Arti dari kata BENAR

1836 Kata
Semuanya lantas menatapi Dara dengan tatapan serius "Apa? jadi maksud kamu Raina, Dara itu adiknya pria bernama Jack yang di sebutkan pak Sam di video?" ujar Jeffan dengan tidak percaya menatapi Dara. "Apa?" gerutu yang lainnya. "Tapi sepertinya Dara tidak tau semua ini Raina" ujar Jeffan lagi. Sonny, Willson, Ben dan Gio mengangguk setuju "Ya, engga mungkin Dara tau semuanya Raina. toh dia selalu bantui kita kan" jelas Willson lagi menatapinya serius. "Benar Raina, kamu tolong jangan berpikir macam macam tentang Dara. Karena abang sendiri pun tahu bagaimana hubungan Dara dan abangnya, mereka tidak begitu dekat dan seperti orang asing" jelas Baskara menatapi Raina serius. Raina menatapi abangnya tidak percaya. "Jadi abang mau terus berpikir positive sama adik dari dalang kebakaran itu hah? kalian juga? kalian sama sama percaya sama mba Dara? ini semua karena kalian tidak mengerti posisiku sebagai korban kebakaran, kalian engga akan mengerti bagaimana kebakaran itu menghancurkan kehidupanku. Abang engga inget? orang tua kita juga korban kebakaran itu bang!" teriak Raina dengan mata yang sudah berkaca kaca. Baskara membuang nafasnya berat lalu mendekat ke arah Raina "Dek, abang ngerti posisi kamu. Abang tau betul bagaimana sakitnya mengalami insiden mengerikan itu, apa lagi kehilangan bapak sama ibu kita. Tapi tolonglah pahami-" ucapan Baskara menggantung ketika Raina justru pergi dari hadapan mereka dengan tangisan. "Raina" gerutu Dokter Zean terlihat khawatir. Baskara menatapi Dara dengan tatapan sendu, Dara yang terlihat tertekan dan merasa bersalah. Baskara memeluk Dara segera "Dara, jangan seperti ini. Kamu engga salah apa apa" lirih baskara mencoba untuk menguatkannya. "Saya juga yakin Dara tidak terlibat dalam semua ini, saya tau bagaimana sikap Jack kakanya Dara saat pertama saya bertemu dengannya di rumah sakit. mungkin Raina hanya butuh waktu untuk kembali menjernihkan pikirannya! biar saya yang susul dia dan akan menenangkan dia." jelas Dokter Zean Semuanya mengangguk dengan sorot mata yang kebingungan. Baskara membuang nafasnya semakin berat lalu dia semakin mengeratkan pelukannya pada Dara. "Dara jangan terlalu di pikirkan ucapan Raina yaa, mungkin dia hanya teringat masa masa suram itu. Kamu tenang yaa, nanti aku pastikan Raina akan tahu bagaimana kebenarannya" gerutu Baskara padanya. Dara mengangguk "Ta- tapi kenapa bisa kakakku sendiri yang ternyata melakukan hal keji ini? aku engga berpikir kalau dia lah yang selama ini kita cari cari, a aku bener bener engga tau Baskara" jelas Dara dengan suara yang gemeteran. Baskara kembali menenangkan Dara lagi "Iya Dara, aku tau betul pasti kamu engga tau semua ini. Apa lagi hubungan kalian sangat buruk kan" ujarnya "Aku sekarang ingat, kenapa kak Jack waktu itu minta nomor kamu Baskara jadi apa mungkin dia lacak keberadaan kamu?" gerutu Dara menatapi Baskara serius. Baskara sangat terkejut "Apa? jadi.. hm bisa saja Dara" angguk Baskara. "Udah lah kita lupain aja tentang hubungan kakak beradik itu Dara, yang harus kita lakukan sekarang adalah segera melaporkan Jack Narendra ke polisi pusat. Supaya semuanya bisa terkendali secepatnya" jelas Willson menatapi mereka berdua serius. "Iya bener banget, kita engga punya banyak waktu Pak Baskara! bisa saja sekarang pria bernama Jack itu sedang menuju untuk pengalihan lahan" ujar Ben menambahkan. Semuanya mengangguk setuju dengan tatapan khawatir, begitu pun dengan Baskara yang mengangguk. Lalu dia menatapi Dara. "Dara? apa kamu akan terlibat dengan kami sekarang? untuk pelaporan kakak mu sendiri ke kantor polisi pusat?" tanya Baskara menatapinya penuh arti dan penasaran. Dara menatapi Baskara lalu segera mengangguk dengan sendu "Iya Baskara, aku akan tetap berada di pihak kalian" jawabnya segera. Mereka pun tersenyum bangga pada Dara, sekali pun pelakunya adalah kakaknya sendiri tapi dia tetap ingin melanjutkan pelaporannya. ◇◇◇◇ Raina duduk di pinggir kasur tepat berada di kamarnya, pintunya tidak di kunci jadi Dokter Zean mencoba untuk masuk ke dalam. "Raina.." panggilnya dengan suara yang lirih sembari menatapi Raina yang sedang menunduk dan menangis, saat dia tahu kedatangan Dokter Zean Raina langsung membelakanginya. Sembari sesenggukan menangis "Dokter Zean kenapa sih ngikutin aku? aku mau sendiri! tolong pergi" ujarnya dengan suara yang gemetar. Dokter Zean tidak menuruti apa yang di pinta Raina, dia justru duduk di sampingnya dan masih menatapinya dengan sendu. "Dokter! jangan lancang ya! cepet keluar dari kamar ku, aku mau sendirian dulu sekarang! lagi pula abang ku sendiri udah engga peduli sama perasaanku, dia lebih peduli sama mba Dara yang jelas jelas bersalah" teriak Raina masih dengan tangisannya yang kian berjatuhan. Dokter Zean membuang nafasnya cukup berat, dia lalu memegangi bahu Raina dari belakangnya. "Raina, saya tahu saat ini kamu pasti sangat terpukul. Mengingat kembali kejadian memilukan itu dan ternyata dalangnya adalah anggota keluarga dari orang yang sebelumnya sangat kamu percaya" ujar Dokter Zean dengan suara nya yang sangat lembut. "Hiks hiks.. jangan di perjelas! itu hanya bikin aku tambah sakit aja dok. Udah lah kamu pergi aja dari sini dok! bukannya kamu juga suma sama mba Dara? gihh tenangin dia sama kayak abang aku sana!" perintah Raina "Stop Raina! yang saya tahu kamu itu orang yang kuat, kamu bertahan sampai selama ini untuk memecahkan kasus itu bersama rekan rekan kamu. Kamu jangan runtuh semudah itu Raina, lagi pula coba kamu ingat ingat lagi deh. Bagaimana Dara selama ini selalu ada buat kalian, dia juga selalu ikut kemana pun kalian melakukan penyelidikan kan?" ujar Dokter Zean Tangisan Raina berhenti, kini Raina terbayang bagaimana saat saat Dara selalu bersama mereka di setiap saat penyelidikan. Tanpa kenal lelah Dara tak pernah absen untuk ikut bersama mereka, mungkin hanya 2 kali dia tidak ikut. Raina membuang nafasnya kesal. "Tapi aku yakin mba Dara tau kok tentang semua ini, mungkin aja kan dia di suruh abangnya buat ngikutin kita?" gerutu Raina lalu membalikkan badannya dan menatapi Dokter Zean dengan tatapan serius. Dokter Zean menggelengkan kepalanya "Dara bukan orang seperti itu Raina, karena aku tahu kakaknya Dara seperti acuh tak acuh sama Dara. Waktu itu Jack pernah datang ke rumah sakit dan nanyain kemana Dara, posisinya waktu itu Dara lagi pergi sama kalian. Tapi karena saya ngerasa Jack ini kayak orang yang emosional jadi saya engga bilang ke dia kalau Dara lagi pergi sama kalian, dari situ saya tau hubungan Dara sama abangnya engga baik baik aja Raina" jelas Dokter Zean meyakinkan Raina. Tiba tiba lagi Raina terbayang saat saat di mana Dara mengatakan bahwa dia iri dengan hubungan Raina dan Baskara yang terlihat sangat hangat "Ya, Mba Dara engga pernah menceritakan tentang abangnya pada aku sama abang. Mungkin karena memang hubungan mereka buruk sejak awal?" gerutu Raina dengan suara lirih. "Iya Raina, tanya deh sama hati kamu sendiri apa kamu sampai saat ini masih percaya sama Dara? apa hati kamu bilang Dara di suruh kakaknya untuk mengikuti kalian selama ini?" tanya Dokter Zean lagi membuat Raina semakin berpikir keras. Raina menunduk dan membuang nafasnya sangat berat "A- aku engga percaya kalau mba Dara melakukan semua ini karena suruhan kakaknya. Aku masih percaya sama mba Dara, a- aku hanya terbawa emosi dan seakan pikiran ku meledak. A- aku harus bagaimana sekarang" lirih Raina kebingungan dan menyesali semuanya. "Raina, tenangkan dirimu. Ayo keluarin semua rasa sakit yang masih kamu pendam selama ini, buang semuanya! saya yakin kamu masih menyimpan sedikit rasa sakit di hati kamu" lirih Dokter Zean lalu memeluk Raina dengan lembut. Raina membuang nafasnya serileks mungkin, kemudian air matanya terus terusan berjatuhan. "A- aku hanya masih terbayang dengan kejadian di malam itu dok! a- aku benci banget sama orang yang sudah melakukan semua ini ke orang tua aku.. dan ke Evan.. aku kehilangan mereka di satu malam" lirih Raina dengan menangis sesenggukan. "Evan? apa mungkin dia kekasihnya Raina?" gerutu Dokter Zean di dalam hatinya. masih memeluk Raina dengan begitu eratnya. Raina melepaskan pelukannya dari Dokter Zean lalu menghapus air matanya sendiri, dia menatapi dokter Zean dengan tatapan yang canggung. "Maaf aku malah.." gerutunya tergantung bingung harus berkata apa. "Tidak papa Raina, ayo kita keluar dan bicarakan semuanya pada Dara. Saya yakin Dara saat ini juga takut kalau kamu akan terus marah padanya, kasihan juga dia" jelas dokter Zean menatapinya serius mencoba untuk membuatnya paham. Raina langsung mengangguk "Iya dok, ayo" ujarnya lalu bangun dari duduknya. Dokter Zean segera mengangguk dan mereka pun pergi dari sana untuk kembali ke ruang tamu. ◇◇◇◇ Jack berada di dalam mobilnya, bersama seorang sopir di depannya. Dia mengenakan pakaian sangat rapi untuk menuju ke kampung yang kebakaran itu. Senyuman di wajahnya terus terukir membayangkan bagaimana nanti dirinya memiliki lahan itu sepenuhnya. "Gue sudah sangat tidak sabar lagi" gerutu Jack dalam hatinya. Tiba tiba ponselnya bergetar nyaring, langsung Jack check dan ternyata anak buahnya yang menelponnya. "Hallo ada apa" tanya Jack segera saat menjawab telponnya. "Hallo boss, gawat boss! Baskara kabur bersama dengan Sam si gila itu! dia di bantu oleh polisi junior dan adik anda pak!" ujar dia dengan suara yang terburu buru. Raut wajah Jack seketika berubah menjadi marah, tangannya mengepal kuat pada ponselnya. "Apa lo bilang hah? dasar engga pernah becus! cepat cari mereka sebelum semuanya terlambat, bunuh mereka semua! kecuali Dara! atau kalau kalian sampai terlambat. Ingat apa yang bisa gue lakuin ke keluarga kalian hah?" teriak Jack lalu mematikan telponnya. "Sialan!" teriaknya lagi dengan suara lantang lalu melemparkan ponselnya. Sopir itu terlihat takut menatapi Jack yang sedang marah "Apa lo liat liat hah? cepet ngebut!" teriak Jack lalu membuang nafasnya berat. "Ma- maaf boss, baik" ujar si sopir yang ketakutan lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Jack kini berlarut dalam pikirannya "Sialan, kenapa Dara ikut ikutan terus bantuin si Baskara itu sih? apa jangan jangan dia sudah tau kalau gue pelakunya? dan dia malah terus mau bantuin Baskara? sialan! dasar adik yang kurang ajar" kesal Jack dalam hatinya. ◇◇◇◇ "Bang? mba Dara? kalian kemana?" gerutu Raina yang terkejut ketika melihat ke ruang tamu di sana sudah tidak ada siapa siapa kecuali para pembantu. Dokter Zean menatapi ke sekeliling "Mereka semua kemana ya?" ujarnya dengan suara lirih. "Nona Raina, Tuan Baskara dan yang lainnya katanya pergi ke kantor polisi pusat! kalian tunggu saja di sini, tapi kalau mau nyusul susul aja gitu kata tuan Baskara" jelas si pembantu itu. Dokter Zean menatapi Raina serius "Gimana?" tanya nya. "Ayo kita susul!" jawab Raina segera lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah bersama dengan Dokter Zean di sampingnya. Raina dan dokter Zean menaiki sebuah mobil berwarna hitam. Dokter Zean yang mengendarainya dan Raina duduk di sampingnya. Mereka berkendara dengan kecepatan yang luar biasa. "Beberapa jam yang lalu, orang ini aku benci! sangat benci! tapi sekarang? dia malah satu satunya yang ada di sampingku" gerutu Raina dalam hatinya. "Entah kenapa saya merasa sangat nyaman saat berada di samping Raina, saya merasa diri saya sepenuhnya keluar saat bersamanya" gerutu Dokter Zean dalam hatinya sembari menyetir dan fokus ke jalanan. ◇◇◇◇ Baskara dan yang lainnya sudah sampai di kantor polisi pusat, di mana ke datangan mereka membuat seisi kantor polisi langsung menatapi mereka dengan tatapan yang aneh. "Polisi junior dari cabang mana tuh?" gerutu mereka saat melihat Willson, Gio, Ben, Sonny dan Jeffan yang ke sana bersama Baskara dan Dara. Perasaan Dara sangat bercampur aduk, bagaimana pun juga Jack tetap abangnya. Namun kekejiannya harus di beri hukuman. "Ibu, maafin Dara! tapi abang harus membayar semua ini" gerutu Dara dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN