“Makhluk apa kau?” Begitu tanya si pemimpin pasukan ketika matanya tersentak kaget melihat makhluk asing tersebut.
“Aku berasal dari
berasal dari Planet Zenus, penjaga tempat ini,” jawab si kelabu ramah. Tidak
cocok sekali dengan sebutan penjaga.
Makhluk Zenus
mengulangi pertanyaannya. “Apa tujuanmu datang ke tempat ini?”
Sang letnan
menyeringai licik. “Mengambil benda yang sedang kau jaga.”
Si makhluk Zenus
maju beberapa langkah. “Maka aku tidak akan berbaik hati menyerahkannya begitu
saja kepadamu.”
Beberapa tentara
ikut maju, berdiri siap di belakang pemimpin mereka agar ketika ancaman kembali
datang mereka bisa lebih siap, tidak seperti serangan hewan buas sebelumnya
yang menyebabkan beberapa kawan mereka mengalami kematian teramat mengenaskan.
Sang letnan tertawa
merendahkan. Senjata mereka hanya dua buah tombak listrik tidak berguna,
seorang cacat dan orang tua lemah, tidak mungkin bisa mengalahkan pasukan
bersenjata lengkapnya.
“Aku tidak perlu
persetujuanmu dasar makhluk aneh.”
Orang berpendidikan
tinggi ini benar-benar telah kehilangan sopan santun serta hatinya. Cloud dan
Charge mengacungkan tombak listrik, ingin sekali rasanya mereka menusuk hati
busuk manusia ini dan menyetrumnya hingga mati. Namun sepertinya mereka yang
akan mati lebih dulu karena senjata para tentara di belakang sang letnan hanya
tinggal ditarik pelatuknya untuk menjegal mereka menombak si pimpinan.
“Aku bisa saja
menghabisi kalian semua sekaligus, terutama buronan itu, pemerintah akan dengan
senang hati begitu tahu salah satu musuh mereka telah hancur.” Tawa kesenangan
menggema.
Charge mengepalkan
tangannya kuat, andai saja tangan itu dalam meluncurkan bom nuklir rasanya ia
tidak akan segan-segan mengarahkan tangannya ke wajah letnan itu.
“Penjilat
menjijikkan!” Kalimat yang sangat tepat untuk si letnan Cloud lontarkan.
“Kalau kalian tidak
ingin mati menyingkirlah dari jalanku.”
Cloud, Charge dan
makhluk Zenus tentunya tidak akan mudah menyingkir begitu saja. Mereka masih
bergeming di tempatnya, menantang maut dari kemarahan pimpinan licik itu.
“Kau tidak bisa
mengambilnya, Letnan,” ucap makhluk Zenus.
“Tentu saja aku
bisa dan akan kulakukan.” Letnan membalas ketus. Ia tidak biasa ditentang dan
akan sangat kesal jika perkataannya tidak didengar.
“Eracles tidak bisa
digunakan sembarangan. Benda itu bukan milikmu dan bisa menghancurkanmu.”
“Menyingkir atau
senjataku ini menghancurkan kepala kalian sekarang juga!” ancamnya serius.
Para tentara—yang
tidak lebih anak buah sang letnan—secara otomatis mengacungkan senjatanya juga.
Itu bukan lawan yang seimbang, mereka jelas-jelas sudah kalah, tapi entah kenapa
sesuatu dalam hati mereka seolah menolak mengikuti akal. Mereka seperti merasa
terlindungi oleh sesuatu entah apa itu.
Sang letnan tampak
semakin geram. “Aku hitung sampai tiga, jika kalian tidak juga mundur, pelatuk
ini benar-benar akan kutarik dalam hitungan ke tiga.”
Ketiganya tetap
bergeming. Entah hilang ke mana rasa takut akan kematian itu. Letnan bahkan
telah mulai menghitung, setiap detik napas tercekat mencari pelarian kelegaan
namun tak kunjung ditemukan.
“Dua ....”
Jari-jari tangan si letnan telah sempurna memosisikan siap menembak, begitu
juga anak buah di belakangnya.
“Ti—“ Mata semua
orang terbelalak kaget melihat benda itu.
Saat itulah
keajaiban datang, sesuatu yang menyuruh ketiganya seolah tetap diam di tempat,
sesuatu yang menghilangkan rasa takut mereka pada senjata-senjata yang
mengungkung siap menjemput kematian.
Volenthium dalam
saku baju Cloud melayang bebas di udara, cahaya lembut berpendar memancar dari
volenthium, lalu sesuatu lain datang dari dalam gua melesat cepat bercampur
dengan volenthium. Eracles. Cahaya menyilaukan membubuhi penyatuan dua benda
itu. Semua orang terpana melihatnya, seperti sihir, peristiwa ajaib ini nyata
di depan mata mereka langsung. Kemudian dalam sekali entakkan dua benda yang
telah menyatu itu melesak masuk ke tubuh Cloud, menembus dadanya dan bersarang
di sana.
Seketika tubuh
Cloud memanas, rasanya perih seperti terbakar api bersuhu ratusan derajat,
reaksi keterkejutan yang diterima tubuh Cloud membuat tubuh itu menggeliat
hingga jatuh dari kursi roda. Cahaya putih menyorot silau dari matanya, detik
kemudian kilatan-kilatan aliran listrik terlihat mematikan dari tubuhnya.
“Cloud!” Teriakan
Charge khawatir sekaligus ngeri dibuatnya. Otot-otot di leher serta tangan
Cloud bertonjolan seolah memaksa untuk keluar.
Apa yang terjadi?”
Charge bertanya pada si makhluk Zenus pemilik Eracles. Makhluk itu seperti yang
lainnya, menampilkan ekspresi terpana, terkejut dan seakan tidak percaya dengan
apa yang dilihatnya kini, bersama jawaban yang ia tahu.
Makhluk Zenus
bergumam samar. “Zan oulus ....”
**
Dalam keadaan terengah-engah, Cloud berusaha mengambil napas sebanyak mungkin, menormalisasikan tubuhnya seperti semula—walaupun jelas perubahan yang terjadi tidak dapat dihindari, tidak bisa mengembalikannya seperti semula—setelah agak tenang Cloud akhirnya berdiri, jangankan merasakan nyeri, kaki Cloud bahkan tidak lagi gemetar menopang bobot tubuhnya seperti ketika di rumah Charge. Tidak ada lagi tanda-tanda bahwa ia pernah jatuh dari atas jurang ribuan meter.
Semua mata di sana tertuju hanya pada Cloud, hampir-hampir mereka berpikir bahwa laki-laki berkursi roda itu hanya sakit bohongan, mereka tidak tahu kenapa Cloud bisa sampai berakhir di kursi roda, tapi apa pun alasannya, mungkinkah ia bisa sembuh secepat itu? Kaki-kaki besi Cloud berdiri mantap, ia terpejam sesaat dan merasakan ada perubahan signifikan dalam tubuhnya, ia merasakan sel-sel rusak kembali beregenerasi dengan cepat, otot-otot di setiap tarikan gerak tubuh seolah memberinya energi luar biasa besar semakin kuat. Cloud menoleh ke arah Charge yang melihatnya masih terkesima.
“Kau baik-baik saja, Nak?” tanya Charge cemas. Anggukan kecil Cloud lakukan sebagai jawaban.
Gabungan tepuk tangan lambat menyerempet masuk ke telinga. Sang pimpinan pasukan militer seakan telah Pulih dari efek sihir, mengontrol kembali emosinya. “Pertunjukkan yang bagus, anak muda. Benda apakah yang aku lihat barusan?”
Cloud menyeringai benci pada si letnan. “Benda itulah alasanmu datang kemari. Sayang sekali kau harus pulang dengan tangan kosong, Letnan.”
Sang letnan tidak terlihat gentar, justru senyum licik hadir menghiasi wajahnya. “Begitu? Tapi kurasa aku tetap akan membawanya, mungkin mereka bisa menjadikanmu objek penelitian yang seru, mainan baru para ilmuan gila.”
Rahang Cloud mengeras, jari tangannya terkepal kuat menahan marah, matanya tajam seolah menyemburkan api kekesalan. Orang-orang itu telah seenaknya memburu Sodda dan android lain hanya karena dianggap ancaman, menciptakan penderitaan berkepanjangan padanya sampai hari ini, dan si letnan sialan itu hendak menjualnya untuk dijadikan objek penelitian? Ia jelas sudah muak dengan mereka.
“Cloud, tenang, jangan gegabah.” Charge mengingatkan, dan agaknya laki-laki itu tidak peduli dengan gegabah atau tidak gegabah sikapnya. Orang-orang hina itu sebaiknya menghilang saja dari muka bumi.
Cloud maju selangkah demi selangkah, memangkas jarak hingga 30 sentimeter dekatnya. Ia menatap lurus ke arah letnan, kemudian berbisik tepat di telinga sang letnan, para anak buah letnan mengacungkan senjata lebih tinggi bersiap menembak saat pimpinan mereka memuntahkan titahnya.
“Coba saja kalau bisa,” kata Cloud bernada merendahkan, berhasil menyentil telak harga diri si letnan. Sekarang, Cloud percaya diri mampu mengalahkan mereka semua sekalipun ia menutup mata.
Serangan pertama tanpa peringatan dari kepalan tangan yang ia jaga sedari tadi, Cloud meninju keras dagu sang letnan, begitu si pimpinan busuk ini tersungkur mengaduh kesakitan rasanya ada yang melompat girang keluar dari dadanya, sensasi puas menjalar di setiap helaan napas Cloud. Kemudian laki-laki itu melompat ke depan, menyambar cepat salah satu tentara untuk ia jadikan tameng karena tentara lain telah membabi buta mulai menembakinya.
Alih-alih menyakiti Cloud, orang-orang itu hanya menyakiti kawannya sendiri dan mereka tidak merasa bersalah akan itu. Tubuh tentara yang Cloud jadikan tameng menyebabkan rentetan peluru itu bersemayam di d**a dan kepalanya, Cloud melemparkan mayat itu ke sembarang arah, merampas senjatanya dan mulai melakukan serangan balasan, menembaki siapa pun yang terlihat di sudut matanya, ia beserta tentara lain berlindung di antara kendaraan-kendaraan, baku tembak terus terjadi. Satu melawan sekian puluh tentara terlatih, namun Cloud tetap berada di atas angin meski ia sendirian.
Pertempuran di dasar jurang kembali pecah. Kali ini bukan pasukan militer melawan hewan buas, melainkan melawan Cloud.
Seperti biasa Charge dan si kelabu berlindung di balik mulut gua untuk menghindari ratusan peluru itu menyerempet kepala mereka.
“Ini gila, hewan buas yang lebih dari sepuluh itu saja bisa mereka taklukkan, apalagi Cloud yang hanya seorang diri.” Charge mengeluh khawatir, anak muda yang baru pertama kali ia temui itu sempurna mengambil seluruh perhatian Charge.
“Hewan buas tidak bisa menggunakan senjata, Tuan Charge, mereka bertarung tidak menggunakan akal, menurutku Cloud yang hanya seorang diri dengan kondisi begitu kuatnya lebih baik daripada hewan-hewan buas.” Si kelabu cukup bijak untuk menenangkan Charge.
Di luar gua bunyi pekak baku tembak terus berdegung, Charge menutup telinganya, ia berpikir sejenak, sepertinya dia tidak perlu terlalu khawatir dengan keselamatan Cloud, tapi tetap saja, muntahan peluru itu nyata di hadapannya, terus bersahut-sahutan memanggil korban. Letnan gila itu berani mengorbankan pasukannya demi nama baiknya saat bertemu para petinggi di pemerintahan nanti. Charge tahu manusia biadab itu tidak berubah sama sekali. Pasukan militer yang harusnya dibentuk untuk melindungi rakyat tidak ubahnya seperti gengster yang bisa mereka panggil untuk urusan apa pun.
Kendaraan militer banyak dihantam peluru membuat bentuknya berubah tidak karuan. Kendaraan ini terbuat material yang super kuat dengan berbagai fitur canggih di dalamnya, namun peluru dan senjata yang digunakan mereka juga tidak main-main mematikannya, kuat dan berbahaya bahkan mampu membuat penyok kendaraan baja ini, dan sialnya Cloud tidak memakai seragam keselamatan yang dikenakan mereka yang mampu mengurangi efek mematikan dari sentra mana pun. Sekali peluru menyerempet kulitnya, akibatnya akan sangat fatal. Cloud hampir kehabisan napas, tapi terus bertahan mati-matian, kemudian ia menyadari sesuatu yang menyala terang terpercik dari tangannya ... Seperti listrik? Dan ide selintas segera merasuki pikiran. Bisakah ia menggunakannya?
Cloud membebaskan tangannya dari senjata, lalu seakan sedang memainkan angin, petir berkekuatan jutaan volt menyambar dinding jurang keluar dari tangannya, tanpa menyia-nyiakan kesempatan Cloud lantas mengendap keluar dari persembunyian, menyambar para tentara dan membuat mereka terpelanting jauh, memisahkan diri dengan senjatanya. Namun berkat sergam yang membungkus tubuh mereka, para tentara itu masih bisa bangkit, meraih kembali senjata mulai menembak. Cloud menangkis peluru-peluru dengan aliran listriknya membuat peluru meledak di udara, ia menyadari seluruh Indra yang dimilikinya berubah lebih tajam dari sebelumnya. Bagus, dengan begini dia benar-benar bisa menang.
Sang letnan yang juga berlindung di balik kendaraan berteriak marah melihat pasukannya yang hampir marah. Sedari tadi ia berusaha mengulur waktu menunggu pasukan lain yang membawa senjata lebih mutakhir.