Setelah beberapa jam di udara, akhirnya Cloud dan kawan-kawan terbang rendah saat berada di atas sebuah gurun. Saat itu terik matahari begitu menyengat, hingga membuat Cloud, Milk, Potato, dan Splash tampak kelelahan. Badan mereka dibasahi keringat yang bercucuran. Sementara itu, meskipun tidak merasa lelah seperti manusia, mesin-mesin dalam tubuh android pun memanas. Roda-roda gigi di dalam d**a mereka bergesekan pelan.
"Panas sekali. Apakah tidak ada tempat berteduh di sekitar kita?" Splash bergumam seraya mengedarkan pandangan.
Sayang, di sekitar mereka tidak ada pepohonan, sekalipun sebuah pohon kelapa pun tak ada.
"Sebaiknya kita turun daripada menghabiskan energi dengan terbang terus menerus," ucap Cloud, sambil menukik lalu mendarat. Teman-temannya pun menyusul dan mendarat.
"Akan aku gunakan perisai pelindung. Setidaknya bisa sedikit menaungi kita dari sengatan matahari," ujar Orange.
"Tapi ...." Splash urung melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa Splash?" tanya Orange.
Splash menggeleng. "Tidak apa-apa."
Awalnya Splash mau melarang karena tidak mau Orange kehabisan energi. Namun, ia menyadari kalau hal itu justru sikap yang egois. Justru akan membuat teman-temannya yang lain kehabisan energi. Itu malah tidak akan menguntungkan kalau akhirnya mereka harus bertarung.
Cloud mengedarkan pamdangannya. "Kamu yakin di gurun ini lokasi FlipFlop?"
"Kalau memang ini Gurun Malt, berarti benar ini tempatnya," tukas Splash.
Potato pun bertanya, "Kamu yakin anak kecil itu tidak berbohong?"
"Aku juga ragu kalau FlipFlop tinggal di sini. Lihatlah, bagaimana mungkin ada orang yang sanggup tinggal di tempat sepanas ini," sahut Milk.
"Anak kecil itu tidak mungkin berbohong karena ia sangat berharap kita dapat mengambil obat-obatan itu untuk mengobati ibunya," jawab Splash yakin.
Potato memutar bola matanya. "Tidak mungkin. Kecuali ia tinggal di bawah tanah. Dan rasanya tinggal di bawah tanah pun mustahil. Bayangkan menggali tanah ditumpukan pasir yang menggunung seperti ini. Lagi pula kalaupun sanggup pasti memerlukan biaya besar. Tidak mungkin FlipFlop memiliki sanggup."
Milk memandang Potato seraya berpikir. "Tunggu ..., bawah tanah .... Potato, coba jelaskan kekuatan FlipFlop lebih detail."
Potato menghela napas. "Bukankah sudah kujelaskan, mereka bisa bertukar tempat. Apalagi yang perlu dijelaskan dengan de—"
"Apakah mereka bisa berpindah tempat dengan membawa sesuatu yang lain?" Milk memginterupsi.
"Ya, tentu saja bi .... Ah! Maksudmu ia berpindah tempat ke dalam tanah dengan bertukar dengan benda yang ada di dalam tanah?"
"Benar! Pasti seperti itu!" seru Milk.
"Terus kalau kita sudah tahu, bagaimana caranya kita ke sana? Kita tidak punya kemampuan seperti FlipFlop. Selain itu kita tidak tahu lokasinya dengan tepat," tukas Cloud.
Kata-kata Cloud membuat mereka terdiam. Sekalipun mereka bisa menduga cara yang dilakukan FlipFlop, mereka kesulitan untuk mencarinya.
Di tengah kebingungan itu, Orreo sedang bermain-main dengan seekor ular derik. Pandangan Milk tertuju ke arah Orreo yang mengejar-ngejar ular itu, hingga mereka melintasi sebuah oasis.
"Hei! Aku tahu!" seru Milk seraya berdiri lalu menghampiri oasis itu. "Pasti ini jalannya! Tidak ada lagi oasis di sekitar kita selain ini!"
Serta-merta teman-temannya menyusul. Ketika mereka tiba di depan oasis, mereka berhenti dan mengamati oasis itu.
"Bagaimana caranya kita ke bawah?" tanya Potato, bingung.
Splash tersenyum lebar seraya menepuk-nepuk Orange. "Serahkan padanya!"
