19

1013 Kata
Sementara itu di pinggir Kota Lyon, Prancis, seorang laki-laki sedang berbicara dengan Sand di layar hologramnya. "Apakah kamu belum mengatakan kalau aku ingin bertemu mereka?" tanya laki-laki itu yang merupakan pemimpin Bannière Rouge. "Aku baru mendapat pesanmu setelah mereka berangkat ke Kota Ath." "Jadi mereka sekarang sedang ke Kota Ath bersama Potato?" Sand mengangguk. "Benar, Gold." "Gawat!" seru Gold. "Tenanglah, Kawan. Mereka orang-orang yang genius dan memiliki android hebat. Selain itu Potato menjaga mereka. Kamu tahu 'kan kehebatan Potato," ujar Sand, berusaha menenangkan. "Tapi kamu pasti tahu kekuatan mantan anak buahmu, 'kan?" Gold balik bertanya. Sand tersentak. "Apa maksudmu?" Gold menghela napas. "Menurut informasi yang kudapatkan, beberapa waktu belakangan FlipFlop muncul di Kota Ath. Kalau sampai mereka bertemu dengannya, aku khawatir mereka dalam masalah besar." "Apa katamu?! Kenapa kamu baru menyampaikannya sekarang?" Sand makin terkejut. "Aku baru mendengarnya, karena itulah sekarang aku mau menghubungimu. Tidak disangka, mereka sudah berangkat ke Kota Ath. Aku akan menyuruh anggotaku untuk menjemput mereka dan semoga mereka tidak bertemu dengan psikopat itu," terang Gold. Sand mengangguk. "Baiklah, aku juga akan menyusul." "Sayangnya aku tidak bisa berangkat. Kamu tahu 'kan urusanku menggalang kekuatan di Lyon tengah berlangsung?!" "Ya, aku tahu. Tapi seperti katamu, Profesor Cloud Reufille dan teman-temannya merupakan kunci kita untuk mengalahkan dua pemerintah yang lalim," tukas Sand, "kalau begitu kita sudahi pembicaraan kita. Aku harus bersiap-siap ke Kota Ath." "Berhati-hatilah, Kawan." Usai menutup sambungan, Gold tercenung beberapa saat. "Hanya Eton yang mampu menandingi FlipFlop." *** Musik bertempo cepat mengentak pengunjung diskotek kecil di pinggir Lyon. Mereka mereguk ilusi dari minuman-minuman yang disajikan sambil menikmati suasana. Di antara mereka, laki-laki berbadan atletis berjalan menuju bar. Laki-laki itu berambut hitam dan berombak; wajahnya oval dengan rahang persegi dan kukuh; matanya berwarna safir dan memiliki sorot tajam; hidungnya pipih dan mancung. Laki-laki tampan itu duduk di depan meja bar. "Hai, Eton," sapa Bartender sekaligus pemilik diskotek, menyambutnya. "Minuman seperti biasa?" "Yeah, Steak." Bartender bernama Steak tersenyum, lalu mengedarkan pandangan pada para pengunjung perempuan. "Belum ada yang menarik perhatianmu?" Eton menggeleng. "Belakangan tempat ini membosankan." "Ya, kamu benar." Steak tertawa kecil sambil meletakkan pesanan Eton di meja. "Jangan berutang lagi. Aku bisa gulung tikar gara-gara kamu." Eton menghela napas seraya melepaskan jam tangan. "Rollez klasik, tahun 2021." Steak mengambil jam itu lantas mengamatinya. "Cukup untuk satu botol." "Satu? Kamu bercanda." "Yup. Hanya satu," tukas Steak. "Ah, you b*tch ...." Steak terkekeh. "Hei, ada yang spesial datang." Eton menoleh dan melihat perempuan cantik menghampiri bar. Perempuan itu mengenakan gaun merah. Rambutnya keemasan dan dibiarkan tergerai. Kecantikan perempuan itu membuatnya menjadi pusat perhatian laki-laki di sana. "Tambah satu botol lagi, Steak." Steak menggeleng-geleng. "Tidak, tidak." "Kali ini saja, please ...." "Tidak, Eton. Aku sudah kenyang mendengarmu memohon-mohon. Kalau kamu 'laki-laki', gunakan rayuan, bukan dengan minuman." "Minuman membuat semuanya lebih mudah," timpal Eton. Steak tersenyum, seraya mengalihkan pandangan pada perempuan tersebut. "Pesan apa, Miss?" Belum sempat perempuan itu buka suara, Eton mendahului, "Kusarankan Chivaz." Perempuan itu tersenyum. "Chivaz? Kenapa?" "Well, Chivaz dibuat pada tahun 1405. Klasik, dan tidak ada bandingannya. Sama seperti kamu." Eton mulai mengumbar godaan. "Dia kekasihku." Terdengar suara bariton dari belakang dan membuat John menoleh. Dilihatnya laki-laki setinggi dua meter dan berbadan kekar berdiri di sana. Dia langsung mencengkeram kerah baju Eton. "Enyahlah kalau tidak ingin mati." Laki-laki itu membenturkan kepalanya pada Eton lalu melemparkannya. Eton nyaris menabrak meja kalau tidak ditahan Steak dari belakang. "Perkelahian ini membuat utangmu bertambah." Steak mendesah kasar. "Sorry, aku tidak tahu Barbeque memiliki pacar baru." "Barbeque?" Steak melayangkan pandangan pada laki-laki bertubuh besar. "Hati-hati, dia petarung 'underground'". Semua orang di daerah ini tahu dia." Alih-alih takut, gairah Eton justru menggelegak. "Kamu tahu aku, 'kan?!" Kejadian itu menjadi pusat perhatian pengunjung. Mereka berkeliling menyaksikan keduanya sambil berbisik-bisik. Pandangan Eton menyapu orang-orang itu sekilas. "Soal utang, jangan khawatir. Sebentar lagi akan kulunasi semuanya." Eton mengedarkan pandangan sambil menunjuk Barbeque. "Siapa yang bertaruh aku akan membuatnya babak belur?" "Yeah, aku bertaruh kamu mati dalam lima detik!" celetuk salah satu pengunjung, memancing pengunjung lainnya tertawa. "Well, kamu,"—Eton berlari ke arah Barbeque—"untung besar, Steak!" Barbeque mengayunkan tinjunya. Namun, Eton berkelit dengan mudah, dan menyarangkan lulutnya tepat di ulu hati Barbeque sampai membuatnya tersungkur. Tanpa memberi jeda, Eton menghajarnya bertubi-tubi. Barbeque tak berkutik di hadapan Eton. Bagi Eton, Barbeque tak ubahnya seperti samsak hidup. Saat sedang asyik menghajar lawan, tiba-tiba terdengar suara ponsel yang menginterupsi. Eton mengeluarkan ponsel dari kantung celana. "Ketua Gold Bridge," gumamnya, membaca nama penelepon. Eton memutar bola mata, lantas mengusap layar hologram. "Ya, Ketua?" "Cepat ke markas!" Suara pemimpin Bannière Rouge terdengar dari pengeras suara. "Bukankah aku masih menjalani liburan?" "Ini situasi yang sangat penting yang kamu harus turun tangan!" "Bisa jelaskan alasannya?" "Nanti akan aku jelaskan setibanya kamu di markas!" "Ketua, aku masih ingin bersantai." "Tugas ini sangat penting demi misi kita! Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini! Paham?" Eton melirik Barbeque yang berdarah-darah. "Oke, tapi setidaknya beri aku waktu lima menit la—" "Sekarang juga, atau kita bertemu di persidangan anggota!" Pemimpin Bannière Rouge menutup sambungan telepon. Eton menghela napas seraya melirik Barbeque. "Sorry, waktu bermain kita habis, Sobat." Tinjunya berkelebat cepat dan menghajar Barbeque sampai tak sadarkan diri. Eton menyulut rokok sembari berjalan ke pintu. Orang-orang terpaku, memandang Eton menjauh. "Aku menang. Berikan uang taruhannya pada Steak, atau aku akan mencari kalian di seluruh pelosok Prancis," tukas Eton, mengerling pada Steak, kemudian keluar dari diskotek. Semua pengunjung terperangah, tak percaya melihat Barbeque babak belur. Tidak ada yang menyangka Eton dapat mengalahkan Barbeque. Nama besar Barbeque di daerah itu sudah cukup membuat mereka yakin. Sayang, tidak ada yang tahu siapa Eton sebenarnya, kecuali Steak. "Eton. Mantan anggota terelit dari pasukan khusus Prancis. Dia gila, tapi bukan pembual. Well, dia memintaku mengirimkan rekaman CCTV di pintu masuk. Dan, yaaah ..., aku tidak ingin bermasalah dengannya, jadi video itu sudah aku kirim. Dia tinggal mencocokkan wajah kalian dengan data untuk melacak tempat tinggal kalian. Kalau jadi kalian, aku akan menepati janji," ujar Steak. Mendengar itu, para pengunjung serentak menghampiri Steak yang berdiri di belakang meja bar. Steak tersenyum seraya melirik layar hologram di kolong meja, yang bertuliskan "CCTV tidak berfungsi". ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN