Kisah 14 - Pelukan

1063 Kata
Jaga diri ya. Kata-kata itu terngiang terus dalam benak Gina. Gina masih tak mengerti mengapa ia merasakan apa yang dikatakan oleh laki-laki bernama Rian tadi seakan mirip dengan cara Ricon ketika berbicara dengannya. Mungkin hanya sebaris kalimat pendek, tapi Gina sudah hafal mati mengenai Uda-nya itu. Gina mengenal sejak bocah, mereka tumbuh bersama, dan Gina tahu bahwa dia adalah teman Ricon yang paling dekat. Setelah keluar dari ruangan VIP--Gina mengembuskan napas kasar. Menetralkan rasa sesak dan gemuruh sejak mendengar suara lirih dari laki-laki bernama Rian tersebut. Suara dering ponselnya membuyarkan lamunan Gina. "Assalamualaikum, Ma." [Waalaikumsalam, mau dibawain apa ke rumah sakit?] "Enggak usah, Ma. Nanti Gina cari makanan di sini aja." [Jangan nge-bakso wae atuh! Kamu mah jajan terus. Kayak bocah] Gina menjauhkan telinganya karena omelan dari sang mama. "Iyah, ntar Gina cari makan yang enak deh, Ma." [Yang enak tuh pasti mahal! Udah Mama bawain sambel jengkol ya, mau?] "Enggak mau, ah. Nanti Gina bau mah, enggak pede kalau mau ngomong apalagi kalau buang hajat di toilet umum!" [Kamu mah susah! Banyak maunya] "Mama tuh aneh-aneh aja, kan, Gina udah bilang ntar cari makan di sini. Enggak bakalan lupa." [Padahal Mama tuh perhatian ke kamu loh. Nanti Mama kena julid katanya enggak sayang anak.] "Ya ampun, Mama kok jadi panjang, sih. Mamaku sayang enggak akan ada yang julid ke Mama, moal waka wani Mah. Mama sama Ayah jadi ke rumah sakit, enggak?" [Jadi, tapi nunggu Papa. Ya udah, Mama mau masak lagi sambil nonton sinetron azab.] "Mah, jangan sering nonton sinetron azab deh, entar otaknya korslet." Gina berucap sembari tertawa. [Heh!! b***k Baong! Udah ya bye] "Eh, Mah, belum salam---" Gina masih tertawa karena obrolan dengan sang mama. Gina selalu merasa beruntung karena mendapat kedua orang tua yang begitu sayang terhadapnya. Sang mama yang meski cerewet, tapi obrolan dengan sang mama tak pernah menjadi garing. Sedangkan sang ayah adalah orang yang sangat pengertian dan sabar. Mereka berdua tampak saling mengisi. Dan Gina pun berharap suatu saat kelak dia bisa mendapatkan suami seperti ayahnya, lalu entah bagaimana Gina merasa bahwa Ricon sangat cocok dan ia harapkan menjadi pendamping hidupnya. *** "Kamu playboy banget tadi," ujar Belinda membuat Ricon mengernyitkan dahi. "Gimana kamu enggak pernah, tadi kamu lihat si Gina seperti seseorang yang udah lama enggak ketemu, lho." Ricon masih tidak mengerti arah pembicaraan Belinda. Karena itu dia hanya diam menunggu Belinda akan menyampaikan apa. "Why? Are you thinking am i jealous?" Ricon yang tidak mengerti arah pembicaraan Belinda semakin tidak paham karena Belinda berbicara dalam bahasa Inggris. Ricon hanya menggeleng lemah, karena efek kedatangan Gina tadi masih sangat terasa. Entah mengapa Ricon kali ini merasakan rindu yang teramat dalam. Rasa yang tidak biasa. Sesuatu yang sejak saat ia menyadarinya, segera ditepisnya. Belinda membuka blazzer-nya memperlihatkan kemeja pendeknya yang sangat pas di tubuh langsingnya. Ricon segera memalingkan wajah melihat Belinda yang membuka bajunya itu dengan sangat gemulai. Aneh! Mengapa dirinya jadi sering lepas kendali begini, rutuk Ricon dalam hati. Ricon sangat ingin bertanya apa hubungan antara pemilik tubuh ini dengan Belinda tapi lidahnya serasa kelu untuk bertanya pada gadis berwajah bule itu. Tapi kini sepertinya dia harus memberanikan diri. "Maaf ... apakah kita berpacaran?" tanya Ricon dengan suara Rian yang serak dan merdu. Belinda yang sedari tadi duduk di kursi di samping tempat tidur Ricon dengan tangan yang sibuk dengan tab-nya menghentikan gerakan tangan yang sedang membaca rencana produk baru dari skincare yang akan dipasarkan. Belinda tersenyum jahil, "yah ... bisa dibilang begitu. Kita dalam hubungan yang bahkan lebih dekat dan intim." "Intim?" Ricon tak dapat menutupi rasa keterjutannya. Apakah pemilik tubuh ini sudah sering melakukan zina dengan gadis bule itu. Ya Allah ini dosa besar. Mengapa kau harus menempatkan jiwa ini ke tubuh yang sering melakukan perbuatan dosa. "Apakah kita ... sudah menikah?" tanya Ricon hati-hati. Tawa Belinda semakin keras mendengar ucapan Ricon. "Menikah? Kalau kawin kita udah sering," jawab Belinda enteng masih dengan senyuman lebarnya karena kata-kata Ricon. Ricon meneguk ludahnya kasar. Ia lagi-lagi tak mengerti mengapa bisa tubuh mereka tertukar. Dan harus mengalami hal yang seperti ini. *** "Maaf ya, Uda, Gina tinggal dulu tadi. Sarapan udah diantar kan? tanya Gina pada Rian yang kini sudah duduk bersandar pada dinding. "Loh kok belum dimakan sih, Uda? kembali Gina bertanya setelah melihat makanan dari rumah sakit tak disentuh oleh Rian. Rian menggaruk telinganya. Suara cempreng Gina sungguh rasanya menganggu indera pendengarannya. "Elo kalau ngomong emang gitu ya? Cempreng?" Gina melongo. Kenapa Uda Ricon yang dikenalnya jadi ketus dan berbicara dengan kasar begini? Terlebih lagi mengucapkan bahwa suaranya cempreng. "Bisa beliin gue makanan yang lain enggak. Gue enggak mau makanan rumah sakit. Gue mau burger." Rian yang menatap Gina--gadis itu masih melongo seperti tak percaya. "Heh! Kenapa sih elo?" "Otak Uda ikutan geser ya pas kecelakaan atau bocor? Kok ngomongnya jadi ngelantur sih?" "Heh! Sembarangan elo kalau ngomong, buruan gih pesenin burger. Gue udah sehat. Makan dari makanan rumah sakit buat gue tuh bikin enek." "Uda, ngomongnya enggak asyik banget deh. Sengak!" "Ya udah coba deh elo makan itu makanan pucet kek mayat. Enggak ada warnanya gitu. Mana gue doyan." Gina berkacak pinggang, tak terima dengan Rian yang terus sengit dan terkesan bossy dalam nada bicaranya. "Uda ini kesambet setan apa sih? Jadi begini? Heran Guna?!" "Heh, cempreng, kenapa juga elo terus manggil gue Uda, gue bukan Uda." "Apasih maksudnya Gina enggak paham." "Udahlah cempreng buruan beliin gue burger, entar Eli total aja ya, berapa, biar gue ganti." "Tunggu!" Gina berseru sambil mengangkat tangannya. "Kenapa sih manggil Guna cempreng." Rian tertawa, "kuping gue kayak ditusuk pakai tugu Monas tiap denger elo ngomong. Suara elo tuh bising kek nyamuk." Gina membekalkan mata dia segera melangkah ke arah Rian. Dan kemudian menepuk agak sedikit keras pada lengan Rian yang Gina tahu di bagian tersebut tidak ada luka yang membahayakan. "Jahat ih! Uda bikin kesel Gina tahu!" Kemudian hal yang tidak Rian duga adalah Gina yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Bahkan Rian pun bisa mendengar Gina yang kini mulai terisak. "Eh .... " Rian hendak melepaskan pelukan Gina--tapi Gina tampak enggan malah kini makin erat. "Uda, jangan lama-lama lagi tidurnya. Gina khawatir. Gina sayang Uda." Ucapan spontan Gina membuat dirinya sendiri membelalakkan kaget bahkan Rian pun ikut terkejut. Mereka menjadi salah tingkah--tapi tak mau untuk melepaskan pelukan. Rian merasa hangat saat Gina memeluknya erat begini. Namun semuanya seakan sirna ketika sebuah suara membuyarkan lamunan mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN