Sonny menarik nafasnya dalam "Mereka beda jalur pak, karena awalnya kan kami bagi 2 tim untuk pencarian kalian. Oh ya kami bisa tau kemana kalian pergi dari cctv, kami lihat kalian masuk hutan ini dan karena akses cctv nya engga sampai sejauh itu bisa rekam kalian jadinya sih kita bagi 2 tim buat cari kalian" jelas Sonny
"Hahh, benarkah? Terima kasih ya dan maaf malah merepotkan kalian semua" lirih Baskara masih menyimpan kekecewaan karena dia gagal menjaga rekan rekannya.
Sonny menatapi Baskara dengan tersenyum manis padanya "Jangan berkata seperti itu pak Baskara, anda tahu? aku dan semua temanku menjadi orang yang lebih tau akan arti kemanusiaan dan keadilan. Dan anda lah yang membuat pikiran kami menjadi seluas itu. Justru kami yang harus berterima kasih pada anda pak" ujar Sonny menatapinya sangat tulus.
Dara mengangguk dan menatapi Baskara dengan tatapan yang teramat dalam "Benar Baskara, kamu adalah orang yang menginspirasi kami semua" tambahnya.
"Dara.. hm benarkah" gerutu Baskara sembari menatapinya dengan sendu. Dia masih membayangkan bagaimana jadinya jika Dara sudah mengetahui semuanya, tentang siapa yang menjadi dalang di balik kebakaran itu yang tak lain adalah abangnya sendiri.
Dara lalu mengangguk segera "Iya Baskara, jangan terlalu memikirkan hal itu. Kamu adalah alasan kami kenapa mau melangkah sejauh ini untuk memecahkan kasus ini" ujarnya lagi.
Pak Meggy langsung mengangguk dan tersenyum pada Baskara. Seakan dia memberikan kekuatan pada Baskara untuk lebih tenang tentang hal itu.
"Basakra, aku tahu betul apa yang kamu pikirkan. Tapi cobalah untuk tetap tenang" gerutu Pak Meggy dalam hatinya menatapi Baskara dengan sendu.
◇◇◇◇
"Aarggh! sial! akhirnya selesai juga" gerutu Willson yang mendadak beralih profesi menjadi seorang montir.
Gio tertawa terbahak bahak melihat temannya yang berwajah masam itu, sementara itu Willson hanya menatapinya dengan tatapan yang semakin kesal. "Apanya yang lucu sih? malah ketawa ketiwi kayak gitu?" gerutunya kesal.
"Tau nih bang Gio bukannya bantuin malah ngetawain" gerutu Raina dengan memanyunkan bibirnya memperkeruh suasana di antara dua sahabat sejoli itu.
Gio menatapi Raina kesal "Dih.. ini bocah malah ikut ikutan ngomporin, toh kamu juga engga bantuin" gerutu Gio
"Lhaa gimana aku bantuinnya coba? toh aku engga tau apa apa soal ilmu perbengkelan. yang ada nanti aku malah ngerusakin ini mobil" gerutu Raina menjawabnya
Dokter Zean membuang nafasnya berat lalu menatapi mereka lelah "Udah udah berantemnya, ayo kita keluar dari sini dan langsung ke jalan tadi. Siapa tau tim Ben udah di sana bersama Baskara dan yang lainnya" ujar Dokter Zean dengan tatapan serius pada semuanya.
Semuanya mengangguk tak terkecuali dengan Raina, mereka pun pergi kembali ke dalam mobilnya. Raina rupanya diam diam menatapi ke arah Dokter Zean. "Dia engga sepenuhnya nyebelin sih, ada sisi baiknya juga. Dingin namun mampu menghangatkan kembali suasana" gerutu Raina dalam hatinya.
Mereka pun keluar dari area hutan yang lebat dengan sungai yang menambah keindahan suasananya. Waktu menjelang semakin pagi, matahari sudah muncul sedikit demi sedikit. Raina menatapi jam tangannya.
"Udah jam 5 lebih aja nih" gerutu Raina dengan raut wajah yang khawatir.
Semuanya lantas menatapi ke arah Raina, termasuk dokter Zean yang menatapinya sendu. "Sabar Raina, saya yakin kok Baskara engga akan kenapa napa" gerutunya berusaha untuk menenangkannya.
"Iya Raina, lagi pula Ben, Sonny, Jeffan dan Dara kan sedang berusaha untuk mencari nereka juga. siapa tau mereka sudah menemukan keberadaannya Pak Baskara" ujar Willson
Gio mengangguk dan membuang nafasnya berat "Aaminn" ujarnya dengan suara yang keras.
"Ya semoga saja" gerutu Raina lalu menghadap ke luar jendela, dia menatapi jalanan yang memberikannya angin sejuk. Angin sejuk itu menerpa wajah cantik Raina karena dia membukakan sedikit kacanya.
Tanpa siapapun menyadarinya, Dokter Zean diam diam memerhatikan Raina. Sorot mata dokter Zean terlihat sangat berbinar dan penuh arti.
"Raina ini... dia sangat menyayangi Baskara, dia sangat menyayangi orang yang dia sayangi. Maksud saya, dia pasti selalu memiliki cinta untuk orang yang dia sayangi. Hmm dia gadis yang baik dan cantik" gerutu Dokter Zean dalam hatinya.
Mobil mereka sudah keluar dari area sana dan semakin menuju ke jalan untuk pulang. Willson terkejut saat dia melihat sebuah mobil yang keluar dari dalam hutan dan berlawanan arah dari hutan yang mereka masuki tadi.
"Itu mobil mereka?" gerutu Willson dengan tersenyum lega saat dia melihat Baskara ada di dalam sana, apa lagi dengan Pak Sam yang duduk di bangku depan.
Semuanya lantas menatap ke arah yang sama dimana Willson fokus "Abang?" gerutu Raina tersenyum lega melihat Baskara.
"Ahh akhirnya, tapi dimana yang lainnya ya?" tanya Gio dengan raut wajah yang bingung.
"Hmm mungkin mereka di belakang, nanti pasti nyusul kok" ujar Willson percaya sembari mengangguk.
Dokter Zean menyipitkan matanya dan melihat tangan Baskara yang di perban "Sepertinya itu alasan kenapa Baskara dan rekan rekannya terjebak" ujar Dokter Zean menatapi luka itu.
"Hmm abang terluka" lirih Raina dengan khawatir.
Mobil yang di kendarai Sonny langsung berhenti di pinggir. Begitu pun dengan mobil yang Willson kendarai. "Ayo turun semuanya" ujar Raina lalu segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari ke arah Baskara dan yang lainnya yang baru keluar dari mobil.
Raina langsung memeluk Baskara dengan eratnya, tangisannya mulai keluar dari matanya. "Abang, abang gak papa kan? kok abang pake perban gini?" gerutu Raina menatapi tangan abangnya itu.
Dokter Zean menatapi Dara yang tengah fokus memandangi Baskara dengan senyum lega di wajahnya. "Syukurlah Dara sekarang tersenyum lega lagi" gerutu Dokter Zean dalam hatinya.
"Abang engga kenapa napa Raina, kamu engga usah khawatir" gerutu Baskara tersenyum padanya.
Raina pun melepaskan pelukan Baskara dan langsung tersenyum "Syukurlah bang, kenapa kalian bisa terjebak di sana? ada apa?" tanya Raina lagi.
"Ceritanya cukup panjang Raina, nanti deh abang jelasin nya ya yang terpenting sekarang adalah kita semua harus pergi dari hutan ini secepatnya karena abang rasa Ben dan yang lainnya akan segera nyusul kita kok" ujar Baskara menatapi semuanya serius
Pak Meggy mengangguk "Benar, mereka pasti akan menghubungi bossnya dan akan segera mengirim orang orangnya" ujar pak Meggy menambahkan.
"Baiklah" angguk semua.
Willson menatapi Pak Sam dengan tatapan yang tidak percaya. Bagaimana dia tidak terharu, selama ini para polisi junior selalu bertanya tanya dimana keberadaannya pak Sam. rupanya selama ini dia di siksa oleh rekannya sendiri.
"Pak Sam, apa anda masih mengingat saya?" tanya Willson dengan tatapan sendu padanya.
Pak Sam langsung menatapinya dengan kening yang mengerut "Aku.. tidak begitu bisa mengendalikan diriku, a- aku tidak begitu mengingat semuanya. Tapi aku yakin suatu saat aku pasti akan mengenal kalian" lirihnya
"Pak Sam" lirih Gio dengan tatapan sendu
Tiba tiba suara mobil terdengar mendekati mereka dari arah belakang. Hal itu membuat semuanya segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Itu pasti Ben! ayo semuanya masuk kembali ke mobil dan kita balik sekarang" perintah Baskara lalu segera di patuhi oleh semuanya.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dengan posisi yang sama. Willson dan Sonny mengendarai mobil dengan kecepatan yang luar biasa. Apa lagi setelah mereka semua benar benar tahu bahwa yang mengendarai mobilnya benar benar Ben, Jeffan dan anak buah pak Meggy.
"Itu benar benar Ben ahaha" teriak Willson semakin menambah kecepatan mobilnya.
Gio menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tidak percaya menatapi Ben dari kaca spion "Hahaha akhirnya si Ben jauh lebih jago juga dari pada gue" ujarnya
"Jago apaan sih Gio? lagian si Ben itu jauh lebih unggul dari lo" jawab Willson segera sembari tersenyum mengejeknya.
Gio hanya menatapinya dengan tajam, sementara itu di belakang mobil Ben ada sebuah mobil yang mengikuti mereka. Meskipun jaraknya cukup jauh namun hal itu sangat mengusik semuanya.
"Sialan! aki aki tuh yang ngikutin kita" teriak Ben pada mobil Willson yang ada di depan.
Willson terlihat sangat kesal, dia paham betul apa makna aki aki yang di katakan Ben. "Sialan!" gerutunya lalu menambah kecepatannya.
Mobil yang Sonny kendarai berada di urutan yang paling depan, mobil Willson berada di tengah dan mobil Ben yang paling di belakang. Mereka melewati hutan hutan yang lebat dan mulai memasuki area perumahan.
"Sonny! kita ambil jalur kanan, dan perintahkan Willson untuk ke jalur tengah sementara Ben ke jalur kiri! supaya bisa membuat mereka kebingungan untuk mengejar siapa terlebih dulu" perintah Baskara pada Sonny
Sonny lalu mengangguk "Baik pak" jawabnya segera.
Sonny membuka kaca mobilnya dan langsung menatapi ke belakang tepatnya pada Willson.
"Gue ambil jalur kanan! lo tengah! si Ben suruh jalur kiri oke?" teriak Sonny sangat lantang
Willson mengangguk dan segera menyampaikan hal yang sama pada Ben di belakangnya. Sesuai dengan yang di rencakan Baskara, mereka pun pergi ke arah yang berbeda beda. Mereka berhasil membuat polisi senior itu kebingungan dan berhenti melanjutkan pencarian.
"Siaalannnnn!" teriaknya dengan lantangnya.
Dia langsung membuka ponselnya dan berusaha untuk menelpon Jack, Bos nya.
◇◇◇◇
Baskara dan yang lainnya sudah selamat, kini mereka semua berkumpul di rumah pak Meggy. Video yang Baskara kirim baru saja terkirim ke ponsel ponsel mereka. Beberapa ponsel terdengar berdering, itu membuat Baskara langsung menatapi Dara dengan tatapan sendu.
"Bagaimana ini" gerutu Baskara dalam hatinya.
"Eh kok kebetulan gini ya kita dapat pesan serentak kayak gini" gerutu Raina tersenyum pada semuanya lalu mengambil ponsel di saku celananya.
Willson yang lebih dulu membuka video yang Baskara kirim membuat mereka lalu berkumpul dan melihat video itu bersamaan di hape Willson.
"Ehh ini kiriman dari pak Baskara? artinya semuanya sama di kirim dong?" gerutu Ben
Sonny mengangguk "Wihh iya sama sama di kirim ke gue juga" ujar Sonny
"Itu sebagai bukti untuk kita supaya kita bisa mengajukan kasus ini ke kepolisian pusat" ujar Baskara dengan suara yang lirih menatapi mereka dengan serius.
Semuanya mengangguk lalu kembali menatapi video itu, video yang berdurasi beberapa menit itu membuat emosional mereka naik turun. Semua yang pak Sam jelaskan di dalam video seakan membuat mereka semakin merasa kesal dengan tindakan para polisi senior terhadap pada Pak Sam.
Sementara itu Pak Sam di amankan dulu oleh Pak Meggy ke sebuah kamar yang menghadap indah ke arah kolam renang, supaya lebih membuat pak Sam rileks berada di sana.
Video terus berlanjut hingga di akhir video, dimana Pak Sam menyebutkan siapa pelaku yang sebenarnya. Hal itu membuat Dara Dokter Zean dan Raina terkejut, Dara seakan menatapinya seakan tidak percaya. "Apa?" gerutunya dengan suara yang gemetar.
"Kenapa Dara?? apa kamu tahu siapa pria bernama Jack itu" gerutu Willson serius.
Dokter Zean menatapi Dara dengan tatapan yang sendu "Apa? kok bisa abangnya Dara sih?" gerutu Dokter Zean dalam hatinya, tiba tiba dia teringat saat pertama dirinya bertemu dengan Jack di rumah sakit. Mereka yang menanyakan kemana Dara dengan tatapan yang tidak begitu suka.
"Apa ini maksudnya mba Dara? apa hah?" teriak Raina lalu segera menatapi Dara dengan tatapan yang marah.
Dokter Zean langsung memegangi Raina mencoba untuk menenangkannya "Raina, tenangkan dulu diri kamu!" lirih dokter Zean dengan suara lembutnya.
"Tenangkan gimana dok?" teriak Raina semakin marah menatapi Dara. Dara hanya menunduk dengan raut wajah yang masih tidak percaya dengan semua kenyataan ini.
Baskara lalu berjalan ke arah mereka dan segera melindungi Dara "Raina, Dara pasti engga tau apa apa soal ini kamu jangan bersikap seperti ini Raina" ujar Baskara menatapi adiknya serius.
"Ada apa ini? kita engga ngerti loo" gerutu Gio menatapi mereka dengan tatapan yang serius.
Raina menunjuk Dara "Dia! dia adalah adik dari orang yang baru aja tadi pak Sam bilang siapa dalang di balik kasus semua ini" lantang Raina