RR Part 14 Sedikit Berubah

1420 Kata
Suasana di kantor masih cukup sepi kala pagi itu Riska mengetuk pintu ruangan Pak Dean, atasannya. Beberapa rekannya bahkan ada yang masih belum datang. Namun jangan heran jika Pak Dean sudah ada di kantor sepagi ini. Dia memang selalu datang lebih awal dari jam kerja dimulai. Untuk memberikan contoh pada semua, ujarnya tempo hari. Namun tetap saja, karyawannya lebih banyak yang datang saat waktu hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Sehingga tidak jarang dia melihat beberapa karyawan yang berlari kecil demi mengejar absen yang menggunakan sidik jari. “Permisi, Pak Dean…” Ucap Riska setelah mengetuk pintu. Tangannya bergerak menekan handle pintu yang terbuat dari kaca itu. Meskipun ruangan mereka terpisah namun semuanya dapat terlihat dengan jelas oleh Dean karena partisi ruangannya berbahan kaca transparan semua. “Iya, Ris? Ada apa?” Tanya Dean bingung melihat Riska yang mendatanginya ke ruangan sepagi ini. Seingatnya tidak ada pekerjaan atau laporan apapun yang dia minta pada Riska. “Saya mau cuti, Pak. Besok. Satu atau dua hari aja.” Kening Dean berkerut, “Bukannya kemarin kamu udah cuti ya, pas nikah?” Riska mengangguk dan tersenyum kecil, “Betul, Pak. Waktu itu saya ambil cuti empat hari aja kok, Pak.” “Terus, besok kamu mau kemana jadi ambil cuti lagi?” “Besok saya mau pindahan, Pak.” Wajah Dean berubah cerah mendengarnya, “Wah, selamat ya atas rumah barunya.” Riska tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih, Pak.” “Ya sudah, nggak perlu cuti. Kamu saya kasih izin aja ya, dua hari. Tapi ponsel harus standby kalau sewaktu-waktu saya ada perlu.” “Terima kasih banyak, Pak. Saya nggak akan matikan ponsel saya kok. Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya permisi.” ucap Riska sambil membungkukkan sedikit badannya. Senang sekali karena dengan begitu, jatah cutinya masih tersisa. Bisa dia gunakan nanti sewaktu-waktu jika diperlukan. “Sebentar, Ris…” Suara Dean menghentikan langkah Riska yang saat itu sudah berbalik dan siap kembali ke meja kerjanya. “Ya, Pak?” “Zoom meeting hari ini sama klien kita yang di luar kota dibatalkan.” Dean memberikan informasi yang cukup membuat Riska bingung. “Kok bisa, Pak? Saya belum dapat info atau konfirmasi apapun dari Kak Meta maupun Kak Glenn.” ucap Riska sambil mengingat janji mereka dengan kedua calon pengantin itu. “Glenn itu kan teman saya, jadi tadi pagi dia hubungi saya langsung. Ada kesibukan mendadak yang nggak bisa ditinggal, katanya. Minta di-reschedule. Tolong ya.” Dengan sigap Riska mengangguk dan mengangkat tangannya membentuk posisi hormat, “Siap, Pak.” Dan hal itu tidak pelak membuat Dean terbahak karenanya, “Sudah, sana balik kerja.” Tidak butuh waktu lama bagi Riska untuk segera mengatur kembali jadwal meeting yang baru saja dibatalkan secara sepihak itu. Begitu pula berjalannya hari itu, terasa begitu cepat bergulir hingga kemudian matahari sudah mulai tenggelam saat Riska berdiri di dekat pos satpam untuk menunggu jemputan. “Nunggu suaminya ya, Mbak Riska?” sapa Pak Tarno, satpam yang sore itu bertugas. Riska yang saat itu sedang mengecek ponselnya, sontak menoleh pada Pak Tarno. “Iya, Pak.” “Duduk aja dulu, Mbak.” Riska mengangguk dan mengambil kursi yang disodorkan oleh Pak Tarno, “Makasih ya, Pak Tarno.” “Iya, Mbak.” Sambil menunggu jemputannya tiba, Riska menghubungi sahabatnya, Mira. Tadi siang Mira sempat meneleponnya namun dia sedang sibuk sehingga tidak bisa menerima panggilan itu. Maka mumpung saat ini dia ingat, Riska memilih untuk menelepon balik. Sudah cukup lama juga mereka tidak bertemu. “Halo, Mir…” “Kok telepon aku nggak diangkat sih tadi siang?” celetuk Mira to the point. Riska mendengus kesal. Sebenarnya Mira tahu bahwa Riska memang agak sulit untuk mengangkat telepon di jam-jam kerja. Jika memang bisa, biasanya Riska memilih untuk mengirimkan pesan singkat saja. “Aku sibuk, Mir. Kayak nggak kenal aku aja deh ih. Ada apa sih?” “Ya nggak ada apa-apa sih. Cuma tadi siang itu posisi aku lagi di dekat kantor kamu, jadi mau ngajakin makan siang bareng gitu.” “Oo gitu… Ya udah, maaf ya. Lain kali deh kita makan siang bareng.” bujuk Riska pada Mira yang terdengar merajuk. Seperti anak kecil saja. “Hm… Oke. Ngomong-ngomong, gimana? Berumah tangga?” “Apanya yang gimana?” tanya Riska bingung. “Ya rasanya. Gimana rasanya sekarang udah jadi istri?” “Ih, kepo banget. Urusan rumah tangga pantang buat diceritain kali.” Lagi-lagi Mira kesal mendengar jawaban Riska, “Ya ampun, kita kan nggak ngegosip macam-macam.” “Kalo kamu penasaran, buruan nikah biar tahu rasanya gimana, terus nggak nanya-nanya lagi sama aku.” “Dasar pelit.” “Mir, besok aku pindahan.” Riska lalu menceritakan pada sahabatnya itu bahwa besok dia akan pindah dari rumah mertuanya untuk kemudian menempati rumah barunya bersama sang suami. “Wah, mantep tuh. Nanti kapan-kapan aku main ke rumah baru kalian ya.” Mira terdengar antusias. “Iya, boleh. Nanti aku shareloc alamatnya ya. Tapi nanti aja, tunggu urusan pindahan udah beres.” “Iya… Iya… Kamu ngajak aku kesana pas pindahan juga aku nggak bakal mau kok. Males banget bantuin orang pindahan.” cibir Mira dengan nada sinis, namun Riska tahu Mira hanya bercanda. Begitulah mereka berdua. “Mira, udah dulu ya. Aku mau pulang. Abang udah jemput.” Riska segera mematikan sambungan telepon dan berdiri, menunggu mobil suaminya untuk mendekat. Dan saat sang suami benar-benar dekat serta membunyikan klaksonnya, Riska berpamitan pada Pak Tarno yang saat itu sudah kembali berada di posnya setelah berkeliling. “Pak Tarno, permisi ya pulang dulu. Makasih pinjaman kursinya.” “Iya, Mbak Riska. Hati-hati di jalan.” Tangan Riska bergerak membuka handle pintu mobil, lalu masuk. Sembari memasang sabuk pengaman, Riska menceritakan pada sang suami bahwa dia sudah meminta izin untuk tidak bekerja. “Bang, tadi pagi aku udah ngajuin cuti buat pindahan.” Ujar Riska membuka obrolan. Riksa yang baru saja meletakkan ponselnya di dashboard lalu menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada jalan raya. “Berapa hari kamu cuti?” “Enggak jadi cuti bang.” sahut Riska. Riksa pun bingung. Tadi istrinya itu berkata bahwa sudah mengajukan cuti, tapi sekarang dia justru berkata bahwa dirinya tidak jadi mengambil cuti. “Maksudnya gimana? Terus besok gimana mau pindahan kalo kamu kerja?” Riska menggeleng, “Aku nggak kerja besok, Bang. Tadi pagi memang udah ngajuin cuti ke Pak Dean. Aku bilang kan, mau pindahan rumah. Terus dia bilang nggak usah ambil cuti. Dia kasih izin dua hari.” Sang suami pun mengangguk paham mendengarkan cerita Riska. “Oh, kirain cuti kamu ditolak.” “Nggak kok, Bang. Pak Dean itu orangnya baik. Apalagi akhir-akhir ini, sejak dia mau nikah. Suasana hatinya kayak bagus terus.” “Hm… Baguslah kalo gitu.” jawab Riksa sekenanya, “Kita langsung pulang aja ya? Makan di rumah aja? Abang capek mau mampir-mampir dulu.” Ada rasa kecewa di hati Riska, karena sebenarnya dia ingin mengajak sang suami untuk makan malam di luar lagi. Bukan berarti Riska tidak suka dengan masakan rumah di rumah mertuanya, hanya saja ada rasa berbeda saat mereka makan hanya berdua. Lagipula jika mereka sudah makan malam di luar, nanti ketika tiba di rumah mereka tinggal mandi dan beristirahat saja. “Iya, Bang. Nggak masalah. Langsung pulang aja.” jawab Riska pelan. Dalam hati dia berkata, “Sabar Riska, masih ada hari esok dan esoknya lagi buat kamu bisa makan malam berdua sama suami.” “Lagipula, nanti kalau sudah rumah sendiri, tiap malam kamu bakal makan malam berdua. Tinggal kamunya aja lagi, rajin masak atau enggak.” Riska mengangguk-angguk, setuju dengan pemikirannya. Hingga tanpa sadar terukir senyuman di bibirnya yang mungil. “Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Riksa heran melihat raut wajah sang istri yang tiba-tiba bersemu kemerahan. Riska gelagapan, bingung harus menjawab apa. “Ehm… Kenapa, Bang?” “Kamu… Kenapa senyum-senyum sendiri?” Riksa mengulangi pertanyaannya tadi. “Ooh.. Nggak. Nggak ada apa-apa kok.” Riska menyembunyikan wajah malunya dengan menoleh ke arah jalan raya. Begitu semangat untuk pindah ke rumah baru, membuat rasa bahagia itu muncul begitu saja ke permukaan. Riska juga berpikir, mungkin suaminya senang akan pindah ke rumah baru. Sehingga sejak kemarin sikapnya sedikit berubah menjadi lebih ramah dan hangat pada Riska. Jika biasanya Riksa berwajah datar terkesan ketus padanya, sejak kemarin dia lebih santai dan sesekali menyunggingkan senyumannya. Riksa bahkan tidak segan untuk memulai obrolan ringan. Padahal sebelumnya, jika Riska tidak membuka topik pembicaraan, sang suami pasti hanya akan diam sepanjang hari. Dan perubahannya kali ini, tentu saja membuat Riska berbunga-bunga. Bukankah ini berarti hubungan mereka memiliki progress yang bagus ke depannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN