RR Part 16 Perhatian

1363 Kata
“Mba Yuni, makasih banyak ya, udah dibantuin. Maaf kalau aku ngerepotin.” ucap Riska dengan sungguh-sungguh. Karena memang jika tidak ada Mba Yuni, bisa dipastikan pekerjaannya tidak akan selesai dengan cepat. Mba Yuni mengangguk, “Jangan sungkan, Mba. Kapanpun perlu bantuan, saya siap kok.” Setelah itu, Mba Yuni berpamitan dengan Riska. Sesuai mandat dari Layla, Riksa harus mengantarkan Mba Yuni kembali ke rumah. Jadi, sore itu Riska menikmati waktunya di rumah sendirian. Beristirahat dari padatnya pekerjaan yang biasa dia lakukan. Dan lagi, seharian ini tidak ada telepon masuk sekalipun dari kantor ataupun Pak Dean. Sepertinya semua aman terkendali. Riska masih memiliki waktu satu hari untuk bersantai. Sambil berbaring di kamar barunya, jemarinya bergerak lincah di layar ponsel untuk menelepon orang tuanya. “Halo, Ma…” “Iya, Ris… Gimana? Jadi pindahan hari ini? Kok nggak ada hubungin Mama dari tadi pagi?” Riska memang sengaja tidak menghubungi mamanya, karena tidak ingin merepotkan. Jadi Riska baru mengabari ketika semua sudah beres. “Jadi, Ma. Ini baru selesai. Barang aku kan nggak terlalu banyak. Jadi cepet. Sama tadi dibantuin Mba Yuni beresin semuanya.” “Gimana rasanya di rumah sendiri?” “Ehm… Gimana ya, Ma? Seneng sih, tapi ada sedihnya juga. Soalnya sepi, aku sendirian.” “Lho, abang mana?” “Abang lagi anterin Mba Yuni pulang.” “Ooh… Nanti kalau kalian udah punya baby, pasti nggak sepi lagi deh.” Riska terdiam sejenak, “Doain aja ya, Ma.” “Pasti dong, Sayang. Tanpa kamu minta, setiap orang tua akan selalu doakan anak-anaknya. Nanti kalau sudah jadi orang tua kamu pasti ngerti.” “Iya, Ma. Udah dulu ya? Aku mau mandi.” “Iya, Sayang. Hati-hati ya.” Keesokan harinya, masih menikmati jatah tidak masuk kerjanya, Riska memilih untuk bersantai di rumah. Sejak pagi dia sudah menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Mencuci pakaian, membersihkan rumah juga menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya yang akan pergi bekerja. Secangkir teh hangat tawar sudah tersedia di meja makan, berikut dengan nasi goreng olahannya. Pakaian kerja sang suami pun sudah dia siapkan dengan rapi. “Kamu nggak kerja, Ris?” Tanya Riksa bingung ketika melihat Riska yang masih mengenakan daster rumahan dan sedang mencuci peralatan masak di dapur. Riska menoleh, lalu menggeleng. “Nggak, Bang. Kan aku dikasih izinnya dua hari.” Jawabnya dengan santai, sambil mengeringkan tangannya yang masih basah dengan tisu. Lalu bergabung dengan Riksa yang sudah duduk di meja makan. “Oo… Iya, Abang lupa. Kemarin kan kamu udah bilang ya?” Riska mengangguk. Tangannya bergerak mengisi piring sang suami dengan nasi goreng, telur dan juga irisan timun. Tidak lupa kerupuk juga sebagai pelengkap. Kemudian Riska meletakkan piring itu di hadapan Riksa yang kemudian mengangguk sambil meminum teh tawarnya. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menghabiskan hidangan. Terlebih Riksa yang terlihat seperti buru-buru. Sesekali melihat ke arah jam tangannya. Sesekali mengecek ponselnya. “Abang buru-buru? Telat ya?” tanya Riska yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik sang suami. Riksa mengangguk lalu menggeleng, membuat istrinya bingung. Telat atau tidak? “Nggak telat, cuma Abang hari ini ada janji sama rekan kerja yang di Surabaya kemarin. Tadi malam dia bilang mau ke Jakarta. Tapi masih belum kasih kabar sampai sekarang.” “Oo… Tunggu di rumah aja kalau gitu.” Saran Riska. “Abang ke kantor aja, masih ada yang bisa dikerjakan sambil nungguin kabar dari dia.” Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke pekarangan rumah mereka yang tidak terlalu luas, namun cukup asri. Riska membuka pagar sementara sang suami memundurkan mobilnya. Saat mobil sudah keluar, Riska kembali menutup pagar dan menguncinya. “Hati-hati di jalan, Bang.” Riska melambaikan tangannya saat sang suami membunyikan klakson dan mobil itu bergerak menjauh. Baru beberapa jam dilewati dengan bermalas-malasan, Riska sudah merasa kebosanan. Pekerjaannya sudah selesai semua. Cucian sudah dijemur. Rumah sudah disapu dan dipel. Peralatan makan sudah dicuci. Maka Riska memilih untuk bersantai di kamarnya. Merebahkan diri di kasur, sambil menonton televisi yang sebenarnya tidak begitu menarik baginya. [Mir, kamu dimana? Sini mampir ke rumah. Aku sendirian.] Riska mengirim pesan pada Mira. Siapa tahu sahabatnya itu sedang istirahat siang dan bisa mengunjunginya. Tidak butuh waktu lama, pesannya sudah dibalas oleh Mira. [Share lokasi.] Pesan dari Mira sangat singkat, padat dan jelas. Membuat Riska tersenyum senang. — “Ya ampun, Ris. Penampilan kamu tuh, udah kayak pembantu tahu nggak? Bukan kayak yang punya rumah.” cibir Mira saat menginjakkan kaki di rumah Riska. Dia menggeleng melihat penampilan Riska yang terlalu santai, malah cenderung sembarangan. Daster longgar selutut, rambut diikat tidak rapi, wajah polos tanpa make up. Riska cemberut, lalu berhenti dan mengarahkan telunjuknya ke pintu pagar. Memberi kode pada Mira untuk pergi. Dan hal itu tentu saja tidak serius, justru membuat Mira tertawa. “Ih pengantin baru, jangan gampang marah gitu. Nggak baik.” Seru Mira. Dia dengan cueknya masuk ke rumah, melewati Riska yang membukakan pintu untuknya. Langkahnya terhenti di ruang tamu, saat melihat sebuah pigura besar yang memajang foto pernikahan sahabatnya itu. “Hm… Kayaknya aku kalau nikah nanti pilih tempatnya yang outdoor aja deh.” ucap Mira sambil mengelus dagunya. “Kenapa?” tanya Riska penasaran sambil mengikuti tingkah Mira memandangi foto pernikahannya. “Di pantai, gitu kan. Cuaca cerah, angin sepoi-sepoi, laut biru. Pasti cakep banget fotonya nanti.” Gumam Mira sambil menerawang membayangkan pernikahannya nanti. Riska lalu mencolek lengan Mira, “Sebelum itu, kamu harus cari calonnya dulu.” Gantian, kali ini Mira yang cemberut mendengar ucapan Riska. “Halah, nggak bisa lihat temen seneng ah.” Hening sejenak. Lalu mereka tertawa bersama. Begitulah keduanya. Saling ejek, saling sindir. Namun tak lama kemudian, tertawa bersama. Entah menertawakan kebodohan mereka sendiri, atau justru menertawakan orang lain. “Kamu lagi istirahat atau gimana?” tanya Riska pada Mira. Mira menggeleng, “Nggak, aku habis survey calon customer.” Ujarnya sambil meletakkan paper bag berisi berkas-berkas penting miliknya. Mira bekerja sebagai sales marketing salah satu dealer mobil. “Dulu sebelum aku nikah kok kita kayak susah banget ya mau ketemuan? Sekarang, aku baru ngirim pesan, kamu udah langsung cuss aja.” Riska berpikir, karena baru menyadari hal itu. “Iya ya. Aku juga bingung sih. Dulu tuh, kalo nggak kamu yang sibuk, ya aku yang sibuk.” ujar Mira sambil menggeleng. Mereka berdua duduk di meja makan, menikmati potongan buah segar yang dihidangkan oleh Riska. “Ris…” Mira menggantungkan ucapannya. “Ya..?” “Kamu… Bahagia?” Riska menatap Mira dengan wajah bingung, “Mak… Sud… Kamu? Bahagia?” Mira mengangguk cepat, “Iya, apa kamu bahagia?” “Kok tiba-tiba nanya gini? Aneh deh kamu.” sahut Riska. “Bukan aneh, Ris. Aku udah kenal kamu sejak lama. Dan aku lihat, kamu kayak lagi ada beban gitu. Nggak seperti pasangan lain yang baru menikah.” Riska menutup matanya sejenak dan menarik napas demi menahan diri agar tidak marah pada Mira yang dirasa sudah melewati batas privasinya. Melihat hal itu, Mira tersadar bahwa dia sudah kelewatan. “Ris, maaf ya. Bukan maksud aku ikut campur urusan kamu. Lupakan aja pertanyaan aku tadi ya? Anggap aku nggak pernah bertanya.” pinta Mira dengan raut wajah bersalah. “Kenapa kamu mengira aku nggak bahagia?” tanya Riska lirih. Mira menggeleng, “Nggak. Bukan gitu. Maaf ya.” Ujar Mira sambil merentangkan tangannya, meminta dipeluk oleh sahabatnya itu. Riska lalu tersenyum dan mendekat pada Mira untuk memeluknya, “Makasih ya, udah perhatian sama aku.” Bukan tanpa alasan jika Mira menanyakan hal itu. Karena dalam bayangannya, pasangan yang baru menikah itu selalu terlihat berbeda. Ada rona bahagia yang terpancar dari setiap senyumnya. Tapi di wajah Riska… Entahlah. Sahabatnya itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya. “Pokoknya, kalau kamu perlu bantuan, atau lagi ada sesuatu jangan sungkan untuk kabari aku ya?” Riska mengangguk, “Kamu tuh khawatirnya berlebihan. Lebih parah dari orang tua aku.” “Hellow… Kamu baru kenal aku?” Riska lalu tertawa dan menyadari bahwa sahabatnya ini memang tipe orang yang sering overthinking. Mira lalu mengajak Riska untuk keluar, “Kita ngemall aja yuk?” Sejenak Riska melirik jam dinding, “Pulang sebelum jam enam ya? Nggak enak kalau pas Abang pulang kerja akunya nggak ada di rumah.” “Iya… Iya… Gitu ya kalau udah punya suami.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN