Jadi itu sebabnya hewan buas itu hanya diam saja, bergeming seolah sedang menunggu sesuatu.
“Jadi hewan ini tidak akan menerkam. Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu barusan. Alasan kita datang ke sini adalah untuk melihat lokasi jatuhnya benda dari luar angkasa, aku penasaran setengah mati tempat seperti apa ini.” Dan sepertinya rasa penasaran Cloud sudah dibayar lunas. Jika ada informasi berharga yang ia dapat itu merupakan keberuntungannya hari ini. Betapa banyak ia mendapat keberuntungan. Selamat dari jurang, bertemu Charge, dan terbebas dari daftar menu makan malam hewan buas, lalu makhluk kelabu itu berbaik hati menjelaskan segala informasi.
“Lalu kau sendiri siapa?”
“Aku adalah penjaga inti batu, satu-satunya bagian yang tersisa. Batu itu berasal dari planet Zenus, tempat tinggalku, aku berasal dari sana, dikirim ke sini untuk menjaga inti batu di dalam gua tempat ini,” tuturnya menjelaskan.
“Kau tidak akan menyakiti kami, kan?” Charge bertanya ragu-ragu, sedikit takut menyinggung, sedikit cemas tidak bisa kembali pulang.
“Untuk apa aku menyakiti kalian?” tanyanya balik. Bukan tugasnya menyakiti manusia, ia hanya penjaga inti batu. Biasanya hewan buas itu yang akan mengurus sisanya, namun sekarang mereka tidak akan melakukannya.
“Syukurlah kalau begitu.” Helaan napas lega berembus dari hidung keriputnya.
“Ngomong-ngomong, kau sudah ada di sini sejak batu itu jatuh?”
Makhluk kelabu yang berkomunikasi menggunakan telepati tidak membenarkan pertanyaan Cloud. Tidak lama setelah batu itu hilang dari planet Zenus, ia harus mencari dulu titik jatuh benda itu—sama seperti mereka—namun ia terlambat selangkah dari pemerintah Prancis yang mengambil sebagian besar batu dan melewatkan bagian intinya di sana.
“Sebentar, biar kusimpulkan. Pemerintah Prancis menemukan batu itu sebelum kau, lalu sejak saat itu kau menjaga tempat ini untuk melindungi sisanya, lalu volenthium milikku bersinergi dengan inti batu milikmu membuat hewan menyeramkan ini menjadi ramah padaku.” Tanpa disimpulkan pun Cloud sebenarnya mengerti, anggap saja ia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman.
“Iya. Tepat seperti itu.” Si makhluk kelabu menjawab santai.
Sesuatu lain dari pertanyaan bercabangnya timbul tenggelam menusuk-nusuk benak Cloud. Pertama, bukankah ia bisa memanfaatkan hewan buas ini sebagai pasukan jika waktu-waktu musuh lain datang menyerang. Tapi yang masih sulit dipahami, kenapa batu itu begitu berharganya untuk pemerintah Prancis? Maksudnya, seberapa besar kekuatannya bisa mempengaruhi kehidupan jutaan orang? Seberapa penting batu itu untuk pemerintah? Segalanya makin rumit sekarang.
Namun apa pun yang bisa Cloud lakukan untuk menggulingkan pemerintahan sialan itu, orang-orang menyebalkan yang berlindung di balik kekuasaan, membuat kebijakan negara untuk kepentingan tidak penting asupan keserakan, apa pun itu yang bisa ia gunakan untuk menjatuhkan mereka, Cloud pasti akan melakukannya.
***
Pertemuan dengan Makhluk kelabu dari planet Zenus adalah hal yang tidak disangka-sangka. Mereka kira hanya akan bertemu monster hewan alias hewan buas pemilik mata merah—menyala terang ditimpa cahaya dari alat pencahayaan—gigi bertaring tajam, kuku-kukunya juga tajam mampu merobek apa pun dengan cakarannya. Dan jelas hal tersebut adalah keberuntungan ketika dua makhluk aneh itu tidak membahayakan keduanya.
Cloud dan Charge masih berada di sana. Percakapan mereka belum berakhir, masih banyak hal yang ingin mereka ketahui dan akan ada lebih banyak perkataan bernada tanda tanya keluar dari mulutnya.
“Memang apa istimewanya batu itu selain mampu mengendalikan hewan buas ini?” Perkataan bernada tanda tanya seperti ini. Ia jadi teringat alasannya pergi ke Paris menemui Gold selain untuk membahas persekutuan melawan pemerintah, juga suatu permintaan yang Cloud harap Gold mampu menyanggupi. Ia jadi tidak bisa mengontrol kumpulan spekulasi di otaknya. Apakah material dalam batu itu bisa membantunya dan Sodda?
Charge mengangkat sebelah tangannya hendak menyela. “Tunggu sebentar, kau yakin batu yang sepertinya sangat berharga itu tak punya nama?” Ia yakin di planet Zenus sana para makhluk kelabu seperti yang berdiri di hadapannya ini tidak menyebut batu itu dengan sebutan “batu itu” dan alien ini seakan tidak akan inisiatif menjelaskan jika mereka tidak bertanya lebih dulu.
“Eracles,” katanya kemudian.
Dua manusia di sana bergumam samar bersamaan. “Eracles?” Mereka beradu tatap dalam totalitas kebingungan, seolah sedang bertanya satu sama lain, lalu saling menginformasikan bahwa mereka tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya.
Makhluk Zenus menatap mereka bergantian dan melanjutkan ucapannya. “Kami—Makhluk Zenus—menyebutnya Eracles. Dan ... Apa yang kau tanyakan tadi? Keistimewaan Eracles? Tidakkah kau melihat sekelilingmu, Cloud. Belahan jurang yang luas ini adalah bukti seberapa kuatnya Eracles. Batu itu memiliki kekuatan super besar. Dan adalah tugasku untuk menjaganya tetap aman ... Karena sesungguhnya, walau kekuatan Eracles begitu besar, batu itu mampu memengaruhi jiwa-jiwa manusia yang lemah.”
Dua manusia yang mendengarnya tercengang, terutama Cloud. “Maksudmu Eracles itu juga berbahaya?”
Sesuatu seperti menekan dadanya kuat, segala spekulasi yang ia pikirkan tentang kekuatan batu itu mendadak buram.
“Ya, bisa dibilang begitu,” jawab si makhluk kelabu penghuni Zenius.
Ungkapan bernada tanda tanya lanjutan datang dari Charge. “Dan Eracles tidak mungkin tiba-tiba jatuh begitu saja dari atas langit, kan. Dari planetmu?”
Sederhananya, Charge bertanya bagaimana Eracles bisa sampai ke bumi?
Makhluk kelabu pun menjawab, “Di planet Zenus, pemerintah kami berusaha menghancurkan Eracles begitu tahu batu itu memiliki sisi lain yang berbahaya. Sebagian telah berhasil dimusnahkan. Namun, sayang, sebagian lagi dicuri, entah siapa dan dengan tujuan apa dia mengambil Eracles, semua masih dalam penyelidikan pemerintah Zenus. Apakah jawaban ini memuaskanmu, Tuan Charge?” Mata besar si makhluk kelabu tertuju lurus pada Charge.
“Tidak buruk, tapi masih banyak hal yang tidak aku mengerti.” Sejujurnya Charge sungguh merasa bagaikan orang paling bodoh sekarang, apalagi mata besar makhluk itu terus tertuju padanya. Perasaan yang sama ketika ia masih kecil dan sering menanyakan hal konyol pada orang tuanya. Ia benar-benar tidak tahu apa-apa.
“Seperti apa?” balas makhluk Zenus.
“Seperti ... Kenapa kau tidak membawa inti Eracles ke planetmu atau memusnahkannya di sini langsung?” Persetan perasaan merasa bodoh itu, ia memang tidak tahu apa pun dan butuh bertanya. Bukan saatnya membesarkan gengsi dengan alien.
“Sederhana, Tuan Charge. Karena pesawatku mengalami kerusakan dan tidak ada material di sini yang bisa memperbaikinya. Namun aku sudah melakukan komunikasi dengan yang lainnya, mereka akan datang menjemputmu. Dan juga, Tuan Charge, Eracles tidak bisa dimusnahkan begitu saja, meskipun benda ini berbahaya. Jadi, diperlukan pengawasan pemerintah Zenus untuk memusnahkannya, dengan begitu kami bisa percaya bahwa Eracles telah benar-benar musnah dari alam semesta ini. Sudah cukup masuk akal bagimu, bukan?” Cara bicaranya tenang, dan sedari tadi selalu dengan sabar menjawab pertanyaan dua manusia itu.
Makhluk ini, jika dia manusia, Charge pasti telah memberikannya penghargaan tinggi sebagai manusia paling sabar sealam semesta.
“Sangat masuk akal. Tapi ....”
“Tapi apa?”
“Bagaimana Eracles bisa jatuh di sini? Di pegunungan Prancis?” Itu patut ada dalam list pertanyaan.
“Bagian itu aku tidak tahu, tapi aku punya tebakan menarik tentang itu. Kau mau mendengarnya?”
“Tentu saja.” Mana mungkin Charge menolak informasi.
“Sebelum aku berangkat ke bumi untuk mencari Eracles, aku diberitahu bahwa pencuri itu menggunakan salah satu pesawat terbaru paling mutakhir yang hanya bisa dipakai prajurit keamanan Zenun. Bodohnya, dia tidak memperkirakan bahwa pesawat itu memiliki alat pelacak otomatis. Dan ketika kami mengetahui ada pesawat milik kami memasuki planet lain, mereka segera mengirimku ke sini, koordinat pelacak menunjukkannya di daerah sini. Saat itulah aku menebak apa yang terjadi,” ucapnya masih belum mengatakan tebakannya.
“Baiklah, pembukaan menarik yang panjang.” Itu juga informasi yang layak didapatkan, bukan?
“Saat aku datang dan menyusuri daerah ini, pencuri itu tidak ditemukan, pesawatnya pun tidak. Kurasa si pencuri menjatuhkan Eracles saat pesawatnya masih melayang, dan akhirnya Eracles menunjukkan seberapa besar kekuatannya, menjadikan tempat ini mematikan dari atas sana.”
Jadi, batu istimewa itu jatuh membentuk jurang, seperti jatuh begitu saja dari pesawat si pencuri? Mungkin itu juga yang masih dan sedang diselidiki pemerintah Zenus.
“Dan lagi, kau tidak bisa menebak bagaimana Eracles bisa jatuh dari dalam pesawat si pencuri?”
“Benar. Tidak ada petunjuk apa pun tentang itu.”
“Bagaimana jika si pencuri menemui orang-orang diktator itu untuk sesuatu? Pemerintah Prancis menembak hancur pesawat pembawa Eracles? Itu sebabnya mereka bisa menemukan batu itu? Dan menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Itu masuk akal bukan?” Charge tahu, tidak sulit bagi pemerintah untuk menghancurkan pesawat berpenumpang.
“Tebakanmu tidak buruk juga karena mereka mengetahui persis lokasi jatuhnya Eracles. Tapi itu hanya spekulasi. Bisa jadi pula karena mereka menerima kabar ada bunyi hantaman super keras di pegunungan ini.”
Charge akhirnya mengangguk menyetujui, ya bisa jadi memang begitu adanya. Kemudian bagai tersambar petir, Charge menyadari ada kejanggalan di sekitarnya, sesuatu tampak aneh antara percakapannya dengan makhluk Zenus. Charge melirik Cloud, kejanggalan itu datang darinya yang hanya duduk diam mendengarkan atau Cloud tengah mengembara ke tempat lain melalui pikirannya.
“Hei, Cloud, ada apa dengan sikap pendiam ini? Bukankah kau yang harusnya bertanya lebih banyak?” tanyanya keheranan.
“Aku mendengarkan.” Cloud menjawab seadanya, padahal otaknya sedang mencari cara paling baik bagaimana ia akan mengatakan sesuatu itu pada makhluk kelabu ini.
Embusan napas berat bertiup dari mulut Cloud, ia akhirnya memutuskan untuk meminta itu padanya—si makhluk kelabu—dengan kemungkinan ditolak 99%. Bukankah ia telah bertekad untuk mengembalikan Sodda, melakukan segala cara yang ia bisa. Jadi, akan ia bujuk makhluk kelabu itu seperti ia membujuk Charge untuk membawanya ke sini.
“Izinkah aku melihat inti Eracles yang kau jaga.” Segala cerita telah ia dapatkan, tidak benar rasanya jika tidak melihat langsung batu berkekuatan besar tersebut.
“Untuk apa? Kau akan mencurinya?” Bukankah saat memikirkan kemungkinan pemerintah Prancis terlibat dalam pencurian Eracles makhluk itu bersikap seolah tidak akan menuduh-nuduh sembarangan?
Cloud menatap tak percaya makhluk yang katanya berasa dari Zenus itu. “Aku tidak bilang akan mencurinya dan aku bukan pencuri.”
“Lalu kenapa ingin melihatnya?”
Ditanya begitu Cloud malah bertanya balik. “Tidak boleh?”
“Tentu saja tidak akan kubiarkan.” Makhluk kelabu memegang teguh integritasnya sebagai penjaga Eracles.
“Batunya ada di dalam gua di sana bukan?” Cloud mengarahkan pencahayaan agar bisa menjangkau lubang menganga di sana.
“Benar. Dan sebagai penjaga Eracles kau tidak akan kubiarkan masuk ke sana.”
Akan sulit sekali pasti membujuknya.
“Izinkan dia melihatnya.”
***