Semuanya mengangguk setuju "Kami setuju" jawabnya bersamaan lalu segera pergi dari sana dan mulai menuju ke hutan itu.
Jalanan sangat sepi dan gelap, mereka mengikuti jalur yang sudah tertera di cctv sebelumnya. Tim di bagi menjadi dua, di mana Willson, Gio, Dokter Zean dan Raina. Sementara itu tim lainnya Ben, Jeffan, Sonny dan Dara. Satu tim Willson ke arah sungai dan satu tim Ben ke arah pegunungan.
◇◇◇◇
"Pak Sam, dengarkan saya baik baik. Bapak bisa mempercayai saya kan?" ujar Baskara dengan tatapan yang serius
Dia lalu mengangguk "I- iya sepertinya" gerutunya dengan suara yang begitu gemetar.
"Teman teman pak Sam yang melakukan semua ini ke bapak kan?" tanya Baskara dengan tatapan yang sendu. Sembari membuka layar ponselnya dan mulai merekam semuanya.
Pak Sam menunduk dengan perasaan yang kembali campur aduk. Dia lalu mengangguk dengan mulai menangis.
"Mereka semua.. mereka bilang tidak akan membakar rumah ku dan akan menyelamatkan anak dan istriku tapi mereka BOHONG! Mereka melakukan itu di depan mataku sendiri. Istri dan anakku mati! karena di bakar oleh rekan polisi ku" ujarnya dengan menangis sesenggukan.
"Hanya karena uang! mereka jadi gila! mereka bilang aku yang gila, tapi yang jelas mereka semua yang gila bukan aku!" gerutunya lagi.
Baskara semakin yakin tentang dugaannya, ternyata semua yang dia pikirkan benar. "Jadi benar, para polisi senior yang terlibat dalam kebakaran di malam itu?" tanya Baskara dengan tatapan serius
"Ya ya ya! dan aku juga terlibat, aku berdosa! aku di paksa mereka untuk bergabung. Aku sendiri yang mau ikut mereka setelah di paksa, karena aku pikir mereka bisa mengamankan Anak dan istriku. Tapi mereka bohong! aku bodoh tidak bisa menjaga mereka" lirih dia kembali sesenggukan dengan tangisan yang kian dalam.
Baskara mencoba untuk menenangkannya karena jika tidak, bisa saja dia kembali berteriak dan membuat penjaga di luar tahu. "Pak tolong tenang pak, kita sekarang sedang di sekap. Jangan membuat suara terlalu keras nanti mereka bisa mendengar kita" jelas Baskara dengan suara yang lirih.
Pak Sam menatap ke sekeliling dengan tatapan yang takut "Apa? kita di sekap? apa mereka akan menyiksa ku? Jangan menyiksaku lagi, sakit!" gerutu dia dengan suara yang lirih dan badan yang mulai gemetar.
"Tenang pak Sam tenang, di sini ada saya dan kita semua ada di pihak pak Sam! Jadi tolong tenanglah kami di sini mau menyelamatkan pak Sam, asalkan pak Sam mau bekerja sama dengan kami" jelas Baskara lagi menatapinya sangat serius.
Pak Sam menatapi Baskara dengan tatapan yang sendu dan tidak percaya, ia lalu menatapi ke sekeliling tepat dimana Pak Meggy dan anak buahnya berada. "Kalian? benarkah? mau menyelamatkan ku dari semua siksaan ini?" gerutunya dengan mata yang memerah. Pak Sam tidak begitu gila, dia hanya tergoncang hati dan pikirannya karena insiden itu. Dia belum sepenuhnya gila.
"Iya pak Sam, makanya bapak harus mendengarkan saya ya" ujar Baskara lagi meyakinkannya.
Pak Sam kembali mengangguk, Pak Meggy dan yang lainnya tersenyum melihat perubahan reaksi dari pak sam yang terlihat jauh lebih tulus. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? kehidupanku sudah hancur istri dan anakku sudah tiada" gerutu pak sam dengan tatapan sendu pada Baskara.
Baskara mengangguk dan membuang nafasnya berat "Semuanya sudah terjadi pak Sam, sekarang anda harus menerima semua kenyataannya. Tapi, anda, saya dan kita semua harus membuat perhitungan pada orang yang merupakan dalang dari semua ini, karena korban yang berjatuhan sangat banyak!" jelas Baskara lagi
"Benar, Ya! ucapanmu benar" gemeter pak Sam lagi
"Pak Sam, tolong beritahu kami. Siapa yang menyuruh kalian para polisi senior untuk membakar perkampungan kami? dan atas dasar apa dia melakukannya?" tanya Baskara
Pak Meggy mendekat dan mengangguk pada pak Sam "Jelaskan apa yang anda ingat saja pak Sam, jangan terlalu memaksakan ya" tambah pak Meggy mencoba untuk membuat pak Sam tidak emosional lagi
"Dia.. adalah seorang gubernur, Antoni namanya. Tapi dia juga di suruh oleh seseorang yang kedudukannya jauh lebih tinggi! aku tidak begitu tahu namanya, aku lupa! Tapi dia menjanjikan kemewahan dan uang yang berlimpah kepada kami jika kami mau melakukan apa yang dia suruh. Dia adalah anak dari dokter paling tersohor di kelasnya dan ayahnya seorang pilot sementara dia sendiri, dia adalah seorang pengusaha yang sudah memiliki nama tapi dia masih tidak puas atas semua yang dia miliki. Jadi dia berniat untuk menambah bisnis lain, dia tertarik dengan lahan di kampung itu. Karena menurutnya sangat strategis dan bisa menguntungkan usaha apa pun. Sebentar lagi dia pasti akan menampakkan diri di depan publik, dia akan mengumumkan bahwa dia akan membeli lahan hangus itu dengan harga Fantastis yang setara dengan lahan hangus" jelas dia panjang lebar
Pak Sam lalu memegangi ke dua kepalanya, ia kembali menangis. "Bayangan anak dan istriku selalu menghantui ku, aku salah karena telah memilih keputusan yang salah dan ikut dengan teman temanku. Istri dan anakku pasti sangat kecewa sekali padaku" ujar pak Sam lagi dengan tangisan yang kian sesenggukan
"Pak Sam tenanglah, Baskara?" lirih pak Meggy yang menatapi Baskara yang terlihat sedang berpikir cukup keras.
Baskara menatapi pak Meggy dengan tatapan yang dalam, pikirannya tertuju pada satu orang setelah ciri ciri itu Sam sebutkan. Namun dia seakan percaya tidak percaya.
"Apa mungkin maksud pak Sam..." lirih Baskara dengan menggantung sembari menatapi pak Sam dengan tatapan serius.
Pak Sam menatapi Baskara dengan sorot mata sendu "Jack Nerandra yang seorang pengusaha? dan anak dari dokter Donita?" tanya Baskara dengan tatapan yang sangat serius namun sedikit ragu, dia sangat berharap apa yang dia duga salah.
Pak Sam kembali berpikir, dia langsung mengangguk setelah dia ingat semuanya. "Ya, Jack Nerandra! itu namanya, ya aku ingat sekarang" ujar Pak Sam menatapi Baskara dengan tersenyum.
"Apa? jadi... dia??" gerutu Baskara dengan suara pelan, dia sangat sangat tidak percaya. Bayangan sejak pertama kali dia bertemu dengan Jack mulai memenuhi isi kepalanya. Saat saat Jack menatapinya sinis dan penuh arti di sorot matanya membuat Baskara semakin yakin.
"Jadi itu sebabnya Jack kakaknya Dara waktu itu sering menatapiku sinis? apa mungkin dia kesal karena aku membuat kekacauan di kantor polisi dan ingin membahas kasus kebakaran? Jadi itu sebabnya dia terlihat membenciku" gerutu Baskara dalam hatinya.
Pak Meggy memegangi bahu Baskara pelan "Baskara kamu kenapa? apa kamu kenal orang bernama Jack Narendra itu? Apa ada masalah?" tanya pak Meggy dengan tatapan serius padanya.
Baskara langsung menatapi pak Meggy dan mengangguk "Iya pak, dia adalah abangnya Dara! Jack Narendra" jelas Baskara dengan tatapan yang masih tidak percaya pada pak Meggy.
"Apa?" kaget pak Meggy membelalak
Baskara membuang nafasnya berat, dia pun mematikan rekaman videonya. "Apa Dara tidak tahu soal ini? mana mungkin Dara mengkhianati kita Baskara?" ujar Pak Meggy dengan tatapan kecewa.
"Tidak Pak Meggy, tidak! aku sangat yakin dia pasti tidak mengetahui tentang semua ini. Karena hubungan dia dan abangnya itu sangat buruk, aku mulai sadar akan beberapa hal tentang dia sepertinya dia memang dalangnya. Dan kemarin pria bertopeng itu.. aku baru sadar suara nya memang mirip sekali dengan suara Jack Narendra" jelas Baskara mengangguk angguk dengan tatapan kecewa di wajahnya.
Pak Meggy membuang nafasnya berat, sementara itu Baskara langsung mengirimkan video video itu pada Willson, Dara dan Raina. Meskipun sinyal di sana tidak ada tapi nanti pasti akan terkirim videonya. "Pak Meggy kita harus segera pergi dari sini sebelum matahari terbit, saya yakin Jack pasti sudah merencakan sesuatu yang besar di hari ini. Sebelum semuanya terlambat, kita harus menghentikan semua ini" jelas Baskara menatapi Pak Meggy dengan serius.
"Iya, kita harus segera pergi dari sini" jawab pak Meggy
"Mari buat rencana!" ujar Baskara dengan tatapan serius, mereka pun mengangguk dan langsung berkumpul untuk merundingkan sebuah rencana supaya bisa keluar dari sana.
◇◇◇◇
Willson, Gio, Raina dan Dokter Zean memasuki area sungai yang penuh bebatuan meski sedikit sulit tapi mobil Willson bisa melewatinya.
"Ini jalur teraman sih, tapi tetep aja bikin aku tegang banget" gerutu Raina sembari memegangi ke kursi depan.
Raina dan Dokter Zean duduk di kursi belakang, sementara itu Willson dan Gio duduk di kursi depan. Seperti tadi, Dokter Zean terus di beri tatapan tatapan tajam dan sinis dari Raina. Bahkan rencana untuk pembagian tim pun Raina mengusulkan untuk memisahkan dua tim medis supaya lebih merata jika terjadi sebuah kecelakaan dan alhasil ide Raina membuat Dara dan Dokter Zean terpisah. Entah kenapa Dokter Zean tidak begitu kesal dengan usulan dari Raina, ketertarikannya pada Dara seakan menipis saat Raina muncul dengan sikap aneh padanya.
"Dari tadi dia tatapin saya sinis mulu deh, jelas jelas kan saya engga deketin Dara sekarang, beda mobil beda lokasi" gerutu Dokter Zean dalam hatinya
"Jalurnya cukup berbahaya, tapi untung airnya engga begitu deras sekarang" ujar Willson yang sedang mengendarai mobil itu.
Gio langsung mengangguk "Iya untungnya" jawabnya
Willson menatap ke kaca kecil yang berada di depannya. Dia melihat reaksi Raina dan Dokter Zean yang sejak tadi membuat mereka canggung. "Bener sih kata Dara, kayaknya mereka lagi dalam fase pendekatan yang buruk. Bisa aja gak tuh mereka jadi jatuh hati suatu saat?" gerutu Willson dalam hatinya sembari tersenyum.
"Sepertinya engga ada jejak mobil deh ke sekitar sini, iya engga?" gerutu Raina lalu menatap ke luar kaca mobil
Mereka pun lantas memerhatikan ke sekitar tepat ke depan jalanan tanah yang bersih tanpa ada jejak kendaraan melewat. "Mending kita coba cek dulu keluar gimana?" ujar Willson menatapi Ben serius
Ben langsung mengangguk "Iya, karena memang cuma jalur ini dari sungai yang bisa di lewati kendaraan" ujarnya setuju
Willson pun menghentikan mobilnya tanpa mematikan mesin mobilnya supaya sorot dari lampu mobil bisa membantu, Mereka semua pun turun dari mobil dan memantau jalanan yang berupa tanah itu.
"Lihat? tanahnya engga berbekas kendaraan yang lewat kan?" gerutu Raina lalu dia berjalan ke belakang
Dokter Zean segera mengikutinya, begitu pun dengan Willson dan Gio yang segera mengecek tanah di belakang dan rupanya di sana memang ada bekas kendaraan.
"Artinya para polisi itu engga ke sana kan" gerutu Dokter Zean sembari mengangguk angguk
Raina segera mengangguk "Yap betul banget, dari pada kita buang waktu sebaiknya kita segera susul tim Ben dan yang lainnya deh" ujar Raina menatapi semuanya serius.
"Ya kau benar Raina" angguk Willson
"Ayo masuk mobil lagi kita puter balik" perintah Gio
Mereka pun masuk kembali ke dalam mobilnya dan memutar balik keluar dari sungai itu.
◇◇◇◇
"Agak ngeri yahhh" gerutu Jeffan menatap ke sekeliling hutan dia terlihat sangat takut. Karena mereka memasuki hutan semakin dalam dan cukup jauh dari jalanan.
Sonny yang duduk di sampingnya langsung menampol kepala Jeffan cukup keras "Anjirlah jangan bikin harga diri lo sebagai polisi jatuh dong bodoh!" gerutu Sonny terlihat kesal
Dara hanya tersenyum, dia duduk di samping Ben yang sedang mengendarai mobilnya.
"Eh setau gue, engga jauh dari sini bukannya ada rumah kosong ya?" gerutu Ben menatapi ke dua temannya serius.
Hal itu membuat Jeffan dan Sonny sedikit terkejut karena baru sadar, mereka berdua langsung mengangguk cepat "Lhaa iya anjir, gue inget" ujar Sonny
"Bener bener pas latihan waktu itu kan? kita berlima waktu iti engga sengaja lewat iya gak?" gerutu Jeffan
Ben segera mengangguk "Bener banget, kok sekarang gue berpikir mereka ada di sana ya? kita harus segera cek sih!" ujar Ben
"Jaraknya masih jauh? sebaiknya kita sembunyiin mobil di semak semak" saran Dara menatapi semuanya serius
"Iya, takutnya kalau nanti terlalu deket bisa bisa mereka denger suara mobil kita" tambah jeffan
"Iya, semoga dugaan kita benar aja dulu! semoga mereka benar benar ada di sana" gerutu Ben
Dia lalu menghentikan mobilnya tak jauh dari jarak rumah kosong itu. Mereka segera turun dan mulai menutupi mobil menggunakan dedaunan.
"Ini cuma sebagai antisipasi aja sih" gerutu Ben
"Iya" angguk mereka bersamaan
Mereka pun mulai berjalan mengendap, tak lupa membawa beberapa persenjataan di saku mereka.
"Baskara, aku datang! semoga kamu benar benar ada di sana yaa. Bertahanlah" gerutu Dara dalam hatinya