Beberapa kardus dan koper milik sepasang suami istri itu sudah rapi berjejer di teras rumah. Siap untuk diangkut menuju ke rumah baru. Tidak terlalu banyak memang, karena semua perabotan dan perlengkapan rumah tangga sudah berada di sana. Hari itu masih pagi, saat Riska dan Riksa berpamitan pada orang tua mereka. Meminta izin untuk pergi, keluar dari rumah yang sudah sejak kecil Riksa tempati. Belajar untuk menjalani kehidupan berumah tangga dengan mandiri.
Layla dan Bachtiar tidak bisa ikut untuk membantu mereka pindahan karena keduanya akan berangkat keluar kota nanti siang. Maka Layla mengutus Mba Yuni untuk ikut di dalam mobil anaknya. Membantu Riska dan Riksa di rumah baru mereka. Meskipun barang yang dibawa tidak banyak, pasti akan cukup melelahkan nantinya. Menata ulang pakaian-pakaian mereka ke dalam lemari. Menyusun ulang beberapa perabotan yang mungkin masih tidak sesuai penempatannya. Dan melakukan hal-hal lainnya.
“Kalian berdua baik-baik ya. Yang akur, jangan suka berantem. Harus saling sayang, harus saling percaya.” Pesan Layla pada kedua anaknya itu.
“Riksa jaga istrinya baik-baik.” Lanjut Layla berpesan pada anak lelakinya.
“Iya, Mah. Kita nggak pergi jauh kok. Naik mobil gak sampe setengah jam juga nyampe kalau mau kesini, atau kalau Mamah sama Papah mau ke tempat kita.” Sahut Riksa yang merasa ibunya berlebihan, seolah-olah akan melepas mereka untuk pergi jauh.
“Riska pergi ya, Mah. Doakan Riska sama Abang, semoga aman dan nyaman di rumah baru.” Pamit Riska pada ibu mertuanya sambil memeluk wanita itu.
Mereka betiga yaitu Riska, Riksa dan Mba Yuni akhirnya berangkat juga setelah acara perpisahan yang singkat namun berurai air mata.
“Mamah, kayak mau ngelepas kita pergi jauh aja.” Gerutu Riksa sambil fokus menyetir.
“Namanya juga orang tua, Bang. Udah terbiasa hidup sama kita sejak kita masih kecil. Pasti sedih meskipun kita pindahnya nggak jauh dari rumah.” Ucap Riska memaklumi.
Mba Yuni pun menanggapi, “Iya, bener kata Mba Riska, Bang. Ibu sedih, karena biasa berkumpul di rumah, tiba-tiba Abang pergi, pasti berasa sepi.”
Mba Yuni memang memanggil Riksa dengan panggilan yang sama dengan yang lain, yaitu Abang. Karena keluarga Riksa sudah sangat dekat mengingat Mba Yuni yang sudah cukup lama bekerja dengan keluarga mereka.
“Ngomong-ngomong, Mba Yuni disuruh Mamah bantuin aku cuma hari ini kan?” selidik Riska sambil menoleh ke belakang ke arah Mba Yuni.
Mba Yuni mengangguk dan tersenyum, “Iya, Mba Riska. Ibu kemarin pesan sama saya buat bantuin beberes rumah baru, supaya Mba Riska nggak terlalu capek.”
“Tahu nggak Mba Yuni, sebelumnya Mamah malah pernah bilang, nanti Mba Yuni tinggal sama aku dan Abang. Buat bantu-bantu dan temenin aku.” Cerita Riska pada sang asisten rumah tangga yang terpaut usia dengannya sekitar sepuluh tahun itu.
“Iya, Mba Riska. Ibu juga pernah bilang gitu sama, Mba. Dan mba sih nggak berani komen apa-apa. Mau tetap di rumah Ibu, atau pindah ke rumah Abang dan Mba Riska, Mba nggak masalah kok.”
Riska menggeleng pelan, sembari tersenyum karena menyadari bahwa ibu mertuanya sebegitu baiknya pada dia.
“Tapi aku bilang sama Mamah, Mba. Karena aku cuma berdua sama Abang, aku bisa kok ngurus rumah sendirian. Nggak terlalu berat kok ngerjainnya, karena aku juga udah terbiasa dari dulu.”
Mba Yuni terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kalau cuma berdua memang gampang, Mba. Apalagi belum ada anak-anak. Rumah masih bisa rapi terus. Nanti kalau sudah ada anak kecil, susah banget rumah buat rapinya.”
Mba Yuni mengatakan hal itu sembari terkekeh pelan. Namun Riska justru terdiam membeku. Anak-anak? Bagaimana jika ada anak-anak? Rasanya… Hal itu masih terlalu jauh dari apa yang bisa dipikirkan oleh Riska. Bukan berarti Riska ingin menunda untuk memiliki anak, namun jika melihat sang suami yang masih menjaga jarak dengannya, bisa dipastikan memiliki anak adalah hal yang belum terpikirkan sedikitpun oleh suaminya itu. Apalagi sejak tadi, Riksa seperti tidak mendengarkan obrolan Riska dan Mba Yuni. Lelaki itu tetap fokus pada kemudi.
Hingga kemudian, beberapa menit menempuh perjalanan ke rumah baru, akhirnya mereka tiba. Sebelum membuka pintu mobil dan menginjakkan kaki di pekarangan rumah barunya, Riska menyempatkan diri untuk memejamkan mata sejenak dan berdoa di dalam hatinya. Semoga kehidupan rumah tangganya senantiasa bahagia. Tanpa banyak membuang waktu, ketiganya bekerja sama menurunkan barang dari mobil dan memasukkan ke dalam rumah.
“Mba Yuni bawa kardus ini aja, isinya perlengkapan dapur. Kalo kardus yang besar itu, isinya sepatu-sepatu. Di tiap kardus ada tulisannya kok, udah aku catat pake spidol, isinya apa aja. Untuk koper-koper nanti biar Abang yang bawa. Soalnya berat susah nanti, kamarnya di lantai atas.” Ujar Riska ketika Mba Yuni bergerak untuk membawa koper-koper mereka.
“Iya, Mba.”
Riska berjalan menuju ke lantai dua dengan menenteng dua buah handbag di tangan kanan dan kirinya. Hand bag yang tidak terlalu berat, berisi beberapa peralatan make up dan skin care miliknya. Hand bag yang satu lagi berisi sebuah diffuser berbentuk burung hantu mungil kesayangannya dan berbagai jenis minyak aromaterapi.
Saat semua koper sudah dibawa sang suami ke kamar mereka, Riska mulai menyusun isinya. Memasukkan pakaian-pakaian mereka ke dalam lemari. Cukup banyak memang, namun sepertinya Riksa sudah memperhitungkan semuanya. Karena lemari yang berada di kamar ini berukuran besar. Cukup untuk menampung semua pakaian mereka berdua. Selesai dengan pakaian, Riska beranjak ke kamar mandi untuk meletakkan berbagai perlengkapan mandi di sana. Ada sebuah lemari kecil di samping wastafel. Cukup untuk meletakkan handuk-handuk bersih dan juga stok perlengkapan kamar mandi mereka agar tidak terlihat berantakan.
“Sudah selesai?”
Suara Riksa mengagetkan Riska yang saat itu sedang mencuci tangannya setelah meletakkan barang-barang di kamar mandi.
“Kamu melamun ya? Sampai kaget kayak gitu?” tanya Riksa bingung melihat raut wajah terkejut Riska.
“Ehm… Nggak kok, Bang. Cuma… Kaget aja. Tadi sepi, tiba-tiba ada Abang.” jawab Riska.
“Itu di bawah Mba Yuni nanya, mau masak apa buat makan siang? Kalau kamu belum selesai, lanjut nanti aja.”
Riska sontak melihat ke arah jam tangannya. Memang sudah waktunya makan siang.
“Ini aku udah selesai, Bang. Aku ke bawah sekarang.” Riska pun bergegas turun ke bawah, menuju ke dapur dimana Mba Yuni sedang menyusun beberapa bahan makanan di dalam kulkas. Rupanya sang mertua juga sudah mempersiapkan aneka lauk, sayuran dan juga buah-buahan untuk mengisi kulkasnya yang tadi masih kosong.
“Mau dimasakin apa siang ini, Mba Riska?” tanya Mba Yuni sambil menoleh ke arah datangnya Riska.
Sedikit menunduk untuk melihat rak penyimpanan sayuran, Riska melihat ada kangkung di sana.
“Kita masak cah kangkung aja Mba. Yang simpel dan cepet. Sama…” Riska terdiam sejenak sembari membuka freezer tempat penyimpanan ikan dan daging. Ada empat box di dalam sana. Berisi ikan, udang, ayam dan juga daging.
“Ikan goreng aja, ya.” Riska mengambil sebuah box container berisi ikan yang sudah dibersihkan. Luar biasa sekali ibu mertuanya, sampai masalah isi kulkas sudah beliau pikirkan dengan cermat.
“Iya, Mba. Abang suka banget makan pake ikan goreng sama cah kangkung.” sahut Mba Yuni sambil mengambil satu ikat kangkung lalu memetik daun-daunnya. Memisahkan dari batang-batang yang besar.
“Selain kangkung sama ikan goreng, Abang suka menu apa lagi, Mba?” tanya Riska, sedikit mengorek informasi mengenai sang suami dari Mba Yuni.
“Hmm… Apa ya? Oh iya, abang suka makan empal jagung yang dicampur sama udang. Kalo Mba Yuni atau Ibu bikin empal jagung udang, Abang lahap banget makannya. Nggak pake lauk lagi kadang. Jadi kalau bikin itu harus banyak sekalian.” Uar Mba Yuni menjelaskan.
Riska mengangguk pelan. Tangannya masih sibuk mengupas bawang merah dan bawang putih, lalu mencucinya. Mengiris bawang itu dengan cepat untuk ditumis dengan kangkung. Kemudian lanjut membersihkan beberapa biji cabai dari tangkainya. Serta sebuah tomat sebagai pelengkap untuk membuat sambal.
“Abang itu nggak rewel soal makanan, Mba. Dia suka masakan rumahan, yang dimasak sama Ibu. Atau Mba Yuni. Hihii…” Mba Yuni memang sudah seperti keluarga bagi Riksa dan keluarga besarnya. Tidak heran jika mereka sangat dekat.
“Kalo yang Abang nggak suka, apa Mba? Ada nggak?” Kali ini Riska sedikit mundur, saat memasukkan beberapa potong ikan ke penggorengan.
Kening Mba Yuni terlihat berkerut tanda sedang berpikir, “Apa ya? Nggak ada deh kayaknya. Oh iya, ada. Mba baru ingat. Kepiting. Bukan nggak suka sih sebenarnya, cuma kalo ada makanan lain, Abang pasti pilih yang lain. Kata dia, makannya ribet. Sudah. Kalau lagi laper nggak bisa cepat makannya.”
Sambil mengecek ikan yang digorengnya sudah matang atau belum, Riska berkata pelan.
“Padahal kepiting kan enak ya, Mba Yuni? Aku suka banget makan kepiting. Meskipun nggak sering makannya, karena mahal. Hehee… Paling sesekali, habis gajian. Baru deh aku cari kepiting segar di pasar. Aku masak sendiri di rumah. Karena kalau beli, harganya lumayan. Uangnya bisa buat makan beberapa hari.”
Mba Yuni mengangguk, “Mba Riska tahu nggak, kepiting asap di restorannya Abang, itu best seller kata Ibu. Banyak yang suka. Padahal yang punya restoran nggak suka kepiting ya?” Mba Yuni kembali tertawa pelan. Tangannya masih sibuk mengulek sambal.
Tidak perlu waktu lama, menu makan siang sederhana namun nikmat itu sudah tersaji lengkap di meja makan. Riska pun naik ke kamar untuk memanggil suaminya yang tadi sedang beristirahat.
“Bang…” Riska dengan perlahan memegang lengan Riksa yang saat itu sedang tidur. Sepertinya tadi malam sang suami begadang menonton tayangan sepak bola di televisi, sehingga siang ini dia tertidur.
“Bang, bangun… Makan siang dulu.” Riska mengguncang lengan sang suami dengan lembut, hingga kemudian Riksa membuka mata.
Riksa mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bangun. Duduk di tepi tempat tidur dan menguap.
“Sudah siap makan siangnya?” tanya Riksa.
Riska mengangguk, “Sudah, Bang. Yuk, makan siang dulu. Nanti istirahat lagi, kalau memang masih capek.”
Riksa mengangguk, mengusap wajahnya sekilas karena matanya masih terasa berat akibat kantuk.
“Abang cuci muka dulu. Kamu ke bawah aja duluan.”
Riska pun mengangguk dan keluar dari kamar mereka, berjalan menuruni tangga lalu menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Mba Yuni yang sedang menyiapkan piring, menuangkan air ke dalam gelas dan memastikan lauk dan sayur serta nasi sudah terhidang di meja. Riska lalu duduk untuk menunggu sang suami.
“Makan bareng kita aja, Mba Yuni. Nggak usah sungkan gitu ah.”
Suara itu berasal dari Riksa yang tiba-tiba sudah duduk di meja makan, tepat di seberang Riska. Mba Yuni yang tadinya akan melanjutkan pekerjaannya membereskan kardus yang tersisa, lalu menghentikan kegiatannya. Mengangguk dan mendekat ke arah sepasang suami istri itu. Mba Yuni tahu, Riksa tidak suka jika ada orang di rumahnya yang terlambat makan karena sibuk bekerja. Meskipun itu asisten rumah tangga sekalipun, Riksa tidak segan untuk mengajak mereka makan bersama. Karena baginya, salah satu cara untuk menjaga kesehatan agar dapat bekerja dengan lancar yaitu dengan menjaga pola makan yang tepat waktu.
Tanpa Riksa sadari, seseorang yang duduk di seberangnya sedang terpaku melihat wajahnya. Tentu saja, karena wajah Riksa siang itu terlihat segar dengan rambut yang masih sedikit basah. Membuat sang istri sejenak seperti kehilangan kesadarannya.