Raina pun mengangguk dan tersenyum pada Dara "Mba Dara benar, aku juga memikirkan hal yang sama" jawabnya dengan suara yang berat
"Sekarang kita harus mulai bergegas!" ujar Dokter Zean pada semuanya
Ben dan Willson mengangguk "Tapi dengan cara apa? pertama kita tidak tahu abang ada di mana?" gerutu Raina dengan kebingungan
"Dengan cara apa? cepat berpikir!" tambah Raina lagi menatapi para polisi itu dan Dokter Zean dengan wajah yang hampir prustrasi
Mereka pun mulai berpikir keras "Bagaimana kalau menggunakan cctv jalanan? siapa tahu mereka terekam" ujar Dokter Zean pada Ben dan Willson
Ben langsung mengangguk "Ya ampun kenapa tidak terpikir dari tadi? padahal pengawas cctv ada di ruangan rahasia senior dan sejak tadi senior belum pulang. Kita harus segera ke sana sekarang" ujarnya segera pada mereka.
"Ya ayo! sebelum mereka pulang" ujar Willson lalu bangun dari duduknya
Dokter Zean, Raina, Dara, Willson dan Ben langsung pergi dari sana dan segera menuju ke kantor polisi. Mereka ikut masuk ke dalam mobil Willson. Willson yang mengendarai mobil dan Ben berada di sampingnya. sementara itu di jajaran ke dua, Dokter Zean duduk di samping kanan dan Dara yang duduk di samping kiri namun di tengah tengah mereka ada Raina yang menjadi pembatas di antara ke duanya. Raina sengaja melakukannya supaya Dokter Zean tidak bisa melancarkan aksinya untuk mendekati gadis yang abangnya sukai.
Raina menatapi dokter Zean dengan tatapan yang tajam serta penuh arti di dalamnya "Jangan berani beraninya untuk mengambil hati mba Dara mau pun mendekatinya. Karena jelas abang Baskara yang lebih dulu perhatian padanya, lagi pula mba Dara jauh lebih tertarik pada abangku" gerutu Raina dari dalam hatinya
"Aduh kenapa sih dia bikin risih terus" gerutu Dokter Zean dalam hatinya, dia diam diam menatapi Raina dari ujung matanya karena sekarang dia sedang menghadap ke luar jendela.
Dara yang menyadari hal ini tentu saja malah merasa lucu melihat tingkah mereka berdua. "Ya ampun mba Raina kenapa sih sama dokter Zean, dia jadi kasian banget dia haha. tapi gak papa lah mereka malah menghibur aku di saat saat menegangkan seperti ini" gerutu nya lalu membuang nafasnya begitu berat, dia lalu menatap ke arah jendela luar dimana di sana masih gelap dan hanya di terangi oleh lampu lampu redup di pinggir jalan. Tatapannya sendu saat dia menatapi langit dan terlintas bayangan wajah Baskara di sana.
"Baskara, kamu di mana sih? semoga sesuai dugaan ku kamu di sana baik baik saja. Aamin" gerutu nya dalam hati terdalamnya
Beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di kantor polisi, mereka masuk dengan langkah yang mengendap endap karena takut para polisi senior sudah pulang. Tapi rupanya mereka belum pulang. Willson dan Ben memimpin perjalanan Dara, Raina dan Dokter Zean menuju ke dalam kantor polisi. Di lantai 2 tepat di depan pintu ruangan rahasia pengawas cctv, Jeffan, Sonny dan Gio menunggu mereka. Gio memegangi kunci pengawas cctv setelah dia berhasil membawanya dari ruang senior.
"Akhirnya kalian udah pada ke sini" ujar Gio yang terlihat lega
Sonny membuang nafasnya cukup berat "Iya anjir dari tadi kita tungguin kalian, lamanya.. takut banget keburu senior balik!" jelasnya lagi dengan tatapan serius
Willson menatapi Dara, Raina dan Dokter Zean. "Sorry gue lama, karena kita punya banyak rekan untuk membantu kita." jelasnya
"Ya udah kalian cepat masuk ke dalam! Gue sama Jeffan biar tunggu di sini buat jaga jaga" ujar Ben, Jeffan segera mengangguk menyetujui apa yang Ben katakan.
Willson, Gio dan Sonny pun mengangguk. "Oke gue langsung buka kuncinya ya! gue sengaja nunggu kalian dulu, karena lo yang tau banyak tentang ruangan ini Willson!" jelas Gio sembari membuka kuncinya
"Oke" jawab Willson segera
Mereka pun langsung masuk ke dalam ruangan pengawas, Willson, Gio, Sonny, Dara, Raina dan Dokter Zean masuk ke sana bersama. Sementara Ben dan Jeffan menunggu di luar untuk menjaga, sesuai dengan apa yang mereka katakan.
◇◇◇◇
Tali yang mengikat Baskara kian menipis dan sebentar lagi terlepas, namun tangannya sedikit tergores oleh pecahan botol minuman itu. Setelah cukup tipis Baskara pun segera melepaskan ikatannya menggunakan tangannya dengan sekuat tenaga, dia sangat menahan rasa sakit hingga talinya benar benar terlepas dari tangannya.
"Ahhh" gerutunya setelah dia membuka lakban di mulutnya
Tangannya yang sudah bercucuran darah akibat peluru semakin terasa sakit, mungkin karena infeksi dan darah yang terus menerus keluar. Baskara langsung merobek ujung bajunya dan mengikatnya di bagian tangan yang terluka, dia menggunakannya untuk menghalangi darah keluar lebih banyak lagi.
"Pak Meggy" gerutu Baskara lalu membuka ikatan tali di tangannya pak Meggy, dan begitu pun seterusnya mereka saling membuka ikatan satu sama lain hingga semuanya terlepas.
Baskara menatapi semuanya dengan tatapan serius "Kalian jangan dulu berbicara, karena kita di ruangan ini di kunci dan di luar pasti ada seseorang yang menjaga! kita jangan membuat orang itu tahu bahwa kita sudah terlepas dari tali yang terikat di tubuh kita. Pertama aku mau mencoba berbicara dulu pada pak Sam dengan baik baik, dan aku akan merekamnya" jelas Baskara pada mereka semua
Pak Meggy langsung mengangguk setuju dengan apa yang Baskara katakan. "Cepat Baskara sebelum mereka semua tahu kalau kita sudah terlepas" ujar nya dengan suara yang pelan.
Baskara langsung mengangguk dan berjalan pelan ke arah Pak Sam yang terlihat masih menangis di dalam bayangan halusinasinya. Baskara menatapinya sangat sendu, lalu dia duduk di depan pak Sam.
"Pak Sam?" lirih Baskara
Pak Sam langsung menoleh ke arah Baskara dengan mata yang memerah dan penuh air mata di dalamnya.
"Hmmm" gerutunya dengan suara lirih karena mulutnya tertutup oleh lakban.
"Baskara, sepertinya dia tidak akan membuat kekacauan. Coba kamu buka penutup mulutnya" gerutu Pak Meggy dengan suara yang lirih
Baskara lalu mengangguk dan menuruti apa yang Pak Meggy katakan. Dia membuka penutup mulut Pak Sam segera. "Pak Sam, ini aku Baskara" jelas Baskara dengan suara yang lirih dan menatapinya sendu.
Beliau menatapi Baskara dengan kebingungan, dia seperti pernah melihat Baskara namun dia sulit mengingatnya. "Siapa?, apa kamu bagian dari mereka? kamu..?" gerutu dia dengan suara yang lirih dan penuh duka
"Bagian dari apa pak Sam? aku Baskara, kau ingat? aku Baskara tetangga mu. Anaknya pak Bagas" jelas Baskara lagi dengan senyum di wajahnya
Pak Sam kembali mengerutkan keningnya "Bagas? Baskara? siapa? jangan lukai aku, jangan lukai istri dan anakku" ujar dia lalu kembali menangis.
Hal itu membuat Baskara langsung menutup mulut Pak Sam sengan cepat, supaya siapa pun tidak bisa mendengar suaranya.
"Pak Sam tolong jangan berteriak, aku disini ada di pihak mu. Kami semua adalah orang yang sama yang ingin mencari tahu tentang siapa pelaku kebakaran di malam itu, dan kami semua berniat untuk menjebloskan orang itu ke dalam penjara. Jadi ku mohon pak Sam sadarlah! ini semua juga demi anak dan istrimu" jelas Baskara dengan tatapan yang serius pada pak Sam
Pak Sam menatapinya dengan teramat dalam dan penuh arti pada Baskara. Dia lalu mengangguk seakan mengerti apa yang Baskara katakan. Baskara menatapi pak Meggy dan yang lainnya ingin mempertanyakan apakah Baskara harus melepaskan tangannya dari mulut pak Sam. Pak Meggy daj yang lainnya langsung mengangguk.
"Serius?" gerutu Baskara dengan suara pelan lalu perlahan membuka mulut pak Sam.
"Kalian tidak berbohong padaku? kalian tidak sama dengan mereka kan? teman temanku menggangguku, dan membawaku ke sini. Mereka membunuh istri dan anakku. Mereka gila! tapi aku yang mereka anggap gila" gerutu Pak Sam dengan suara lirih sembari meneteskan air matanya.
Baskara, Pak Meggy dan yang lainnya lalu mengangguk dengan senyuman di wajah mereka. Hal itu membuat perubahan besar di pikiran kacau pak Sam, seakan dunia yang dia anggap buruk sebelumnya ternyata tidak sepenuhnya buruk.
"Pak Sam, kami ingin menanyakan beberapa hal pada anda. Jadi tolong jawab dengan benar, karena penjahat itu bisa di tangkap sesuai dengan informasi yang pak Sam berikan pada kami" jelas Baskara lagi dengan tatapan serius pada pak Sam
Pak Sam sedikit berpikir namun dia langsung mengangguk sembari menatapi Baskara dan yang lainnya serius untuk meyakinkan.
◇◇◇◇
Willson dan Gio mulai memainkan komputer dan mengecek setiap kendaraan yang melewat di depan kantor polisi. cukup lama mereka menunggu dan mengintai cctv itu, hingga mereka pun menemukan sebuah klu di mana di waktu yang sama di video itu mobil pokisi keluar dari area kepolisian. Beberapa CCTV menunjukkan pergerakan mobil itu, hingga sampai mereka hilang arah hutan. Mobil polisi itu sejak tadi di ikuti oleh mobil Baskara dan yang lainnya.
"Mereka pergi ke hutan?" gerutu Raina dengan suara yang kesal
Dokter Zean dan dara membuang nafasnya begitu berat "Di waktu seperti ini akan sangat sulit sekali mencari mereka, apa lagi ke hutan yang jelas hutannya gelap dan luas di sana" jelas Dokter Zean menatapi Willson dan Ben serius.
Mereka hanya terdiam dan menatapi dokter Zean datar, berbeda dengan Raina yang lagi lagi menatapinya dengan penuh kebencian. Hal itu lantas membuatnya mengalihkan pandangan dan tersenyum kaku. "Sial, kok saya malah suka memancing dia seperti ini?" gerutu dokter Zean dalam hatinya
"Raina kamu belum mendengar semuanya, kalian juga. Maksud saya kita memang akan kesulitan mencari Baskara dan rekannya di jam jam seperti ini apa lagi masuk hutan tapi jika kita berusaha dan bekerja sama. Kenapa tidak kita coba" senyum Dokter Zean menatapi Raina
Raina menatapi dokter itu semakin kesal lalu membuang wajahnya "Sial dia malah tersenyum pada ku?" gerutu raina dalam hatinya
Dara hanya tersenyum, dia malah merasa terhibur oleh dua sejoli itu lagi. "Ya ampun kalian ini, udah ayo sekarang kita berangkat ke hutan itu" jelas dara menatapi mereka serius
"Iya mba Dara, tapi sebelumnya apa kaliam tahu hutan itu? karena aku pribadi tidak tahu dan belum pernah ke sana" gerutu Raina, dia bertanya pada semuanya.
Ben dan Willson saling bertatapan "Sepertinya kami berdua pernah ada penyelusuran ke sana" ujar Ben tersenyum
Willson pun tersenyum dan menatapi semuanya "Iya di sana ada dua objek, Sungai lalu hutan dan hutan lalu pegunungan. Kita akan membagi dua tim nanti untuk pencarian. Bagaimana?" ujar Willson serius