Sayang, Tulip dan Rose terjengkang dengan badan berdarah-darah. Dalam keadaan seperti itu, Rose dan Tulip hanya bisa menyurutkan langkah ke belakang. Menyerang juga akan percuma, karena hanya akan menghantarkan nyawa karena luka dalam yang mereka alami. Saat harapan mulai menipis, tiba-tiba sebuah benda melesat dan menghantam lengan anggota berbaju biru. Anggota berbaju biru terkejut, apalagi ketika melihat benda itu ternyata adalah mayat ketua rombongan. Rose dan Tulip menoleh. Keduanya melihat Sand sedang berjalan ke arah mereka sambil menatap tajam pada kedua anggota kelompok Esprit Libre.
“Tulip, Rose, tenanglah. Biar aku yang selesaikan mereka,” tukas Sand, seraya melempar pandangan ke belakangnya, menunjukkan agar kedua perempuan itu beristirahat di sana.
Kedua anggota kelompok Esprit Libre gemetaran seiring langkah Sand yang makin dekat. Percuma menyerah, karena Sand tetap akan menghabisi mereka.
Walikota Glory Tomb melihat kekalahan di depan mata, segera mengambil langkah seribu.
“Glory Tomb jangan harap bisa kabur!” teriak Tulip yang melesat mengejar Walikota Glory Tomb.
“Sand, kami harus mengejar Walikota busuk itu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu di kemudian hari!!” seru Rose lalu melesat mengikuti Tulip.
Di bawah kerimbunan pepohonan hutan, Walikota Glory Tomb berlari dengan napas tersengal-sengal. Perasaan takut membuatnya mengompol di celana. Walau hutan itu gelap dan menyeramkan, baginya Sand, Rose, dan Tulip lebih menakutkan dibandingkan makhluk apa pun.
“Dasar Walikota busuk!” hardik Tulip yang langsung menerjang Walikota Glory Tomb dari belakang. Walikota terhempas dan jatuh berguling-guling hingga akhirnya menabrak kaki seseorang. Ia mendongak ke atas. Dilihatnya Rose tersenyum lebar mempertontonkan deretan gigi yang putih dan rapi.
“Walikota busuk, mau ke mana kamu?” tanya Rose sambil senyum-senyum.
“Ampuuuun! Apa mau kalian? Berapa peti Bucky? Atau rumah? A—aaagh!” Belum sempat Walikota Glory Tomb menyelesaikan kalimatnya, Tulip memukul kepalanya dari belakang.
“Cepat katakan di mana kamu simpan benda itu!” bentak Tulip.
“Kalau kuberitahu apakah kalian membiarkanku hidup?” tanya Walikota dengan suara terbata-bata, ketakutan.
“Mungkin,” jawab Rose.
“Aku mau kalian berjanji,” kata Walikota lagi.
“Baiklah kami berjanji, asalkan kamu berkata jujur,” tukas Tulip.
Walikota diam sejenak dan berpikir. Kalau ia beritahu lokasi yang diminta kedua perempuan itu, mereka bisa menemukannya. Jadi jalan terbaik adalah berbohong, dan menunjukkan lokasi yang jauh, agar kedua gadis tersebut tersesat dan tak mudah mencarinya lagi.
“Mereka tinggal di puncak Gunung Helt,” jawab Walikota Glory Tomb, kali ini dengan suara tenang.
Tulip tersenyum, lalu tangannya berkelebat cepat ke arah Walikota Glory Tomb.
Cras!
“Aargh!” Walikota Glory Tomb menjerit keras saat tangan kanan dan kaki kirinya terpotong.
“Kami memang berjanji untuk tidak membunuhmu, tapi tidak berjanji untuk tidak membuatmu menderita. Anggap saja itu untuk menebus dosamu yang setinggi gunung,” ujar Tulip dingin, “Rose, ayo.”
Kemudian keduanya melesat ke arah utara dan hilang di balik pepohonan. Walikota Glory Tomb terus menjerit kesakitan sambil berguling-guling. Dari tangan dan kakinya yang terpotong, mengucur darah tak henti-henti. Hingga akhirnya Walikota Glory Tomb tidak sadarkan diri.
Tiga hari berselang, Walikota masih terkulai di dalam hutan. Rasa sakit pada lengan dan kakinya telah berkurang, tetapi luka di hatinya makin dalam. Ia berharap ada yang menolongnya agar nanti ia dapat membalas dendam pada Tulip dan Rose.
“Tolong …, air …, air ….” Walikota Glory Tomb tampak lemah.
Tiba-tiba ada seseorang yang menumpahkan air ke dalam mulutnya. Walikota Glory Tomb mengerjap, perlahan ia membuka matanya. “Terima kasih.”
Si penolong diam tidak menjawab, seraya menggendong Walikota di punggungnya. Penampilan si penolong sangat janggal. Kepalanya memiliki rambut yang tumbuh tidak beraturan, wajahnya bulat dan kotor, matanya mencuat seperti hendak keluar dari kelopak mata, hidungnya pesek dan lebar, bibirnya sumbing, telinganya sobek-sobek, perawakannya pendek dan bongkok, kulitnya berwarna hijau dan dipenuhi gelembung-gelembung berisi cairan busuk. Tubuhnya mengeluarkan bau yang sangat busuk. Ia mengenakan pakaian compang camping yang lusuh tak terurus.
“Bolehkah aku tahu siapa nama Anda?” tanya Walikota.
“Panggil saja aku Cazu Marzu,” jawab si penolong dengan suara seperti ular mendesis.
Cazu Marzu berjalan lebih jauh ke dalam hutan dengan kecepatan yang sulit untuk dibayangkan, kemudian hilang di dalam kegelapan.
***
Setelah menghabisi dua anggota kelompok Esprit Libre, Sand kembali melanjutkan perjalanan. Sebenarnya jarak yang Sand tempuh untuk kembali ke markas Liberte tidak jauh. Namun ia memutuskan singgah di sebuah kota kecil.
“Matahari siang ini terik sekali. Sebaiknya aku beristirahat di kota itu,” ujar Sand sambil menyeka keringat di dahinya.
Kota yang dimaksud memang hanya beberapa meter di depannya. Tidak lama berselang, ia sudah tiba di Kota Le Plus Vieux. Sand melihat berkeliling untuk mencari penginapan di sana. Ia merasa ada yang janggal karena tidak melihat ada perempuan dewasa di Kota Le Plus Vieux. Setelah berjalan cukup jauh, Sand tidak menemukan sebuah penginapan, lantas ia pun bertanya pada seorang laki-laki tua yang berpapasan dengannya.
“Apakah ada penginapan di kota ini?” tanya Sand pada laki-laki yang sudah berusia lanjut tersebut.
“Di sini tidak ada penginapan. Maaf ada keperluan apa ya di kota kami?” Laki-laki tua balik bertanya.
“Kebetulan aku sedang dalam perjalanan. Karena merasa lelah, aku ingin beristirahat di kota ini,” jawab Sand dengan sopan.
Laki-laki tua diam sejenak, seraya memperhatikan Sand dengan saksama. Setelah beberapa saat ia berkata “Rumahku sudah tua. Tapi kalau tidak keberatan, silakan menginap di rumahku.”
“Tentu saja. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan Kakek,” ucap Sand.
Kemudian Sand berjalan mengikuti laki-laki tua. Sesampainya di tujuan, Sand dipersilakan masuk ke dalam rumah. Rumah tersebut berukuran kecil dan sangat sederhana. Keadaan rumah itu mencerminkan kemiskinan yang dialami laki-laki tua dan seluruh penduduk kota.
“Kami hanya memiliki satu kamar, tetapi itu kamar cucuku. Nanti bisa tidur di ruangan ini bersamaku.”
“Di mana saja tidak apa-apa, Kek,” kata Sand.
“Ngomong-ngomong, siapa nama Saudara?” tanya laki-laki tua tersebut.
“Namaku Sand Kek.”
Mendengar nama Sand disebut, laki-laki tua diam beberapa saat seraya berpikir “Sand?” tanya laki-laki tua itu.
“Bagaimana Kakek tahu?” tanya Sand heran.
“Pantas saja sepertinya aku merasa kenal. Ini aku, Spoon,” jawabnya senang, sambil memegangi kedua lengan Sand dengan tangannya yang sudah keriput.
“Spoon yang pernah bekerja di kediaman ketua Greenback?” tanya Sand, merujuk ketua Liberte pertama yang telah meninggal dan posisinya ia gantikan.
“Iya benar Nak.”
“Aku tidak mengenali, Kakek. Pasalnya sudah lama sekali kita tidak bertemu.”
Pertemuan Sand dengan Spoon sungguh tidak terduga. Akhirnya mereka melewatkan waktu berbincang-bincang untuk melepaskan kerinduan.
“Oh iya Kek, bagaimana kabar Gel dan Earth?” tanya Sand.
“Gel sudah meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Sedangkan Earth—” Suara Spoon tercekat hingga tak sanggup berkata-kata.
“Kalau Aki tidak sanggup bercerita aku tidak memaksa Ki.”
Spoon menerawang dengan tatapan nanar, kemudian dengan suara parau ia bertutur, “Dua tahun lalu, ada seorang saudagar bernama Micro Magnetic yang datang berdagang ke kota-kota di daerah ini. Awalnya tabiat Micro Magnetic terlihat wajar, tetapi setelah menguasai beberapa jalur perdagangan, tabiat aslinya muncul. Ia mulai mengancam penduduk, kalau tidak memberikan separuh penghasilan maka ia akan menutup jalur perdagangan. Tidak berhenti sampai di situ, setelah semua jalur perdagangan ia kuasai, Micro Magnetic makin menjadi-jadi. Bukan hanya separuh penghasilan yang ia minta, tetapi juga semua perempuan yang telah berusia tujuh belas tahun ke atas diambil paksa untuk diperdagangkan. Mereka akan dijual sebagai pesuruh. Setahun lalu ia mengambil Earth, dan sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana nasibnya.”
“Pantas saja tadi aku tidak melihat perempuan dewasa di kota ini,” ujar Sand, “lantas apakah cucu Kakek perempuan?” tanya Sand.
Spoon mengangguk “Benar. Sebenarnya tadi sewaktu kita bertemu, , aku sudah menduga kalau Anda memiliki energi luar biasa. Terkait cucuku Bird, kalau boleh aku mohon bantuan Anda.”
Sand tersenyum kemudian berkata “Aku senang kalau bisa membantu. Tapi apa kira-kira yang bisa kubantu?”
“Begini, malam ini usia Bird akan genap tujuh belas tahun. aku khawatir Micro Magnetic akan datang mengambilnya,” tutur Spoon, menyampaikan permintaannya.
“Baiklah, aku akan berusaha mencegahnya. Tapi di mana Bird sekarang?”
“Sudah seminggu ini ia mengurung diri di dalam kamarnya,” terang Spoon.
Sand menghela napas lega karena Bird tidak berada di luar rumah.
“Apakah Kakek tahu di mana kediaman Micro Magnetic?” tanya Sand, yang berniat menggagalkan Micro Magnetic untuk mengambil Bird, sekaligus menemukan Earth dan para perempuan yang telah menjadi korbannya.
“Sayang sekali. Tidak ada yang tahu persis di mana kediaman Micro Magnetic. Pernah ada yang coba mengikutinya, tetapi tiba-tiba Micro Magnetic seperti hilang ditelan bumi. Sejak itu tersiar kabar kalau Micro Magnetic adalah hantu.”
“Aku rasa tidak Kek. Aku yakin kediamannya di tempat yang tersembunyi.”
“Mungkin Anda benar. Anda beristirahatlah dulu sambil menunggu malam.”
“Baik Kek.”
Waktu demi waktu berlalu, tak terasa malam telah larut menjelang pergantian hari. Spoon duduk di sebelah Sand yang sedang tidur terlelap. Wajahnya yang sudah tua, terlihat makin keriput, matanya yang sudah makin rabun tak henti-hentinya meneteskan air mata. Rasa cintanya pada sang cucu demikian besar, tetapi ia merasa tidak berdaya mencegah Micro Magnetic.
Saat ia tengah dirundung gundah, terdengar suara pintu terbuka. Dari balik pintu, muncul seorang gadis cantik yang masih belia. Rambut gadis itu berwarna hitam, dan terkepang rapi. Wajahnya yang oval dan lonjong membingkai alis tidak terlalu tebal yang melekuk indah, sepasang mata sayu, hidung pipih dan mancung, bibir tipis yang merah segar, serta dagu yang runcing. Sayang, pancaran kecantikannya kini tampak redup oleh rasa gundah yang menggelayut di hatinya.
“Kek,” panggil gadis bernama Bird, seraya duduk di sebelah sang kakek.
“Jangan sedih Kek. Kalau Kakek sedih, Bird jadi makin sedih.” ujarnya lirih, kemudian ia melanjutkan, “Ayah sudah meninggal, sedangkan keberadaan ibu tidak diketahui sampai sekarang. Sekarang satu-satunya yang dekat dengan Bird cuma Kakek. Bird tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakek. Bird sudah memikirkannya kalau sebaiknya Bird merelakan diri diambil oleh Micro Magnetic.”
Mendengar penuturan Bird, Spoon menangis tersedu “Jangan Bird. Kakek lebih baik mati daripada menyerahkanmu pada Micro Magnetic.”
“Tapi Kek, apa pun yang kita berikan dan seberapa banyak pun yang kita korbankan untuk Micro Magnetic, semuanya akan percuma. Ia tetap akan mengambil Bird dengan paksa. Jadi Bird berpikir kalau mengikuti keinginannya adalah jalan terbaik.”
“Bird, lelaki ini adalah seseorang yang luar biasa. Aku telah memintanya untuk menolongmu,” ucap Spoon seraya melayangkan pandangan ke arah Sand.
***