Kisah 8 - Kekonyolan

1231 Kata
"Mah, Uda Ricon tuh cuma perlu diajak ngobrol, bukannya diajak makan, kan, belum sadar. Ngapain harus bawa sambel pete sih!" cibir Gina pada mamanya yang menyiapkan rantang makanan seperti hendak piknik saja. "Lho Mama ngelihat di sinetron TV kalau bisa bangun dari koma dengan dirangsang apa yang dia suka. Di sinetron itu kan si mamanya yang koma bisa sadar karena anak dan suaminya joget Tok-Tok. Siapa tahu kan si Ricon bisa bangun karena ngecium aroma sambel Pete buatan Mama," bela sang mama yang masih merasa bangga dengan idenya yang didapatkan setelah menonton adegan sinetron azab di salah satu televisi swasta. Gina menepuk jidatnya cukup keras sembari mendengus kasar. Sedangkan Ayah Gina tertawa atas ide istrinya itu. "Udah, udah, yok kita cepet ke dalam. Kasihan Ricon sendirian enggak ada yang jaga, kan," ucap Pak Sardi mencoba menengahi perdebatan antara anak dan istrinya itu. "Tapi, Yah--" rengek Gina. Pak Sardi yang tidak betah dengan rengekan Hina kini beralih menatap istrinya. "Mah ... nanti kita izin dulu sama dokter dan perawat apakah boleh sambelnya ini dibawa masuk. Karena kan satu-satu masuknya terus juga, kan, di ruang ICU, harus steril. Terlebih lagi Ricon pun belum bisa memakannya karena masih koma," ujar Pak Sardi dengan halus dan lembut memberikan pengertian pada istrinya. Tampak istrinya berpikir--seperti sedang menimbang-nimbang. Beberapa saat kemudian dia pun mengangguk setuju untuk meninggalkan rantang yang berisi makanan kesukaan Ricon di mobil. Mereka pun segera memutuskan untuk segera masuk ke ruang perawatan ICU dokter. Namun sebelum masuk, Gina dan orang tuanya terlebih dulu ditahan oleh perawat dan mengatakan bahwa Ricon kini sedang ada yang menjenguk dari pihak kerabat salah satu korban kecelakaan. Hal ini membuat Gina dan orang tuanya terkejut. Setelah menunggu beberapa saat tampak perempuan dengan rambut pirang di highlight cokelat itu sedang menutup pintu ICU. Saat ia berbalik tampak iris mata cokelat gadis blesteran itu membesar karena terkejut. Gina pun otomatis bersuara sembari dahinya mengernyit seakan pernah tahu wajah gadis bule itu. "Kamu siapa?" tanya Gina. Belinda pun menguasai dirinya kembali sambil bersenandung untuk menutupi keterkejutannya. Dengan mengulurkan tangannya Belinda memperkenalkan diri. "Saya Belinda Hopkins. Saya adalah keluarga dari salah satu korban kecelakaan yang terjadi di jalan tol itu." Gina terpaku. Aura kecantikan, ketegasan, serta elegan tampak memancar. Bahkan cara berbicara nya seperti Miss Universe atau Puteri Indonesia. Suaranya lembut dan mendayu-dayu--membuat Gina yakin siapa pun laki-laki yang mendengarnya akan berdebar bila mendengar langsung suara Belinda. Tak seperti suaranya yang cempreng. Seketika hal ini membuat Gina tampak malu dan insecure atas dirinya sendiri. Belinda tersenyum karena uluran tangannya tak juga disambut oleh Gina--hingga akhirnya Gina yang sadar menjadi salah tingkah. "Oh, maaf saya Gina. Salah satu keluarga Uda Ricon." "Bila ada sesuatu yang terjadi dengan kondisi--" Belinda menjeda ucapannya untuk mengingat kembali nama pemuda yang masih terbaring di ranjang pesakitannya. "Maaf, siapa namanya?" "Ricon kami memanggilnya Uda Ricon," jawab Gina. "Oh iya, bila terjadi sesuatu pada Ricon mohon untuk mengabari saya, ini kartu nama saya," ucap Belinda sembari memberikan kartu namanya yang sangat cantik dengan kertas tebal berwarna peach itu. Saat Belinda hendak berpamitan langkahnya terhenti karena mendengarkan istri Pak Sardi yang sedang menghadang seorang dokter untuk bertanya. "Pak Dokter, maaf, saya boleh bertanya?" tanya Istri Pak Sardi tampak antusias. "Boleh, Bu, silakan." "Pak Dokter apa iya kalau koma tidak bisa dikasih sesuatu yang dia suka?" Sang Dokter mengernyit tanda tak paham atas apa yang ditanyakan oleh istri pak Sardi. Pertanyaan istri Pak Sardi ini kembali membuat Gina menepuk dahinya dan Pak Sardi memanggil istrinya. Ayah dan anak itu kini tampak memerah malu karena pertanyaan konyol sang istri. "Jadi gini Dok, itu kan keluarga saya masih koma di ICU. Saya sudah membuatkan masakan kesukaannya. Meski dia belum bisa makan, saya pikir dia bisa mencium aroma sambel pete dan pepes tahu buatan saya. Soalnya saya lihat di TV kalau orang koma dikasih kesukaannya bakal sadar dari koma. Saya lihat itu yang joget Tok-Tok di TV mamanya bisa sadar dari koma setelah dengar anak dan suaminya joget Tok-Tok." Gina menggeram sembari memanggil sang mama. Sedangkan Pak Sardi sebenarnya bingung tapi istrinya ini bila jawabannya tidak memuaskannya--maka dia akan terus bertanya hingga merasa jawaban itu tepat. Maka Pak Sardi membiarkan saja istrinya untuk bertanya pada Dokter yang memang lebih ahli dalam menjelaskan. Sebelum menjelaskan dokter itu pun tersenyum sopan pada istri Pak Sardi kemudian mencoba memberikan penjelasan yang sederhana. "Begini ibu, untuk pasien yang sedang mengalami koma tindakan yang bisa membuatnya bangun atau sadar kembali yang benar adalah dengan cara medis. Artinya dokter dan perawat akan senantiasa memantau keadaan pasien dengan cara menyentuh atau memeriksa di bagian-bagian tertentu di tubuh pasien untuk mengecek sejauh mana respons yang bisa ditunjukkan oleh pasien. Sedangkan pihak keluarga atau orang terdekat diharapkan bisa memberikan sugesti positif pada pasien." "Jadi saya salah ya Dok, kalau ngasih makanan agar mencium aromanya." "Mohon maaf ibu untuk pasien yang sedang dalam tahap koma, memang akan mengalami penurunan segala inderanya karena kesadarannya seakan terkunci. Jadi memberikan rangsangan positif bisa berupa doa atau mengajak berbicara. Jika untuk memberikan makanan dengan tujuan agar bisa dicium aromanya, mungkin dikhawatirkan makanannya tidak bisa dimakan ya Bu. Tapi makanannya sepertinya enak, boleh buat saya saja, Bu?" Sang dokter pun malah mengajak istri Pak Sardi bercanda yang direspons istri Pak Sardi dengan tepukan pelan di lengan sang dokter. "Ah Dokter bisa aja," ucap Istri Pak Sardi sembari malu-malu. Gina semakin ingin membenamkan wajahnya ke bawah atas tingkah konyol sang mama. Gina sadar dan paham bahwa dia pun begitu. Mungkin emang udah turunan emak gue makanya gue juga konyol gitu, batin Guna. Melihat istri Pak Sardi yang begitu ramah dan baik pada setiap orang membuat Belinda tersenyum. Mengingat jadwalnya yang memang cukup padat--Belinda pun pamit undur diri. *** "Kenapa gue masih di tempat gelap dan dingin ini, sih?" gerutu Rian. "Mana tuh si cempreng bakal ngomong apalagi dia. Kemarin habis bilang gue suka pete, azan, terus dia cerita kalau gue sering jalan-jalan sama dia di Pusdai dan Perpustakaan Jabar." Selama berada dalam ruangan gelap yang Rian sendiri tak tahu dimana--Rian terkadang merasa ketakutan dan cemas. Merasa dirinya sudah diambang hidup dan mati. Tapi setiap kali dia bisa mendengar suara Gina membuat Rian seperti ... memiliki kembali motivasi hidup. Entah Rian pun tak tahu bagaimana ia merasa mulai terbiasa dengan suara cempreng dari gadis yang mengatakan bahwa dia bernama Gina. Karena seingat Rian tidak memiliki teman perempuan apalagi teman kencan bernama Gina. "Assalamualaikum Uda, masih bisa dengar Gina?" Suara Gina membuat senyum Rian terbit di wajahnya. Sembari ia menggumamkan kata, "Akhirnya datang juga lo cempreng." "Tahu enggak Uda, Mama tuh konyol! Tanya macam-macam ke Dokter tentang kondisi Uda. Bikin malu Gina sama Ayah." Gina mengucapkannya dengan terkekeh. "Tapi emang sih Gina juga konyol orangnya. Turunan kali ya, Uda, dari Mama." Ucapan Guna membuat Rian ikut terkekeh di sana meski tak tahu apa konteks pembicaraan yang Gina maksud. "Eh tahu enggak Uda, tadi ada cewek bule cantik yang jenguk Uda. Tapi Gina ngerasa kayak hafal gitu mukanya, siapanya Uda tuh. Awas enggak boleh pacaran dulu pokoknya. Siapa ya nama cewek itu tadi." "Ah ... Belinda, Belinda Pumkins kayaknya!" Belinda? Belinda kesini? Gumam Rian dalam hatinya. Ia ingin segera bangun dan membuka mata. Sudah lelah ia berada dalam ambang batas seperti ini. Tapi bagaimana caranya? *** haaaai gimana part ini? Terimakasih yaa kalian yang masih setia nunggu cerita ini. nantikan update nya setiap hari yaa. jangan sungkan buat koment juga. hatur Tengkyu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN