Mama nyaris tidak pernah meninggalkan Kania. Ia selalu berada di samping Kania. Menyuapinya makan, membelai pipi dan rambutnya, menggantikannya baju, menggenggam tangannya. Bahkan saat Kania tidur pun, mama berusaha tetap di sisinya. Memandangi wajahnya, menaburkan doa-doa untuknya. Perempuan tua itu sama sekali tidak mau pulang ke rumah. Kirana sampai harus memaksanya untuk bergantian istirahat menjaga Kania. Kirana terharu dalam diam memperhatikan cara mama memperlakukan Kania. Ia terngiang ucapan mama di masa awal Kania hadir dalam kehidupan mereka. “Sekarang kamu jadi anak mama dan jadi kakaknya Kirana ya. Mama tidak akan membeda-bedakan kalian.” Mama benar-benar membuktikan ucapannya. Naluri dan ketulusannya sebagai seorang ibu begitu murni. Walau keras dan tegas, sesungguhnya hati

