Tatapan tajam

1737 Kata
"Tenangkan diri kamu Raina saat ini kita tidak boleh bersedih atau apa pun itu. Kita jangan terbawa emosi, kita sekarang harus segera menolong pak Baskara" jelas Ben Raina lalu mengangguk angguk dan membuang semua rasa itu "Ya udah ayo sekarang kita pergi, kita akan pergi ke mana?" tanya nya dengan suara gemetar "Kita harus temui dulu Dara, supaya lebih banyak yang membantu saat pencarian. Apa lagi kan dia seorang perawat jika ada apa apa nanti di sana Dara bisa langsung menanganinya" jawab Wilson Ben dan Dara mengangguk setuju "Sebentar aku mau minta ijin dulu ke salah satu pembantu biar nanti dia yang bilang kalau aku pergi ke istrinya pak Meggy, takutnya nanti ibu nyariin aku dan khawatir" gerutu Dara lalu segera pergi dari hadapan mereka Mereka hanya mengangguk dan menunggu Dara untuk kembali. "Semoga pak Baskara dan yang lainnya engga di apa apain. Semoga aja kita engga terlambat" gerutu Ben mengeratkan ke dua tangannya "Semoga saja" angguk Willson Tak lama akhirnya Dara kembali dan mereka langsung pergi dari sana, Mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat dimana Dara bekerja di sana. ◇◇◇◇ Jack pulang dari hutan itu dan langsung menuju ke perusahaannya. Dia menyerahkan para orang yang di sekapnya pada anak buahnya termasuk para polisi senior. "Besok, gue akan menguasai lahan itu" senyum jack sembari menatapi lembaran lembaran surat yang berisi bahwa dia menawarkan lahan itu untuk di beli dengan harga yang fantastis pada si pemilik lahan. "Dengan harga segini pun mereka akan setuju karena keadaan ekonomi pada mereka yang mendesak, haha siapa suruh tinggal di tempat ramai dan berpotensi bisnis yang bagus. akhirnya kan kalian akan di incar oleh gue" gerutu jack lagi lalu tersenyum Jack lalu membuang nafasnya, tiba tiba saja dia terpikirkan pada adiknya. "Gue yakin sekarang Dara sedang khawatir dan mencari cari dimana Baskara. Apa gue harus bertindak?" gerutu Jack dengan suara beratnya "Hmm adik gue yang malang. Biarkan saja dia gue yakin mereka takkan bia menemukan Baskara!" gerutu Jack lagi lalu bangun dengan tersenyum manis "Yang harus gue pastikan saat ini adalah, hari ini aku harus datang ke masyarakat dan memaksa mereka supaya mau menandatangi ini lalu hari esok gue akan mengumumkan penghancurkan bangunan bangunan hangus di sana lalu akan gue nyaringkan suara gue untuk menyebut Bar Jack akan segera di dirikan" gerutu nya lalu tersenyum semakin jahat "Artinya mereka tidak akan ada waktu untuk bisa menghentikan gue, meski pun mereka bisa lolos dari sekapan dan berkoar bahwa gue adalah dalang dari semua ini. Semuanya akan sia sia jika lahan itu sudah resmi menjadi milik gue" ujarnya lagi ◇◇◇◇ Baskara, Pak Meggy, dan semua anak buah pak Meggy di sekap di ruangan sempit. Bersama dengan pak Sam yang sedari tadi menangis tak berhenti. Tangan mereka semua di ikat di sebuah tiang besi, begitu pun dengan kaki yang diikat dan mulut yang di lakban. "Itu benar benar pak Sam? mereka sangat kejam pada rekannya sendiri, sampai membuat pak Sam menjadi seperti ini" gerutu Baskara dalam hatinya sembari menatapi pak Sam dengan tatapan yang sendu. Pak Meggy berada di hadapan Baskara, dia diikat di tiang yang berbeda. Dia menatapi Baskara dan mencoba memberinya kode untuk berusaha lepas dari sana. "Benar, aku harus mencoba untuk melepaskan diri dari sini. Tapi bagaimana aku bisa menggerakan tanganku dengan leluasa?" gerutu Baskara lalu menatapi tangannya yang di penuhi oleh darah setiap satu tiang ada 3 orang yang di ikat, kecuali dengan tiang pak Sam yang hanya ada dia di sana. Baskara menatapi rekannya di belakang. Rupanya mereka sejak tadi mencoba untuk melepaskan ikatan di tangan Baskara menggunakan pecahan botol minuman yang mereka temukan. Tali yang mengikat mereka sangat tebal dan sulit untuk di lepaskan. "Bagus, mereka sedang berusaha untuk melepaskan ku. Dengan begitu nanti setelah aku terlepas aku akan mencoba berbicara dengan pak Sam dan merekam semua yang akan dia ucapkan" gerutu Baskara lagi dalam hatinya Tali itu masih sangat keras dan sulit untuk di putuskan. Namun mereka berdua yang merupakan bawahan Pak Meggy terus berusaha sebisanya untuk melepaskan Baskara. Hingga tangan mereka terluka oleh pecahan botol itu. "Kalian.. tolong jangan melukai diri kalian. Bekerja lah dengan hati hati" gerutu Baskara menatapi ke duanya sendu Mereka terus berjuang hingga perlahan perlahan tali itu mulai terputus beberapa bagiannya. Namun masih belum sampai ke finish. ◇◇◇◇ Willson, Ben dan Raina sampai di depan rumah sakit tempat bekerja Dara. Mereka langsung masuk ke dalam rumah sakit dan mencari Dara. Menanyakan pada orang orang sekitar sampai mereka di beri tahu dimana ruangan Dara. Mereka segera bergegas ke sana dan berdiri di depan ruangan Dara. Raina langsung mengetuk pintu ruangannya. Saat itu pun seorang dokter datang menemui mereka, dokter Zean yang juga awalnya hendak masuk ke ruangan Dara. "Dokter Zean?" gerutu Raina yang sadar atas kehadiran dokter Zean di sisi mereka "Eh? adeknya Baskara ya? kamu kenapa ke sini? dan sama polisi segala? di jam setengah 3 pagi?" gerutu Dokter Zean dengan tatapan yang kebingungan Raina menatapi Dokter Zean dengan tatapan yang kaku, sementara itu Willson dan Ben saling bertatapan bingung. "Eh hmm soal itu, kita.. kita cuma ada kepentingan sama mba Dara dok" jelas Raina sembari matanya yang menatap ke sana kemari Dokter Zean mengerutkan keningnya "Kenapa dia terlihat berbohong seperti itu? apa mungkin ini ada kaitannya sama Baskara yang sedang mencari pelaku kebakaran itu?" gerutu Dokter Zean dalam hatinya "Iya pak kami ada keperluan dengan Dara, ini bukan masalah serius kok" ujar Willson segera Dokter Zean pun segera mengangguk dia hendak pergi dari hadapan mereka, namun saat itu pun Dara membukakan pintu ruangannya. Dia sangat terkejut setelah tahu siapa yang datang ke ruangannya pagi pagi begini. "Mba Raina? Willson? kok kalian ada di sini sepagi ini? ada apa?" gerutu Dara dengan tatapan yang masih terkejut Dia lalu menatapi ke arah Dokter Zean "Dokter Zean juga?" gerutu Dara "Saya cuma mau ngasih berkas berkas ini ke kamu Dara, ambil ya ini harus selesai besok malam" ujar dokter Zean sembari memberikan selembaran kertas itu Dara lalu mengangguk dan meraihnya "Baik, akan saya selesaikan secepatnya dok" jawabnya segera "Baiklah saya pergi dulu yaa" ujar Zean pada semuanya Raina, Ben dan Willson menatapi Dokter Zean datar dan dengan anggukan. "Eh tunggu dulu dokter, saya rasa mereka datang ke sini untuk membahas tentang Baskara. iya kan?" sahut Dara menatapi mereka dengan tatapan khawatir Mereka saling bertatapan bingung, lalu Raina segera mengangguk masih menatapi Dara dengan kebingungan. "Iya mba Dara, tapi kenapa mba mengaitkan semua ini dengan dokter Zean?" lirih dia masih bingung dengan apa yang di maksud dengan Dara Dara terlihat canggung dan menatapi Dokter Zean "Kalian belum tau ya, dokter Zean ada di pihak kita. Dia bersedia membantu kita dalam hal apa pun, aku udah ceritain tentang kasus kebakaran itu sama dia. jadi alangkah lebih baiknya jika dokter Zean mulai sekarang bergabung bersama kita" jelas Dara lalu tersenyum pada mereka semua Ben dan Willson tersenyum setuju dan mengangguk "Ya, bagus dong! artinya kita punya tim medis yang lengkap diantara kita. Dokter Zean dan perawat Dara itu akan sangat membantu" jawab Willson "Iya sih saya juga setuju, tapi apa dokter Zean bisa di percaya Dara?" tanya Ben Dara mengangguk lagi dan tersenyum "Sejauh ini dokter Zean yang saya kenal dia adalah orang yang baik, jadi kalian engga perlu khawatir dia pasti benar benar ada di pihak kita kok" jelas Dara Ben dan Willson pun semakin tersenyum manis pada Dokter Zean, begitu pun dengan Dokter Zean yang membalas senyumannya dari ke duanya. Berbeda dengan Raina yang nampak tidak begitu suka dengan keputusan Dara, dia kini menatapi Zean dengan tatapan yang sinis. Lantas hal itu membuat dokter Zean merasa canggung dan mencoba untuk mengabaikan tatapan dari Raina. "Iya sih orang baik, keliatan banget. Tapi kan jelas jelas dokter Zean ini suka sama mba Dara! gimana kalau nanti bikin ulah karena engga terima Mba Dara jatuh ke pelukannya abang?" gerutu Raina dalam hatinya "Kenapa sih adeknya Baskara liatin saya gitu? ada apa ya?" gerutu Dokter Zean dalam hatinya masih bingung menatapi Raina dan sedikit takut. Dara menatapi semuanya "Ayo masuk ke dalam dulu, kita ngobrol di dalam aja" jelasnya Semuanya mengangguk lalu mereka pun masuk ke dalam mengikuti langkah Dara, tepat berada di kursi di ruangan Dara mereka pun kini mengumpul di sana. "Jadi ada apa kalian ke sini?" ujar Dara lalu menatapi mereka dengan tatapan serius dan sedikit takut Raina masih menatapi Dokter Zean dengan tatapan yang mematikan dan hal itu sontak membuat Zean tidak nyaman dan takut. "Aduh kok dia masih liatin saya kayak gitu sih?" gerutu dokter Zean dalam hatinya lalu mengalihkan pandangannya dari raina "Jadi parno banget saya liatnya" tambahnya lagi dalam hatinya lalu kembali menatapi Raina dengan tatapan sedikit takut dan Ya Raina masih menatapinya dengan tatapan yang tajam. Willson menatapi Raina, lalu Raina menatapinya. dia pun mengangguk seakan mengijinkannya untuk membicarakan semua ini di hadapan Dara dan Dokter Zean. "Jadi tadi malam kami mengecek ke ruangan yang di duga tempat penyekapan pak Sam di kantor polisi. Tapi ternyata dia tidak ada di sana, rupanya para senior kami sudah membawanya ke suatu tempat dan pak Baskara bersama rekannya berhasil mengikuti mereka karena sejak semalam mereka mengintai kantor polisi dari suatu tempat. Mereka pun mengikuti para senior kami, sejak saat itu pak Baskara dan rekannya tidak bisa kami hubungi sampai sekarang jam setengah 3 pagi. Kami pikir mungkin saja mereka sedang berada dalam sebuah masalah, karena jika mereka berhasil mungkin saja sejak jam jam sebelumnya mereka sudah pulang atau paling tidak mereka menghubungi di antara kita. Tapi ini tidak kan? menurutku lebih baik kita harus menyusul dan mencari di mana keberadaan pak Baskara. Sepertinya ini jebakan untuk pak Baskara, Ya! pak Sam di pindahkan supaya pak Baskara dan tim bisa ikut dengan mereka dan saat itulah mereka di jebak. apa kalian juga berpikir hal yang sama denganku?" ujar Willson menatapi mereka dengan tatapan yang serius Mereka langsung mengangguk dan mulai berpikir "Tapi sepertinya Baskara juga bisa menebak bahwa itu jebakan mereka ya?" gerutu Dokter zean menatapi mereka Dara langsung mengangguk "Benar, dia tidak akan semudah itu di bodohi. Aku tahu betul bagaimana dia" tambah Dara "Aku juga berpikir hal yang sama, tapi sepertinya abang menghadapi sesuatu yang sangat sulit" ujar Raina dengan tatapan yang mulai redup Semua pun bersedih, tak terkecuali Dara. Dara lalu memegangi tangan Raina cukup erat. "Mba Raina, aku pikir Baskara memang sedang dalam masalah tapi aku yakin dia masih kuat dan bertahan di sana. Aku yakin dia pasti sedang menunggu kita semua untuk menolongnya" jelas Dara dengan tatapan yang serius pada nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN