20

1018 Kata
Di unit Apartemen Whale, android berbentuk manusia baru saja menutup sambungan telepon lantas menoleh pada perempuan yang tidur di ranjang. Android tersebut menghampiri dan mengguncang bahu perempuan itu. "Trifle ..., bangun Trifle ...." Perempuan bernama Trifle menepis tangan amdroid itu lalu berguling. "Jangan ganggu aku, Custard." "Ayahmu baru saja menghubungi." "Katakan padanya aku lelah," jawab Trifle, enggan. "Kata ayahmu, ada yang penting." "Bagi ayah semuanya penting. Sudahlah, kamu terus-terusan mengganggu tidurku." Trifle menarik selimut menutupi kepalanya. Custard menggeleng-geleng kemudian menekan tombol di bagian bawah dipan. Tak lama kemudian, muncul pipa besi di setiap sudut ranjang dan menyemburkan air membasahi Trifle. Sontak Trifle bangkit dengan wajah merah padam. "Aah! Apa yang kamu lakukan, Berengsek?!" Trifle terus mengumpat. "Trif, kalau tidak darurat, aku tidak akan membangunkanmu." "Sudah kukatakan kalau ayah selalu me—" "Ini soal para buronan pemerintah," sergah Custard. "Apa?" Trifle tersentak dan segera menekan tombol hologram di dinding. Tak lama kemudian muncul layar hologram di dinding yang menampilkan data-data yang terkoneksi langsung dengan data di markas. Angka-angka di dalam data bergerak cepat. Mata Trifle melebar; mulutnya setengah terbuka, tak percaya dengan yang disaksikannya. "Benar katamu. Mereka bagian penting dari rencana kita. Jangan sampainterjadi sesuatu pada mereka," gumam Trifle. "Trif, tadi ayahmu mengatakan kamu harus membantu utusannya yang ditugaskan mengatasi masalah ini." Trifle bergegas ke kamar mandi. "Okay. Setelah berganti baju aku akan berangkat. Kamu harus ikut, Cust." *** Trifle sedang memacu mobil di jalanan Lyon. Mobilnya melayang dengan kecepatan tinggi. Namun, tiba-tiba terdengar peringatan dari speaker. "Trifle, ada yang menempel." Sistem pengaman kendaraan mengingatkan. Trifle melirik spion, dan melihat motor hitam berada persis di belakang. "Selalu saja ada orang yang menyebalkan di jalanan. Sekarang naikkan kecepatan, Omega," perintahnya pada sistem mobil. Susul menyusul antara Trifle dan motor itu terjadi. Beberapa kali Trifle harus ber-zig-zag di antara kepadatan lalu lintas, tetapi pengendara motor itu melaju lebih cepat meninggalkannya di belakang. "Kenapa dia menuju arah yang sama? Jangan-jangan ...." Trifle berpikir sejenak. "Omega siapa orang itu?" "Mohon ditunggu." Gambar pada layar hologram berganti menjadi titik-titik koordinat sampai akhir berhenti tepat di titik pengendara motor itu berada. Sedetik kemudian muncul wajah pria tampan berambut hitam di layar. "Oh, tidak ..., kenapa harus dia?!" Trifle mendesah. Tidak lama kemudian, Trifle membawa mobilnya masuk ke area parkir markas. Rupanya motor hitam itu telah sampai lebih dulu. Melihat kedatangan Trifle, pengendara motor melepas helm-nya. "Aku tidak habis pikir kenapa ayah mengirim orang bodoh sepertimu, Eton?!" gerutu Trifle sambil turun dari mobil. Eton melirik Trifle lalu terkekeh. "Kamu anaknya, 'kan?! Tidak pantas kamu mengatakan ayahmu seperti itu. Anak macam apa kamu?!" Trifle mengacungkan jari tengah sambil berjalan meninggalkan Eton di belakang. Mereka masuk lift yang membawa mereka ke lantai paling atas. Sesampainya di ruang kontrol, Gold menyambut mereka. Tentu saja bukan dengan sambutan hangat. Gold hanya melirik sekilas, tanpa tersenyum, lalu kembali melihat layar hologram. "Eton, Trifle, lihatlah ini." Gold menunjuk angka-angka merah yang bergerak tak keruan di layar. "Kalian tahu kalau para buronan itu menjadi bagian penting dalam rencana kita, 'kan?" Trifle mengangguk. "Karena sistem bebas kendali yang membuat mereka tidak bisa dikontrol pemerintah, 'kan?" Gold mengangguk. "Benar. Karena itulah mereka membuat berita palsu soal kelangkaan bahan baku, padahal sebenarnya tujuan mereka adalah menghancurkan android-android yang tidak bisa mereka kendalikan dan menggantikannya dengan android di bawah kendali mereka. Dengan cara itu, mereka akan mengukuhkan tirani di seluruh negeri ini." "Aku memang sudah tahu mereka tamak. Karena itulah aku keluar dari kepolisian. Mereka benar-benar membuatku muak," celetuk Eton, kesal. "Stupid," gerutu Trifle. Gold tersenyum melihat mereka, lantas mengganti gambar di layar hologram. Kali ini sebuah komputer tampil di layar. "Kota Ath, Belgia? Apa hubungannya?" Trifle memutar bola mata. "Ayah, aku sudah pernah bilang kalau laki-laki ini bodoh. Dan aku tidak habis pikir kenapa ayah mau mengirimnya?!" "Hey! Aku tahu ini pasti berhubungan. Tapi aku ingin tahu lebih detail!" protes Eton. "Tetap sa—" "Trifle," interupsi Gold dengan suara tegas. "Siapkan mesin warp." Trifle mendesah kasar lantas berlalu. "Mesin warp? Jadi aku akan berangkat dengan mesin percobaan itu? Benar-benar konyol." Gold tersenyum. "Kita berpacu dengan waktu. Aku mendapat kabar kalau FlipFlop sering muncul di Kota Ath. Kalau sampai mereka bertemu dengannya, bisa celaka." "FlipFlop .... Sudah lama aku mau menuntaskannya. Bagus, akhirnya jejaknya tercium," tukas Eton, geram. "Tapi kamu harus ingat. Mungkin kemampuan FlipFlop sudah melebihi sebelumnya." Gold memberikan jam hologram. "Kalau kamu butuh bantuan, tekan tombol hologram di sini." "Okay." "Mungkin mesinnya sudah siap." Gold mengajak Eton ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu tampak sebuah tabung berdiri di sudut ruangan. Tabung itu adalah mesin warp yang masih dalam tahap percobaan. Kemampuan mesin itu bisa mengirimkan seseorang dalam jarak ribuan kilometer. Sementara itu, mesin warp yang pernah dikembangkan sebelum ini, tidak memenuhi ekspektasi. Trifle sedang mengamati layar yang menempel di dinding tabung. "Dayanya melemah, Ayah." "Aku tahu. Tapi masih cukup untuk tugas ini." Gold mengambil rompi waktu. "Pakai, Eton." "Rompi ini lebih ringan dibanding mesin warp sebelumnya," tukas Eton usai memakainya. "Juga lebih simpel. Kamu tidak perlu berada di koordinat dimensi untuk berpindah tempat." "Jadi aku bisa berpindah dari mana pun ke tempat yang dituju di dalam koordinat itu?" Gold mengangguk. "Asalkan cukup daya, tidak akan ada masalah." "Ayah, sudah siap." "Eton," Gold melemparkan pandanganya ke arah tabung. Eton pun masuk ke dalam tabung. Tak lama kemudian, tabung tertutup lalu berputar di tempat dengan cepat. Selang beberapa detik kemudian, muncul aliran listrik yang menjalari tabung. Sementara itu di dalam tabung, Eton menatap titik cahaya yang makin lama makin besar dan membentuk sebuah pusaran. Namun, sedetik kemudian pusaran itu berbalik arah. Bukan kali ini saja Eton menjelajahi ruang dengan mencoba mesin warp yang belum sempurna, tetapi belum pernah dia melihat pusaran berbalik arah. Namun, belum habis keterkejutannya, dia mendengar suara kepanikan Trifle dan Gold. "Trifle, cepat buka tabungnya!" "Sudah! Tapi—" Tiba-tiba pusaran itu menarik Eton masuk dengan kekuatan besar. Di dalam pusaran, Eton mengambang dan berputar-putar. Otot-ototnya mengendur, dan perlahan-lahan membuat tenaganya melemah; dadanya terasa sesak seperti dihimpit benda yang sangat berat. Tak lama kemudian, terlihat cahaya di seberangnya—cahaya itu adalah ujung ruang dimensi. Sekali lagi seperti ada yang menarik Eton kuat-kuat dan membawanya ke luar dari dalam pusaran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN