba. Mendengar itu, Deux langsung menyahuti, “Gadis kecil sini, sini dengarkan aku. Ikutlah dengan kami. Nanti kami ajarkan energi, supaya kita bisa asik bermain. Bagaimana?” Mendengar permintaan Trois Jumeaux Mignons, Sand berpikir itu usul yang baik. Selain karena mereka dapat melindungi Bird, juga karena ketiganya dapat mengajarkan energi. Apalagi belum pernah Sand melihat Bird merasa terhibur seperti sekarang. Sementara itu, jika Bird bersamanya, ia khawatir peperangan Liberte dengan pemerintah Belgia justru akan membuatnya berada dalam bahaya. “Bird, Paman pikir ajakan Trois Jumeaux Mignons adalah yang terbaik untukmu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi dan dapat melindungimu sekaligus mengajari kemampuan energi.” “Tapi Paman—” “Kamu lihat sendiri bahaya yang selalu aku hadapai. Aku khawatir malah akan membuatmu menderita,” terang Sand. Bird diam sambil menunduk. Meskipun ia belum lama mengenal Sand, sikap Sand yang menentramkan dan melindungi membuatnya menganggap Sand seperti ayahnya sendiri. Namun, ia paham kalau tetap bersama Sand, ia akan menjadi beban. Lagi pula hatinya juga merasa terhibur berada di tengah-tengah Trois Jumeaux Mignons. Apalagi meskipun nanti berpisah dengan Sand, ia tetap dapat belajar energi dari Trois Jumeaux Mignons. “Baiklah Paman. Tapi Paman harus berjanji, agar suatu hari bertemu denganku lagi,” ucap Bird dengan senyum dipaksakan; matanya terlihat berkaca-kaca. “Iya aku berjanji. Jika kita bertemu lagi, aku mengajarimu.” “Baik Paman.” Trois Jumeaux Mignons bersorak gembira setelah Bird setuju untuk ikut bersama mereka. “Kalau begitu kita pergi gadis kecil!” ajak Deux sambil menggandeng lengan kanan Bird. “Aku tidak akan ikut kalian kalau kalian tidak berhenti memanggilku dengan panggilan gadis kecil!” “Lantas kamu mau dipanggil apa?” tanya Deux seraya menggandeng lengan kiri Bird. “Ah! Kami panggil Quatre saja. Bagaimana?” usul Une. “Mmm, kalau itu boleh,” jawab Bird tersenyum. “Hahaha! Bagus! Sand, kalau begitu Une Deux Trois Quatre pamit!” Setelah berkata begitu, Une melesat ke arah barat, diikuti Deux dan Trois yang menggandeng Bird. Sand melepas kepergian mereka hingga akhirnya hilang di balik pepohonan. Sama seperti Bird, Sand juga merasa berat berpisah dengannya. Namun itulah yang terbaik. Sand melanting lalu melesat dengan cepat meninggalkan Noodle yang masih tergeletak. Tidak lama berselang, dua sosok melesat turun di samping Noodle. Salah satu di antara mereka sedang memanggul Ningsih dan seorang orang laki-laki. “Shadow, Noodle bisa menjadi bagian dari kelompok kita. Selamatkanlah dia,” ujar Flip. “Kamu benar.” Setelah memanggul Noodle. Keduanya pun pergi meninggalkan tempat itu sambil membawa Noodle. *** Sementara itu di Desa Erquelinnes, yang berada di perbatasan Prancis. Seorang pria berpakaian hijau, bertubuh kekar dan tinggi sedang berjalan di tengah keramaian sebuah pasar. Aroma tubuhnya sangat tidak sedap dan busuk, sehingga orang-orang menjauh darinya. Apalagi ia memiliki wajah menyeramkan yang membuat orang di sekelilingnya ketakutan. Wajahnya berbentuk persegi, dengan sepasang mata bulat kecil, hidung besar dan lebar, serta bibir tebal. Di dagunya yang kokoh terdapat jenggot lebat semrawut. Dialah salah satu anggota Demon de Fer, yakni Green Iron. “Tugas dari Red Iron kali ini membosankan dan melelahkan. Sebelum aku pulang, tidak salahnya aku bersenang-senang,” gumamnya. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke samping, saat seseorang menyenggolnya. Dengan geram dilihatnya orang itu. Dari belakang terlihat kepala orang itu yang ditumbuhi oleh sedikit rambut tak terurus. Tubuhnya kecil dan agak gendut. Sebelah tangan dan sebelah kakinya yang buntung, diganti dengan kaleng. Ia sedang memanggul sesuatu di dalam karung. “Hei, kamu! Berani-beraninya menyenggolku!” bentak Green Iron. Pria tersebut tak menghiraukan dan terus berjalan. “Kurang ajar! Dasar bodoh! Tidak kenal siapa aku! Berhenti!” bentak Green Iron marah. Laki-laki itu tetap tak peduli sambil berjalan. Walau tubuhnya pendek dan berkaki kaleng, Green Iron keteteran mengejarnya. “Siapa orang ini? Dengan santainya ia berjalan tanpa bisa kukejar. Padahal aku sudah sekencang mungkin mengejarnya,” gumam Green Iron yang diam-diam bergidik membayangkan energi orang itu. Bukan anggota Demon de Fer kalau tidak sombong dan keras kepala. Green Iron bersikeras mengejar lelaki itu sampai tiba di sebuah persimpangan jalan yang sunyi. Tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya. “Dari tadi kusuruh berhenti baru sekarang berhenti! Dasar bodoh!” bentak Green Iron. Mendengar makian Green Iron, pria itu membalik badan dan menghadap Green Iron. Betapa terkejutnya Green Iron ketika melihat ternyata lelaki itu sudah ia kenal dengan baik. “Rupanya kamu Big Hammer! Kamu masih berutang upah kami! Apa itu yang di pundakmu uang?” tukas Green Iron, “Ah! Sepertinya kalau melihat keadaanmu yang mengenaskan, sekarang kamu jadi miskin!” ejek Green Iron. Green Iron memang benar. Penampilan Big Hammer memang sudah sangat berubah. Penampilannya seperti seorang pengemis dengan pakaian robek di sana sini. Wajahnya yang bulat dan lebar penuh dengan benjolan-benjolan berisi air. Matanya yang sipit menjadi hanya tinggal segaris, hidungnya totol-totol hijau, dan kumisnya jarang-jarang. Perutnya tetap buncit, tetapi turun ke bawah seperti kantung berisi air. Bau tubuhnya lebih tajam dan busuk ketimbang Green Iron. Bukan hanya berubah, kini penampilannya menjijikkan. Lebih tepat disebut penampilannya menyerupai katak dibandingkan manusia. “Big Hammer? Siapa itu Big Hammer?” tanya Big Hammer dengan suara seperti desisan ular. “Kamu gila! Kemiskinan sudah membuat kamu jadi gila!” ejek Green Iron sambil tergelak. “Ah, aku ingat. Big Hammer sudah mati,” ucap Big Hammer. “Eh orang gila! Apa maksudmu?” tanya Green Iron heran. “Ya, ya. Big Hammer sudah mati. Sekarang yang ada ialah Grenouille Pourrie,” desis Big Hammer seraya menyeringai, menampilkan giginya yang ompong. “Ah, aku pusing mendengar omongan kamu yang berputar-putar! Aku tidak peduli namamu sekarang Grenouille Pourrie, atau tetap Big Hammer! Yang penting, kamu harus membayar utangmu!” seru Green Iron, mau mengayunkan kepalannya. Belum sempat tangannya mengayun, tangan Big Hammer alias Grenouille Pourrie sudah berada di dalam mulut Green Iron dan mengeluarkan asap hijau beracun. Mata Green Iron melotot seakan mau keluar, urat-uratnya bertonjolan di sekujur tubuh, tak berapa lama ia rubuh dan kejang-kejang di tanah, hingga akhirnya tewas mengenaskan. Kehebatan Big Hammer benar-benar di luar dugaan. Bahkan Green Iron yang terkenal tangguh pun bukan tandingannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN