Pemuda keras kepala itu mencoba langkah pertama dan berhasil tapi kakinya gemetar menopang tubuh kesakitannya. Cloud berusaha bertahan tetap berdiri. Ia merasakan nyeri pada tulang belakang bagian bawah. Percobaan langkah keduanya gagal total, ia jatuh berdebum, kaki gemetarnya terkulai tak berdaya, pemuda itu mengaduh kesakitan.
Sekali lagi Charge mengela napas berat. “Kau ini pemuda paling bebal yang pernah kutemui.”
Alhasil Cloud dibantu kembali ke tempat tidur itu. Tapi diam- sesuatu dalam hati Charge terketuk amat keras. Pemuda ini mengingatkan akan masa mudanya yang penuh semangat. Ia seolah diingatkan kembali hal yang pernah terjadi selama ia hidup beberapa dekade ke belakang.
“Baiklah, aku akan membawamu ke sana tanpa kau harus terbang atau berjalan,” katanya kemudian membuat Cloud senang dan bingung secara bersamaan. Apa pun caranya ia tidak peduli, yang penting lokasi jatuhnya batu itu dapat ia jumpai.
“Tunggu sebentar!” Charge pergi, kali ini bukan hanya keluar kamar, tapi juga keluar dari rumahnya. Ia tidak akan meninggalkan Cloud, kan?
Charge tidak akan meninggalkan Cloud dalam keadaan tidak berdaya begitu, ia bukan para penguasa tirani seperti pemerintah saat ini. Rupanya Charge pergi untuk mengambil sesuatu dari bangunan gudang di belakang rumahnya, ia mendorong benda itu masuk.
“Seumur hidupku, aku baru pertama kali melihat barang-barang aneh di rumahnya.” Maksud Cloud adalah barang-barang manual yang biasa Charge pakai. “Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Aku membuatnya sendiri saat sedang bosan.” Charge mendekatkan kursi yang beroda tipis dan besar itu ke arah Cloud. Ya, itu kursi roda, benda kuno entah dari zaman apa, kemudian Cloud duduk sempurna di sana. Akan lebih baik seandainya kursi roda ini bisa terbang juga.
“Dengar, jika seandainya kau dimakan hewan buas, itu bukan urusanku.” Peringatan keras setengah lelucon itu berhasil membuat bulu kuduk merinding.
Untuk berjaga-jaga, Charge membawa bersamanya tombak listrik, satu untuknya, satu lagi untuk pemuda di kursi roda ini sebagai perlawanan diri jika sewaktu-waktu binatang buas itu muncul menyerang mereka, setidaknya mereka tidak ingin mati konyol dengan hanya pasrah begitu saja—Charge pernah melawan salah satu dari hewan buas itu ketika pertama kali menemukan lokasinya, menggunakan tombak listrik ini—Selain tombak listrik, benda lain yang diperlukan adalah senter—mereka tahu seberapa gelap tempat itu apalagi jika masuk lebih jauh—dan air minum untuk Charge. Mendorong kursi roda berbobot laki-laki dewasa bukanlah hal mudah.
Selagi dalam perjalanan, perbincangan singkat mereka lakukan, hanya sesekali untuk mengusir ketegangan, sisanya mereka hanya diam tak bersuara.
Charge telah memasuki pintu masuk dasar jurang—berbentuk batu yang menyerupai gapura, dibuat oleh pemerintah Prancis saat itu—Cloud menatap sekeliling dengan perasaan was-was, bagaimana jika binatang buas itu ada sini?
Melihat gelagat Cloud yang terus menggenggam sigap tombak listrik, orang tua pendorong kursi berujar, “Mereka tidak pernah terlihat di sini.”
“Benarkah?” responsnya sangsi atas pernyataan Charge.
“Kau kira aku punya keberanian setiap hari datang ke sini tanpa mengetahui itu?”
Benar juga. Charge sering kemari untuk membuang sesuatu, kan, sesuatu yang berhasil menyelamatkan nyawa manusia. Di dalam sini juga pasti banyak hewan lain namun lebih jinak, memungut sampah itu mereka gunakan sendiri, lebih efektif daripada membakarnya yang hanya mencemari udara.
“Kalau segitu takutnya kenapa pula harus ke sana?” Charge masih mendorong kursi roda dengan tenang.
“Aku seorang ilmuan, Charge. Rasa ingin tahuku lebih besar daripada rasa takut dimakan hewan—kuakui aku memang takut. Dan aku harus tahu pergerakan pemerintah Prancis agar bisa menyelamatkan Sodda secepatnya.”
Ada sebuah kebanggaan terpatri di antara keriput kulit wajah Charge. Anak muda ini setia kawan, tidak meninggalkan teman. “Baiklah.” Namun hanya itu balasan yang keluar.
Dari bawah sini tebing menjulang seakan mampu menembus langit. Mereka masuk lebih jauh, Cloud mulai menyalakan alat pencahayaan mereka. Untungnya benda yang satu ini bukan senter primitif, cahaya terpancar terang dari benda itu, membuat mereka mampu melihat jauh lebih baik.
“Seberapa jauh tempatnya?”
“Sekitar dua kilometer lagi.”
Cloud membelalak. Sejauh itu? Ia sebenarnya sedikit tidak hati karena Charge harus mendorongnya sepanjang perjalanan. Andai saja orang tua ini tidak hidup terlalu kuno, mereka pasti bisa sampai tujuan jauh lebih cepat. Mobil terbang misalnya, ukurannya kecil dimasukkan ke ruang tamunya pun pasti cukup.
“Kenapa barang-barang di rumahmu aneh semua?” Itu pertanyaan tidak penting yang cukup lama dipendamnya. Di belakang sana sebuah senyuman kecil terbit dari bibir Charge.
“Hanya senang saja. Kita tidak pernah merasakan hidup di mana alat-alat serba manual. Sekarang semuanya serba otomatis, lebih mudah tapi seperti tidak hidup.”
Sejujurnya Cloud tidak mengerti, tapi ya sudahlah, orang tua ini punya pikiran lain dan itu tidaklah salah. Bagi Cloud, jika ia hidup di entah zaman apa namanya itu yang masih ada kursi roda macam ini, ia tidak akan bisa memperbaiki tubuhnya jika kecelakaan terjadi seperti sebelas tahun lalu, ia tidak akan bisa hidup normal kemudian mati sia-sia. Mengerikan.
Mereka telah menyusuri jalanan gelap ini cukup lama, tidak ada lagi percakapan tersisa. Semakin jauh mereka maju semakin awas mata mereka memerhatikan sekitar. Gulita terus mengikuti ketika cahaya senter tidak menjangkau semua tempat.
“Masih jauh?” tanya Cloud mencoba menetralkan kengerian di dalam sini.
“Sebentar lagi,” jawabnya masih sama seperti beberapa pertanyaan serupa lain yang telah berulang kali Cloud tanyakan.
Udara mulai terasa berbeda, pekat dan berat. Roda dari kursi berhenti berputar. Charge meraih botol minum, lalu menenggak isinya hingga tersisa setengah.
“Minum?” Menyodorkan botol itu pada Cloud, menawarinya ramah.
“Tidak perlu.” Biarlah orang tua itu minum sampai habis. Cloud bisa merasakan keringat lengket Charge dari tangan orang tua itu.
Mereka melanjutkan perjalanan. Tidak berapa lama mereka kembali berhenti.
Charge memelankan suaranya. “Sudah sampai.”
“Sudah sampai? Kau tidak berbohong, kan?” Ia tidak bisa dengan mudah mempercayai orang tua itu setelah berkali menjawab “sebentar lagi” pada setiap pertanyaan serupa.
“Kali ini tidak, Cloud.”
Otot tangan kedua manusia di dalam sana menegang, menggenggam erat tombak listrik begitu suara geraman terdengar. Pencahayaan dari alat yang dipangku Cloud memperlihatkan sebuah mata menyala terang, gigi taring panjang, air liurnya tidak berhenti menetes. Hewan buas. Mereka mengelilingi Cloud dan Charge, mengepung dua manusia dalam lingkaran. Namun, hanya itu. Hewan buas itu tidak menyerang, tampilan buasnya tampak bersahabat. Charge pindah berdiri di samping Cloud.
“Mereka tidak memakan kita?” bisik Cloud.
“Kau berharap kita dimakan?”
“Tentu saja tidak. Maksudku, kenapa mereka diam saja?”
“Jenis hewannya saja aku tidak tahu, Cloud.”
Geraman hewan-hewan itu masih menggema di seisi tebing jurang. Dalam situasi itu baik Cloud maupun Charge tidak tahu harus berbuat apa. Kedatangan mereka adalah untuk melihat lokasi jatuh batu luar angkasa, meskipun mereka yakin akan ada binatang buas, tapi tidak menyangka akan sebanyak ini. Berapa itu? Lebih dari sepuluh sepertinya. Mati, mereka akan segera mati.
“Apa yang harus kita lakukan, Charge?” Cloud menoleh ke arah Charge, orang itu juga masih menggenggam tombak listriknya kuat. Keringat dingin mulai membanjiri wajahnya.
“Kita harus pulang, Cloud. Dengan selamat!” Entah dari mana datangnya keyakinan itu, Charge pun tak ngeri melihat hewan buas itu. Pertanyaan, bagaimana caranya mereka bisa pulang dengan selamat sementara dihadang banyak monster hewan.
Di balik kegelapan yang tak terjangkau alat pencahayaan, sesuatu bergerak, menyusup di antara kaki besi Cloud, meraba tangannya, dan melilitnya. Cloud meneguk salivanya gugup. Benda lengket kelabu berbentuk elastis seperti karet, melilit tangan Cloud dengan sendirinya. Di sebelah Cloud, Charge merasakan hal yang sama pada tangan kirinya. Apa lagi ini? Mereka berusaha melepaskan benda itu, namun seolah menyatu dengan kulit, sulit sekali dilepaskan.
“Benda apa ini?” Dengan sekuat tenaga Charge berusaha melepaskan lilitan dari tangan, namun sia-sia.
Cloud lebih mengenaskan. Ia tidak bisa melawan karena tulang-tulangnya masih terasa saat digerakkan.
“Siapa kalian?”
Di dalam kepala Cloud dan Charge suara itu muncul berbarengan.
“Siapa kau?” tanya mereka berbarengan pula.
“Kau mendengarnya?” Charge menatap Cloud heran. Lalu Cloud menggerakkan leher ke bawah dua kali.
“Kau juga?” Gerakan yang sama diulangi Charge.
“Siapa kalian?” Suara itu kembali muncul meminta jawaban.
“Aku Cloud, dan temanku Charge. Boleh kutahu kau siapa?” Cloud memperkenalkan diri sesopan mungkin, cukup hewan buas saja ancaman mereka. Semoga orang ini bukan ancaman bagi mereka.
Lilitan kelabu di tangan mereka akhirnya terlepas. Bergerak merayap bagaikan ular di tanah, mata mereka terus mengikuti ke mana benda itu bergerak, kemudian sesosok makhluk muncul menjangkau cahaya senter. Ternyata benda kelabu elastis tersebut adalah tangan makhluk itu? Sosok asing, entah hewan, manusia, tumbuhan hidup? Mereka sulit mencocokkannya ke salah satu sistem klasifikasi itu. Kepala dan matanya besar dan tangannya bisa memanjang? Seperti alien sungguhan dalam film-film blok Buster.
“Ada urusan apa kalian datang ke sini? ” Tidak ada gelombang bunyi memantul di sekitar, namun suara itu muncul dalam kepala mereka. Makhluk kelabu ini sedang melakukan telepati?
“Sebelum itu, bisakah kau membuat semua hewan ini pergi dulu?” Cloud masih ngeri ditatap oleh hewan-hewan buas ini dalam kegelapan, seolah mereka bisa menyerangnya kapan saja.
Makhluk kelabu itu memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sedang memperhatikan seluruh hewan buas itu.
“Kalian sendiri yang mengundangnya kemari,” sahutnya. Apa maksudnya itu, jelas sekali ketika mereka datang makhluk itu langsung mengelilingi tanpa mereka memberikan kartu undangan sebelumnya.
“Kami tidak mengundangnya. Bukankah mereka memang berhabitat di sini? Maksudku, jauhkan saja dulu.” Charge menjelaskan dengan lebih baik.
“Kau menggunakan alat yang menarik perhatian mereka,” kata si makhluk kelabu.
Charge dan Cloud saling tatap. Apanya yang menarik perhatian? Cahaya kah, atau tombak listrik itu, atau kursi roda kuno?
“Aku tidak mengerti. Alat apa yang kau maksud?”
“Volenthium,” jawabnya singkat.
“Kenapa volenthium menarik perhatian mereka?” Begitu banyak pertanyaan keluar dari mulut Cloud meminta penjelasan, sementara Charge terus fokus, berhati-hati, mengamati dalam senyap, siapa tahu makhluk aneh itu juga sama membahayakannya. Pokoknya ia tidak boleh lengah.
“Karena volenthium milikmu bersinergi dengan inti batu, yang sedang kujaga di sini. Itu membuat sifat predator para hewan itu lenyap saat berhadapan denganmu. Kau lihat sendiri, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat menjadikanmu makan malam.”
***