Jack bangun dari duduknya lalu membawa sebuah topeng yang terletak di meja. Dia langsung berjalan ke arah lantai bawah dengan tatapan penuh kebencian, perlahan sembari melangkahkan kakinya dia memakaikan topeng hitam itu yang selaras dengan pakaian yang dia pakai. Lalu dia membawa sesuatu dari saku celananya, sebuah senapan berukuran besar.
"Tunggu gue Baskara" ujarnya masih menuruni setiap anak tangga yang dia lewati
Hingga dia pun sampai di lantai yang paling bawah, Jack menatapi perkelahian yang berlangsung di sana. Beberapa rekan Baskara sudah kalah, begitu pun dengan beberapa suruhan Jack yang sudah sangat lemah karena mereka masih menghadapi Baskara yang tak kunjung kalah. Mental Baskara masih sangat kuat dan sulit untuk di kalahkan. Jack mengeratkan pegangannya pada senapan yang dia pegang, menahan semua rasa benci yang ada pada dirinya untuk Baskara.
"Berani sekali dia, jika tidak bisa di kalahkan oleh mereka maka senapan ini yang harus bisa melumpuhkannya" gerutu Jack lagi dalam hatinya
Jack mengarahkan senapan itu pada tangan kanan Baskara yang sedang dia gunakan untuk menyerang lawannya. Beberapa detik berlalu dan peluru yang meluncur dari dalam senapan langsung menyerang tangan Baskara dengan kecepatan kilat. Peluru itu langsung menusuk ke tangan kanan Baskara. Hal itu langsung membuat semua rekan Baskara terkejut.
"Baskara!" teriak Pak Meggy dengan tatapan yang tidak percaya
"Gawat kalau dia kalah, kita juga bisa terjebak di sini!" ujar salah satu anak buah pak Meggy dengan tatapan takut
Semua mengangguk dan mulai menatapi ke arah si penembak dengan tatapan yang takut. "Siapa dia?" gerutu si anak buah
"Pasti dia dalang dari semua ini, saya yakin!" jelas Pak Meggy dengan tatapan serius
Baskara sangat kesakitan, dengan tangannya yang mulai mengeluarkan banyak darah. Dia berusaha untuk mengeluarkan peluru dari tangannya menggunakan satu tangan kirinya. "Arrggghhh!" gerutu Baskara menahan semua rasa sakit itu
Setelah berhasil mengeluarkan peluru itu dari dalam daging di tangannya. Dia langsung membuangnya. "Hm siapa melakukan ini pada ku?" gerutu Baskara dengan suara yang pelan lalu menatap ke arah pria berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng hitam, dia memegangi senapan di tangannya.
Pak Meggy mendekat ke arah Baskara begitu pun dengan anak buah pak Meggy yang kini berkumpul pada Baskara. Karena merasa mereka sudah kalah dengan semua pertarungan ini.
"Baskara, saya rada dia adalah dalang di balik semua ini. Dia mungkin saja orangnya, makanya dengan sengaja dia memakai topeng di wajahnya" gerutu Pak Meggy membisikkan padanya
Baskara mengangguk "Iya mungkin memang dia pak" jawab Baskara segera
"Lalu sekarang bagaimana nasib kita boss?" ujar salah satu anak buah pak Meggy, mereka semua sudah sangat babak belur. sayatan sayatan pisau mengenai kulit mereka cukup dalam.
"Sialan, semua yang sudah aku usahakan dengan tim ku malah menjadi seperti ini. Aku merasa menjadi orang gagal sekarang" gerutu Baskara dalam hatinya
"Aargghhh" ujar Baskara kembali memegangi tangannya yang penuh dengan lumuran darah itu
Pak Meggy menatapi semuanya dengan serius "Tolong bersabarlah! kita akan menghadapi semua ini bersama sama. kalian engga percaya sama boss kalian sendiri hah?" ujar dia
"Sialan, kita juga kuat sebenarnya. Tapi lawan kita sekarang berkali kali lipat" ujar seorang anak buah dengan kesal
Jack berjalan mendekat ke arah mereka begitu pun dengan anak buah nya yang mulai mengelilingi Baskara dan rekannya.
"Duarrrr! kalian terperangkap ke dalam jebakan gue" ujar Jack dengan suara yang dia buat sangat berat supaya bisa menyamarkan suaranya dan Baskara tidak mengenalinya.
Pak Meggy, Baskara dan rekannya menatapi ke arah Jack dengan tatapan kesal.
"Kamu pikir saya akan takut sama anda hah? anda pasti dalang di balik semua ini kan? untuk apa anda menyuruh para polisi tua bangka membakar kampung saya? Apa maksud dan tujuan anda sebenarnya hah?" teriak Baskara dengan tatapan marah padanya
Pak Meggy menunjuk Jack dengan wajah yang sangat marah "Kamu pengen apa sih sebenarnya? sampai melakukan semua ini dengan sangat kejam? dan kalian para polisi bodoh.. kalian mau menghapus nama berwibawa kalian sebagai polisi hanya karena semua ini? karena uang? uang yang jelas jelas bisa menjebloskan kalian ke dalam sel tahanan yang selama ini selalu kalian jaga. Cih, sebodoh itu kalian" ujarnya dengan suara yang sangat lantang
"Jangan banyak bicara!" tegas polisi senior itu dengan lantangnya
"Kalian tidak mengerti posisi kami! jangan so menghakimi kami" tambah polisi yang lain
"Bukan masalah hakim menghakimi lagi kalau soal ini! karena kalian sudah membunuh puluhan manusia!" jelas anak buah Pak Meggy menunjuk polisi polisi itu
Jack mendekat ke arah mereka "Jangan banyak bicara!" tegasnya dengan suara yang berat
"Kalian, cepat bawa mereka ke dalam ruangan yang sama bersama rekan kalian yang gila itu. Biar mereka mati dalam keadaan berdesak desakan!" tegas Jack lagi lalu menatapi beberapa polisi senior yang berdiri di sampingnya
Mereka langsung menatapi Jack dan langsung mengangguk "Baik boss" jawab mereka bersamaan
"Cepat!" perintah Jack lagi
"Apa apaan kalian hah! jangan coba coba" teriak Anak buah Pak Meggy
Baskara menunduk dengan perasaan kecewanya "Sial, aku benar benar gagal melindungi mereka. Aku hanya orang bodoh yang memaksa mereka untuk mempercayai ku" gerutu Baskara dalam hatinya
Pak Meggy menatapi Baskara dengan tatapan yang sendu "Baskara, sudahlah! ini bukan akhirnya nanti pasti ada cara lain lagi" gerutu dia dengan suara pelan
"Cara yang mana pak? aku ngerasa gagal karena sudah membohongi kalian. aku engga bisa menepati janjiku" gerutu Baskara dengan suara yang lirih
Pak Meggy menatapi tangan Baskara "Kami tahu kamu sudah sangat berjuang, dan kami percaya pasti kamu bisa membawa keadilan untuk kami" ujarnya dengan tatapan serius
Anak buah Pak Meggy mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Boss nya itu "Benar Komandan Baskara kami percaya pada anda" jawab mereka bersamaan
Saat itu pun mereka langsung di tangkap dan di bawa paksa untuk memasuki sebuah ruangan. Jack tersenyum menyungging.
"Cih, apanya yang komandan? toh sekarang dia cuma pegawai kantor percetakan haha" gerutunya dengan suara pelan sembari menatapi kepergian mereka
Jack pun kembali ke lantai atas untuk mengistirahatkan dirinya sejenak. "Dengan begini gue akan lebih mudah untuk segera mengumumkan penguasaan lahan itu" gerutu dia lagi sembari menaiki anak tangga yang kotor itu
"Satu Wilayah akan gue kuasai, ini baru langkah pertama gue. Selanjutnya gue yakin gue bisa menguasai senegri ini bahkan seluruh dunia" jelasnya lagi lalu membuka topengnya dan duduk santai di kursinya lagi
"Benar kata orang orang, untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu" gerutu dia lalu meraih gelas berisi miras di dalamnya, dia langsung meneguknya
◇◇◇◇
Setelah kepergian polisi seniornya. Willson, Ben, Gio, Jeffan dan Sonny masih berdiri dengan bolak balik menunggu kepulangan mereka.
"Willson, ini sudah jam 2 pagi dan mereka masih belum pulang. Bahkan pak Baskara pun masih belum bisa di hubungi, jadi menurut gue sih kita harus hubungi pihak terdekat pak Baskara aja? gimana?" gerutu Gio dengan tatapan yang sangat khawatir
sementara itu Willson masih berpikir cukup keras, Ben lalu mengangguk setuju dengan apa yang temannya itu ucapkan.
"Iya Willson, sepertinya para senior kita engga akan balik lagi deh sekarang" ujar Ben menatap ke arah jendela
Willson lalu mengangguk "Iya sepertinya senior kita tidak akan kembali di waktu yang cepat, gue pumya rencana untuk semua ini" jelas dia menatapi semua temannya dengan tatapan serius
Sonny menatapi Willson dalam "Rencana apa Willson?" tanya nya
Mereka pun mendekat ke arah Willson dan menunggu apa yang akan Willson rencanakan untuk malam ini.
"Kita akan membagi menjadi dua tim, Gue dan Ben akan menemui Dara dan Raina untuk menginfokan bahwa Baskara tidak bisa di hubungi dan bisa saja dalam keadaan yang berbahaya saat ini. Sisanya, Gio, Jeffan dan Sonny kalian tunggu di sini untuk memastikan kalau nanti ada senior pulang kalian bisa memberi alasan apa pun tentang kepergian kita. Setelah jam kerja kalian habis saat itu pun kalian bisa langsung gabung bersama kita, biar nanti kita akan hubungi kalian oke?" ujar Willson menatapi teman temannya dengan tatapan serius
Rupanya mereka sangat setuju dengan apa yang willson rencanakan. "Oke Willson, ayo kita harus segera bergegas ke sana" ujar Ben
"Iya cepatlah nanti kalau senior sudah pulang kita bisa mengatakan kalau kalian lagi cari makan keluar" ujar Jeffan tersenyum
"Oke oke" angguk Willson
Willson dan Ben pun segera pergi dari kantor polisi dan menuju ke rumahnya Pak Meggy yang pernah Baskara kirimi alamatnya padanya.
Sementara itu Jeffan, Gio dan Sonny kembali bekerja di sana sembari berjaga jaga.
◇◇◇◇
Raina masih belum bisa tidur dan hanya duduk di ruang tamu, dia terus menatapi keluar jendela berharap Abangnya dan bossnya kembali secepatnya. Sementara itu istri pak Meggy tertidur di ruang tamu, namun Raina segera menyuruh pembantunya untuk memindahkannya ke kamarnya saja.
"Ini kenapa abang masih belum pulang sih? apa aku coba telpon Mba Dara aja yaa? ini udah jam 2 pagi, apa aku engga akan ganggu dia?" gerutu Raina dengan menatapi layar ponselnya bingung
Raina memutar bola matanya kesal lalu membuang nafasnya berat "Iya aku harus coba hubungi dia" ujarnya lalu hendak mengklik tombol hijau du samping nama kontaknya
Tiba tiba suara mobil terdengar masuk ke area perumahannya Raina. Membuat Raina segera mengalihkan pandangannya dan langsung menatap ke luar jendela.
"Siapa yang datang? apa mungkin abang dan pak Meggy?" gerutu Raina lalu segera berlari dan keluar dari sana
Raina langsung berdiri di depan teras dan menatapi mobil itu dengan serius. "Itu bukan mobilnya abang deh? tapi siapa yang datang malam malam begini?" gerutu Raina heran
Mobil itu lalu berhenti di depannya, segera saja Willson dan Ben turun lalu menghampiri Raina.
"Willson?" kaget Raina menatapinya dengan tatapan tidak percaya
"Kenapa kamu ke sini? dan siapa dia?" gerutu Raina lagi menatapinya serius
"Ini gawat Raina, saya tahu kemana perginya pak Baskara! saya sangat mengkhawatirkan nya karena sejak tadi dia tidak bisa kami hubungi makanya kami kemari dan berniat untuk mencari pak Baskara dengan anda dan rekan rekan lainnya pak Baskara" jelas Willson dengan tatapan serius
Raina sangat terkejut dia membelalak dan menutup mulutnya tidak percaya "Jadi feelingku benar? abang dalam bahaya?" gerutu Raina dengan suara yang lirih