42

1550 Kata
Bird tersentak. “Apa maksudmu? Ini buah-buahan liar! Siapa pun bisa memakannya!” Trois terkekeh. “Tidak …, tidak …. Ini milik kami.” “Kami?” Une dan Deux muncul dan dan menghampiri mereka. Bird tampak makin terkejut. Melihat penampilan mereka yang aneh, Bird mulai ketakuta. Ia pikir mereka bukan benar-benar menginginkan buah itu. Ia menjerit hingga suaranya terdengar oleh Sand. Sand pun melesat secepat kilat. “Bird!” seru Sand. “Gawat, temannya datang!” usai berkata demikian Trois melesat secepat kilat ke dalam rerimbunan hutan, diikuti kedua saudaranya. “Cepat sekali mereka!” Sand geram, lalu membalik badannya membelakangi Bird. “Kamu tidak apa-apa?” “Tidak apa-apa Paman. Untung Paman datang. Aku takut mereka ingin berbuat buruk,” tukas Bird. “Sudahlah. Kalau kamu sudah selesai, ayo kita makan. Kelincinya sudah siap,” ucap Sand sambil berjalan menerobos semak-semak. “Siapa ketiga laki-laki aneh itu? Aku belum pernah bertemu mereka di hutan ini. Jika melihat kecepatan mereka, pasti mereka berkemampuan tinggi.” Bird buru-buru menyusul Sand ke tempat api unggun. Selama beberapa saat keduanya menikmati kelinci bakar yang nikmat. “Kok tidak dihabiskan? Tidak enak ya?” tanya Sand sambil menoleh pada Bird. “Enak Paman. Tapi aku masih khawatir dengan tiga orang aneh tadi,” jawab Bird dengan wajah cemas. Sand menghela napas. “Memang begitu kalau sedang berkelana. Sering kali bertemu dengan orang aneh dan penjahat. Tapi kadang juga bertemu orang yang berbudi. Itu yang akan kamu temui kalau bersamaku.” Bird terdiam beberapa saat, kemudian berbicara kembali, “Aku harus siap Paman. Lalu kapan Paman mengajariku?” “Kalau urusanku di Paris sudah selesai aku akan mengajarimu,” jawab Sand seraya tersenyum. Baru saja Sand selesai berbicara, sayup-sayup terdengar suara pertarungan dari balik pepohonan. “Siapa yang sedang bertarung? Jangan-jangan pasukan pemberontak telah tiba!” Sand melanting, lalu melesat sambil menggendong Bird. Ketika tiba di tempat pertarungan, Sand dan Bird mendarat di atas sebuah dahan pohon. Keduanya mengamati pertarungan yang ada di bawah mereka. Ternyata yang sedang bertarung adalah Une Deux Trois dengan seorang laki-laki tampan. Laki-laki itu memiliki rambut panjang yang digelung ke atas. Pakaiannya berwarna putih, yang terbuat dari bahan latex. Pertarungan Une Deux Trois dengan orang tampan berlangsung menarik. Kaki-kaki Une Deux Trois menendang cepat ke arah laki-laki tampan. Kaki Une berputar-putar menyapu bagian bawah, kaki Deux menerjang-nerjang ke bagian tengah, dan kaki Trois menjejak-jejak ke arah kepala orang tampan. “Serahkan ia! Atau rasakan serangan kami!” Trois berseru sambil terus merangsek. “Trois, aku bosan lihat seranganmu! Lihat seranganku!” teriak Deux tidak mau kalah. “Hahaha! Serangan jelek dibanggakan! Seranganku lebih hebat!” timpal Une sambil kaki-kakinya berputar dan menyapu cepat. Orang tampan tidak tinggal diam. Trisula lasernya menusuk ke arah Trois, tetapi Trois menghindar. Berikutnya menyabet ke arah Deux, dengan gesit Deux berkelit. Kemudian menghunjam ke arah kepala Une, Une pun menampik dengan kakinya. Pria tampan terkejut, semua serangannya berhasil dihindari, tetapi tiba-tiba kaki-kaki Une Deux Trois menjejak dadanya bersamaan. Pria tampan terhempas sejauh tiga meter. Sand segera melompat seraya mengerahkan energi. Tinju Sand mengayun cepat dan terlihat bagai ratusan, merangsek Une Deux Trois sekaligus. Serangan itu memaksa Une Deux Trois mengerahkan serangan lebih tinggi. Keempat orang tersebut saling serang dan saling hindar. Hingga puluhan serangan, pertarungan mereka berjalan seimbang. “Une, aku bosan!” seru Deux. “Ah, kalau aku mengantuk!” sahut Une. “Perutku keroncongan!” timpal Trois. “Kalau begitu sampai bertemu lagi!” ejek Une seraya melanting ke belakang lalu melesat dan menghilang di balik pepohonan. “Permainan yang seru! Kita lanjutkan lain waktu!” teriak Deux. “Kami akan bersungguh-sungguh di pertemuan berikutnya!” seru Trois sambil tergelak. Setelah berkata demikian Deux dan Trois melesat menyusul saudara mereka. Sand tidak mengejar ketiganya, lalu menoleh pada orang tampan. “Saudara, tidak apa-apa?” “Terima kasih, aku baik-baik saja. Kalau aku tidak salah, sekarang aku sedang berhadapan dengan Sand pemimpian Liberte,” jawab pria tampan ramah, sambil menghampiri Sand. “Betul Saudara. Bagaimana Saudara bisa mengenaliku?” “Energi Sand begitu terkenal kehebatannya. Selain itu melihat ciri-ciri Saudara, aku yakin Saudara adalah Sand. Oh iya, perkenalkan aku Noodle,” terang pria tersebut memperkenalkan diri. “Noodle? Aku senang berkenalan dengan Saudara. Tampaknya Saudara senang membantu yang lemah.” Sand tersenyum. Noodle menghela napas. “Penderitaan terjadi di mana-mana. Sudah kewajiban kita membantu yang lemah. Seperti halnya tadi, mereka bertiga gemar menculik perempuan untuk dijual. Saat kupergoki, mereka mengeroyokku. Tadinya aku mau mengeluarkan energi tertinggi, untung saja Saudara membantu. Kalau Saudara tidak turun tangan, tenagaku akan terkuras. Aku khawatir kehabisan tenaga untuk memberantas penjahat lain.” “Paman!” Bird melambaikan tangannya dari atas pohon. “Ah, aku lupa!” Sand melanting ke atas pohon, lalu menurunkan Bird. “Apakah istri Saudara?” trnya Noodle memandang Bird. “Bukan Saudara. Ia keponakan—” “Aku muridnya,” sergah Bird sengaja ingin menggertak Noodle, karena merasa risih dengan cara Noodle memandangnya. “Jadi keponakan sekaligus murid?” tanya Noodle. “Iya keduanya,” jawab Bird singkat. Noodle tersenyum kemudian menoleh pada Sand. “Oh iya Saudara mau ke mana?” “Aku bertujuan ke Paris,” jawab Sand sopan. “Kebetulan sekali kita searah. Kalau begitu kenapa tidak pergi bersama-sama?” usul Noodle. “Tentu Saudara. Mari.” tukas Sand kemudian membopong Bird, dan melesat, diikuti Noodle dari belakang. Setelah melintasi ratusan kilometer, mereka berhenti di sebuah area lapang di tengah hutan untuk beristirahat. “Saudara. Aku lihat ada bekas luka di telapak tangan dan pelipis Saudara Sand. Cobalah minum ini. Sore hari nanti, lukanya akan benar-benar sembuh.” Noodle memberikan kantung minum pada Sand. “Paman. Jangan diminum, aku curiga orang ini punya niat buruk,” bisik Bird. “Tidak apa Bird. Tidak baik berburuk sangka. Apalagi kamu lihat sendiri kalau orang ini mencoba meringkus tiga orang yang tadi mengganggumu ‘kan?!” ujar Sand lirih, lalu meraih kantung minum dari tangan Noodle dan meminumnya. “Bagaimana rasanya Saudara?” tanya Noodle. “Rasanya manis, tidak seperti obat.” Noodle tersenyum penuh arti. “Iya benar, inilah keunggulan obat buatanku. Rasanya nikmat dan berkhasiat. Apakah kamu juga ingin mencoba, Bird?” “Tidak. Aku tidak haus,” jawab Bird ketus. “Saudara Sand, sebenarnya khasiat obat ini lebih cepat dari yang aku katakan. Tapi tidak untuk menyembuhkan luka,” tukas Noodle. “Apa maksudmu?” tanya Sand sambil memijit keningnya. “Maksudku, lebih cepat untuk membuatmu tidak sadarkan diri,” jawab Noodle, menyeringai. Sand terkejut, tetapi kepalanya makin sakit hingga ia tidak sadarkan diri. Bird segera menghampiri Sand. “Paman! Paman!” seru Bird, mengguncang-guncang tubuh Sand. “Hahaha! Kamu bilang kalau kamu murid Sand, tapi tidak bisa turun dari atas pohon?! Kamu pikir aku bodoh.” Noodle tergelak, dan berjalan menghampiri Bird. “Kurang ajar! Apa maumu?” bentak Bird marah. “Mauku? Aku mau kamu!” tangan Noodle berkelebat cepat dan membuat Bird hilang kesadaran. Sambil membopong Bird, Noodle melesat cepat. Selang beberapa waktu, di tempat lain di dalam hutan yang sama. Tampak Noodle berjalan memasuki sebuah rumah sambil menggendong Bird. Sesampainya di dalam, ia sandarkan Bird di sudut ruangan. “Kamu masih muda. Pasti aku bisa menjualmu dengan harga tinggi.” Noodle menyeringai. Bird pasrah menanti nasib. Bayangan ketika beberapa waktu lalu diculik pun terbayang. Mungkin, kejadian menyakitkan itu akan terulang sebentar lagi. Di tengah harapan yang menipis, Bird mengharapkan keajaiban terjadi. “Hoi, Busuk! Mana gadis yang kamu bawa? Cepat keluarkan!” teriak seseorang dari luar rumah kayu. “Ketiga orang bodoh itu lagi!” geram Noodle, lantas melesat keluar rumah. Dilihatnya dua orang laki-laki berwajah bundar, dan berperut gendut berdiri sambil bertolak pinggang. “Heh! Tadi kami memergoki kamu membawa perempuan yang memetik buah-buahan kami. Eh, rupanya kamu bawa ke tempat ini!” seru Deux. “Heran. Suka sekali sama perempuan. Memangnya mau diapakan?” sahut Trois. Deux dan Trois tertawa terbahak-bahak, membuat wajah Noodle menjadi merah. “Kurang ajar! Cepat suruh keluar saudara gilamu satu lagi, supaya aku remukkan sekalian!” “Sabar. Nanti dia akan muncul. Sekarang hadapi kami dulu!” seru Deux yang langsung menerjang Noodle. Kaki-kaki Deux dan Trois merangsek Noodle yang mengibaskan trisula lasernya. Noodle orang sembarangan. Trisula lasernya menerjang ke segala arah. Namun, Deux dan Trois sangat gesit dan bisa menghindari setiap serangan yang datang. Saling balas dan saling hindar, hingga belasan serangan telah mereka kerahkan, tetapi kedudukan tetap seimbang. Sementara kedua saudaranya bertarung dengan Noodle, Une sedang berada di suatu tempat di mana Sand tergeletak. Une berjongkok di sebelah Sand yang masih tidak sadarkan diri. “Hei! Bangun, bangun!” Une menampar pipi Sand berulang kali, tetapi Sand tetap bergeming. Une menghela napas, kemudian berdiri. “Kalau tidak bangun juga, biar aku kencingi.” Baru saja Ji mau menarik celananya turun, tiba-tiba mata Sand mengerjap, lalu perlahan terbuka. Sambil memegangi kepala, Sand mengangkat badannya duduk. “Di mana ini?” tanyanya masih setengah sadar. “Ya di hutan! Memangnya di mana?!” ucap Une kesal. Berangsur-angsur kesadaran Sand kembali. Ia mengingat ketika Noodle memberikannya minum, kemudian beberapa saat kemudian kesadarannya hilang. “Bird! Di mana Bird?” “Justru karena itulah aku membangunkanmu. Temanmu dibawa pembohong itu ke bukit,” terang Une. “Noodle menculik Bird?” “Benar. Ayo ikut aku!” tukas Une lalu melesat ke balik pepohonan, diikuti Sand yang melesat di sampingnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN