Kisah 15 - Pertanyaan

1032 Kata
"Pandu, bagaimana hasil penyelidikan?" tanya Pak Arga--kakek Rian. "Masih belum ada titik terang, Pak Arga. Pihak kepolisian masih terus menganalisa dari hasil olah TKP. Tiga korban selain Rian yang terluka akibat kecelakaan tersebut masih dalam proses pengawasan juga," jawab Pandu. "Dari tiga orang tersebut ada yang mencurigakan?" "Sejauh ini kami belum bisa menyimpulkan, Pak. Tapi saya menemukan fakta yang menarik." Pak Arga yang semula duduk bersandar pada sofa--kini mencondongkan tubuhnya. Dirinya merasa penasaran dengan hasil temuan dari Pandu. "Salah satu korban bernama Capricorn Wicaksana .... dan dia adalah putra dari Zaenal Wicaksana." Pak Arga termenung mendengar nama Zaenal Wicaksana disebut. Tentu meski usianya kini mendekati angka tujuh puluh--dia tak lupa dengan nama itu. "Keadaan putranya bagaimana? "Saat kecelakaan terjadi, mobilnya di antara mobil Rian dan mobil pick up. Meski Kijang tua-nya mengalami kerusakan yang cukup berat, tapi ia mendapatkan luka-luka yang tak jauh berbeda dengan Rian." Pak Arga masih diam bahkan tatapannya kini kosong. Sebuah kebetulan yang tak terduga. Melihat Pak Arga yang tampak syok, membuat Pandu enggan menjelaskan kembali mengenai seorang Capricorn Wicaksana yang ia temukan. Sehingga yang dilakukan Pandu hanya diam mengamati dan menunggu Pak Arga membuka suara. "Apalagi yang kamu temukan, Pandu?" Pak Arga bertanya dengan suara pelan seakan berat yang dirasakan tubuh yang tak lagi muda itu. "Sebenarnya tak banyak hal menarik yang bisa kita ketahui dari seorang Capricorn Wicaksana. Tapi saya dan Belinda, sudah mendekati gadis yang tampak dekat dengan Capricorn. Dan gadis itu sepakat untuk membantu kita dalam proses penyelidikan." "Sejauh mana kamu yakin pada gadis tersebut?" Pak Arga bertanya dengan tajam. Ia tak ingin salah langkah. Karena ia tak akan membiarkan lagi-lagi kehilangan keluarganya. Sudah cukup ia pernah kehilangan puteranya dan menantu. Dan saat ini ketika ia merasakan banyak kejanggalan dan laporan sejak Rian menjadi CEO menggantikan dirinya--Pak Arga merasa harus semakin waspada. Kejadian kecelakaan yang menimpa cucunya tersebut sangat membuat Pak Arga syok. Padahal ia sudah menempatkan beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga Rian. Tapi saat kejadian itu--ia merasa kecolongan. Karena itu Pak Arga tidak mudah menaruh kepercayaan pada orang-orang baru. Bahkan untuk menjenguk Rian di rumah sakit saja, Pak Arga sudah memerintahkan hanya keluarga saja yang diperbolehkan. "Gadis itu bernama Gina. Merupakan tetangga Capricorn Wicaksana sejak kecil. Mungkin bisa dikatakan hubungannya dengan Capricorn, mirip dengan hubungan Belinda dan Rian. Dan karena kita membantu segala biaya rumah sakit, ia merasa berterima kasih dan balas budi. Karena itu saya meminta Belinda untuk mendekati Gina, agar memudahkan untuk berbicara." Pak Arga mengangguk mengerti. "Lalu dua orang korban yang merupakan di dalam mobil pick up bagaimana?" "Sejauh ini sopir pick up masih dalam keadaan koma dan sang kenek sudah sadar mengalami luka-luka yang cukup parah. Kita masih melakukan pemantauan baik keluarganya dan di rumah sakit." "Baiklah kalau begitu Pandu. Seperti yang sudah saya sampaikan. Setelah Rian pulih, untuk sementara ia akan tinggal di Bandung dan bila sudah bisa kembali beraktivitas,hotel di Bandung akan Rian pegang untuk sementara." "Saya mengerti, Pak." "Oh ya, mengenai Belinda saya harap kamu juga waspada. Kita masih belum tahu siapa musuh