Raina kembali tersenyum menatapi Baskara dan Dara dengan sangat berhati hati saat memancarkan senyumannya "Ba- bang" gerutu Raina pelan lalu tangan nya dia gerakan untuk menyentuh tangan abang nya itu, abang yang sudah lama dia rindukan dia harapkan untuk datang dan bisa menolong dirinya, bapak, dan ibunya lebih cepat.
"Iya Raina? ada apa? tolong jangan memaksakan dulu untuk bicara ya, abang ada di sini ko buat kamu" lirih Baskara dengan tatapan sendu pada adiknya
Dara juga mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Baskara "Benar mba Riana, jangan memaksakan ya" jelas nya lagi dengan serius
Raina sedikit tersenyum pada ke duanya dengan memaksakan namun nampaknya dia sangat tulus "Bang, si- siapa dia? apa pe- perawat yang berteriak sa- saat aku meminta tolong?" senyum Raina
Dara langsung tersenyum dan menunduk mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya dari ke dua kakak beradik itu. Baskara lalu tersenyum menatapi Dara dengan sedikit kebingungan, ia lalu kembali menatapi Raina. "Iya Raina, dia perawat Dara yang sudah menyelamatkan kamu. Tapi kalau soal dia berteriak abang engga tahu" jelas Baskara sedikit tersenyum sesekali menatapi Dara diam diam
"Hmm selamat mba Raina, mba sudah lebih membaik sekarang. saya sangat senang" ujar Dara mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan
Raina sedikit mengangguk "Te- terima kasih" jawab nya pelan pelan
Dara pun mengangguk, Raina kembali menatapi abang nya lalu Dara beberapa kali, seakan akan dia tengah menilai sesuatu dari Baskara mau pun Raina.
"Ada apa Raina" tanya Baskara penasaran
"Bang, mba pe- perawat ini jadiin pacar a- aja sama abang ya" ujar Raina lantas membuat Baskara mau pun Dara terkejut saat mendengarnya
Baskara pun tersenyum dan menatapi Dara diam diam lalu kembali menatapi Raina "De, kamu kok ngomong gitu sih sama perawat Dara. engga enak tau" bisik Baskara pada nya
"Ya a- aku ngatain refleks bang, ka- kalian emang cocok ba- banget" jelas Raina lagi sedikit tersenyum
Dara lalu menatapi Baskara diam diam dengan senyuman di wajahnya "O em ji! kayaknya bener nih takdir sengaja mempertemukan aku dengan mba Raina dulu abis itu tuhan mau nyatuin aku sama abang abang tentara yang gagah, ganteng dan baik hati ini. Hmm apa lagi mba Raina adiknya sendiri setuju kalau aku cocok sama abangnya, hmm abis itu Baskara sepertinya tidak bisa menolak fakta itu" gerutu Dara dalam hatinya
"Hmm sudah Raina, jangan membuat abang malu di depan perawat Dara nanti" jelas Baskara berbisik pada nya
Raina pun menutup matanya pelan dan tersenyum pada Baskara. "Nah gitu dong, baru adek abang" ujar Baskara
"Pak Baskara saya ijin keluar dulu ya mau ambil makanan buat mba Raina, tolong mba Raina nya di jagain dulu ya" ujar Dara menatapi Baskara dengan tatapan penuh arti yang dia simpan
Baskara lalu segera mengangguk "Ya, terima kasih ya Dara" jawab dia segera
"Iya pak, itu sudah menjadi tugas aku" senyum Dara
Raina pun tersenyum pada Dara "Mba Da- Dara terima kasih atas semua nya yaa" ujarnya
"Iya mba sama sama, kalau gitu aku ambilin dulu makanan nya" ujar Dara manis
Raina pun mengangguk pelan "Permisi" ujar Dara lalu pergi dari hadapan mereka semua
*******
Sementara itu di pemakaman besar yang hari ini di datangi oleh beberapa keluarga korban yang selamat, nampak ada sebuah kehebohan yang membuat tontonan umum.
"Engga bisa! aku engga bisa menerima semua ini mas! Evan itu terlalu di butakan sama yang namanya cinta. Bisa bisanya di saat ledakan besar itu berlangsung dia malah pergi ke rumah kekasihnya yang jelas jelas di sana sangat berbahaya" teriak bu Eva yang merupakan ibunda Evan kekasih Raina
Suaminya masih ada untuk mencoba memeluk istrinya dan menenangkan nya "Bu jangan seperti ini, ini semua takdir dari tuhan bu jangan membuat Evan malah tidak tenang di sana" jelas dia sembari menangis tersedu sedu
"Tapi pak, kalau aja Evan engga ke sana saat itu mungkin engga akan berakhir seperti ini. Toh area rumah kita aman, kenapa sih dia malah ke rumah kekasihnya dan so soan mau selamatin dia? Raina itu pengaruh buruk bagi Evan pak" jelas ibu Eva yang tidak terima dengan perkataan nya suaminya itu
Pak Natan yang mencoba dengan keras untuk menenangkan istrinya tidak bisa berbuat apa apa lagi dia hanya menangis dengan perasaan berduka yang teramat. "Bu, sudah jangan seperti ini bapak mohon bu. Ibu mengerti tidak ini semua hanya akan membuat Evan tidak tenang bu" tambah suaminya itu dengan tatapan sendu menatapi istrinya yang sedang menangis seakan sedang di rasuki jin
Semua orang menatapinya cukup sinis pada mereka, seakan merasa mereka mengganggu semua yang ada di sana. "Bu tolong ya yang sopan di sini, jangan bikin keributan. Kami juga sedang berduka tolong saling menghargai saja" tegas bapak bapak di belakang mereka yang kesal dengan suara tangisan bu Eva
"Kami memohon maaf ya, kami akan segera pergi kok dari sini" ujar pak Natan pada semua nya
Pak Natan lalu menatapi istrinya "Ayo bu kita pergi sekarang ya, kita jangan membuat keributan di sini" ujar pak Natan berbisik pada nya
Istrinya hanya terdiam dan mengikuti langkah suaminya yang menggiringnya untuk pulang. Mereka pun memasuki mobil pribadi milik mereka, bu Eva masih menangis tidak terima dengan semua kenyataan pahit yang menimpa putra semata wayang nya itu. "Pak, aku yakin Raina itu selamat! dan kenapa Evan harus menderita seperti ini? kenapa pak?" lirih bu Eva lalu menatapi suaminya menangis
"Pak jalankan mobilnya, kita langsung pulang ke rumah ya" ujar pak Natan menatapi sopir mereka
"Baik pak" angguk sopirnya lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan standart
Sementara itu pak Natan menarik nafasnya dalam dalam, ia kembali menatapi istrinya dengan tatapan serius supaya dia paham dengan keadaan ini. "Istriku tolong mengerti lah ini bukan salah siapa pun, ini jelas bencana dan jelas Raina pun juga tidak bersalah atas ini. Semuanya sudah di takdirkan tuhan, kita tak bisa meminta Evan untuk kembali atau pun selamat saat itu. Itu semua jelas kehendak dari tuhan" jelas dia menatapi istrinya
Bu Eva pun terdiam beberapa saat dan mencoba mencerna semua ucapan dari suaminya itu. "Tapi pak.. Evan satu satunya anak kita, dia yang paling kita sayangi dia yang paling kita bangga kan. Kenapa harus dia yang tuhan ambil? kenapa tuhan memberikan cobaan sebesar ini pada kita, jelas ini semua salah Raina jika Raina bukan kekasih Evan pasti Evan tidak akan berlari ke tempat berbahaya itu pak" jelas dia lagi kekeuh menyalahkan Raina
"Bu sudah lah, tenangkan dulu diri ibu. Evan tidak ingin melihat semua ini bu, tolong pahami lah" jelas pak Natan serius pada nya
Bu Eva pun menatapi ke arah lain tepat ke luar jendela, ia seakan kecewa dengan reaksi suaminya yang terus terusan membela Raina. "Raina benar benar pengaruh buruk untuk keluarga ku, dulu Evan sekarang suami ku pun terus menerus membelanya. Sejak awal memang aku tidak merestui hubungan Evan dan Raina tapi apa boleh buat Evan selalu menentang ku sejak mengenal Raina" gerutu dia dalam hati nya
*******
Raina menatapi Baskara dengan tatapan sendu "Bang, abang udah tahu kan? ibu sama bapak?" lirih Raina dengan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk mata nya
Baskara langsung saja terasa tersentrum dengan perasaan hancur yang baru saja dia buang sekuat tenaga, rupanya Raina telah mengetahui lebih dulu tentang bapak dan ibu nya. Dia memberanikan diri untuk menatapi Raina sang adik, dengan mengangguk dan sorot mata hancur. "Ya abang udah tau Raina, mereka sudah tenang di sana. Abang juga belum sempat pergi ke pemakaman mereka, nanti siang abang mau ke sana yaa dan maaf abang saat itu tidak bisa membantu kalian. Abang merasa abang bener bener engga berguna sekarang, percuma abang kuat tapi engga bisa menyelamatkan kalian. Abang ngerasa jadi orang gagal banget, maafin abang" lirih Baskara dengan air mata yang bercucuran dan merasa d**a sesak
Raina memegangi tangan Baskara mencoba untuk menguatkan nya "Bang, abang adalah orang yang paling kami banggakan. Kami tahu keadaan abang saat itu seperti apa, abang jangan menyalahkan semuanya pada Abang. Selama Raina tidur pun Bapak dan ibu selalu menemani Raina, mereka mengatakan jangan sampai abang ngerasa bersalah atas semua yang telah terjadi. jangan sampai abang terus terusan bersedih atas semuanya, mereka mengatakan hal itu bang. Raina juga sangat sedih tapi setelah mereka menemui Raina seakan Raina tertampar untuk lebih bersabar dan menerima kenyatan nya. Abang juga yaa, bapak sama ibu mau kita menjadi anak anak yang kuat anak yang lebih bersyukur atas semua nya yaa. Raina bersyukur banget karena bisa selamat dan bisa menemani abang sekarang" jelas Raina menatapi abang nya itu dengan senyuman yang sangat tulus
Baskara lalu tersenyum sendu menatapi Raina, dia juga menghapus air mata nya pelan. "Benarkah? bapak sama ibu di sini nemenin kamu? hmm syukur lah ternyata kamu adik abang yang kuat, yang bisa sabar menerima semuanya. Semoga bapak dan ibu tenang di sana setelah mereka tahu bahwa kita di sini ikhlas atas kepergian mereka ya" angguk Baskara menatapi Raina sendu
"Iya bang, Raina yakin kok mereka pasti tenang" jawab Raina dengan tersenyum manis pada nya
Raina menatapi ke sekeliling nampaknya dia mencari seseorang yang harusnya ada di samping nya saat ini. "Bang, abang lihat Evan engga?" tanya Raina menatapi abang nya bingung
"Evan?? belum tuh Raina, mungkin dia belum tahu kamu ada di rumah sakit ini kali yaa, soalnya kayaknya area rumah Evan masih cukup aman dari kebakaran waktu itu" jelas Baskara yang nampak juga kebingungan
Raina pun nampak bersedih, biasanya Evan sangat perhatian dan selalu menemaninya di saat apa pun. "Apa Evan tidak kenapa napa ya? kenapa perasaan ku tidak enak bang" lirih Raina pelan
"Kamu tenang yaa, Evan pasti baik baik saja kok sebentar lagi dia pasti datang untuk menjenguk kamu. Itu pasti sayang" jelas Baskara menatapi adiknya dengsn tersenyum begitu tulus
Raina mengangguk dan tersenyum pada Baskara "Iya bang, Raina mau nunggu aja dengan sabar"
Tiba tiba tirai pun terbuka menampilkan sosok Dara yang tadi meminta ijin untuk pergi, dia membawa senampan makanan yang berisi bubur dan teh hangat untuk Raina. "Eh, ini mba Raina makanan nya udah datang segera di makan ya mumpung masih anget" jelas Dara tersenyum
"Siniin Dara, biar aku aja yang suapin Raina" ujar Baskara pada Dara
Dara pun mengangguk dan memberikan nampan itu pada Baskara "Baik lah Baskara" jawabnya segera
"Mba Raina harus banyak makan ya biar fit dan engga lemes terus, biar cepet sembuh juga" jelas Dara berdiri di hadapan Raina
Raina mengangguk "Terima kasih banyak mba Dara, ku akan makan yang banyak kok apa lagi di temenin abang terbaik sedunia" jelas Raina tersenyum
"Kamu udah lancar juga sekarang bicaranya padahal baru aku tinggal ambil makanan aja, perubahan yang pesat berkat kehadiran Baskara ya" jelas Dara tersenyum sangat tulus