RR Part 17 Doa

1052 Kata
[Bang, aku mau ke mall sama Mira. Boleh ya?] Sebelum berganti pakaian dan bersiap-siap, Riska menyempatkan untuk mengirim pesan pada sang suami. Meskipun dia yakin Riksa pasti mengizinkan, tidak ada salahnya dia bertanya lebih dulu. Karena memang begitu yang diajarkan oleh orang tuanya sebelum dia menikah dulu. Jika ingin keluar rumah harus selalu minta izin pada suami. Riska sengaja hanya mengirim pesan, tidak menelepon langsung karena takut kalau sang suami sedang sibuk dan dia justru mengganggu. Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari sang suami. [Iya, boleh.] Singkat, padat dan jelas. Namun Riska tidak mengambil hati, karena dia berpikir kalau suaminya sedang sibuk. Mira menunggu sambil menonton televisi di ruang tengah. Tangan kirinya memegang piring berisi potongan buah, tangan kanannya sibuk menyuap ke dalam mulutnya. "Laper ya, Mir?" Seru Riska saat melihat Mira yang sepertinya sejak tadi sibuk mengunyah. Mira menoleh dan tersenyum. "Enggak sih, tapi daripada aku bosan kan? Mending ngemil. Mubazir ini kalo nggak dimakan. Aku menghargai pemberian tuan rumah." Sahut Mira. Riska mengangguk, "Buruan dihabisin. Biar kita berangkat. Nanti kesorean pulangnya." "Ya ampun, Ris... Berangkat aja belom, udah mikirin mau pulang aja." Cibir Mira. Ketika tiba di mall, mereka berdua dengan kompak langsung menuju ke salah satu restoran Jepang yang terkenal dengan menu ramennya. Padahal rencana semula, Mira minta ditemani mencari kado untuk keponakannya. Tapi kemudian karena lapar, mereka memilih untuk mengisi perut saja. Dulu, mereka berdua sering makan di tempat ini. "Kamu masih sering ke tempat ini, Ris?" Tanya Mira sambil meminum air mineralnya. Riska menggeleng, "Nggak. Paling sesekali aja, kalo pas lagi sama temen kantor. Itu pun jarang banget." "Sama dong. Eh ngomong-ngomong, suami kamu kan punya resto ya? Wajar sih kamu jarang makan di luar, pasti makannya di restonya dia." Ujar Mira sok tahu. Riska menggeleng, "Ih, siapa bilang? Kemarin aja pas aku baru jemput Abang dari bandara, kita makannya di warung tenda pinggir jalan kok. Jadi, nggak melulu makan di restonya Abang." "Oh ya? Memangnya dia kemana? Kok kamu nggak ikut? Kan bisa sekalian bulan madu, Riskaaa... Ya ampun gimana sih." Seru Mira. "Aku kan kerja, Mira. Lagian pas nikah kemarin baru ambil cuti. Masa mau cuti lagi." Jawab Riska. Mira memainkan botol air mineral ya. Memutar tutup botol untuk membuka, kemudian menutupnya kembali. Sungguh kegiatan tidak penting yang sering dia lakukan saat sedang mengobrol. "Ingat ya, Ris... Cuti itu salah satu hak kita sebagai karyawan. Jadi kamu nggak perlu merasa nggak enak kalau mau ambil cuti. Selama jatah cuti kamu masih ada, gas aja terus. Hak kita kok. Kalau kantor nggak bolehin kita cuti, tar lapor deh ke Disnaker. Biar kena tegur itu perusahaan." Mira terdengar berapi-api saat berbicara. Sementara Riska hanya mengangguk-angguk pelan. "Iya, tahu. Tapi nggak ah. Aku nggak mau buat masalah. Bos aku juga baik orangnya. Ini aja aku pindahan dia kasih izin dua hari. Gak potong cuti." "Berapa lama suami kamu berangkat kemarin? Kangen nggak? Kemana sih?" Riska menerima mangkok berisi ramen miliknya, lalu menarik napas menghirup aroma sedap dan menggugah selera. "Bentar kok. Cuma tiga hari aja. Ke Surabaya ketemu sama siapaaa gtu. Orang ngajakin kerja sama." Mira yang saat itu sedang menghirup kuah ramen dari sendoknya, tiba-tiba terbatuk. Rasanya kuah panas itu terlalu cepat dia telan sehingga membuatnya terbatuk dan matanya mulai berair. "Uhuk..." Riska pun membantu Mira minum, sambil mengelus-elus pelan punggung sahabatnya. "Makanya, kalo makan baca bismillah. Berdoa dulu. Jangan malah update status diduluin." Cibir Riska. Sontak saja Mira mendelik kesal, "Enak aja nuduh sembarangan. Aku doa dulu kali, dalam hati." "Lagian..." lanjutnya, "Aku batuk bukan karena gak baca doa. Tapi kaget." "Kaget kenapa?" "Suami kamu pergi ke Surabaya? Entah ini kebetulan atau apa sih. Tapi, mantannya suami kamu itu buka cabang butiknya di Surabaya. Baru aja. Sekitar seminggu yang lalu kayaknya." Riska yang semula begitu lahap menyantap makanannya, tiba-tiba terhenti. Keningnya terlihat berpikir. "Emangnya, kamu tahu darimana Mir? Dan itu waktunya kapan?" Sebelum menjawab pertanyaan Riska, Mira terlebih dahulu membuka ponselnya untuk memastikan lagi. Setelah ketemu yang dia cari, lalu memperlihatkannya pada Riska. "Ini. Lebih dari seminggu yang lalu sih." Riska mendesah lega, "Oh, beda tanggal, Mir. Abang kemarin baru pulang dua hari sebelum aku pindah. Palingan juga, Kak Aya udah balik Jakarta pas Abang kesana." "Kak Aya?" Mira mengulangi kata itu. Terdengar sopan sekali untuk ukuran seorang istri menyebutkan nama mantan pacar suaminya. "Kamu kenal sama dia? Akrab banget sampe panggil Kak Aya?" Melihat anggukan polos dari Riska, Mira menggelengkan kepalanya. Dalam hati dia berharap semoga Riska tidak dibohongi oleh sang suami. Dia pun memilih untuk melanjutkan menikmati hidangan di depannya. Setelah makanan mereka habis, barulah niat awal dari Mira untuk mencari kado bisa terlaksana. Memang benar kata orang, kalau lapar kita cenderung sulit untuk berpikir. Namun terkadang, saat kenyang pun kita justru sulit berpikir karena mengantuk. Riska dan Mira berjalan menuju ke salah satu toko perlengkapan bayi. Daripada membeli mainan, Mira lebih memilih untuk membeli semacam benda yang bisa digunakan oleh keponakannya. Lagipula keponakannya itu baru berusia satu tahun. Dia pasti belum terlalu mengerti untuk bermain. Karena itulah Mira memi Lo ih untuk membeli set baju, celana, jaket hingga sepatu bayi untuk kado. Tidak hanya Riska yang bersemangat, namun Mira juga bersemangat melihat beraneka benda lucu dan wanginya terasa seperti bayi. Membuat mereka berdua betak. Terlebih Riska yang kemudian langsung berpikir, seandainya dia dan Riksa diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan, Riska sudah terbayang akan memberi perlengkapan yang seperti apa. Begitupula dengan baju-baju mungil yang ada di sana. Sangat menggugah sisi keibuannya. "Mau punya anak, Ya Allah." Riska sedikit terkejut saat Mira tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Membawa kantong belanjaannya tadi. Bahkan barang yang dibeli oleh Mira sudah terbungkus rapi. Riska sejenak terhenyak dan menyadari bahwa sudah cukup lama dia melamun entah apa. "Ris, ngelamunin apa?" Tanya Mira sambil menggamit lengan Riska. Riska menggeleng pelan, "Nggak. Nggak ngelamun kok besti." "Jangan bohong besti, aku bisa tahu kok kalo tadi kamu lagi ngelamun." Riska meringis, menyadari memang percuma dia berbohong pada Mira. "Iya... iya... Aku ngaku. Jadi tadi itu lagi mikir aja, kalau nanti aku punya anak pasti bakalan heboh juga belanja kayak gini." Mira mengangguk semangat, "iya tuh, bener banget. Tar ajakin aku ya kalo pas mau belanja perlengkapan bayi. Kapanpun aku lowong, pasti aku temenin kok." Riska mengangguk senang. "Nah kalo gitu, kamu harus rajin bikinnya." "Bikin apa?" Tanya Riska bingung. "Kok malah bingung? Ya bikin bayi lah." "Hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN