"Anda memang seorang polisi yang luar biasa, Mayor Jendral Fried," sanjung Kolonel Beef, tersenyum.
Dada Mayor Jendral Fried tampak membusung, merasa jemawa. "Ah, tidak juga."
Semua orang tahu kalau kata-katanya yang merendah sesungguhnya jauh dari hatinya yang pongah. Ia bersikap begitu demi menjaga citranya di mata orang lain. Begitulah Mayor Jendral Fried. Sudah bukan rahasia lagi kalau ia orang yang sombong. Namun, banyak yang maklum karema ia jemawa. Pasalnya Mayor Jendral Fried memang luar biasa. Ia dan androidnya yang bernama Rice merupakan salah satu yang paling disegani di kepolisian. Ia juga bertangan emas. Salah satu polisi binaannya mengikuti kegeniusannya. Ya, ia adalah mentor Gum.
Mayor Jendral Fried merupakan orang kepercayaan sosok nomor satu di pemerintahan Belgia. Bahkan ia disebut-sebut akan dicalonkan menjadi Wakil Perdana Menteri pada pemilihan tahun depan. Ya, prestasi Gum pun mengekor sang mentor. Sesungguhnya kehebatan Mayor Jendral Fried yang utama adalah mentalnya yang pantang menyerah. Ia juga selalu menetapkan target yang harus dicapai tepat waktu. Agak sedikit berbeda dengan Gum. Gum memang memiliki mental sama kuat, tetapi ia dianugerahi bakat yang tidal dimiliki siapa pun yang ada di kepolisam Belgia. Prestasi gemilang yang diraih Gum turut melambungkan nama Mayor Jendral Fried.
"Kapan kalian berangkat dari Prancis?" tanya Mayor Jendral Fried.
"Beberapa jam yang lalu, Mayor Jendral," jawab Kolonel Beef, kemudian bertanya, "Apakah ada kabar tentang para buronan itu?"
Mayor Jendral Fried mendesah kasar. "Sayangnya, belum ada sama sekali. Mereka benar-benar pandai bersembunyi. Tapi anak buahku tidak pernah berhenti mencari."
Kolonel Beef tersungging. Ia merasa kalau Mayor Jendral Fried tidak becus memimpin.
"Karena itulah kami datang untuk membantu Anda," kata Kolonel Beef.
"Membantu?" Mayor Jendral Fried terkekeh. "Itu memang kewajiban kalian. Bukankah mereka buronan negara Anda dan mengacau di negara kami. Kalau kepolisian Prancis becus, mereka tidak sampai berbuat keonaran di negara kami."
Kata-kata itu berhasil memancing emosi Tea yang memang emosional.
"Kalau bukan karena negara Anda, Prancis tidak akan merugi miliaran Bucks ketika kami menyelamatkan pasukan Anda dari Jepang!"
Mayor Jendral Fried menatap Tea dengan tatapan dingin. "Aku harap Anda mampu mendidik anak buah Anda, Kolonel Beef."
Kolonel Beef melirik Tea, mengisyaratkan agar ia menahan diri, sebelum tersenyum kepada Mayor Jendral Fried. "Maafkan anak buahku, Mayor Jendral. Mohon dimaklumi, kami masih merasa lelah karena baru saja tiba."
Mayor Jendral Fried mendengkus, kesal. Namun, ia kembali berusaha bersikap tenang. Kalau bukan karena menjaga wibawa di depan anak buahnya, sudah pasti ia mengamuk.
"Apakah Anda sekalian ingin beristirahat?" Mayor Jendral menawarkan.
Kolonel Beef menggeleng. "Tentu. Tapi setelah usainya pembicaraan kita. Kami ingin rencana kita matang supaya lekas meringkus mereka."
Mayor Jendral Fried mengangguk setuju, kemudian menekan tombol hologram. Tak lama kemudian muncul layar hologram di tengah-tengah mereka. Layar itu menunjukkan peta lokasi Kota Ath.
"Seperti yang Anda sekalian lihat. Kota ini memiliki lima pintu. Semua anggotaku telah menjaga setiap pintu dengan ketat. Kalau mereka benar-benar datang ke sini, pasti anggotaku tahu," terang Mayor Jendral Fried.
Kolonel Beef tersungging. "Jadi maksud Anda, mereka tidak ada di kota ini?"
"Pasti begitu," jawab Mayor Jendral Fried.
Kolonel Beef tahu kalau Mayor Jendral Fried cerdas dan tidak naif. Ia berpikir kalau Mayor Jendral Fried sesungguhnya ingin mendapatkan jasa menangkap para buronan itu sendirian. Karena itulah ia berkata para buronan tidak mungkin berada di Kota Ath. Pasalnya Mayor Jendral Fried tidak mungkin menolak kedatangan mereka. Menolak mereka berarti sama saja menolak perintah Perdana Menteri yang telah melakukan kerjasama dengan pemerintah Prancis. Itulah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan.
"Kami sudah datang ke sini atas perintah Presiden Storm. Tidak mungkin kami pulang tanpa melakukan sesuatu." Kali ini Kolonel Beef bersikukuh.
Mayor Jendral Fried mengangguk. "Aku paham. Silakan kalau Anda sekalian ingin menvari mereka."
Kata-kata Mayor Jendral Fried menunjukkan kalau ia berlepas tangan dan tidak mau bekerja sama. Semua otu sudah jelas bagi Kolonel Beef. Namun, ia tidak mau membuat keributan yang akan mempermalukan Prancis. Bagaimanapun juga ia dan pasukan elit Prancis hadir di sana membawa nama baik pemerintah Prancis.
"Baiklah. Kalau begitu aku rasa pembicaraan kita telah selesai. Kami haris mengisi energi sebelum melaksanakan tugas," tukas Kolonel Beef, sopan.
Mayor Jendral Fried mengangguk. "Anak buahku sudah mengatur penginapan terbaik untuk Anda sekalian."
Mayor Jendral Fried berdiri dam mengantarkan mereka keluar dari dalam ruangan.
***
Beberapa jam kemudian, di sebuah kamar mewah penginapan di Kota Ath. Kolonel Beef mengumpulkan para anggota pasukan elit. Sikap yang ditunjukkan Mayor Jendral Fried tidak luput dari perhatian pasukan elit.
"Apa-apaan itu?! Aku muak demgan sikapnya pada kita! Lihatlah! Ia menunjukkan kalau tidak membutuhkan kita! Padahal kepolisian Belgia sering kali mengemis bantuan saat peperangan seperti yang terjadi ketika kita berperang dengan Jepang!" seru Tea, meledak-ledak meluapkan emosinya.
"Aku setuju! Menurutku ia sama sekali tidak menghargai kita!" Hot menimpali.
"Kolonel Beef, sebaiknya kita adukan masalah ini kepada atasan!" usul Tea.
Kolonel Beef hanya tersenyum, berusaha menenangkan. "Kalau kita adukan masalah ini, sudah pasti kita disuruh kembali ke Prancis. Apakah kalian mau kehilangan kesempatan menangkap buronan? Apakah kalian mau kita kehilangan kesempatan naik jabatan dan mendapatkan hadiah?"
Mendengar kata-kata Kolonel Beef semua terdiam. Memang benar apa yang diutarakannya. Kalau sampai melapor, semua impian mereka yang mestinya dapat segera diraih akan tertunda, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Kadamg kesempatan memang tidak datang dua kali.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Kolonel Beef?" tanya Stick.
Kolonel Beef mencerna pikiran selama bebera waktu, kemudian berkata, "Kita harus tetap mencari mereka."
"Hanya itu saja? Tidak adakah rencana terperinci?" tanya Hot.
Sudut bibir Kolonel Beef terangkat, menunjukkan setengah seringai. "Tentu saja ada. Jangan pernah ragukan strategiku. Bahkan strategiku ini bukan sekadar berhasil menuntaskan misi kita, tetapi juga mempermalukan Mayor Jendral sombong itu."
Kolonel Beef menekan tombol hologram di lengannya. Tak lama kemudian muncul layar hologram di hadapan mereka. Di layar itu terdapat peta Kota Ath secara detail—bahkan lebih detail daripada peta yang ditunjukkan Mayor Jendral Fried. Selain itu terdapat tulisan-tulisan berupa strategi yang telah dirancang Kolonel Beef. Para pasukan elit membaca strategi itu dengan saksama. Memang Kolonel Beef dikenal sebagai ahli strategi handal. Banyak peperangan dimenangkan karena strateginya. Setelah membaca strategi itu, para pasukan elit yakin kalau impian mereka meraih kejayaan dapat tercapai. Hanya tinggal masalah waktu.
***