Minggu pagi yang cukup dingin, membangunkan Riska dari tidurnya. Posisinya masih seperti tadi malam, ketika sang suami memeluknya. Riska sejenak memejamkan mata karena kembali terbayang dengan mimpinya. Dia lalu berdoa, semoga apa yang tadi malam ada dalam mimpinya tidak pernah menjadi kenyataan. Bagaimana bisa dia dengan begitu emosi meminta untuk dikembalikan pada orang tuanya? Bukankah itu berarti bahwa dirinya meminta untuk berpisah? Riska lalu beranjak bangun dari tidurnya dengan perlahan. Tidak ingin mengganggu sang suami yang masih tidur. Dia memilih untuk membuka pintu balkon kamarnya agar udara pagi yang segar bisa masuk. Baru saja tangannya bergerak menggeser pintu, tubuhnya limbung. Rasa pusing yang tadi malam sempat hilang, kembali mendera. Beruntung dia berhasil berpegangan p

