Bird menggeleng dan tersenyum lembut “Kakek, Micro Magnetic memiliki energi yang hebat dan juga memiliki banyak pasukan. Bird khawatir malah akan merepotkan laki-laki ini, dan usahanya tetap sia-sia.”
“Ta—”
Belum usai Spoon bicara, terdengar suara mesin-mesin kendaraan di depan rumah, yang kemudian diikuti suara seseorang berteriak. “Kakek bodoh, keluar! Serahkan cucumu!”
Mendengar suara itu, Spoon menjadi gemetaran. Ia segera berusaha membangunkan Sand “Sand …, bangun Sand.”
Mata Sand mengerjap, kemudian perlahan mulai terbuka “Ya Kek. Ada apa ya Kek?”
“Itu Sand. Micro Magnetic sudah datang,” ucap Spoon dengan wajah pucat pasi.
“Bird tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Kakek. Kakek tunggu saja di sini.” ujar Bird, lalu menoleh pada Sand “Aku mohon jagalah kakekku.”
Setelah berkata demikian Bird keluar dari dalam rumah. Spoon mengejar dengan tergopoh-gopoh yang diikuti oleh Sand. Begitu tiba di luar rumah, Sand melihat empat belas orang pria berwajah seram, dan seorang wanita yang cantik. Salah seorang laki-laki di antara mereka memiliki rambut hitam, panjang dan dikepang. Tubuhnya tinggi dan kekar. Wajahnya persegi, dan memiliki sebelah mata yang tertutup oleh luka jahitan, hidung mancung yang bengkok ke bawah, serta bibir tebal berwarna hitam. Ia mengenakan pakaian serba hijau. Sedangkan yang wanita memiliki paras cantik seperti orang Jepang. Rambutnya hitam, panjang dan digelung ke atas. Wajahnya oval dan membingkai sepasang mata yang agak sipit, hidung mancung, bibir tipis dengan perona bibir berwarna hitam, serta dagu yang dihiasi oleh t**i lalat kecil di sebelah kiri. Di pundak keduanya, melilit ular android besar berwarna hitam.
“Menilik penampilan kedua orang itu, aku yakin mereka adalah Sepasang Ular dari Hallerbos,” gumam Sand, sambil menyelisik.
Kemudian Sand mengalihkan pandangan pada seorang pria tampan yang bertubuh kurus dan mengenakan pakaian berwarna ungu. Laki-laki itu memiliki rambut hitam sepundak. Wajahnya tirus, dan memiliki sepasang mata berukuran sedang, hidung pipih dan mancung, bibir tipis, serta dagu yang ditumbuhi jenggot panjang menjuntai sampai ke perutnya. Pada punggungnya terikat dua bilah pedang, yang satu panjang, yang lain pendek. Hanya dengan melihatnya sepintas, Sand bisa menduga kalau pria itu adalah Micro Magnetic. Sedangkan dua belas orang lainnya adalah pasukan Micro Magnetic yang mengenakan seragam berwarna hitam.
“Micro Magnetic, siapa laki-laki tampan di sebelah kakek jelek itu?” tanya wanita cantik, sambil matanya memandang Sand.
“Cih! Ana kamu harus tahu diri! Aku bisa meraPyn energinya! Hanya aku yang sanggup menandinginya.
“Py, memangnya kamu lebih hebat dariku?!” balas sang istri sengit.
“Hentikan pertikaian kalian. Ingat tujuan kita datang ke sini.” tukas Micro Magnetic dengan tenang.
“Micro Magnetic kamu bukan atasan kami! Jangan memerintah seenaknya!” sahut Py kesal.
“Aku memang bukan atasan kalian. Tapi dia yang memerintahkan kalian untuk patuh padaku.” balas Micro Magnetic, kemudian menoleh pada Bird “Kemarilah. Kamu akan tinggal di tempat yang jauh lebih bagus daripada rumahmu sekarang.”
Bird diam sambil menundukkan kepala selama beberapa saat. Kemudian dengan berat hati ia melangkahkan kakinya menuju Micro Magnetic. Micro Magnetic menyeringai puas karena akan segera mendapatkan perempuan yang bisa dijual. Namun, tiba-tiba Sand berkelebat dan langsung menerjang Micro Magnetic.
“Jangan harap aku biarkan kalian berbuat semena-mena!” seru Sand seraya mengerahkan energy. Tak lama kemudian pasir beterbangan di sekitarnya.
“Rupanya Sand, ketua Liberte! Bagus! Sudah lama aku ingin menjajal jurusmu!” seru Py, lalu melesat dan menghadang Sand.
“Kebetulan! Aku ingin menghabisimu!” usai berkata demikian, Ana melesat sambil menyabetkan ular androidnya ke arah Sand.
Kedua ular android hitam meliuk-liuk ke arah Sand. Ular android Py menerjang kepala Sand, tetapi dengan gesit Sand berkelit ke bawah, dan langsung disambut Ana dengan ular androidnya. Kali ini Sand menepis dengan pukulannya, sekaligus melancarkan serangan balik. Pukulan Sand bergulung dan membuat pusaran besar bagai ombak pasir yang bergulung-gulung, merangsek Ana dan Py dengan cepat. Sayang, Keduanya memiliki kecepatan yang tinggi. Mereka melanting ke belakang sejauh tiga meter. Sand tidak memberi kesempatan dan merangsek keduanya. Pukulan Sand menerjang-nerjang ke lima penjuru sekaligus berputar bak gasing. Sehebat apa pun Py dan Ana, kali ini mereka dipaksa bertahan dan terkurung pukulan Sand yang bertubi-tubi.
Diam-diam Micro Magnetic kagum dengan energi Sand. Setelah itu ia menoleh pada Bird, lalu dengan kecepatan tinggi tangannya berkelebat menarik Bird.
“Bird!” teriak Spoon yang berlari ke arah Micro Magnetic. Akan tetapi pasukan Micro Magnetic menghadangnya dengan pedang.
“Kakek jelek! Kamu tidak perlu khawatir dengan cucumu. Aku akan menjualnya pada orang kaya, daripada hidup menderita bersamamu!” seru Micro Magnetic.
Mendengar kata-kata itu, Sand menarik serangannya dari kedua lawannya lalu melesat menuju Micro Magnetic. Namun, tiba-tiba Sand berhenti saat ia melihat para penjaga mengarahkan ujung pedang laser ke leher Spoon.
“Sand sebenarnya aku ingin mencoba kemampuanmu yang terkenal kehebatannya Tapi sayang, malam ini aku tidak punya waktu meladenimu. Simpan nyawamu sampai kita bertemu kembali,” tukas Micro Magnetic, kemudian memacu kudanya keluar dari Kota Le Plus Vieux, diikuti Py, Ana dan para pasukan.
“Dasar gila!” hardik Sand geram, ;antas melesat dan mengejar mereka.
Sementara itu di Colline Fleurie, Sand tengah berdiri seraya matanya mengamati keadaan sekitar. Colline Fleurie adalah sebuah bukit yang indah. Di sana terdapat sebuah telaga yang airnya berkilau warna-warni.
“Aneh, kalau memang benar ini tempat yang dimaksud oleh Ana, lantas di mana Micro Magnetic menyembunyikan Bird dan Spoon? Aku tidak melihat ada bangunan di sekitar sini.” Sand melangkah ke tepi telaga, matanya mengamati air telaga. “Mungkin di bawah telaga ini ada jalan yang dapat membawaku ke suatu tempat.”
Ia meraup air dan mencium baunya. “Air telaga ini beracun. Bau wanginya sangat tajam sehingga membuat kepalaku pusing, dan juga terasa membakar kulitku. Kalau ada sebuah jalan rahasia, tidak mungkin ada yang sanggup menyelam ke dalam telaga.”
Dalam keadaan buntu, matanya menangkap sekumpulan bunga teratai berwarna putih dan merah muda yang mengapung di atas air. Ketika mengamati teratai-teratai tersebut, terlintas di pikirannya kata-kata Greenback. ‘Jika suatu saat kamu berada di Colline Fleurie, ingatlah kata-kata ini: aku akan memberikanmu sepasang bunga cinta untuk diresapi kelopaknya yang suci dan dihirup putiknya yang memanjakan hati.’
Sand terus mengulang-ulang kalimat itu untuk memahami maknanya. “Mungkin yang dimaksud dengan suci adalah warna putih yang melambangkan kesucian, sedangkan hati dilambangkan oleh warna merah muda.”
Kemudian ia memetik dua tangkai teratai, yang satu teratai putih, yang lain teratai berwarna merah muda. Ia mencabut kelopak teratai putih, lalu memasukkannya ke dalam mulut untuk meresapi sari-sarinya. Setelah selesai, ia hirup kelopak teratai merah muda selama beberapa saat. Berikutnya ia meraup air telaga dan menciumnya. Sekarang bau wangi air telaga tidak membuat kepalanya pusing dan tidak pula membuat kulitnya terasa terbakar.
“Bagus kedua teratai ini merupakan penawar racun air telaga. Ternyata Greenback memang memberikan sebuah petunjuk yang benar.” Sand tidak mau larut dalam dugaan-dugaan yang hanya akan menghabiskan waktunya. Kemudian ia menyelam ke dalam telaga yang membawanya ke sebuah lorong menuju suatu tempat.
Lorong itu membawa Sand tiba di sebuah ruangan. Sesampainya di sana, Sand menepi lalu keluar dari dalam air. Matanya memeriksa sekeliling, di sana ada sebuah taman bunga yang indah. Ada ratusan jenis bunga yang ditanam di dalam pot-pot yang cantik.
“Inikah yang dimaksud Greenback dengan taman kasih?” gumam Sand, sambil memegang dahinya. Sand merasa sedikit pusing, tetapi ia abaikan dan mencoba memahami makna kalimat lain yang disampaikan Greenback. ‘Sebuah taman kasih sebagai tempat bermukim sang elang yang tampan nan gagah.’
Sand menyelisik setiap bunga dan pot yang ia lewati “Semua bunga di sini merupakan bunga langka, lalu menghampiri sebuah bunga yang memiliki kelopak berwarna cokelat, dan putik berwarna putih.
“Ini bunga Gerhana Mentari. Bunga ini tumbuh setiap seratus tahun sekali pada musim panas di padang rumput. Dan hanya sedikit sekali yang tumbuh ketika musimnya tiba. Warna bunga ini sangat khas seperti warna seekor elang …, jangan-jangan bunga ini adalah elang yang dimaksud Greenback?”
Sand memeriksa pot bunga kemudian mencoba memutarnya ke kiri, tetapi pot itu tetap bergeming. Berikutnya ia putar ke kanan, seketika itu lantai bergetar dan terdengar suara lantai batu bergeser. Sand menghampiri lantai batu yang bergeser.
“Sebuah tangga menuju ke lantai bawah. Berarti bangunan ini berada di bawah permukaan tanah,” gumamnya, kemudian berjalan menuruni anak tangga. “Untung saja aku sedikit paham berbagai jenis bunga. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa memahami petunjuk Greenback.”
Baru berjalan melewati lima anak tangga, kepala Sand kembali pusing. Makin jauh ia turun, kepalanya terasa makin berat dan matanya menjadi berkunang-kunang. Sampai akhirnya, ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir ia roboh dan tidak sadarkan diri.
Terdengar suara langkah kaki berjalan menghampiri Sand, dan berhenti ketika berada di hadapannya. Ternyata orang itu adalah Ana. Kemudian ia memanggul tubuh Sand dan membawanya ke sebuah lorong. Setelah melewati lorong yang cukup panjang, Ana membawa Sand ke dalam ruangan di mana Bird ditahan. Kemudian diikatnya kedua tangan dan kaki Sand di salah satu dinding.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Py datang sambil mengumpat “Micro Magnetic kurang ajar! Memangnya ia pikir aku pesuruhnya?! Disuruh membantunya lama sekali! Sampai badanku pegal, aku tinggal saja dia—Ana! Kenapa laki-laki bodoh ini ada di sini?”
“Tentu saja untuk menyiksanya!” Ana terkekeh.
“Aku memang penjahat! Tapi aku tidak pernah berbuat curang! Lebih baik bertarung melawannya!” seru Py.
“Kamu naïf sekali, Suamiku.” Ana berjalan menghampiri Sand. “Kita sudah melihat kehebatannya tadi. Dan kamu masih berpikir dapat mengalahkannya?! Jangan membuatku tertawa!”
Tiba-tiba ikatan di tangan dan kaki Sand hancur berantakan. Rupanya diam-diam Sand sudah sadar dari tadi dan mengumpulkan energi. Sontak, Ana dan Py yang terkejut tak sempat berkelit saat Sand mengurung keduanya dengan pasir.
“Bird, ayo ikut aku!”
Sand melingkarkan tangannya ke pinggang Bird sambil melesat melewati lorong. Ketika hampir tiba di ujung lorong, empat orang penjaga memergoki mereka.
“Ada penyusup!” teriak seorang penjaga sambil membunyikan alarm.
Sand menerjang kawanan penjaga dengan energinya, dan membuat mereka terhempas. Baru saja melumpuhkan mereka, puluhan penjaga lain datang dan menusukkan pedang laser ke arah Sand. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu, ia mengepak bak sayap burung dan menerjang puluhan penjaga. Serangan Sand terlalu hebat bagi para penjaga, hanya dalam sekejap para penjaga meregang nyawa.
“Sand! Berani-beraninya berbuat onar di istanaku! Cari mati!” Tiba-tiba dari arah belakang, Micro Magnetic melesat sambil mengerahkan energi.
“Bird, cepat cari Kakek Spoon! Biar aku menghadangnya!” seru Sand seraya mengerahkan energy yang sama kuatnya.
Sand merangsek cepat dan terlihat ratusan, menyambut kedua pedang laser Micro Magnetic. Gerakan masing-masing pedang laser berbeda tetapi selaras. Pedang laser yang panjang meliuk indah, sedangkan pedang laser pendek menusuk-nusuk dengan cepat. Keharmonisan kedua pedang laser Micro Magnetic mampu meladeni serangan Sand yang bertubi-tubi.
“Tidak pecuma kamu memiliki nama besar!” seru Micro Magnetic sambil melanting ke atas, lalu secepat kilat menukik ke bawah menerjang Sand “Tapi belum cukup untuk menghadapiku!”
Kedua energi dahsyat itu bertemu!
Blar!
***