Lantai besi berlubang dihantam dua energi kuat. Sand berhasil berkelit, dan langsung melancarkan serangan balik dengan cepat menuju Micro Magnetic. Micro Magnetic tak sempat menghindar, dadanya tersambar serangan cepat Sand dan terpelanting sejauh tiga meter. Dari mulut Micro Magnetic merembes darah segar.
‘Beruntung, tidak tepat di jantungku. Kalau tidak, mungkin aku sudah meregang nyawa,’ gumam Micro Magnetic.
Sand tidak memberi kesempatan Micro Magnetic untuk bernapas. Ia menerjang lagi dengan serangan dahsyat yang bergulung-gulung. Melihat serangan dahsyat datang, Micro Magnetic mengentakkan kakinya ke lantai hingga amblas sedalam setengah senti, lalu merangsek dengan energi tertingginya. Serangan terkuat ini tidak cepat, tetapi lambat dan gemulai. Gerakan kedua pedang lasernya berputar membentuk pusaran besar yang menyedot hingga membuyarkan serangan Sand. Pada saat Sand terkejut, tiba-tiba ujung kedua pedang laser mengarah kepala dan perutnya.
Cras!
Pelipis dan perut Sand tergores dalam. Bukannya surut, Sand justru balik menyerang dengan serangan terkuatnya. Tanah yang ia pijak amblas sedalam satu senti; aura di tubuhnya meningkat puluhan kali. Seluruh tubuhnya mengeluarkan pasir cahaya yang sangat terang dan menyilaukan, tinjunya dialiri energi yang sangat dahsyat. Sand melanting ke atas sejauh lima meter, kemudian meluncur deras menuju Micro Magnetic. Dari tinjunya keluar energi putih yang meluncur bagai kilat ke arah Micro Magnetic.
Blar!
Kekuatan serangan tersebut luar biasa; hempasan energi menghancurkan dinding besi di sekelilingnya menjadi berkeping-keping, sehingga membuat lorong dipenuhi kabut debu. Setelah kabut debu menghilang, Sand melihat Micro Magnetic tergeletak tidak bergerak di lantai.
“Micro Magnetic luar biasa. Energinya sangat hebat. Sudahlah, aku harus mencari Kakek Spoon,” gumam Sand, kemudian melesat.
Setelah mencari di setiap ruangan, akhirnya Sand bertemu dengan Bird.
“Kakek ada di dasar sumur. Aku tidak tahu bagaimana cara menolongnya. Aku tidak menemukan tali, maupun tangga yang bisa membawaku turun.” Bird tampak cemas.
“Tunjukkan aku lokasi sumurnya,” ujar Sand.
Kemudian Sand bergegas mengikuti Bird. Sesampainya di sana, Sand melongok ke bawah sumur yang curam.
“Bird, kamu tunggu di sini,” usai berkata demikian, Sand melesat turun ke dasar sumur.
Setibanya di sana, Sand mencium bau busuk yang menyengat. Di dekat Spoon, bersandar seorang perempuan yang sudah tak bernyawa.
“Kakek tidak apa-apa?” tanya Sand pada Spoon yang tampak lemas.
“Tidak usah pikirkan aku, Sand. Tolong selamatkan Bird,” ucap Spoon lirih.
“Spoon tenang saja. Bird sedang menunggu kita di atas,” kata Sand, ayo kita keluar dari tempat ini.”
Sand melesat ke atas sambil menggendong Spoon. Ketika Sand hampir tiba di atas, tiba-tiba terdengar Bird menjerit. Mendengar teriakan Bird, Sand menakakek kecepatannya.
“Sand, tolonglah Bird.” Spoon tampak khawatir.
Sesampainya di atas. Mereka melihat lengan Micro Magnetic melingkar di leher Bird, sambil tangannya yang lain mengarahkan ujung pedang laser ke lehernya.
“Sand, kamu sudah membuat kekacauan di tempatku. Seluruh penjagaku telah tewas kamu bunuh. Kamu hancurkan tempatku! Kalau aku tidak menuntut balas, jangan sebut aku Micro Magnetic! Jika kamu mau aku bebaskan Bird, kamu harus serahkan nyawamu!” ancam Micro Magnetic, marah.
“Kamu memang licik! Tidak sanggup menandingi, mencoba menghakimi!” bentak Sand geram.
Micro Magnetik tertawa keras sampai suaranya bergema di seluruh ruangan. “Kamu tahu aku penjahat, dan tidak ada penjahat yang baik ‘kan?! Aku tidak basa-basi, cepat kamu ikuti ma—ah!”
Bird menggigit tangan Micro Magnetic, kemudian berlari ke dalam pelukan Spoon.
“b*****h! Minta mampus!” teriak Micro Magnetic seraya menyerang.
Micro Magnetic bergerak sangat cepat dengan pedang laser terhunus. Sand yang tidak menyangka, terlambat bereaksi. Punggung Spoon tertembus hingga ke d**a. Rupanya ketika Micro Magnetic menerjang ke arah Bird, Spoon memutar tubuh ke depan seraya melepaskan Bird, agar Bird tidak ikut tertusuk.
“Sand! Jangan perdulikan aku! Serang dia!” seru Spoon sambil mendorong tubuhnya ke belakang, mendesak Micro Magnetic agar tidak bisa berkelit. Dorongan Spoon membuat keduanya menabrak dan memecahkan sebuah kaca besar.
“Kukirim kamu ke neraka!” teriak Sand menukik dari atas dengan serangan mengerikan.
Tiba-tiba Micro Magnetic melemparkan serbuk racun ke arah Sand. Sand terjengkang lalu tersungkur ke lantai. Racun tersebut sebenarnya adalah campuran racun teratai putih dan merah muda.
Micro Magnetic tergelak. Dicabutnya pedang laser dari punggung Spoon, kemudian berjalan menghampiri Sand. “Aku bisa saja langsung membunuhmu. Tapi tidak! Aku ingin membunuhmu pelan-pelan!”
Micro Magnetic menghunjamkan pedang laser sampai Sand menjerit saat tangannya tertusuk pedang laser.
“Tanganmu ini yang tadi menghantam dadaku. Satu lagi!” Belum sampai Micro Magnetic menyerang lagi, tiba-tiba ia menjerit lalu jatuh tersungkur. Lehernya tertembus pecahan kaca. Ia menggelepar-gelepar beberapa saat sebelum akhirnya tewas mengenaskan.
Micro Magnetic, seorang laki-laki tamak; seorang pendekar kejam; seorang laki-laki perusak kesucian, berakhir di tangan seorang perempuan belia yang lemah tanpa energi.
Bird melempar pecahan kaca di tangannya, lalu memeluk Spoon sambil menangis “Kakek ….”
“Bird, Kakek senang bisa melihatmu tumbuh. Aku ada pesan terakhir, dengarkanlah.” Spoon bicara dengan susah payah dengan suara lirih dan bergetar.
“Kakek sudah jangan bica—”
Spoon menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan “Bird jadilah lembut seperti sutra, jadilah kukuh bagaikan karang, jadilah teduh bak pohon rindang, jadilah kuat bagai baja. Tegakkan adil hapus derita. Agar kejadian ini tak terulang pada yang lemah.” Suara Spoon makin lirih, hingga akhirnya tidak terdengar.
Pesan terakhir Spoon menyiratkan rasa cintanya pada sang cucu. Karena Bird akan hidup sendiri, maka ia harus mandiri, tidak bergantung pada orang lain, juga agar nanti dapat menjadi asa bagi yang membutuhkan.
Bird memeluk Spoon dengan erat. Tubuhnya bergetar; pipinya basah oleh cucuran air mata; isak tangisnya menyayat hati. Kepergian kakek yang ia kasihi membuat hatinya pilu sekaligus bangga. Bangga karena sang kakek meninggal sebagai seseorang yang berani dan memegang prinsip. Manusia tidak harus memilik energy hebat, tetapi harus berjiwa mulia. Pahlawan tidak harus tewas di medan pertempuran, tetapi harus tewas demi kasih. Ketika Bird sedang tenggelam dalam kesedihan, ia mendengar suara rintihan yang membuatnya terhenyak.
“Paman! Paman!” seru Bird seraya menghampiri Sand yang kejang-kejang.
Bird memandang Sand dengan cemas. Tokoh yang disegani di Belgia tersebut, kini sedang dalam keadaan kritis. Wajah Sand memuti;, bibirnya pucat; peluh membasahi sekujur tubuhnya; bau harum yang tajam pun tercium dari tubuhnya.
“Bau ini seperti bau teratai tadi,” gumam Bird, teringat ketika ia mau dibawa menyelam ke dalam telaga oleh Micro Magnetic “Kalau begitu, mungkin penawarnya masih ada.”
Kemudian Bird bergegas memeriksa baju Micro Magnetic. Setelah menemukan penawar yang ia cari, dimasukkannya penawar tersebut ke dalam mulut Sand. Setelah itu ia meminum pil penawar yang sama agar dapat keluar dari tempat itu. Selang beberapa saat kemudian, pucat di wajah Sand berangsur hilang, bau tajam bunga teratai juga berangsur lenyap. Walau demikian, tenaga Sand belum sepenuhnya pulih.
“Terima kasih, Bird,” ucap Sand.
Bird mengangguk. “Budi baik Paman sungguh besar. Mana bisa budiku tadi membalas semua budi Paman padaku.”
Sand tersenyum. “Kamu memang gadis yang baik. Mari kita cari gadis-gadis yang ditawan oleh Micro Magnetic”
“Sepertinya kita terlambat Paman. Tadi sewaktu aku mencari Kakek, sudah semua ruangan aku masuki, tetapi aku tidak menemukan seorang pun,” jawab Bird dengan wajah sedih.
“Mungkin mereka sudah telanjur dikirim Micro Magnetic. Kita hanya bisa berharap mereka tidak mengalami nasib nahas,” tukas Sand seraya melingkarkan tangannya di pinggang Bird, lalu melesat. Meski tenaganya belum pulih tetapi masih sanggup digunakan untuk meninggalkan tempat itu.
Setibanya di luar, Sand berkata, “Biar aku antarkan ke rumahmu.”
Bird diam sambil menunduk, seperti ada sesuatu yang tengah mengganjal pikirannya.
Sand menangkap ganjalan dari wajah Bird. “Ada apa?”
Awalnya Bird tampak ragu–ragu mengutarakan isi pikirannya, tetapi akhirnya ia memberanikan diri. “Bolehkan aku memohon satu hal pada Paman?”
Sand tersenyum. “Katakan saja apa permohonanmu.”
“Paman, aku sudah tidak memiliki keluarga. Kembali ke rumah, hanya akan mengorek luka di hatiku. Kalau Paman izinkan, aku ingin ikut bersama Paman sekaligus ingin belajar, agar nanti aku dapat memenuhi pesan terakhir Kakek,” pinta Bird.
Sand terdiam beberapa saat kemudian berujar, “Bird, hidupku keras dan penuh rintangan. Apalagi aku mau menyusul teman-temanku ke Paris yang mungkin akan menghadapi serangan musuh-musuhku. Aku khawatir kalau bersamaku, akan membuatmu menderita.”
“Kembali ke kotaku, juga tidak menjamin penjahat seperti Micro Magnetic datang dan kembali berbuat onar. Kalau aku kembali sekarang, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Namun kalau belajar darimu, nanti pada saat kembali ke kotaku, aku bisa melindungi penduduk.”
Kata-kata Bird menggerakkan hati Sand. Derita yang ia alami membuatnya lebih dewasa dalam berpikir dibandingkan usianya. Sikapnya yang penuh kasih selalu menyertai caranya berpikir. Jika nanti ia memiliki kemampuan, entah berapa banyak orang yang tertolong.
“Baiklah. Ayo kita berangkat!” Sand melesat sambil membawa Bird.
Dari atas sebuah pohon, dua orang sedang memandang kepergian Sand dan Bird. Setelah, mereka menghilang dari pandangan keduanya melesat turun.
“Flip, kenapa kita harus menunggu mereka pergi?” tanya Shadow.
“Kekuatanku belum kembali setelah bertarung melawan para buronan itu. Jangankan mengalahkan Micro Magnetic dan Sand, mengalahkan Ana saja aku belum mampu,” terang Flip.
“Jadi tujuanmu ….”
“Untuk membangun kelompok baru kita bersama, kita membutuhkan sebuah markas. Sand sudah memberikannya cuma-cuma.” sergah Flip seraya menyeringai.
“Kamu benar,” tukas Shadow. Kemudian mereka masuk ke dalam telaga.
***
Sand dan Bird telah menempuh perjalanan sejauh ratusan kilometer dari tempat tinggal Bird. Saat itu hari telah siang, matahari menyinari pepohonan di dalam sebuah hutan, tidak jauh dari Kota Ath. Meskipun terlihat berjalan santai, tetapi keduanya tampak berbincang dengan serius.
“Paman, aku mau mencari buah-buahan untyuk kita makan.”
Sand mengangguk. “Biar aku mencari hewab-hewan buruan.”
Bird tersenyum, kemudian berjalan ke balik pepohonan dan semak belukar. Pandangannya menyelisik, mencari buah-buahan di sekitarnya. Tidak sulit, karena banyak buaha-buahan segar di sekitarmya. Ia pun memetik buah-buah itu. Rupanya ada tiga pasang mata yang sedang mengamatinya dari balik semak-semak.
“Kita terlambat,” bisik salah seorang di antara mereka.
“Gara-gara kamu, Une,” sahut seorang yang lain.
“Kenapa menyalahkanku, Deux?! Trois yang jalannya lambat.”
“Aku ‘kan kekenyangan, jadi tidak bisa lari,” sahut seseorang yang dipanggil Trois oleh dua orang lainnya. “Perempuan itu rakus sekali. Semua buah diambilnya. Nanti kita bisa kehabisan jatah.” Trois beranjak.
“Jangan ke sana!” cegah Deux.
Trois tidak menghiraukan, lalu keluar dari semak-semak dan berjalan menghampiri Bird. “Jangan kamu habiskan buah-buahan itu!”
***