38

1679 Kata
Sementara itu di tempat. Lain. Alasan Sand tidak jadi menemani Cloud dan kawan-kawan karena ia mendengar rapat yang diadakan petinggi Esprit Libre dengan Walikota Wavre. Ia pun bergegas menuju kota tersebut untuk mencari tahu kabar yang beredar sampai ke telinganya. Ratusan kilo telah Sand tempuh. Akhirnya ia telah sampai di Kota Wavre. Sand berjalan mencari tempat rapat itu diadakan. Ketika tengah berjalan, matanya menangkap dua orang perempuan yang sudah tidak asing. Wajah keduanya sama-sama cantik, tetapi dengan ciri kecantikan yang berbeda. Yang seorang memiliki rambut hitam lurus dan panjang yang dibiarkan tergerai. Wajahnya berbentuk oval membingkai sepasang mata sayu, bulu mata lentik, alis tidak terlalu tebal, hidung mancung, bibir tebal dan berbentuk indah, serta dagu belah. Ia mengenakan pakaian ungu yang dan putih yang indah. Perempuan itu bernama Tulip. Sedangkan seorang lagi bernama Rose yang memiliki rambut kecokelatan, berombak dan sebatas pundak. Wajahnya oval dan agak bulat, membingkai sepasang mata lebar, bulu mata lentik, alis tebal kecokelatan, hidung mungil, serta bibir merah tipis. Pakaian biru muda yang dikenakan terlihat serasi dengan warna kulitnya yang putih kekuningan. Di ikat pinggangnya tergantung sebuah pedang laser. Tinggi badannya termasuk mungil, tetapi justru membuatnya terlihat menggemaskan. “Mereka adalah kedua anggota Ciel Bleu. Mungkin kabar itu benar. Setahuku Ciel Bleu memiliki dendam besar pada Esprit Libre. Sebaiknya aku kuntit mereka,” gumam Sand dalam hati. Dari kejauhan Sand melihat kedua perempuan itu bersembunyi di balik dinding sebuah rumah makan, sambil mengamati orang-orang yang berada di ruangan lain. Orang-orang itu berjumlah belasan. Salah satu di antara mereka wajahnya sangat mudah dikenali, sementara yang lainnya merupakan anggota Esprit Libre. Ya, dialah Walikota Wavre, Glory Tomb. “Walikota Glory Tomb. Rupanya kabar itu benar,” gumam Sand. Selama beberapa saat Sand mengamati keadaan di dalam rumah makan. Beberapa saat kemudian anggota Esprit Libre memergoki Rose dan Tulip sehingga terjadi keributan. Para anggota Esprit Libre bukanlah orang sembarangan. Mereka memiliki energy yang besar. Kedua anggota Ciel Bleu dibuat kelabakan oleh serangan-serangan mereka. Serangan anggota Esprit Libre berhasil menyayat kulit kedua perempuan itu. Dikepung sepuluh orang, membuat keduanya tak sanggup melarikan diri. Melihat keadaan itu, Sand segera melesat. “Pengecut! Sepuluh laki-laki mengeroyok dua perempuan! Kalau kalian punya nyali, hadapi aku!” seru Sand yang langsung merangsek anggota Esprit Libre. “Sand …,” ucap Walikota Glory Tomb geram. “Cepat habisi ketiganya!” Sepuluh anggota Esprit Libre memiliki kemampuan cukup hebat. Mereka berhasil menangkis serangan Sand dan kedua perempuan itu. “Walau kamu memiliki kemampuan mumpuni,jangan kamu pikir Esprit Libre tidak sanggup menghabisimu!” bentak pemimpin romongan Esprit Libre, sambil menerjang lawan-lawannya. Kemampuan mereka memang tidak bisa dikatakan sangat hebat, tetapi apabila kesepuluh orang tersebut bersatu melawan musuh, bisa dipastikan tidak akan ada yang berani menganggap remeh. “Rose.” Tulip mengerling pada Rose. Mengetahui isyarat itu, Rose mengangguk. Kemudian keduanya memadukan serangan bersama-sama. Pedang laser mereka meliuk-liuk dengan cepat. Kecepatan meliuknya membentuk pusaran, dan merangsek ke arah Esprit Libre. Menghadapi serangan itu, membuat Esprit Libre kewalahan. Sebagian di antara mereka tidak sempat berkelit, dan tersambar serangan Sand dan kedua anggota Ciel Bleu. “Kurang ajar!” bentak ketua rombongan Esprit Libre. “Cepat, bentuk formasi!” Mendengar perintah ketua rombongan mereka, kesembilan anggota Esprit Libre membentuk formasi segitiga. Di ujung formasi depan, ketua rombongan Esprit Libre mengacungkan senjatanya dan memberi perintah “Habisi mereka!” Serangan Esprit Libre bergerak lurus, tajam, dan menusuk ke arah ketiga lawan mereka. Formasi ini bergerak serempak dan sangat kejam, sehingga Sand dan kedua perempuan itu dibuat kerepotan sampai tidak bisa menyerang balik. Bahkan lengan dan kaki kedua perempuan tersebut tersayat cukup dalam. Sand bisa menduga, kalau pertarungan ini tetap diteruskan, mereka bertiga akan menjadi korban keganasan Esprit Libre. Ia segera memikirkan siasat untuk lari dari pertempuran. Sand melesat dan menerjang ujung formasi. Tangannya berputar lalu menghantam senjata-senjata di hadapannya. Benturan energi kedua energi itu membuat Sand terpelanting ke belakang. Dengan memanfaatkan daya lanting, ia merangkul pinggang kedua perempuan tersebut lantas melesat cepat ke dalam hutan di belakang Kota Wavre. Esprit Libre tidak menyangka kalau Sand menerjang mereka sebagai langkah untuk melarikan diri. “Kejar mereka!” perintah Walikota Glory Tomb, marah. Tidak mudah mencari Sand dan kedua perempuan yang kini tengah berada di dalam hutan yang luas. Setelah merasa cukup aman, Sand berhenti di bawah sebuah pohon besar. “Terima kasih telah menolong kami,” ucap Rose, sambil membalut luka di tangannya dengan kain lengan baju. “Sudahlah. Kebetulan musuh kita sama. Tapi keadaan kita masih belum aman. Bisa saja sewaktu-waktu mereka menemukan kita,” ucap Sand. “Benar. Rose, sebaiknya kita mempersiapkan formasi jebakan untuk menyambut mereka,” tukas Tulip sambil mengobati luka di kakinya. Setelah selesai membalut dan mengobati luka, Rose dan Tulip mempersiapkan formasi jebakan. Sand yang tidak paham akan formasi tersebut, hanya membantu mereka mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Sand merasa heran melihat Tulip dan Rose sangat percaya diri bisa menghabisi anggota Esprit Libre, padahal kemampuan kedua perempuan tersebut biasa saja. Namun, Ciel Bleu bukan kelompok sembarangan. Anggota mereka diisi perempuan-perempuan genius. “Sudah selesai. Ayo, kita tunggu mereka dari atas pohon,” tukas Rose seraya tersenyum. Waktu demi waktu berlalu, hari pun telah berganti malam. Dalam keheningan dan kepekatan malam, ketiganya masih menunggu di atas sebuah pohon. “Mau sampai kapan kita menunggu?” tanya Rose pada Tulip. “Entahlah. Mungkin sampai besok pagi. Kalau mereka tidak juga datang, kita harus mencari cara lain untuk menangkap mereka,” jawab Tulip. Baru saja Tulip selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara-suara di dalam hutan. “Walikota, sepertinya seluruh hutan sudah kita jelajahi. Tapi mereka tidak juga terlihat. Apa tidak sebaiknya kita hentikan pencarian ini?” tanya salah seorang anggota Esprit Libre. “Tidak. Kita harus menemukan mereka. Ingat, akan ada hadiah sangat besar menanti kalian jika kalian dapat membinasakan mereka,” tukas Walikota Glory Tomb bersikukuh. Mendengar suara-suara itu, Sand segera mengolah energi. “Tidak perlu membuang tenaga. Simpan energimu untuk saat yang diperlukan. Kita tonton saja pertunjukan menarik sebentar lagi,” bisik Rose seraya tersenyum lebar. Sand merasa heran mendengarnya, tetapi ia menurut dan menghentikan olah energinya. Benar saja apa yang dikatakan Rose. Beberapa saat kemudian terdengar suara jeritan beberapa orang yang jatuh terperosok ke dalam lubang jebakan, diikuti suara batu besar yang jatuh menimpa mereka. “Tinggal tujuh orang anggota Esprit Libre,” gumam Rose sambil senyum-senyum. “Hati-hati! Banyak jebakan di sekitar ki—” Baru saja salah seorang anggota Esprit Libre bersuara, kerongkongannya sudah tertembus dua batang kayu yang runcing. “Enam lagi,” ucap Tulip. Satu demi satu anggota Esprit Libre tewas oleh formasi jebakan yang dipersiapkan kedua perempuan itu. Hingga akhirnya menyisakan empat orang anggota dan Walikota Glory Tomb. Sand mulai paham kenapa Ciel Bleu menilai tinggi kedua anggotanya tersebut sehingga memberi tugas penting pada mereka. Diam-diam ia merasa kagum akan kecerdasan Tulip dan Rose. Empat orang yang tersisa meningkatkan kewaspadaan sambil melindungi Walikota Glory Tomb. “Kurang ajar. Anggota kita mati satu demi satu,” geram ketua rombongan Esprit Libre. Baru saja selesai berkata-kata, kakinya menginjak sebuah batu, yang menyebabkan dua batang kayu besar mengayun dari kedua sisi. Keempatnya terkejut, tetapi mereka berkelit sambil menebas pedang laser, memutuskan tali yang mengikat kedua batang kayu besar itu. “Cih! Jebakan kita sudah habis!” Tulip lalu melesat diikuti Rose dan Sand dari belakang. Kemudian ketiganya mendarat di hadapan Esprit Libre dan Walikota Glory Tomb. “Sekarang kamu boleh mengolah energimu.” Rose melirik Sand. Walikota Glory Tomb menatap ketiganya dengan tatapan marah “Kurang ajar! Selalu saja ikut campur urusan orang!” “Ikut campur? Tidak pantas pengkhianat busuk seperti kamu berkata seperti itu?!” sahut Rose, tak mau kalah. “Rose, kita tidak perlu meladeni kata-katanya. Makin banyak berdebat, makin lama kita di sini, dan makin muak aku melihat mukanya yang jelek!” kata Tulip tajam. Sand tetap diam tanpa berkata-kata. Meski di atas kertas ia sanggup mengalahkan mereka dengan cepat, ia tetap tidak mau meremehkan. Lantas diolahnya energi sampai kedua tangannya diselimuti cahaya putih yang terang. Melihat Sand dalam kondisi siap bertempur, ciutlah nyali keempat anggota Esprit Libre. Apalagi dengan jumlah mereka saat ini, mustahil dapat mengalahkan Sand. Namun, jika mereka mundur belum tentu mereka tidak dihadang. Sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain mengadu nasib. Keempat anggota Esprit Libre menghambur dan merangsek ketiga lawan mereka. Senjata-senjata mereka menyabet dengan ganas. Sand, Rose, dan Tulip menyambut mereka dengan energi andalan. Tangan Sand berkelebat cepat ke arah ketua rombongan Esprit Libre dan seorang anggota lainnya. Kedua orang itu jelas bukan tandingan Sand. Hanya dalam waktu singkat keduanya terdesak. Sementara itu Rose dan Tulip menghadapi dua anggota Esprit Libre yang lain. Senjata-senjata anggota Esprit Libre menikam ke arah Rose dan Tulip, tetpi kedua perempuan itu bergerak lebih cepat. “Ganti saja nama kelompok kalian menjadi Groupe D’imbeciles (kelompok orang bodoh)!” seru Rose sambil mengeluarkan energi. Tangannya menusuk-nusukkan pedang laser dengan gerakan cepat dan tajam pada salah seorang anggota yang berbaju merah. Sayang, pedang lasernya hanya mengenai ruang kosong. Tiba-tiba sebuah serangan datang dari atas. Kalau Tulip tidak menghalau dengan pedang laser, hampir saja serangan itu mengenai Rose. “Rose, hati-hati. Kemampuan mereka cukup hebat,” ucap Tulip mengingatkan. “Masih berani berbincang saat nyawa di ujung tanduk! Rasakan ini!” seru seorang anggota yang berbaju biru. Pedang laser laki-laki berbaju biru merangsek ke arah Tulip. Pedang laser itu menyabet dengan cepat ke empat penjuru. Namun, Tulip mampu berkelit dan melancarkan serangan balik dengan energi. Pedang laser di tangannya meliuk cepat, tangannya yang lain berputar seperti sedang menari, kedua kakinya melangkah dengan anggun. Energi itu lembut, cepat, dan mematikan, sehingga anggota berbaju biru terlambat menghindar. Pedang laser Tulip menebas ketiga jari lawan sampai terputus. Tapi tiba-tiba anggota berbaju merah menyerang dengan cepat dari belakang. Pedang laser di tangannya menusuk tajam dan dialiri energi kuat. Sebelum serangan itu berhasil mengenai Tulip, Rose menghadangnya dengan energi andalan. Badan Rose berputar seperti gasing, pedang lasernya menusuk-nusuk ke lima penjuru. Anggota berbaju merah urung menyerang Tulip, dan mencoba menangkis serangan Rose. Namun, gerakannya tidak cukup cepat, sehingga lengannya tertusuk oleh pedang laser Rose. Baru saja serangan Rose berhenti, anggota berbaju biru menerjang dan menyabetkan pedang lasernya dari samping. Melihat serangan itu Tulip berusaha menghalau. Cras! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN