Baskara berdiri di ambang pintu, begitu pun dengan Pak Meggy dan Pak Sam yang sama sama berdiri di dekat Baskara. Berbeda dengan para anak buah Pak Meggy yang sudah memegangi beberapa benda tajam di tangan mereka dan siap menyerang.
"Siap?" gerutu Baskara dengan suara lirih menatapi mereka semua
Semuanya mengangguk, Baskara lalu segera mengetuk pintu itu dengan suara pelan. Lantas hal itu membuat si penjaga di luar kaget.
"Tunggu tunggu. Suara apa barusan?" gerutu dia dengan raut wajah yang terkejut sembari menatapi rekannya yang berada di sampingnya.
"Kenapa ada yang mengetuk pintu? bukannya mereka diikat?" ujar temannya yang satunya lagi. Mereka bertatapan kebingungan lalu menatapi pintu itu dengan sedikit aneh.
Mereka pun membuka gembok di pintu itu, gembok yang berjumlah 4 tergantung di sana. Perlahan salah satu dari mereka membuka pintu itu, membuat penjaga penjaga lain yang tertidur di lantai langsung terbangun dan menatapi rekannya aneh.
"Hey apa yang lo lakuin? kok malah di buka? lu gila apa?" gerutu dia memelotot pada temannya itu
Pintu terlanjur di buka dan ke dua penjaga itu malah melihat ke arah temannya yang lain yang sedang tiduran. "Tadi ada yang ketok ketok sih, jadi kita cek dulu" gerutu penjaga itu
"Bodoh! awas di belakang lo" teriak penjaga yang rebahan dan segera bangun dari rebahan dia segera berlari ke arah dua penjaga itu.
Ke dua penjaga itu segera berbalik arah dan menatap ke belakang, tepatnya para anak buah Pak Meggy yang menyerangnya dengan menggunakan benda tajam. "Sial" gerutu salah satu penjaga dan segera menjauh namun semuanya sudah terlambat, tendangan dari anak buah pak Meggy membuat ke duanya langsung terjatuh dengan cukup keras ke lantai.
Anak buah Pak Meggy berjumlah 6 orang, mereka segera menyerang beberapa penjaga Jack dengan secepat kilat. Karena baru bangun beberapa penjaga Jack cukup kesulitan untuk mengontrol dirinya, dirinya belum pulih sepenuhnya.
"Sial, kita bisa di habisin nih sama boss" gerutu mereka lalu kembali bangkit dan mencoba melawan beberapa anak buah Pak Meggy.
Anak buah Jack berjumlah sekitar 10 orang, yang termasuk dengan 4 polisi senior. Mereka pun melawan serangan dari anak buahnya pak Meggy. 6 lawan 10 orang cukup sulit namun masih bisa mereka tangani, berbeda dengan Baskara, Pak Meggy dan Pak Sam yang langsung memisahkan diri. Baskara menjaga ke dua bapak bapak itu sembari memegangi sebuah pistol di tangannya untuk berjaga.
"Cepat kita keluar sebelum ada orang lain suruhannya Jack" gerutu Baskara menggiring ke duanya dengan langkah yang cepat.
Benar dugaan Baskara, ada 6 orang turun dari lantai atas dan mulai menembakan pistol ke arah Baskara dan ke duanya. "Cepat lari keluar!" teriak Baskara mendorong ke duanya dan berhasil keluar dari rumah tua itu.
Baskara menodongkan pistolnya ke arah orang orang itu, Namun dia enggan menembak mereka begitu saja. Dia melihat sebuah besi berukuran cukup besar menggantung di sana dengan tali yang terikat ke atas bangunan. Baskara melihat ke bawahnya tepatnya di sana ada tangga yang belum mereka lewati.
"Yap, dapat" gerutu Baskara lalu mengarahkan pistol itu ke arah tali. Dia lalu menembakkan talinya dan langsung membuat tali itu putus sehingga membuat besinya terjatuh ke bawah tangga. Hal itu membuat tangga hancur akibat besi yang menimpanya karena berukuran cukup besar. Membuat mereka segera mundur dan menyelamatkan diri.
"Sialan! bisa bisanya dia kepikiran hal itu" gerutu salah satu dari mereka sembari menatap ke atas, tepat tali itu yang sudah terlepas.
Mereka pun melompati besi itu dan segera mengejar Baskara, Pak Meggy dan Pak Sam yang sudah keluar dari rumah. "Sialan! cepat temukan mereka" tegas salah satu yang lainnya.
"Ayo habisi! tinggal beberapa lagi, kita harus mencegah mereka. Mereka mengincar Boss, Baskara dan Pak Sam" gerutu anak buah pak Meggy.
Rekan rekan lainnya mengangguk, mereka sudah membuat anak buah Jack lumpuh terkapar di lantai dengan luka luka lebam di wajah. Kini tinggal tersisa 3 polisi lagi yang mereka hadapi.
"Biar gue saja yang tangani, sama Dian! kalian berempat pergilah lindungi mereka" ujar salah seorang anak buah pak Meggy.
Mereka pun mengangguk dan empat anak buah pak Meggy langsung pergi menyusul Baskara, Pak Sam dan pak Meggy.
◇◇◇◇
"Ahhh sial! ko bisa kempes sih bannya" gerutu Willson yang baru saja keluar dari mobil dan mengecek ban mobilnya. Dia memegangi kepalanya kesal setelah tahu mobilnya malah mogok.
Gio ikut turun dan menatapi ban mobil dengan tatapan kesal "Sialan ih, kok harus sekarang sih? mana masih di tengah hutan lagi, lu bawa ban cadangan kan Willson?" tanya Gio menatapi Willson dengan serius.
Willson langsung mengangguk "Tenang gue bawa" ujarnya
Sementara itu di dalam mobil, keadaan terasa sangat canggung bagi Dokter Zean. Dia diam diam terus menatapi Raina dengan tatapan yang takut. Berbeda dengan Raina yang sangat acuh padanya dan menatap keluar. "Duh kenapa ya?" gerutu Raina melihat Willson dan Gio yang terlihat panik.
"Kenapa Raina?" tanya Dokter Zean dengan tatapan yang penuh pertanyaan pada Raina.
Raina langsung menatapi Dokter Zean dengan tatapan yang kesal "Ya mana saya tau dok, saya kan juga belum keluar dan cek!" gerutu Raina dengan tatapan yang kesal lalu turun dari mobil dan bergabung dengan Willson dan Gio.
"Hmm mbanya sinis amat" ujar Dokter Zean sembari turun menyusul Raina.
◇◇◇◇
Jack baru bangun dari tidurnya, dia segera mandi dan mengenakan pakaian yang rapi untuk menemui penduduk di kampung itu. Dia mengecek ponselnya namun rupanya tak ada pesan masuk atau panggilan.
"Hmm sepertinya mereka bisa bekerja" gerutu Jack dengan suara yang pelan lalu kembali merapihkan dirinya.
"Sebaiknya hari ini gue harus fokus ke kampung itu, gue harus mendapatkan hati mereka" ujar Jack dalam hatinya dengan senyuman jahat di wajahnya.
◇◇◇◇
Pak Sam, Pak Meggy dan Baskara keluar dari sana, mereka sangat terkejut karena berpapasan dengan Dara, Ben, Jeffan dan Sonny.
"Kalian?" gerutu Baskara sangat terkejut menatapi ke empatnya.
Dara jauh lebih terkejut dia langsung memeluk Baskara saat itu juga, dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Baskara.. Akhirnya, kamu baik baik aja kan?" gerutu Dara dengan suara yang lirih masih dalam pelukan Baskara.
Baskara sangat terkejut lalu dia tersenyum, Pak Meggy, Ben, Jeffan dan Sonny ikut tersenyum baper menatapi ke duanya. "Hmm kalau Dara udah tau semua ini karena ulah abangnya? gimana ya dia nantinya?" gerutu pak Meggy dalam hatinya.
"Aku baik baik aja Dara, kamu, kalian... kok bisa ada di sini?" ujar Baskara menatapi semuanya dengan tatapan yang tidak percaya.
Dara lalu melepaskan pelukannya dan menunduk malu "Baskara maaf aku malah main sosor sosor kamu kayak gitu" lirihnya
"Eh tangan kamu, kok berdarah?" lirih Dara langsung menatapi tangan Baskara yang terluka.
Baskara langsung menggelengkan kepalanya "Engga papa Dara ini masih bisa di obatin kok, tapi kenapa kalian bisa sampai di sini?" tanya Baskara lagi
Ben menatapi Baskara dengan tatapan serius "Panjang banget ceritanya pak Baskara, kita bisa jelasin nanti" jelasnya lagi
"Iya iya benar, ayo semuanya kita harus segera pergi dari sini" ujar Baskara cepat
"Tunggu dulu pak, tapi sepanjang di perjalanan di depan kami engga lihat ada mobil kalian. Artinya mereka mungkin menyembunyikan mobil kalian" jelas Sonny
Jeffan segera mengangguk "Begini saja kalian pergi duluan sekarang! karena yang mereka incar adalah pak Sam jadi sebaiknya, Dara, pak Baskara, Pak Sam, Pak Meggy dan lo Sonny pergi aja kalian duluan. Gue sama Ben nanti bakal cariin mobil kalian, pasti di sekitar sini kok" ujar Jeffan dengan tatapan yang serius.
Semuanya mengangguk setuju, Baskara lalu memberikan kunci mobil yang dia simpan di sakunya. "Ini kuncinya, kalian hati hati yaa" ujar Baskara serius.
"Iya pak Baskara" jawab mereka berdua bersamaan.
"Kalian jagain Jeffan sama Ben juga ya! bantu mereka untuk mencari mobil" jelas Pak Meggy menatapi anak buahnya.
"Baik boss" jawab mereka
Baskara, Pak Meggy, Pak Sam, Dara dan Sonny pun segera pergi dari sana dan bergegas ke arah mobil yang mereka simpan tadi. Sementara itu Jeffan, Ben dan anak buah pak Meggy yang lain sedang mencari dimana mobil yang sebelumnya Baskara bawa. Mereka menelusuri ke belakang rumah tua itu, namun saat di belakang mereka malah di hadapkan dengan 2 polisi senior yang kini tersenyum tidak percaya menatapi Ben dan Jeffan. Atasan mereka tengah berdiri di depan mobil Baskara yang mereka sembunyikan di sana. Di belakang dua polisi senior itu ada anak buah Jack lainnya yang siap untuk melawan.
"Kalian? jadi kalian yang selama ini bantuin si Baskara itu hah? berani beraninya kalian mengkhianati atasan kalian sendiri hanya untuk membantu mantan militer yang di anggap gila itu hah?" teriak salah satu atasan mereka menatapi ke duanya dengan marah.
Ben lalu tertawa ngakak menatapi tingkah atasannya "Ya! Ya kami berani mengkhianati kalian demi untuk menegakkan keadilan di negara ini! Kalian sendiri? kalian sudah melanggar janji kalian sebagai aparatur negara dan malah memihak pada uang!" tegas Ben dengan tatapan yang marah.
"Sial! berani lo" teriak polisi atasan itu dan mendekat ke arah Ben.
Namun Jeffan segera bergerak, dia menodongkan pistol ke arah atasannya tepat di kepalanya.
"Atasan kami yang gila kehormatan! ternyata anda jauh lebih menjijikkan dari seorang tikus berdasi, kalian bilang apa barusan? bilang pak Baskara mantan militer yang di anggap gila? haha sebaiknya kalian sekarang meratapi nasib kalian ke depannya, kalian akan di copot dari kepolisian dan setelah itu kalianlah yang akan benar benar gila" teriak Jeffan dengan mata yang memelotot hampir keluar.
Atasannya itu sangat kesal dan terusik dengan ucapan lancang yang Jeffan katakan. "Kurang ajar!" kesalnya lalu hendak memukul Jeffan namun dia bisa langsung menghindar.
"Anda sudah terlalu tua pak! jangan berani mau melawan anak muda" gerutu Jeffan lalu segera membalikkan keadaan, Jeffan segera menyerang balik atasannya dengan kecepatan yang seperti kilat. Mereka mulai berkelahi dengan kekuatan sepenuhnya.
◇◇◇◇
Sonny masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi sopir, sementara itu Pak Sam di biarkan duduk di kursi depan. Pak Meggy, Baskara dan Dara duduk di kursi belakang.
"Ayo Sonny cepat!" perintah Baskara melihat ke belakang rupanya mereka semua di sana masih sedang sibuk berkelahi.
Dara menatapi tangan Baskara sangat khawatir, dia segera membawa kotak P3K dan segera mengobati luka Baskara.
"Baskara apa yang sebenarnya terjadi? sampai tangan kamu terluka seperti ini" lirih Dara dengan tatapan yang sendu.
Baskara lantas menatapi Pak Meggy bingung "Ceritanya panjang Dara, nanti aku jelasin semuanya ya. Sekarang yang terpentingnya itu pak Sam sudah bisa kita selamatkan" jelas Baskara menatapi Pak Sam yang berbaju lusuh dan penuh luka di tubuhnya itu.
"Pak Sam, bagaimana kabar anda? maaf kami para junior benar benar tidak mengetahui hal ini, selama ini kami sering mencari cari dimana anda" ujar Sonny menatapi Pak Sam dengan tatapan sendu.
Pak Sam hanya tersenyum sembari menunduk "Semuanya berlalu begitu cepat Sonny, lupakan saja luka itu! tapi keadaan ku sekarang lumayan membaik berkat Baskara dan Pak Meggy" ujar Pak Sam sedikit tersenyum.
"Ahj syukurlah" gerutu Sonny membuang nafasnya lega dan langsung tersenyum menatapi ke belakang.
Baskara lalu menatapi Dara yang sedang serius mengobati lukanya itu "Bagaimana reaksi Dara nanti? hmm tapi tetap saja kan dia pada akhirnya akan tahu semuanya jadi aku pun engga akan bisa menutup nutupi ini terus sampai nanti video itu terkirim pada semuanya" gerutu Baskara dalam hatinya.
"Baskara kalau ada yang sakit bilang ya, ini luka dari pistol yaa" gerutu Dara terlihat sangat serius menatapi tangan Baskara.
Baskara lalu mengangguk "Iya Dara, aku nanti bilang kok yaa" senyumnya.
"Ahh Baskara, lagi luka aja malah senyum senyum gitu sih" gerutu Dara dalam hatinya
"Oh ya Raina, Willson dan yang lainnya di mana?" tanya Baskara pada Sonny