Raina mengangguk "Iya berkat kehadiran abang, aku jadi ngerasa ada alasan untuk hidup" jelasnya tersenyum manis
"Udah udah sekarang kamu makan yang banyak ya! seperti yang di katakan perawat Dara tadi, biar kamu cepet sembuh dan bisa cepet pulih" senyum Baskara lalu menyuapi adiknya itu setelah meniupi bubur yang agak panas
Dara pun hanya menikmati kehangatan mereka yang sampai terasa menyentuh perasaan nya, jelas ini adalah pemandangan yang jarang dia lihat di keluarganya apa lagi diri nya dan kakak nya tidak begitu dekat bahkan untuk bertutur sapa pun sangat jarang dia lakukan dengan abang nya. Jack Narendra tepatnya, kakak dari Dara dan anak pertama dari keluarga mereka. Jack terkenal sangat liar dan selalu melakukan apa pun yang dia mau tanpa mau mendengar pendapat siapa pun termasuk orang tuanya. Keluarga Dara termasuk keluarga berada di kelasnya, namun hal itu tentunya tak menjadi jaminan kebahagiaan mereka.
Ibu Dara yang seorang dokter terlalu sibuk dengan pekerjaan nya, ayah Dara yang juga seorang pilot sangat pulang dan tidak ada waktu untuk mereka. Dara termasuk anak perempuan ke dua yang jarang berbicara dan lebih memilih untuk menjadi seorang pendiam di dalam keluarganya. Dia tidak terlalu memikirkan kesedihan di keluarganya akibat semuanya yang terlalu sibuk, dia juga memilih untuk menjadi perawat supaya bisa sedikit lebih dekat dengan jalan ibundanya. Dara terlalu dingin pada ibu, ayah mau pun abangnya. Berbeda dengan Dara, Jack yang merupakan anak pertama memilih terjun ke dunia bisnis yang jelas sangat berbeda dengan jalan kerja dari keluarganya. Jack mengatakan ingin jadi apa pun dia terserah dirinya, dia tak harus mengikuti jalan yang keluarga nya ambil untuk mendapatkan kesuksesan.
Dara yang dingin tentunya tidak begitu peduli dengan apa yang ingin abangnya capai di dunia ini, mendukung tidak terlalu dan menolak juga tidak terlalu. Hubungan dari ke duanya jelas sangat acuh tak acuh.
"Aku engga begitu tahu bagaimana hubungan keluarga itu, hah mungkin definisi keluarga bagi ku berarti keturunan! tidak terlibat kasih sayang seperti ini" gerutu dia dalam dengan tatapan sendu pada Baskara mau pun Raina yang nampak sangat dekat dan saling menguatkan itu
Dara lalu tersenyum dan menoleh ke arah lain "Setelah melihat mereka.. aku menjadi merasa telah menjadi orang paling menyedihkan di dunia, tidak begitu tahu tentang kebersamaan dan kasih sayang selama aku hidup. Mungkin tuhan sengaja mempertemukan aku dengan mereka agar aku lebih tahu apa itu hidup dalam kasih sayang keluarga. Sederhana namun sempurna" gerutu nya lagi sedikit membayangkan bagaimana diri nya dan keluarga nya saat bersama
******
Flashback Dara Family
Suara teriakan terdengar jelas dari lantai bawah, jelas sangat menganggu Dara saat belajar tentang ilmu kesehatan di kamarnya. Dara hanya mencoba untuk menahan amarah nya sedari tadi, dia mencoba untuk kembali fokus pada kerjaan nya. Saat itu Dara baru mengisi beberapa formulir untuk sekolah keperawatan nya di Jerman. Jelas itu sudah menjadi mimpi Dara sejak dulu, Ibundanya juga sangat mendukung penuh keputusan Dara dan selalu siap untuk biaya sekolah mau pun biaya hidup Dara di sana. Meski itu hanya bertahan sekejap karena ibu dia harus kembali sibuk di rumah sakit, dia tetap senang karena ibundanya mendukung nya.
Suara langkah kaki melewati anak tangga terdengar semakin mendekat, nampaknya Jack dan ibunya menuju ke lantai atas dan masih saling beradu mulut. "Sialan abang kenapa harus selalu bikin keributan sih" gerutu Dara pelan dan membuang nafasnya berat lalu tanpa dia sadari dia mematahkan pensil yang dia pegang
Langkah terburu buru itu tiba tiba berhenti saat ibunda mereka memegangi tangan Jack cukup keras dan menatapi Jack marah, bukan karena apa apa lagi Jack saat itu terlibat dalam kasus korupsi di kantornya sendiri namun kekuasaan ibunya sebagai orang penting di kota bisa menutupi kesalahan dari anaknya itu. Sekalipun Jack berbuat seperti iblis, seorang ibu tetaplah ibu yang selalu akan melindungi putra dan putrinya.
