Kisah 7 - Belinda

1028 Kata
Kecelakaan yang menimpa Rian Putra Kresna dengan segera ditangani oleh pihak asisten pribadinya--orang kepercayaan kakeknya sejak lima belas tahun yang lalu bernama Pandu. Berita kecelakaan tersebut setidaknya harus diredam demi kestabilan perusahaan. Posisi Rian yang baru sepuluh bulan ini menjadi CEO--akan sangat rawan diganggu oleh orang-orang yang tak senang dengan kedudukannya. Di ruang VIP khusus tempat tubuh Rian dirawat--sudah ada kakek-nenek Rian, Pandu juga Belinda yang baru datang. "Pandu, saya harap kamu waspada," ucap Arga tegas. "Baik, Pak." Arga menatap istrinya yang masih terisak karena kondisi Rian. Kecelakaan Rian membuat Arga syok. Tubuh yang kini sudah renta itu seakan dipaksa untuk kembali mengingat kecelakaan tragis yang merenggut nyawa anak dan menantunya. Arga tak mau menduga-duga. Ia perlu mengumpulkan banyak bukti agar ia dapat menentukan langkah selanjutnya. Dengan kondisi Rian yang masih koma sudah terhitung hingga dua belas hari, kini Arga-lah yang harus turun tangan kembali untuk memimpin perusahaan sementara hingga Rian kembali pulih. "Oma ... Oma pulang aja, ya, biar Bel yang jagain Rian sampai malam," ujar Belinda yang tampak khawatir pada istri Arga Direja. "Kamu juga kan baru dari kantor, Bel, kamu juga pasti capek." "Enggak, kok, Oma," sanggah Belinda membuat istri Arga mendesah pasrah. "Kalau ada apa-apa kabarin Oma dan Opa ya, Bel," pinta istri Arga. Yang dijawab Belinda dengan anggukan. Beberapa menit kemudian, Oma dan Opa Rian pamit untuk pulang ke rumah. Meninggalkan Belinda yang kini seorang diri di ruang perawatan Rian. Belinda melepas blazer warna biru tuanya dan menyampirkan di atas sofa. Kemudian ia mengeluarkan tab-nya untuk memeriksa rancangan produk kecantikan yang akan ia pasarkan. Jari lentik Belinda terus bergulir dari bawah ke atas--fokus pada meneliti produk-produk yang sudah ia dan tim persiapkan. Namun ketika Belinda mendengar bunyi suara napas Rian yang terdengar pendek dan berat--membjat Belinda terperanjat. Untuk sesaat dia mengendalikan dirinya agar tidak panik. Dengan segera Belinda melihat kondisi Rian. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Tak mau berlama-lama, Belinda dengan segera memencet tombol darurat di atas tempat tidur Rian berbaring. Dua menit kemudian tim dokter dan perawat datang. Memeriksa keadaan Rian dengan cekatan. Belinda mengambil jarak agar dokter dapat leluasa memeriksa kondisi Rian. Belinda memilin ujung rambutnya, terkadang ia tampak seperti menyisir rambutnya dengan perlahan. Panik! Itulah uang dirasakan oleh Belinda. "Rian ... kenapa Dokter?" "Keadaannya masih belum stabil. Tapi bukan berarti pula memburuk. Hanya saja responsnya masih lemah. Tabrakan yang mengenai kepala Rian cukup keras dan mengakibatkan hematoma--seperti yang sudah dijelaskan. Bahkan korban kecelakaan yang masih dirawat di ruang ICU juga mengalami hal yang serupa dengan Rian. Hanya saja luka-luka dalam tubuhnya tidak separah yang dialami Rian yang mengalami retak di bagian organ sebelah kanan." Penjelasan dokter yang cukup panjang lebar membuat kekhawatiran Belinda semakin menjadi. Terlebih lagi ia mendengar korban dalam kecelakaan tersebut juga mengalami hal yang sama dengan Rian. "Keadaan korban itu kritis juga Dok?" tanya Belinda dengan cemas. "Untuk saat ini kondisinya tidak jauh berbeda dengan Rian. Tapi semoga saja baik Rian dan pasien tersebut bisa segera sadar." Setelah mengatakan hal tersebut, sang dokter segera berlalu. Belinda tadi sudah bertanya pada perawat siapa nama salah satu korban. Gadis cantik dengan wajah khas mirip bule itu berinisiatif akan datang menjenguk korban lain. Kini Belinda pun mendekati Rian. Tatapan mata Belinda memanas--ia tak sanggup melihat tubuh Rian yang biasanya berjalan dengan pongah dan sok kegantenga--kini tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang pesakitan rumah sakit. "Kenapa kamu doyan banget tidur, sih, Ian." "Kalau enggak bangun, aku teriak ya," bujuk Belida. Namun tubuh Rian tak bergeming sama sekali. Setelah memastikan tak akan ada siapa-siapa, Belinda memberanikan diri untuk mengecup dahi Rian begitu dalam. Seakan memberikan sentuhan dengan Rindu yang membuncah dalam diri Belinda untuk sahabatnya Rian. *** Setelah Belinda mendapati Pandu sudah kembali ke rumah sakit dan mengganti baju dengan wajah yang tampak segar, dan gagah meski keriput di wajahnya tercetak jelas. Belinda pun pamit untuk segera pulang. Tapi sesuai janji Belinda dia akan melihat keadaan korban lainnya terlebih dahulu. Apakah sama saja atau malah lebih buruk. "Maaf ... Mbak mau tanya ruang perawatan untuk pasien yang kecelakaan dua belas hari di jalanan tol apakah sudah siuman?" "Ada di ruang ICU bangsal empat. Silakan masuk." "Makasih, Mbak." Segera mengucapkan kata itu Belinda lebih dulu dan sudah memakai baju hazmat sebagai pelindung tubuh." Setelah menemukan bangsal yang dimaksud Belinda, dengan langkah perlahan dan ragu Belinda jalan mendekati tubuh yang tadi sempat Belinda intip namamya tertera nama, "Capricorn Wicaksana" Matanya terus mengamati tubuh Ricon yang juga sama--masih tergolek lemah. "Hm ... Aku bingung mau menyapa bagiamana karena kita tidak saling mengenal. Akan tetapi aku berdoa tulus agar kamu kembali pulih." Belinda berbalik bersiap untuk segera pergi meninggalkan tubuh Ricon. Tapi baru beberapa langkah Belinda malah kembali memutar tubuhnya. Belinda kembali mengamati wajah Ricon yang tampak familier, sepertinya mereka pernah bertemu, tapi dimana? Kulit kuning kecoklatan, hidungnya yang runcing dan proposional. Ada sedikit janggut tipis yang tumbuh di bawah dagunya membuat wajah Ricon tampak memesona di mata Belinda. Koma aja cakep apalagi kalau bangun, ucap Belinda dalam batinnya. Setelah puas memandangi wajah Ricon--Belinda memutar balik tubuhnya. Sayangnya Belinda kini malah menegang. Ia mendapati dirinya sedang ditatap dengan curiga oleh tiga orang yang Belinda pikir berbeda usia. Mungkin satu keluarga--dan merupakan keluarga dari Ricon. Belinda menjadi salah tingkah. Ia berdeham-deham dengan pelan. Mencoba akan membuka suara tapi sudah terlanjur didahului oleh pertanyaan seorang gadis yang Belinda nilai usianya di bawah beberapa tahun dari Belinda. "Kamu siapa?" sebuah suara yang terdengar cempreng dari balik belakang tubuhnya membuat Belinda terkesiap. Namun, ia hanya bergeming di tempatnya berdiri. Mengela napasnya sejenak untuk menyiapkan dirinya. Lalu Belinda berani untuk membalikkan tubuhnya, menatap gadis dengan rambut sebahu itu. Kedua gadis itu saling tatap. Belinda lebih salah tingkah, sedangkan gadis itu menatapnya dengan tatapan memicing. Belinda hanya berani mengulas senyumnya tipis dan mencoba mencairkan suasana. Meski belum sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya. sedangkan Gina di tempatnya berdiri, menatap Belinda sedikit heran bercampur takjub, akan sosok Belinda yant cantik, menawan dan beraura seksi. Sungguh! Gina jadi merasa minder dibuatnya. *** Maaf ya hari ini aku post sangat terlambat. Tapi selanjutnya InsyaAllah cerita Rian dan Ricon ini akan terus aku update di antara jam 7-11. Gimana ada yang masih bingung dengan alurnya? Yuk kasih komentar kalian. Hatur Tengkyu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN