Kisah 6 - Mimpi

1022 Kata
Rian merasakan kepalanya sangat berat. Bahkan untuk membuka mata sekalipun rasanya begitu susah. Namun ketika dia mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya seakan mendapat dorongan begitu besar untuk segera bangkit dan melihat. Mengapa ada kabut? tanya Rian dalam hatinya. Rian mencoba terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan yang tampak tak asing bagi Rian meski terhalang kabut yang cukup tebal. Rian… lagi suara itu kembali menyerukan namanya. “Mama?” panggil Rian lirih. Tak ada jawaban. Rian menghentikan langkahnya, hendak berbalik. Namun kembali panggilan tersebut menyerukan namanya. Kali ini suaranya terdengar pilu menyayat hati membuat Rian segera gegas melangkah cepat menuju ke arah sumber suara tersebut. Rian membuka kamar—dimana Rian begitu yakin bahwa itu adalah kamar tempat suara tersebut berasal. Ketika membuka pintu kamarnya, Rian mendapati sosok wanita yang tampak rapuh dengan mengenakan dress putih sedang menghadap ke jendela. Membuat d**a Rian bertalu-talu begitu kencang. Sudah sangat lama ia merindukan mamanya. Dan ia berharap dapat menemui sang mama atau papa dia alam mimpi. Kini harapannya terkabul. Mamanya yang cantik sedang berdiri tepat di hadapannya. Dengan segera pula Rian menghambur ke pelukan sang mama. “Ma … Rian kangen,” ucap Rian disela isak tangisnya. Mama Rian memberikan respons sebuah senyuman yang tampak cantik namun terlihat bahwa air mata pun luruh di kedua ujung mata sipit sang mama. “Rian sangat tampan. Kamu tumbuh dengan baik, Ian.” Rian menggeleng menampik ucapan sang mama. Hidupnya bagai neraka dan gelap setelah kematian kedua orang tuanya. Tak ada yang tahu betapa Rian sangat sulit menerima keadaan tersebut. Betapa Rian sungguh terluka. Dan Rian selalu benci ketika banyak orang yang mengatakan padanya, “Apakah dia baik-baik saja?” atau “Rian kuat, Rian akan jadi orang hebat, maka janganlah bersedih.” Sedangkan saat itu Rian masih begitu remaja dan tak tahu harus melakukan apa. Rian hanya menangis seakan tak malu saat ia terisak di hadapan sang mama. “Mama … hidup Rian tak pernah bahagia. Rian kesepian, Ma. Rian ingin menyusul mama dan papa.” Derai air mata sang Mama mengalir deras ketika mendengar ucapan Rian. Sang mama pun menggeleng. “Rian … kamu akan bahagia. Kamu akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Bantu Mama sayang.” Rian kembali menatap mamanya dengan gamang. Bahagia? Bisakah? Sedangkan dia sendiri tak tahu arti bahagia yang sesungguhnya itu apa. “Kalung pemberian Mama … harus kamu jaga dengan baik, ya. Ingat Rian, apapun yang terjadi nanti, kamu hanya harus percaya pada apa yang kamu yakini dan percaya.” Setelah mengucapkan kata tersebut, sosok sang mama menghilang bersama kabut. Kini Rian seakan berada di dalam ruangan yang dingin dan gelap. Ia begitu merasa ketakutan—meneriakkan dan memanggil sang mama. Namun suaranya seakan tertelan dalam ruangan gelap yang Rian sendiri tak tahu dimana. Saat Rian mengepalkan tangannya ia dapat merasakan bahwa dalam genggaman tangannya terdapat kalung dengan liontin warna hijau yang sangat indah. Ditatapnya begitu dalam liontin tersebut—sembari memikirkan ucapan sang mama untuk menjaga liontin ini. Yang Rian sendiri pun tak tahu apa maknanya. *** Dalam ruangan rawat ICU—Gina tak henti-hentinya terus mengucapkan banyak hal berusaha memberikan dorongan dan sugesti pada Ricon yang kondisi tubuhnya tampak mengenaskan. Kaki kirinya harus dibalut dengan gips. Beruntung hanya mengalami retak. Gina tampak bersyukur karena kecelakaan yang menimpa Ricon meski sangat fatal tapi Ricon hanya mendapat banyak luka retakan di beberapa bagian tubuhnya. Gina merasa bahwa Tuhan begitu sayang pada Ricon sehingga masih menjaga fisik Ricon agar tak terlalu parah terkena akibat kecelakaan tersebut. Dokter mengatakan bahwa Ricon dan korban kecelakaan lain mengalami hematoma—pembekuan darah dalam otak. Beruntung Ricon dan korban lainnya segera ditangani. Kini polisi pun masih menyelediki kasus kecelakaan tersebut. Terlebih lagi Gina mendengar bahwa salah satu korban adalah dari kalangan pengusaha yang cukup terkenal. Entah Gina sendiri juga tak tahu siapa. Kini yang dilakukan gadis berambut sebahu itu hanya terus mengajak Ricon bicara—berharap apa yang ia katakan dapat merangsang otak Ricon untuk merespons. “Uda … kapan bangun? Gina … Gina kangen sama Uda. Ini sudah dua belas hari Uda masih menutup mata.” Dalam setiap ucapannya Gina terisak pelan dan lirih. Khawatir suaranya akan dapat menganggu pasien lain. Gina melirik—memandang sekitar ruangan ICU untuk memastikan tak ada banyak orang dalam ruangan ini. Dengan debaran d**a yang bertaluan kencang—Gina menggenggam tangan kanan Ricon kemudia ia kecup dengan begitu dalam dan tak mau melepasnya. Meski mata Ricon terpejam—tapi Gina tetap merasakan gemuruh dalam dadanya yang tak berhenti. Entah rasa apa yang Gina miliki pada Ricon. Karena Gina sendiri pun tak tahu dan masih terlalu takut untuk menggali perasaan tersebut. *** Rian merasa bahwa dirinya masih berada dalam ruangan yang gelap dan sempit. Hawa dingin seakan menusuk kulit hingga tulangnya. Ia tak tahu ke mana arah dia harus kembali. Namun ketika dai mendengar suara isak tangis yang tampak asing di telinganya—Rian pun penasaran. Ia mencondongkan tubuhnya—menajamkan indera pendengarannya agar dapat mengenali suara isak tangis tersebut. “Apa Belinda? Atau Oma? Tapi suaranya tidak secempreng ini. Belinda suaranya lembut dan agak mendayu. Sedangkan ini suaranya meski lirih tapi gue yakin suara ini cewek cempreng,” ucap Rian yang bermonolog pada dirinya sendiri. “Uda …. “ suara itu kembali memanggil membuat Rian terperanjat. Ia merasakan sebuah getaran kecil dalam hatinya kala suara yang menurutnya cempreng itu memanggil sebuah nama. “Uda?” kenapa gue dengernya Uda, ya, udahan gitu maksudnya?” gumam Rian. Ia tak bermaksud bercanda. Hanya saja ia merasakan sebuah keanehan seperti ada yang salah—tapi Rian tak apa itu. “Coba lihat Uda, aku bawain Uda sambel pete sama tahu dan tempe. Kali ini sama Mama dibikin pepes tahu. Uda bisa mencium aroma petenya, kan?” ucap gadis itu yang terdengar Rian begitu frustrasi. “Pete? Gila! Sejak kapan gue makan pete? Ngadi-ngadi nih cempreng!” seru Rian tak terima. Rian yang merasa jengah dalam tempat yang tak tahu dimana ini mendadak ia terperanjat. “Uda … coba denger ini. Ini tuh suara azan Uda. Aku sering ngerekam suara azan Uda. Tahu enggak sih, kalau suara azan Uda itu, adalah suara yang paling merdu dan indah bagi Gina?” Rian terkesiap. “Azan? Gina? Sejak kapan gue bisa azan? Tunggu! Kenapa dia sering manggil gue dengan sebutan Uda?” *** yuhuuu gimana nih komentar kalian sejauh sampai part enam ini. perjalanan masih panjang. dijamin kalian akan dibuat ketawa, menangis oleh keempat tokoh utama. jangan lupa tap love dan komentar ya. hatur Tengkyu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN