Dua hari tidak masuk kerja tentu saja menghasilkan beberapa pekerjaan yang tertunda di meja Riska. Pak Dean yang sebelumnya berkata akan menghubunginya jika memerlukan sesuatu saat dia sedang tidak masuk kerja, nyatanya sama sekali tidak menghubunginya. Jadi kemarin Riska menyimpulkan bahwa semua pekerjaan di kantor aman. Ternyata saat dia berjalan menuju ke arah meja kerjanya pagi ini, dari kejauhan sudah terlihat beberapa buah map berjejer di meja yang dua hari yang lalu dia tinggal dalam keadaan rapi dan bersih.
“Dania, ini berkas apa aja di meja aku?” seru Riska sembari membuka map itu satu per satu.
Dia mendekat dan berdiri di samping meja Riska, “Itu berkas penawaran event yang aku bikin, pas kemarin kamu nggak masuk. Pak Dean bilang taruh di meja kamu, biar kamu yang cek sebelum masuk ke meja dia.”
“Pak Dean bilang gitu?” Riska memicingkan mata, memandang Dania tidak percaya.
“Kalo nggak percaya ya udah, aku langsung taruh di meja Pak Dean aja. Paling nanti kamu yang di tegur kalau ada masalah.” ucap Dania sambil merapikan map itu dengan wajah cemberut. Dania memang termasuk orang yang mudah tersinggung.
“Eh… Eh… Jangan marah gitu dong. Aku kan becanda.” ucap Riska panik dan langsung menghentikan langkah Dania yang sudah berjalan menuju ke ruangan pak Dean.
Dania memandang Riska dengan tatapan tidak suka, sejenak dia menghela napas. Lalu menyerahkan berkas di tangannya pada Riska yang memasang wajah meminta maaf.
“Aku cek dulu ya. Ini kapan harus selesai?” tanya Riska seraya kembali ke mejanya. Mulai membuka map itu satu per satu. Lalu menghidupkan komputer dan menyalakan musik dengan volume kecil.
“Hari ini.” ucap Dania sambil berlalu, kembali ke mejanya sendiri.
Riska melotot melihat Dania yang semakin menjauh dari mejanya.
“Hari ini?” ulang Riska seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Oke, aku pasti bisa.” Lagi-lagi Riska berbicara sendiri, “Bikin kopi dulu.”
Riska lalu berjalan menuju pantry. Sebelumnya dia sudah membawa mug yang dia simpan di laci mejanya. Mug miliknya yang selalu dia simpan karena tidak boleh digunakan oleh orang lain. Karena jika diletakkan di pantry, sudah bisa dipastikan akan hilang entah kemana dan digunakan oleh siapa saja. Mug itu berwarna hijau bagian luarnya, bagian dalam berwarna pink. Dengan gagang berbentuk love. Mug diskonan yang dia beli dua buah. Satu lagi tersimpan rapi di rumah orang tuanya.
“Pagi, Riska.”
Riska menoleh ke arah asal suara, lalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dean rupanya ingin membuat kopi juga. Entah dia datang setelah Riska atau justru lebih pagi dari Riska. Dean memang lebih suka membuat kopinya sendiri, tidak menyuruh atau meminta tolong orang lain.
“Ngopi, Pak?” ujar Riska sambil mengangkat mug miliknya yang telah berisi seduhan kopi sachet.
Dean mengangguk, tangannya bergerak membuka lemari penyimpanan kopi hitam, krimer dan gula. Sepertinya hanya dia sendiri yang tahu seberapa takaran kopi yang pas, sehingga Dean selalu membuat kopinya sendiri.
“Berkas-berkas dari Dania sudah kamu terima?” tanya Dean sambil mengaduk minumannya. Menghirup sejenak aroma yang menguar dari uapnya, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
“Sudah, Pak. Ini sudah mau saya kerjakan. Kalau gitu, saya permisi ya, Pak.”
Dean mengangguk, lalu berjalan menuju ke ruangannya. Sementara Riska sudah berkutat dengan layar komputer dan beberapa berkas di depannya. Jika biasanya Riska jarang mengenakan kacamata miliknya, kini dia memakainya. Dia tahu pasti bahwa nanti matanya akan cepat lelah di depan layar komputer.
Beberapa jam fokus pada layar komputer dan berkas, terlihat beberapa coretan di sana. Sesekali Riska memanggil Dania untuk melakukan penyesuaian karena ada beberapa hal yang kurang pas. Riska seperti lupa waktu jika sudah dikejar oleh pekerjaan yang harus dia selesaikan.
“Ris, ini makan siang kamu.” Dania datang dan meletakkan makan siang titipan Riska di meja.
“Iya, Makasih ya…” Ucapnya sambil membuka kotak makan yang dibawakan oleh Dania. Dia lalu memakannya, masih dengan sebuah pulpen yang terjepit di antara telunjuk dan jari tengahnya.
“Hati-hati kecolok pulpen.” seru Dania mengingatkan. Riska hanya terkekeh geli, namun tetap melanjutkan makan siangnya sambil bekerja.
Entah sudah berapa gelas minuman yang dibawa Riska ke mejanya. Menemaninya bekerja. Dimulai dengan kopi di pagi hari tadi, lalu saat kopinya habis, Riska menuangkan s**u coklat cair yang ada di kulkas. Menjelang makan siang tadi, segelas teh hijau hangat tanpa gula dia nikmati. Sekotak minuman sari kacang hijau juga dia habiskan. Tidak lupa juga air putih. Mungkin jika bisa berontak, perut Riska sudah protes karena diisi berbagai jenis minuman. Dan kini, saat ingin mengisi gelasnya dengan air putih hangat, Riska menyadari bahwa kantornya mulai sepi. Hari pun sudah mulai gelap.
[Bang, Maaf lupa ngabarin. Aku hari ini lembur. Mungkin sekitar jam 7 malam baru sampai rumah. Sedikit lagi kerjaan aku selesai.]
Dengan cepat Riska mengirim pesan pada suaminya. Tidak ingin jika Riksa sudah di jalan untuk menjemputnya sekarang.
[Ok. Abang masih di Bogor, belum bisa jemput. Kamu pulang naik taksi aja ya nanti.]
[Belum pasti pulang jam berapa.]
Riska menarik napas lega, karena ternyata sang suami juga sedang sibuk. JAdi dia tidak merasa bersalah harus lembur hingga malam hari.
[Hati-hati di jalan ya, Bang.]
—
Sedikit meleset dari perkiraan awal, Riska baru tiba di rumah pukul setengah delapan malam. Rumah mereka dalam keadaan gelap gulita kala dia memasukinya. Ada sedikit rasa takut, namun Riska memberanikan dirinya. Meraba-raba saklar lampu di dinding. Dan ketika ruangan sudah terang, dia pun mendesah lega. Tubuhnya lelah, begitu pula dengan pikirannya. Beruntung semuanya bisa dia selesaikan dan tidak meninggalkan PR untuk besok.
Berjalan menuju ke dapur, Riska membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin, lalu meminumnya. Duduk sebentar di meja makan sambil menghabiskan minumannya. Bola matanya bergerak memandangi setiap sudut ruangan. Rumahnya masih bersih dan rapi, seperti saat pagi tadi dia tinggalkan bekerja. Jadi Riska memutuskan untuk langsung naik ke lantai atas. Menuju ke kamarnya. Dia sangat ingin mandi dengan air hangat. Melepaskan rasa penat di bahu dan pinggangnya karena terlalu lama duduk.
Benar saja seperti yang sudah dia bayangkan, saat air hangat mulai membasahi sekujur tubuhnya, rasa lelah itu perlahan berganti dengan sensasi rileks dan nyaman. Cukup lama Riska berdiri di bawah guyuran air hangat tanpa berniat untuk menyabuni tubuhnya. Matanya terpejam menikmati, namun yang dia bayangkan justru pekerjaan.
“Ya ampun. Giliran di kantor tadi pengen cepat pulang. Mandi terus istirahat. Tapi pas udah pulang, malah kepikiran kerjaan. Padahal kan udah aku selesaikan semua.”
Riska berbicara sendiri sambil memijat kepalanya yang berbusa. Sensasi dingin dari shampoo mentol yang dia gunakan, membuat kepalanya terasa segar. Selesai memijat kepala, Riska beralih ke tubuhnya. Mengusapkan busa sabun dengan merata, lalu kembali mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat.
Merasa sudah cukup memanjakan diri dengan ritual mandi yang cukup lama, Riska lalu menyudahinya. Membalut tubuhnya dengan handuk berwarna putih yang tergantung di belakang pintu kamar mandi. Tidak lupa membalut kepalanya dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Keluar dari kamar mandi, Riska melirik jam dinding di kamarnya.
“Sudah mau jam sembilan, belum ada kabar dari Abang.” ucap Riska lirih, sambil mengecek notifikasi ponselnya.
“Aku harus tunggu Abang pulang, atau tidur duluan ya? Abang punya kunci sih sebenarnya. Tapi… Kalo nggak ditunggu, takutnya dia marah.”
“Tapi kalau nunggu, aku capek banget ini, udah ngantuk.” ucap Riska sambil menutup mulutnya yang terbuka karena menguap.
Kakinya lalu beranjak menuju ke meja rias, mengambil hair dryer dan mengurai gulungan kabelnya. Setelah menyambungkan colokan ke sumber listrik, Riska lalu melepaskan handuk kecil yang menutupi kepalanya. Seketika itu rambut panjangnya tergerai. Riska sedikit menunduk saat mengeringkan rambutnya. Suara dengungan hair dryer rupanya membuatnya tidak mendengar bahwa pintu kamarnya telah terbuka. Terlebih posisinya setengah menunduk, membuatnya tidak melihat bahwa di depan pintu kamar, sang suami berdiri seperti patung. Wajahnya sedikit memerah, entah karena kepanasan seharian bekerja, atau karena hal lainnya.
Riska yang merasa satu sisi rambutnya sudah mulai kering, lalu mengubah posisinya menjadi berdiri tegak. Memindahkan hair dryer ke tangan kirinya. Saat itulah dia merasa ada yang aneh. Merasa diamati oleh entah siapa. Bulu kuduknya merinding, membuatnya mengusap bahu dan lehernya yang tidak tertutup apapun karena dia masih mengenakan handuk.
“Kok… Berasa kayak… Ada yang ngeliatin sih?” ucap Riska dengan suara sepelan mungkin. Dia tidak ingin membesar-besarkan rasa takutnya.
Pandangannya lalu dia edarkan ke seluruh penjuru ruangan, dan saat itulah dia terkejut. Tangan kanannya refleks menutup mulutnya yang terbuka, mengabaikan hair dryer yang masih berdengung, mereka berdua terdiam. Sepasang suami istri itu sepertinya tidak menyangka akan bertemu dalam kondisi yang… tidak pernah mereka duga sebelumnya.
“Kamu…”
“Abang…”
Satu kata itu terucap berlawanan. Membuat mereka kembali terdiam. Riska yang terlebih dahulu sadar, memutuskan untuk berpaling dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tidak kuasa menahan rasa malu yang membuat wajahnya memerah. Dalam hati dai tak henti-hentinya merutuk.
“Kenapa nggak pake baju dulu? Biasanya kamu bawa baju ke kamar mandi, Riska.”
“Kenapa tadi keliaran masih pake handuk?”
“Ya Tuhan, gimana ini.”
“Mana di sini nggak ada baju ganti aku.”
“Gimana aku bisa keluar?”
“Masa sampe besok pagi aku disini?”
“Minta tolong abang ambilin baju, mau nggak ya?”
“Atau suruh dia keluar dulu?”
Riska menggeleng menolak apapaun ide yang terbersit di kepalanya.