dan kawan." "Baik, Pak Arga." *** "Gina?!" Seru Pak Sardi. "Ngapain lekuk-lekuk Ricon?" "Ayah, kok udah ke sini?" tanya Gina dengan wajah memerah karena malu atas dirinya yang tiba-tiba memeluk laki-laki yang sangat berarti baginya selain ayahnya. "Gadis baong! Ditanya Ayah, malah balik tanya," ujar Pak Sardi sembari mencubit pipi putrinya yang perilakunya sebelas dua belas dengan istrinya itu. "Sakit atuh, Yah," pengen Gina dengan manja yang membuat Rian bergidik geli. Menurut pemikiran Rian wajah Gina itu manis selayaknya gadis Indonesia dari suku Sunda. Selain manis wajahnya juga lembut dan kalem tapi bila sudah bicara sungguh membuat Rian langsung hilang feel atau ilfil karena suaranya melengking alias cempreng. Sungguh tak sinkron dengan parasnya. "Mama mana? Enggak ikut?" "Enggak. Ayah enggak ngijinin nanti Mama kamu bakal aneh-aneh lagi kayak kemarin," ucap Pak Sardi kemudian menolehkan wajah ke arah Rian. "Ricon, tiga hari lagi kamu sudah boleh pulang. Dokter sudah menyampaikan kondisi kamu sudah cukup baik. Tapi mungkin pihak kepolisian akan meminta beberapa kali keterangan sebagai saksi." Rian hanya diam, mengamati dan menunggu perkataan Pak Sardi selanjutnya. "Yang Paman dengar, katanya ada unsur disengaja dalam kecelakaan di jalur tol. Tapi berita ini langsung hilang dan lenyap. Dengar-dengar salah satu korban adalah dari kalangan konglomerat, Rian siapa gitu namanya," kata Pak Sardi sembari berpikir nama yang juga menjadi korban. "Rian Putra Kresna," sahut Gina yang langsung membuat mata Rian membelalak. Tentu saja Rian tahu bahwa ia juga menjadi korban. Tapi yang ia tak tahu mengapa justru kini ia terjebak dalam tubuh seseorang yang Rian sendiri tak tahu siapa. Kemudian Rian sendiri tak mengerti mengapa ini menjadi begitu rumit dengan dugaan kecelakaan disengaja. Untuk itukah sang mama hadir dalam mimpi Rian. Banyak pertanyaan dalam kepalanya yang ia sendiri belum tahu jawabannya bagaimana--mungkin setelah ia keluar dari rumah sakit ia bertekad untuk mencari tahu apa yang terjadi. *** Setelah dinyatakan kondisinya cukup baik--Ricon diijinkan pulang oleh dokter. Sesuai perintah dari Pak Arga--kini Ricon untuk sementara akan tinggal di Kota Bandung dan menempati rumah di kawasan kota Bandung bagian selatan yang memang salah satu bagian perumahan elite itu. Perumahan tersebut dekat dengan kawasan tengah kota dan pusat industri sepatu yang cukup terkenal dari kota dengan julukan kota kembang tersebut. Ricon sendiri masih terus diam saat memasuki rumah mewah tersebut. Ada dua orang penjaga serta satu orang asisten rumah tangga yang sudah disiapkan Pak Arga untuk memenuhi kebutuhan cucunya. Tentunya Pak Arga memilih orang-orang kepercayaan yang sudah bekerja lama padanya. Tak terkecuali Pandu yang memang harus senantiasa berada di sisi Ricon. Meski ia sendiri memiliki keluarga di Jakarta. Perlahan-lahan Ricon mencoba mengingat semua nama-nama yang harus Ricon hafal. Mau tak mau kini ia harus beradaptasi dengan tubuh orang lain saat ini, hingga ia sendiri menemukan cara untuk kembali ke tubuhnya semula atau malah yang menjadi ketakutan Ricon adalah ia tak bisa lagi kembali pada keadaan semula. "Paman Pandu," panggil Ricon kemudian ia menjeda perkataannya. "Bolehkah bercerita sedikit tentang diri saya?" tanya Ricon lirih. *** Hayo apa ya kira-kira jawaban Pak Pandu? Menurut kalian Ricon blunder enggak dengan tanya begitu pada Pak Pandu. Yuk pantau terus cerita Rian dan Ricon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN