Lampu di ruang tengah masih menyala saat Riksa baru pulang malam itu. Dia menyimpulkan bahwa istrinya sudah pulang. Mungkin terlalu lelah, sampai dia lupa mematikan lampu sebelum naik ke kamar mereka. Riksa melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah sekitar dua jam yang lalu Riska pulang, jika mengingat pesan yang tadi dikirimkan untuknya. Pesan singkat yang mengabari bahwa Riska terpaksa harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Ck… Kalau bakalan lupa matikan lampu, mending pas baru pulang langsung aja naik ke atas. Nggak usah nyalain lampu di sini.” keluh Riksa yang memang terbiasa mematikan semua lampu yang tidak digunakan saat malam hari menjelang tidur.
Tangannya bergerak menggulung lengan kemejanya yang sudah kusut, hingga ke batas lengan. Lalu dia beranjak ke kulkas untuk mengambil air mineral botol. Tidak meminumnya langsung, melainkan dia bawa ke atas. Sambil membuka tutup botol air mineralnya, Riksa lalu membuka pintu kamar yang sepertinya masih terang. Menyempatkan sejenak meminum air di tangannya sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamar.
Langkah pertama Riksa disambut oleh bunyi mendengung. Yang membuatnya kemudian menajamkan pandangannya ke arah sumber suara. Dan di sana, di depan meja rias, terdapat pemandangan yang membuatnya membeku. Tenggorokannya bergerak memastikan bahwa air tadi sudah dia telan dengan sempurna. Karena entah kenapa dia khawatir air yang dia minum tadi memasuki saluran yang salah di tenggorokannya.
Riksa membuka mulutnya, berniat untuk menegur istrinya yang… Kenapa dia tidak berpakaian? Kenapa hanya mengenakan handuk malam-malam begini? Namun seprtinya dia sudah kehilangan suaranya, karena dari mulutnya yang terbuka, tidak terdengar apa-apa. Terlebih saat dia melihat sang istri seperti dengan sengaja mengusap bahunya yang terbuka, juga lehernya yang sepertinya terlihat lebih jenjang.
“Kok… Berasa kayak… Ada yang ngeliatin sih?”
Suara sang istri terdengar lirih. Riksa masih terdiam bahkan hingga saat sang istri membalikkan badannya hingga pandangan mereka bertemu. Otak Riksa seperti sedang konslet sehingga dia tidak bisa berkata atau berbuat apa-apa. Bahkan otaknya justru dengan cepat berpikir tentang wangi mentol segar bercampur dengan aroma bunga. Sejak kapan indra penciumannya jadi lebih tajam seperti saat ini?
“Kamu…”
Akhirnya keluar juga suara yang sejak tadi hilang entah kemana. Namun dia kembali terdiam karena bersamaan dengan itu, istrinya juga bersuara.
“Abang…”
Riksa tiba-tiba tersadar saat dengan cepat istrinya berbalik masuk ke dalam kamar mandi. Riksa mengusap wajahnya yang terasa panas. Membuka kancing kemejanya yang paling atas karena lehernya terasa sesak tiba-tiba.
“Bang…”
Suara sang istri terdengar memanggilnya dari dalam kamar mandi. Riksa memejamkan mata, kemudian kembali mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kenapa dia malah panggil-panggil? Dia itu masih di kamar mandi. Astaga Riska.” keluh Riksa dalam hati.
“Bang…” ulang Riska lagi.
“Iya… Apa?” Akhirnya dijawab juga panggilan itu.
“Minta tolong ambilin baju aku di lemari. Daster yang biasa aku pake.” Riska mengeraskan suaranya, takut kalau sang suami tidak mendengar permintaan tolongnya.
Riska menunggu cukup lama hanya untuk selembar daster yang sebenarnya tidak perlu waktu satu menit untuk mengambilnya.
Riska tidak tahu jika sang suami cukup lama berdiri di lemari yang posisinya sudah terbuka. Memandangi deretan baju yang terlipat rapi di sana.
“Daster yang biasa dia pake? Mana aku tahu yang sering dia pake yang mana? Aku nggak perhatikan itu.” gumam Riksa. Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah pakaian berwarna hitam bermotif bunga. Tanpa membuka lipatannya, dia menggenggam pakaian itu. Namun tiba-tiba otaknya yang tadi konslet terpikir sesuatu.
“Dia cuma minta ambilin daster kan? Berarti… Dia mau tidur nggak pake daleman?”
Mata Riksa melotot dan wajahnya panas, menyadari malam ini otaknya bekerja dengan tidak biasa.
“Kenapa jadi mikirin daleman? Astaga.”
“Bang…”
Suara itu membuat Riksa tersentak. Dengan cepat dia menutup pintu lemari. Masa bodoh dengan istrinya mau tidur dengan atau tanpa dalaman. Toh tadi dia hanya diminta mengambilkan daster saja.
“Iya, Sebentar, Ris.”
Suara pintu kamar mandi di ketuk, lalu Riska membuka pintunya sedikit. Menjulurkan tangannya keluar untuk mengambil pakaiannya.
“Oh, rupanya ini wangi yang tadi aku cium?” ucap Riksa tanpa sadar saat tangan Riska terjulur keluar dari pintu kamar mandi.
“Kenapa, Bang? Mana bajunya?”
“Ini.” Riksa meletakkan pakaian yang dia ambil ke tangan Riska. Setelah itu, dengan cepat Riska menutup kembali pintu kamar mandi.
“Kalau udah pake baju, cepet keluar. Abang mau mandi. Gerah.”
Tidak sampai lima menit kemudian, Riska membuka pintu kamar mandi. Tidak jauh dari sana, suaminya sudah menunggu. Kemeja yang tadi dia kenakan sudah dilepas. Hanya mengenakan kaus singlet seperti orang kepanasan. Padahal di luar sedang turun hujan, meskipun tidak terlalu deras.
“Kemejanya mana, Bang? Biar aku taroh di tempat cucian.” ujar Riska sambil menggenggam erat handuk yang menutupi bahunya. Rupanya Riksa tadi mengambilkannya daster tanpa lengan, yang biasa dipakai dengan lapisan kimono. Namun tadi, hanya bagian dalam saja yang diambil oleh Riksa, lapisan kimononya tidak diambil.
Riksa yang sudah di depan pintu kamar mandi, berbalik dan memperlihatkan kemeja di tangan kirinya.
“Tangkap…” ucap Riksa seketika sambil melempar kemeja itu ke arah Riska.
Sang istri yang terkejut dan tidak siap, refleks langsung membentangkan kedua tangannya untuk menyambut kemeja Riksa yang sudah melayang ke arahnya. Dia sepertinya lupa bahwa ada handuk yang harus tetap dia pegang untuk menutupi pakaiannya yang cukup terbuka.
Hingga kemudian saat kemeja itu tertangkap, Riska baru sadar handuknya terlepas. Memperlihatkan bagian bahu dan punggungnya yang halus. Riska hampir saja menunduk untuk mengambil handuknya, namun entah sejak kapan Riksa sudah berada di dekatnya. Kedua tangan kokoh sang suami menahan kedua lengannya.
“Kamu… Sengaja?” suara Riksa terdengar serak. Sorot matanya menatap dalam ke arah istrinya.
Riska kali ini tidak bisa menebak raut wajah seperti apa yang dipandanginya saat ini. Riska menggeleng pelan. Kaki Riska tiba-tiba lemas saat dia merasakan sesuatu di bahunya. Hangat, lembut dan entah apa lagi yang Riska rasakan kala itu. Kala sang suami menjatuhkan sebuah ciuman di bahunya. Kedua tangan Riksa yang semula berada di lengan, bergerak perlahan. Turun, menyusuri kelembutan kulit sang istri. Terus hingga ke punggung tangannya.
Sementara itu, Riska tidak bisa berbuat apapun selain diam dan berusaha bernapas dengan baik. Kepalanya sedikit pusing terutama saat tangan sang suami berpindah dari punggung tangan ke pinggang ramping Riska. Melingkarinya dengan erat hingga mereka berdua kini tak berjarak. Bibir yang tadi berada di bahu, kini juga berpindah naik ke ceruk lehernya. Sang suami menenggelamkan wajahnya, menghirup dalam-dalam aroma segar dari tubuh Riska.
Bernapas menjadi hal yang sulit bagi Riska untuk saat ini. Meskipun tidak memiliki riwayat sakit asma, nyatanya dia merasa sesak saat ini. Diikuti dengan kedua kakinya yang terasa semakin lemas. Hingga akhirnya, kemeja yang tadi dia pegang, terlepas dari genggaman tangannya. Riska memilih menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan, daripada dia harus jatuh merosot ke lantai. Maka, satu-satunya yang bisa dia jadikan pegangan dalam posisi saat ini adalah tubuh suaminya sendiri. Riska melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.
Hal itu tentu saja membuat sang suami tertegun sejenak. Merasa dipeluk balik oleh sang istri, Riksa menarik wajahnya demi memandang wajah sang istri. Istri yang sebenarnya belum dia sentuh hingga malam ini. Mungkin ini hari terakhir baginya untuk bertahan. Karena sebagai laki-laki normal, yang setiap malam tidur di tempat tidur yang sama dengan Riska, sudah cukup sulit baginya menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu pada istrinya. Sesuatu yang sebenarnya lumrah sebagai pasangan suami istri.
Tangan kirinya naik, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Riska. Sedikit membelai pipi mulus sang istri, hingga membuat Riska memejamkan mata karena tidak sanggup ditatap dalam jarak sedekat itu. Saat sang istri terpejam, Riksa menangkap hal itu sebagai sinyal baginya untuk maju. Terlebih rintik hujan seolah ramai sekali menyemangatinya. Maka, tangannya berpindah ke belakang, pada tengkuk sang istri lalu menariknya maju demi melabuhkan sebuah kecupan di bibir merah itu.
Ya, hanya sebuah kecupan, namun begitu enggan dia lepaskan. Biar saja waktu terus berjalan, keduanya masih menikmati saat dimana bibir mereka saling menempel dan terdiam. Tidak ada yang bergerak. Seolah meresapi rasa di dalamnya.