Orange berdiri di atas oasis, kemudian ia mulai berputar. Lama kelamaan putarannya bergerak makin cepat dan membuka lubang sedikit demi sedikit. Setelah beberapa menit, akhirnya terbentuk lubang seukuran manusia.
"Lihatlah kemampuan androidku!" Splash berseru bangga. "Ayo, kita ke bawah."
Setelah itu Splash masuk ke dalam ruang kendali kemudian mengikuti Cloud dan kawan-kawan yang masuk lebih dulu. Ketika mereka sampai di bawah, mereka berada di bukit berbatu. Semua pemandangan di bawah tampak gersang, meskipun todak segersang gurun tadi. Namun, baru saja tiba di sana mereka mendengar suara orang bercakap-cakap. Sontak mereka pun bersembunyi di balik batu besar.
"Monsieur Flip menyuruh kita berpatroli sepanjang waktu, padahal tidak mungkin ada orang lain yang bisa ke sini," keluh salah seorang laki-laki yang bertugas menjaga.
"Kamu sudah bosan hidup? Sudahlah ikuti saja maunya. Lagi pula kita ada jadwa shift jadi selalu bergantian menjaga ini kan. Selain itu, tugas kita ini paling mudah. Seperti katamu, tidak ada orang yang bisa ke sini, artinya tidak ada risiko sama sekali. Bayangkan kalau kita di bagian meracik obat-obatan. Salah sedikit saja, Monsieur Flip akan membunuh kita," ujar temannya yang sama-sama bertugas berpatroli.
"Oh, iya. Bicara soal obat-obatan. Semua obat di Kota Ath telah kita ambil. Lalu bagaimana kita bisa menjualnya setelah semua persediaan di sini habis?" tanya penjaga itu lagi.
Temannya menghela napas panjang. "Makanya dengarkan Monsieur Flip kalau ia sedang menjelaskan."
"Menjelaskan? Memangnya Monsieur Flip menjelaskan soal apa?"
"Beberapa hari lalu Monsieur Flip menjelaskan kalau lusa kita akan pindah ke Kota Brugge," jawab seorang penjaga.
"Brugge? Hah! Tidak mungkin! Tidak ada gurun di sana! Di mana kita akan tinggal? Kamu pasti salah dengar!"
Temannya pun terkekeh. "Kamu pikir kita hanya bisa tinggal di gurun?! Justru dengan keuntungan yang kita peroleh selama ini, Monsieur Flip ingin kita menguasai Kota Brugge."
"Menggulingkan pemerintahan?"
"Bodoh! Tentu saja tidak!" bentak temannya kesal. "Maksud Monsieur adalah menguasai dunia kegelapan di kota itu."
"Oh jadi dari perampok kita akan berubah menjadi mafia? Itukah maksudmu?"
"Ya, ya. Tapi bukan maksudku, melainkan itulah maksud Monsieur Flip," jawab temannya lagi.
Penjaga tadi mengangguk repetitif. "Aku sudah tidak sabar kita ke Kota Brugge."
"Karena itu jangan sering menggerutu. Kita ini cuma anak buah. Tapi percayalah Monsieur Flip sudah memikirkan soal ini sebelum kita memikirkannya."
"Kamu be—"
Tiba-tiba ada suara batu yang membuat mereka terkejut.
"Kamu dengar?" tanya penjaga tersebut pada temannya.
Temannya pun mengangguk. "Ayo, kita periksa. Sepertinya arahnya dari batu besar itu."
Kedua orang penjaga di markas Flip berjalan ke batu besar, tempat Cloud dan kawan-kawan bersembunyi. Namun, tatkala tiba di sana mereka tidak melihat apa pun.
"Aneh ..., tidak ada apa pun. Aku benar-benar yakin suaranya berasal dari si—"
Belum sempat penjaga itu menuntaskan kalimat, ada peluru bius yang membuatnya mengantuk, kemudia jatuh tertidur.
Hal itu membuat temannya terkejut. Namun, tiba-tiba ia roboh karena dibius dengan peluru yang sama.
Cloud dan kawan-kawan menghampiri dua penjaga itu. Mereka melepaskan seluruh pakaian dua penjaga tersebut, kemudian Splash dan Potato memakainya.
"Kalian yakin tidak mau memakai baju ini?" tanya Splash pada Milk dan Cloud karena merasa heran.
"Kalau aku yang memakainya, percuma. Mereka tetap dapat mengenaliku dari kaleng-kaleng di badanku ini," jawab Cloud.
***