50

1678 Kata
Bujukan lain datang dari Charge, meskipun Charge tidak mengetahui rencana apa yang akan Cloud lakukan dengan melihat inti batu itu, ia yakin Cloud tidak akan melakukan sesuatu yang akan menurunkan martabatnya sebagai manusia—berkat obrolan-obrolan di dalam kamar sejuk di rumah pegunungan Prancis. “Cloud hanya akan melihat benda itu sebentar. Benar, kan, Cloud?” “Tentu saja. Dengan keadaan seperti ini bagaimana mungkin aku bisa mencurinya darimu.” Cloud menepuk-nepuk penyangga tangan kursi rodanya. “Kenapa aku harus mengizinkannya?” “Karena aku punya volenthium. Aku hanya akan melihatnya sebentar.” Kata-kata penuh penekanan itu membuat si makhluk Zenus terdiam sesaat. Harusnya itu pertanda bagus. Cloud menambahkan, “ Sungguh!” Seandainya si kelabu adalah manusia, ia pasti sudah menghela napas pasrah. Baiklah, masih bisa menjaga integritasnya dengan terus mengawasi laki-laki berkursi roda tersebut. Si kelabu kemudian balik kanan, Cloud bersorak riang dalam hati, Charge mulai mendorong kursi roda memasuki mulut gua. Secara tidak langsung si makhluk Zenus mempersilakan mereka mengikutinya. Alat pencahayaan di tangan Cloud aktif bergerak menjangkau seluruh tempat agar bisa ia lihat. Dinding gua berlumut, lembap di lantai tak bisa ia rasakan di atas kursi roda, namun Charge jelas merasakan kakinya sedikit basah oleh air yang memercik dari langit-langit gua. Ketika mereka telah sampai tepat di tengah-tengah gua, sebuah benda berkilau ditempa cahaya dari alat pencahayaan. Cloud serta Charge melihat kagum pada benda indah itu. Itu kah inti Eracles? Batu yang mampu menciptakan jurang dalam mematikan. “Indah sekali. Boleh kusentuh?” Cloud melirik si kelabu ragu-ragu. Dengan tegas dijawab, “Tidak!” “Baiklah. Tak apa.” Niat awalnya memang hanya melihat dan ia telah mengatakan itu pada si makhluk Zenus dan rasa penasaran akan wujud Eracles telah tuntas terpenuhi. Batu ini indah, ia menyukainya. “Apa yang kau pikirkan, Cloud?” Di belakang Cloud, Charge pun melihat kagum benda berkilau yang disebut makhluk Zenus sebagai Eracles. “Sodda,” jawabnya lirih. Tangan Cloud meraba saku berisi volenthium di d**a kiri. “Sudah melihat, kan? Bisakah kita keluar sekarang?” Charge menceletuk, “Pelit sekali.” “Aku hanya tidak ingin teman sesama manusiamu ini menyalahkan kekuatan Eracles.” “Kau tidak mengenalku, kau menjaga batu ini dengan sungguh-sungguh, kau tidak ingin ada yang terluka karena Eracles. Aku mengerti, aku juga tidak ingin itu terjadi. Dan, aku sangat menghargai sikapmu ini.” “Terima kasih, Cloud.” Senyum penuh penghargaan terbit bagai hangatnya mentari pagi. “Menyentuh sekali, kawan-kawan.” Orang tua itu sungguh merusak suasana. Bagaimana bisa ia mengatakannya sambil tepuk tangan? Lagi pula hal itu tidak menyentuh hatinya sama sekali, atau sedikit? Sosok Sodda kembali hadir dalam pikiran Cloud seakan mengingatkannya akan hal penting tentang Sodda. Ia lalu membuka pertanyaan lagi. “Material dalam batu ini apakah bisa menyatukan bagian kerangka android dengan tubuh manusia?” Sekali dengar Charge langsung mengerti maksud perkataan Cloud. Ia ingin tubuh Sodda bisa menyatu dengan tubuhnya. Dan jelas membujuk makhluk itu menuruti keinginannya tidak akan sesukses saat membujuknya hanya melihat Eracles. Si makhluk Zenus menatap lekat ke arah Eracles. Ia lalu menjawab, “Eracles mampu melakukannya.” Baik Cloud maupun Charge menilik serius pada makhluk itu. “Tapi terlalu berisiko. Risiko yang sangat tinggi,” lanjutnya lagi membuat air muka Cloud berubah mendung. Charge yang bersimpati ikut menampilkan raut kesedihan. Tiba-tiba sesuatu yang berasal dari luar gua mengejutkan mereka bertiga. Kepala-kepala itu serentak menoleh, ke arah mulut gua. Bunyi menggema kendaraan yang memantul melalui dinding jurang menjadi penyebabnya. Hewan-hewan buas pun menggeram galak buas. “Siapa?” gumam Charge mewakili juga dua lainnya. Dorongan kuat pada kursi Cloud segera menderu, makhluk Zenus memimpin jalan. Ketiganya bergegas keluar dari gua, melihat tamu tidak diundang yang mengganggu, meninggalkan Eracles tak tersentuh. Untuk saat ini Cloud akan berhenti membicarakan penggabungan tubuh manusia dan android, ia punya firasat buruk terhadap orang-orang yang baru saja datang mengagetkan mereka. Lebih dari sepuluh binatang buas berbaris di depan mulut gua, kedatangan rombongan tidak kenali itu membangkitkan insting predator mereka, menggeram galak, dari mata mereka terpancar kemarahan dan rasa tidak suka pada gerombolan orang-orangnya yang baru datang tersebut. Siap menyerang kapan pun begitu orang-orang tak diundang itu mendekat. Semua mata makhluk dalam dasar jurang itu tertuju pada lima kendaraan militer yang semakin mendekat. Cloud dan Charge dapat dengan mudah mengenali gambar yang tertera di badan mobil, itu adalah lambang negara mereka yang mana kendaraan militer itu milik pemerintah Prancis. Terpaut jarak dua puluh meter, ketiganya melihat orang-orang mulai keluar dari sana berpakaian loreng khas seorang tentara, mengenakan rompi anti api, listrik, dan peluru, melindungi mereka dari segala jenis agar tidak mengenai titik vital, senjata tembak menggantung sigap di sebelah pinggang. Cahaya yang menyorot dari lima kendaraan mereka sempurna mengalahkan kekuatan alat pencahayaan milik Cloud, dinding-dinding dasar jurang itu menjadi saksi bisu tentang keserakahan dan ambisi besar manusia. “Kenapa mereka kemari?” Cloud bertanya cemas. Ia sebenarnya tahu alasan kendaraan-kendaraan itu datang, berharap Charge memberi jawaban lain yang mematahkan asumsinya. “Apa lagi jika bukan untuk Eracles.” Tapi Charge pun memiliki pikiran sama seperti Cloud. “Sialan orang-orang serakah itu. Mereka telah mengambil sebagiannya dan masih belum cukup?” “Mereka akan selalu merasa tidak puas dengan segala yang mereka miliki, Cloud. Itu sudah menjadi bagian dari dirinya.” “Bagaimana mereka bisa tahu bahwa sisa Eracles masih tersimpan di sini?” Si makhluk Zenus menyambar percakapan mereka, membuat mereka menggeleng serempak. Binatang buas di sana langsung menyerang mereka tanpa basa-basi ketika puluhan tentara itu keluar—tadinya Cloud atau Charge yang akan melakukan basa-basi itu terlebih dahulu, karena binatang itu tidak menyerang ia jadi lupa mereka bukan binatang jinak—dengan sigap puluhan tentara di sana menerapkan hasil latihan berat khas kemiliteran yang telah mereka jalani, pengalaman memberi sugesti semangat bahwa mereka bisa mengalahkan monster buas itu. Sigap namun tenang. Perkelahian antara manusia dengan hewan buas segera meledak. Cloud, Charge dan si makhluk Zenus berlindung di balik mulut gua agar tidak terkena imbas serangan. Ketiganya mengintip ngeri perkelahian itu berharap hewan buaslah pemenangnya, lalu sisa tentara lain berlari kocar-kacir ketakutan. Semoga saja seperti itu. Hewan buas berlari maju, menyambar siapa pun yang berada dekat mereka, menggigit, mencengkeram, mengoyak bagian tubuh mana pun, para tentara tidak tinggal diam. “Habisi semua monster sialan itu!” Seseorang berteriak mengomandoi, perbedaan seragam yang dikenakannya menjadi informasi tak tertulis bahwa dialah kapten mereka, pemimpin pasukan. Senjata yang menggantung di pinggang celana mereka raih dengan cepat, mengarahkan bidikan pada bintang yang lincah menyerang, melompat dari tentara ke tentara lain membuat mereka tak cukup siap untuk melakukan serangan balasan. Moncong senjata dari tentang yang masih berdiri ramai mengeluarkan muntahan peluru, para hewan buas seolah tidak takut mati, terus bergerak lincah menerobos hujaman peluru, berkelit menghindar dengan cepat, memburu orang-orang yang mulai terlihat gemetar menghadapi kesadisan predator itu tak kenal ampun, mulut, cakar, dan tubuh hewan itu sempurna tertutupi darah hasil buruan mereka, semakin bengis dan buas. “Tembak terus!” Sekali lagi komanda sang pimpinan menggelegar, mencoba menghilangkan ciut para tentaranya. Hewan ini berbeda dari pengalaman yang mereka miliki. “Tembaaak!” Teriak mereka bersahut-sahutan. “Tembaaak!” Seakan dilalap kobaran semangat dari kapten mereka, para tentara tanpa berhenti menarik pelatuk, melawan sekuat tenaga ketika hewan buas itu mencengkeram tubuh mereka ke tanah, menghindari gigitan, bergulat sengit hingga tentara lain berhasil menembak kepala hewan itu dan tentara yang hampir mati bangkit kembali dengan cepat, meraih senjatanya dan mulai balas menyerang. Dari balik mulut gua ketiganya terus memantau perkelahian, yang berhasil memekakkan gendang telinga, bunyi tembakan bersahut-sahutan. Pertarungan sengit, mereka sempat senang ketika hewan buas tak kenal takut menghantam siapa pun di dekatnya, namun kembali gelisah begitu para tentara di atas angin, gerombolan hewan buas kalah jumlah. “Apa yang harus kita lakukan, Cloud?” Charge di sampingnya bertanya resah. “Apa yang kau harapkan dari orang yang bahkan belum mampu berjalan ini?” Cloud menjawab sama resahnya. Charge melemparkan padangan pada si makhluk Zenus. “Hei! Kau tidak punya sesuatu lain selain hewan buas itu di sini?” “Pesawatku bisa dengan mudah mengalahkan mereka.” Matanya mengarah ke sudut gua. Seketika kekecewaan menggelayut bebas dia atas wajah mereka. Pesawat itu telah menjadi rongsokan tidak berguna, penyok di mana-mana membuat tampilannya begitu mengenaskan. Dan kekalahan hewan-hewan itu tidak bisa dihindarkan. Bunyi tembakan berhenti menggema. Suasana kembali tenang seperti sebelumnya. Kemudian tiga makhluk itu ke luar dari persembunyian, para tentara melihat mereka dengan tatapan galak, seolah arwah-arwah binatang buas itu masuk ke tubuh mereka. Melihat Cloud duduk tidak berdaya di kursi roda, rombongan tentara itu meyakini mereka bukan ancaman. Charge menatap nanar gelimpangan bangkai hewan tersebut, mendadak ia teringat pernah berkelit hebat melawan satu bintang di sana, tombak listriknya bahkan sampai patah. Namun, Kemenangan ia raih, sebagai orang tua yang tidak sekuat dulu, ia bangga akan dirinya saat itu. Dan sekali lagi, hewan buas itu dikalahkan oleh manusia. “Oh, lihat siapa di sana? Bukankah kau mantan perdana menteri? Tuan Charge yang terhormat, senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama.” Itu suara si pimpinan kelompok, basa-basi membosankan antar sesama manusia. Ia berjalan mendekati mereka, melangkahi salah satu bangkai hewan buas. “Kau masih saja bersedia menerima perintah yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah rakyat dari orang-orang berengsek itu, Letnan.” Charge menjawab datar, tidak ikut senang dengan pertemuan ini. Orang yang disapa Letnan tertawa gambar menanggapinya, seolah sama sekali tidak merasa bersalah, menjadi salah satu mimpi yang kemurniannya telah dikubur dalam-dalam. “Daripada itu Tuan Charge, bagaimana bisa kau ada di sini Bersama si manusia setengah besi itu?” Letnan itu jelas mengetahui bahwa Cloud pernah menjadi buronan pemerintah bersama androidnya. “Bukan urusanmu, Letnan.” Charge mengenal baik orang itu ketika masih berada dalam pemerintahan dan ia tahu orang yang dipanggilnya letnan ini tidak akan berpihak padanya waktu itu dan sekarang. “Tentu saja jadi urusanku jika kalian menghalangi jalanku seperti ini.” Wajahnya berubah tidak bersahabat. Tiga makhluk berdiri di depan mulut gua, jelas mereka tidak bisa membiarkan Letnan itu masuk, mengambil Eracles dan menyerahkannya kepada para tirani. “Apa tujuanmu datang ke sini?” Si makhluk kelabu mengirim telepatinya ke kepala Letnan, sekarang yang bisa berkomunikasi dengannya bukan hanya Cloud dan Charge. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN