“Sialan! Begitu pasukan bantuan tiba, aku tidak akan mengampuni nyawamu!” desisnya geram.
Pertempuran sengit terus berlanjut di balik kendaraan militer.
Sementara itu di balik mulut gua Charge dan si kelabu menyaksikan takjub kilatan aliran listrik yang keluar dari tangan Cloud. Tanda tanya segera sesak memenuhi kepala Charge.
“Mengapa Cloud bisa melakukannya?”
“Penyatuan volenthium dan Eracles yang kini bersemayam dalam tubuhnya.” Seperti biasa si kelabu selalu bersedia memberi jawaban.
“Aku tidak mengerti bagaimana bisa dua benda itu masuk ke tubuh Cloud.” Dan seperti biasa pula Cloud akan ada pertanyaan lanjutan dari jawaban yang diberikan.
“Zan oulus me—“ Si kelabu mendadak terdiam. Membuat kerutan di kening Chard bertambah dalam.
“Ada apa?”
“Ada yang mengirim sinyal padaku,” ungkapnya seraya tersenyum.
Kembali ke pertempuran sengit di antara kendaraan-kendaraan militer. Cloud benar-benar hampir kehabisan napas. Ia kewalahan menumbangkan tentara militer dengan teknologi dari seragam mereka. Peluh mengucur deras di tubuhnya, ia kembali menembak, menangkis, menghindar, ia tidak boleh kalah, mati di dasar jurang bukanlah rencananya.
Dari kejauhan Cloud mendengar suara itu untuk kedua kalinya hari ini. Suara derung kendaraan militer yang sama namun lebih keras dan menggema, pasukan besar dengan persenjataan lengkap. Berapa banyak kendaraan itu? Apakah lima juga? Atau enam, atau tujuh atau lebih banyak dari delapan? Gawat sekali posisi Cloud.
Kendaraan-kendaraan itu melaju gagah di kegelapan jurang, cahaya dari sana menambah deretan pencahayaan dari kendaraan lain, tampak jelas lumut hijau di dinding dan serangga-serangga yang berkeliaran di sekitarnya membuat tempat itu jadi lebih ramai.
Segera pasukan besar itu turun dan langsung bersiaga dengan moncong besar di tangan.
“Mana musuhnya?” tanya mereka keheranan. Dipikirnya pasukan besar musuh juga sedang menunggu mereka untuk dikalahkan, tapi yang terlihat hanya gelimpangan mayat teman-temannya dan bangkai hewan menyeramkan.
“Letnan?” Salah seorang dari rombongan yang baru tiba.
“Dia di sebelah kirimu! Bersembunyi di balik kendaraan itu!” Sang letnan keluar dari persembunyian, menginformasikan hal itu. Rombongan baru langsung mengepung kendaraan tersebut siap melawan siapa pun yang ada di baliknya. Tidak ada jalan keluar lagi sekarang.
“Mati, kau—“ Mereka mematung, seketika tercengang merasa bodoh.
“Di mana?” Tidak ada siapa-siapa di sana. Cloud telah menghilang.
“Letnan, di mana musuhnya?”
“Dia harusnya ada di sini.”
Rombongan pasukan yang baru datang saling lirik, penggunaan kata “dia” membuat mereka bingung sendiri. Musuh yang akan mereka hadapi hanya seorang? Dan tentara yang tergeletak itu dihabisi hanya oleh seorang?
Dalam keadaan bingung dan keanehan yang terjadi, sebuah kelebatan bayangan tertangkap salah satu sudut mata tentara, ia lantas berteriak lantang mengarahkan telunjuk pada objek tersebut. “Di sana!”
Ketiga orang yang berlari refleks menarik ruas rem untuk kaki mereka, kaget, lalu kembali berlarian secepat mungkin. Rupanya saat senyap ketika pasukan baru itu datang, diam-diam Charge dan si kelabu menghampiri Cloud, mengendap-endap di titik gelap tak terjangkau alat pencahayaan. Mereka membawa Cloud dan melarikan diri.
“Kejaaar!” Seruan tentara lain bersamaan dengan kakinya yang berderap, sigap mengejar.
Cloud, Charge, dan si kelabu makhluk Zenus berlarian lintang pukang menuju tempat yang diarahkan si kelabu. Makhluk Zenus itu memimpin pelarian mereka.
Charge begitu terengah-engah di belakang Cloud, memaksa kaki rentanya bergerak tanpa henti. Orang tua itu meskipun berjiwa muda tetapi fisiknya tidak bisa berbohong. Pasukan tentara besar bersenjata terus mengejar mereka.
“Lebih cepat, Charge!” Cloud meneriaki.
“Ini sudah paling cepat yang bisa kulakukan!” Napasnya memburu berat, langkah ayunan Charge semakin pendek, sementara pasukan di belangnya seolah tak akan kehabisan semangat untuk menangkap mereka.
“Itu dia!” Si kelabu mempercepat langkah saat melihat pesawat yang telah mengirimkannya sinyal beberapa waktu lalu. Pintu pesawat telah terbuka lebar menyambut mereka. Tidak tahan dengan kecepatan berlari Charge, Cloud menggendong orang tua itu di punggungnya dan berlari sekuat tenaga. Beruntung Cloud telah terbebas dari kursi roda.
Si kelabu telah tiba lebih dulu, ia naik mulus ke dalam pesawat. “Cepat, Cloud!”
Di kejauhan si letnan pasukan mengarahkan bidikan senjatanya ke arah Cloud, yang masih menggendong Charge. Dan dalam sekali tarikan moncong senjata melontarkan cepat amunisi mematikannya ke arah Cloud. Orang tua yang digendongnya tersungkur begitu juga dengan Cloud.
“Cloud! Charge!” Si kelabu berteriak panik.
Secepat yang ia bisa, Cloud bangkit kembali, memeriksa kaki yang terkena bidikan senjata si letnan masih baik-baik saja, jangan sampai ia kehilangan kaki untuk kedua kalinya. Cloud memapah Charge dibantu si kelabu yang kembali menghampiri mereka.
Dari kejauhan sana sang letnan berseru jengkel karena sasarannya tidak kena. Wajahnya merah padam menahan amarah. “Sial!”
Pintu pesawat tertutup rapat begitu ketiganya berhasil masuk. d**a Cloud dan Charge naik turun tak beraturan, apalagi orang tua itu ia telah lama tidak berlari begitu kencangnya, rasanya jantungnya hampir melorot hingga perut saking lelahnya. Kedua manusia itu tepar di lantai pesawat, si kelabu berdiri tidak jauh di sana.
“Kau tidak apa-apa, Charge?” tanya Cloud seraya menyikut lengan si orang tua.
“Aku hampir mati, Cloud, menurutmu itu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa selama kau masih bernapas.”
Tidak lama kemudian ada yang menghampiri mereka. Makhluk Zenus yang sejenis dengan si kelabu. “Jendral, Elon!”
Makhluk Zenus lain dalam pesawat tersebut menghampiri si kelabu. Cloud dan Charge segera bangkit setelah menormalkan pernapasan mereka.
“Jendral Elon,” panggilnya. Dia adalah pemberi sinyal pada si kelabu ketika masih berada di dasar jurang tadi.
“Terima kasih telah datang di saat yang tepat.” Makhluk yang dipanggil Elon itu menyahut ringan.
“Tidak, Jendral. Maafkan aku baru bisa menjemputmu sekarang.” Nada kesedihan tertangkap jelas dari sana.
“Tidak masalah, berkat itu aku bisa bertemu dengan mereka.” Elon alias si makhluk kelabu dari Zenus menatap ke arah dua manusia ini dengan ramah. Sungguh berkebalikan dengan gelar jendral di depan namanya.
Bahkan perihal nama saja mampu mengagetkan Cloud dan Charge saat itu juga. Kenapa mereka selalu lupa mempertanyakan hal paling sederhana pada orang yang baru ditemui? Saat di rumah Charge dan di dasar jurang itu tidak ada yang mau repot-repot menanyakan nama si kelabu ketika pertanyaan mereka terlontar bagai muntahan peluru dari pasukan yang menyerang tadi. Mereka jadi tidak enak sendiri—tapi bagaimanapun juga Elon sendiri juga sepertinya tidak ada niatan untuk membagikan namanya.
“Namamu Elon?” Cloud akhirnya bertanya juga, lebih tepatnya menebak sesuatu yang sudah terlihat jelas.
“Kau seorang jendral juga? Bukan penjaga batu biasa?” Tanda tanya Charge menyusul di belakang Cloud.
Sambil berlalu pergi Elon menjawab, “Ya, itu benar.” Si kelabu lain mengikuti di belakangnya.
Penjaga batu itu benar-benar penuh kejutan. Tidak terbangkan dalam benak Cloud dan Charge bahwa seorang jendral di planet Zenus akan memiliki sifat yang ramah dan luar biasa sabar menanggapi setiap ketidaktahuan mereka. Dua manusia itu membuntuti Elon masuk lebih dalam ke pesawat itu.
Cloud melihat sekitar, tertarik dengan tombol-tombol rumit di dalam pesawat itu. Jadi ini pesawat yang si kelabu bilang teknologi paling mutakhir yang dimiliki Zenus. Insting Cloud sebagai seorang ilmuan ia biarkan memimpin pikirannya sekarang, rasa penasaran apa saja kegunaan tombol-tombol itu dan keunggulan pesawat ini, tapi itu biar jadi urusan belakangan saja. Elon membawa mereka ke ruang kemudi, di sana si kelabu lain—dan Cloud masih tidak memiliki ide untuk saling bertukar nama—mengoperasikan benda ini agar tetap melesat cepat di angkasa.
Cloud dan Charge disuruh duduk tepat di belakang kursi kemudi—tempat Elon dan si kelabu lain berada— lalu menarik seatbelt melingkari dadanya. Dadanya ... Tempat bersarangnya Volenthium dan Eracles, Cloud menempelkan telapak tangan di d**a, berusaha merasakan kehadiran dua material itu dalam tubuhnya, namun nihil, tidak merasakan apa-apa selain tubuhnya yang semakin sehat, entah ke mana perginya nyeri tulang yang ia alami beberapa jam sebelumnya.
“Kita akan ke Zenus?” Charge membuka ucapan lebih dulu.
“Benar.” Elon menjawab singkat.
“Untuk apa?” Cloud menyahut. Akan sangat membosankan jika mereka hanya duduk diam-diaman.
“Kau ingin tahu apa yang terjadi dengan tubuhmu, bukan? Anggap saja ini adalah perjalanan untuk menemukan jawabannya.”
“Kau mengatakan sesuatu tentang Zan Oulus. Apa itu Zan Oulus?” Charge teringat gumaman Elon saat di dalam gua tepat sebelum si kelabu lain memberinya sinyal kedatangan.
Si kelabu lain terkejut mendengar kata Zan Oulus diucapkan, pesawatnya hampir saja oleng menabrak pecahan bintang yang mengambang.
“E–eh kenapa?”
Alhasil mereka panik, takut pesawat ini akan jatuh dan mereka bisa terdampar di luar angkasa selamanya.
“Maaf,” ucapnya menyesal segera mengendalikan pesawat agar normal lagi.
“Kalian akan mengetahui segera.” Hanya itu yang bisa Elon katakan untuk saat ini. Ia akan menjelaskan semuanya kepada dua makhluk tanda tanya ini nanti.
Di belakang kursi kemudi Cloud dan Charge juga hanya bisa manggut-manggut mengerti, walaupun mereka sebenarnya penasaran setengah mati. Mereka masih was-was seandainya pesawat ini jatuh sungguhan.
“Kita akan tiba di Zenus sekitar satu jam dari sekarang, ngomong-ngomong, kalian siapa?” si kelabu lain menginformasikan dan sepertinya ia tertarik dengan dua manusia itu setelah Zan Oulus disebut-sebut.
“Aku Charge.”
“Cloud.”
“Baiklah.” Respon tidak masuk akal bagi penduduk bumi, harusnya ada kalimat lanjutan seperti menyebut namanya sendiri atau pertanyaan lain sebagai bentuk keakraban, sudahlah, mungkin itu adalah cara makhluk Zenus berkomunikasi di samping telepatinya. Mereka tidak akan ambil pusing kejadian hari ini sudah cukup membuat kepala pening.
“Kau bilang kita akan tiba sejam lagi?” Tiba-tiba Cloud menyambar pertanyaan sebelumnya.
“Ya. Waktu yang lama.”
“Berapa jarak dari Bumi ke Zenus?” sambung Cloud.
“Sekitar satu setengah juta tahun cahaya.”
Ukuran waktu relatif lama dan sebentar bagi kedua makhluk lain jenis itu sungguh berbeda. Melintasi satu setengah juta tahun cahaya dalam waktu sejam, berarti kecepatan pesawat ini tidak lagi bisa diukur lewat kilometer atau mil. Cloud membandingkannya dengan luas diameter galaksi Bima sakti yang hanya seratus ribu tahun cahaya. Alam semesta ini sungguh menakjubkan.