Rian dan Ricon kini sedang duduk saling berhadapan di sebuah kedai kopi kecil yang terdapat di daerah Bandung Timur tepatnya di daerah Pasir Impun. Tempat ini dipilih karena bukan daerah strategis yang banyak dilalui kendaraan. Daerah ini merupakan daerah perumahan dan perkampungan tapi arus kendaraan tak terlalu padat. Karena itulah dipilih oleh Ricon dan disepakati Rian yang beruntungnya tidak terlalu jauh dari kediaman Ricon—yang dimana Rian sendiri belum terlalu hafal jalanan kota Bandung. “Jadi kita benar-benar saling tertukar jiwanya?” tanya Ricon. “Elo pikir gimana?” Rian balik bertanya. Ricon pun hanya mengangguk pelan sembari menyesap kopi hitam tanpa gulanya. “Jadi kita harus bagaimana? Cara kita kembali, apakah kamu tahu?” Ricon sebenarnya tak ingin banyak bertanya. Hanya sa