"Jack berhenti! ibu masih belum selesai bicara sama kamu ya!" tegas ibundanya serius pada Jack
"Bu udah Jack bilang kan, jangan salahkan keputusan Jack 2 tahun yang lalu karena jelas jelas Jack engga mau masuk ke sekolah pilot! Jack engga menyukai itu dan engga menyukai pekerjaan Ayah yang bisanya cuman ninggalin kita di rumah megah ini! Jack engga mau sama kayak ayah bu engga akan pernah mau" teriak Jack dengan lantang jelas terdengar di depan kamar Dara
Dara terlihat semakin kesal dan menutup ke dua telinganya dengan tangan nya, mencoba untuk tidak mendengar apa pun jelas jelas bersumber dari luar kamarnya.
"Kamu engga suka pekerjaan ayah kamu sebagai pilot? terus kalau ayah kamu engga ada kamu pikir kamu bakal ada ke dunia ini? kamu pikir kamu bakal bisa hidup mewah seperti ini tanpa ayah kamu Jack! jangan berbicara sembarangan tentang ayah kamu, dia sudah sangat bekerja keras untuk kita semua" jelas ibu nya semakin lantang dan marah menatapi anak lelakinya itu
Jack menatapi nya datar "Tapi tetep aja kan bu, dia engga bisa ada di sini buat kita? dia kayak mesin uang aja yaa, bukan keluarga" gerutu Jack lagi
"Jack stop! kamu jangan malah membahas ayah kamu! ini jelas kesalahan kamu karena malah korup di kantor kamu sendiri, apa kamu pikir kamu kekurangan uang? kenapa kamu malah terlibat korup Jack? ibu yakin kamu pasti terbawa bawa kan?" jelas ibu nya semakin keras
Jack malah tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali "Ibu engga akan tahu apa yang terjadi, ibu dan ayah sama aja kalian sama sama sibuk! jelas kalian engga akan paham apa yang terjadi pada anak anak kalian. Bahkan Dara? lihat Dara dia sangat pendiam layaknya manusia yang tidak bisa berbicara! apa ibu paham tentang kami? jelas, uang bukan segalanya keluarga harusnya yang segalanya. Tapi ajaran dari kalian sejak kecil membuat aku menjadi orang yang keras kepala dan gila uang! sekarang siapa yang mau di salahkan? aku ya jelas aku salah, tapi siapa faktor yang membuat aku menjadi orang seperti ini? katakan pada ku bu" ujar Jack menatapi ibunya penuh dengan amarah
Ibu nya hanya terdiam menatapi anaknya yang menjadi anak pembangkang seperti ini, dia juga menyadari bahwa mereka memang tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan anak anaknya. Ibunya menunduk dengan air mata yang mulai berjatuhan. "Jack, kamu masih engga paham. Kami bekerja keras untuk kalian, kami melakukan semuanya untuk kalian. Apa kami salah jika ingin melihat anak anak kami bahagia dan semua kebutuhan nya terpenuhi?" gerutu dia dengan isakan tangis
"Jelas semua orang selalu bersalah bu, pikirkan itu" ujar Jack lalu pergi dari hadapan ibunya dengan melepaskan ikatan tangan dari ibunya dan pergi ke kamarnya segera
Ibu nya lalu terjatuh ke lantai, ia hanya menunduk dan membuang nafasnya berat dengan air mata yang semakin banyak berjatuhan. "Ya tuhan, semuanya seakan serba salah. Apa yang harus aku lakukan, anak ku mereka.." lirih nya dengan isakan tangis yang kian menjadi
Tiba tiba pintu kamar Dara terbuka, Dara keluar dari kamarnya dan menatapi ibunda nya yang tengah menangis bersedih. Dia lalu mendekati ibunya pelan. Sementara itu ibunya langsung menghapus air matanya saat tahu Dara berjalan ke arahnya.
"Dara, sayang kamu kok belum tidur? maaf di luar tadi berisik banget ya sayang" lirih ibunya masih belum berani untuk menatapnya
Dara lalu duduk di lantai tepat di sampin ibunda nya, Dara menatapi sorot mata ibunya yang seakan hancur tak terbendung. "Bu, jangan di tahan. keluarkan aja yaa Dara akan temenin ibu" lirih Dara pelan dengan tatapan sendu
ibunya lalu menatapi Dara dengan mata yang sudah memerah dan pipi yang basah, dia lalu segera memeluk Dara erat. "Maafin ibu ya sayang, maafin kesibukan ibu dan ayah. Kamu tahu kan kami bekerja untuk bisa mencukupi hidup kalian. Maaf jika kami tidak bisa memberikan kebahagiaan yang bisa keluarga lain berikan, maafin ibu" ujarnya masih begitu terisak dengan tangisan nya
Dara membuang nafasnya pelan lalu membalas pelukan ibunya mencoba untuk menenangkan nya, meskipun kenyataan nya memang benar selama ini Dara hanya selalu bersedih atas keadaan keluarganya yang jelas berbeda dengan keluarga lain. Namun di sisi lain pun ke dua orang tuanya mempunyai alasan kuat kenapa mereka mempertaruhkan selama hidupnya untuk pekerjaan nya, hanya untuk membahagiakan anak anaknya.
"Ya bu, Dara sangat mengerti. Maafin Dara ya" lirih dia pelan sembari meneteskan air matanya
Flashback off....
*******
"Dara!"
"Dara kamu harus ke ruangan saya ayo"
"Mba Dara"
"Dara Hey! kamu lagi mikirin apa sih?"
"Perawat Dara"
Ujar Baskara dan Raina saat melihat Dara yang malah melamun di saat dokter di belakang Dara sejak tadi menegurnya untuk ke ruangannya.
Dara pun terkejut saat dokter Anna di belakang nya menepuk bahunya pelan. "Dara kamu lagi mikirin apa sih" ujar dia menatapi nya heran
"Eh dokter Anna, maaf maaf ya ampun Dara malah melamun barusan" ujar dia tersenyum dan menggaruk kepala belakang nya pelan
"Ihh malu maluin banget sih aku kok malah ngelamun ihh" gerutu Dara dalam hatinya sembari sesekali menatapi Baskara dengan senyuman malu
Baskara menatapi Dara serius dengan sedikit khawatir "Apa yang dia pikirin ya? kok sampai bikin dia gagal fokus, padahal kita panggil dia berulang kali" gerutu Baskara dalam hatinya
"Iya gak papa ayo kamu ikut ke ruangan saya dulu" jelas Dokter Anna lalu meraih tangan Dara supaya ikut bersamanya
Dara pun segera mengangguk dan tersenyum "Oke ayo dok" jawabnya
Dia pun melangkahkan kakinya dan mengikuti langkah dokter Anna, Dara lalu menatapi ke arah Baskara dan Raina yang menatapinya. "Saya ikut dokter Anna dulu ya, Baskara jagain mba Raina dulu yaa hehe" ujar dia sembari tersenyum
"Oke mba Dara" jawab Raina segera
Sementara itu Baskara hanya mengangguk dan masih memikirkan apa yang tadi membuat Dara melamun. Dara pun pergi bersama dokter Anna untuk ke ruangannya. "Aku malah khawatir sama Dara, sebenarnya dia lagi mikirin apa sih" gerutu dia dalam hatinya lagi
"Dara pasien bernama Raina itu proses penyembuhan nya cukup pesat ya, kamu hebat deh" ujar dokter itu menatapi Dara bangga
Dara tersenyum malu "Hmm hehe bukan karena sih dok, berkat ke datangan abang nya makanya dia cepet banget sembuh nya" jawab dia segera
"Abang nya yang tentara itu ya? hmm mereka deket banget yaa, mana abangnya kayak yang sayang banget sama dia. Beruntung deh pasien itu" gerutu Dokter Anna tersenyum
Dara setuju dan hanya mengangguk "Ya beruntung banget, apa lagi kalau yang di jadiin pacarnya pasti jauh lebih beruntung tuh" gerutu Dara dalam hatinya sembari senyum senyum
"Eh tapi kalian udah kaya deket gitu barusan" ujar Dokter Anna lagi
Lantas hal itu membuat Dara menatapi Dokter Anna terkejut "Hah? deket gimana dok?" tanya dia
"Ya dari percakapan kamu yang minta ijin mau ke ruangan saya, kayaknya kamu udah deket banget deh sama mereka. Iya gak?" tanya Dokter Anna
Dara sedikit menggelengkan kepalanya "Hmm kalau di sebut deket sih engga juga dok, tapi mereka orangnya ramah banget jadi bikin kita seneng aja gitu" jelas Dara
"Hmm gitu ya" angguk Dokter Anna paham sembari menatapi Dara sedikit tersenyum