Gak tau deh...

1766 Kata
Dara hanya mengangguk angguk sambil tersenyum membayangkan senyuman Baskara yang terus mengganggu pikirannya. "Awas jatuh hati lhoo sama tentara ganteng itu" gerutu Dokter Anna pelan dan berbisik pada Dara Dara sontak terkejut dan menatapi dokter Anna dengan malu "Ih apaan sih dokter" gerutunya mencoba menahan salah tingkahnya "Eh Dara kenapa? engga ada salah nya juga kan kalau kamu suka sama tentara ganteng kayak dia, penyayang juga, nah kalau dokter yang suka sama dia baru salah karena kan dokter udah bersuami hahaha" jelas dia lalu tertawa ngakak Dara hanya tersenyum dan menatapi dokter Anna ngakak "Ya ampun dokter Anna bisa aja sih bikin ngakak nya haha" tambah Dara ikut ngakak Mereka pun masuk ke ruangan dokter Anna yang sudah beliau rencanakan. Untuk membahas beberapa hal penting yang harus Dara hadapi ke depan nya. Sementara itu Baskara kembali menyuapi Raina dengan penuh kasih sayang, dia sekarang lega karena adiknya sudah sangat membaik. Baskara tersenyum tulus saat menatapi adik nya yang tengah menikmati bubur hangat. "Akhirnya aku sedikit mempunyai bayangan cerah ke depan nya, aku punya beribu alasan lagi untuk kembali bangkit dan kembali hidup. Pak, bu, Baskara berjanji akan menjaga Raina apa pun yang akan terjadi ke depan nya Baskara berjanji akan lebih melindungi Raina yang harus lebih kuat karena kondisi badannya saat ini" gerutu Baskara dalam hatinya sembari tersenyum Raina yang memerhatikan abangnya dia langsung tersenyum menggoda abangnya saat tahu abangnya sedari tersenyum senyum tidak jelas "Nih adek udah tau nih bang, udah adek duga dari awal nih. Abang suka ya sama mba perawat Dara itu? hmm gimana engga suka coba, udah cantik, baik, mana dia yang nolongin Raina mungkin jika engga ada dia Raina engga akan tertolong lagi bang. Keadaan kulit Raina hancur parah, jika mba Dara engga ada di sana mungkin sudah tamat hidup Raina" jelas Raina lagi "Apa sih Raina, abang senyum senyum bukan karena lagi mikirin perawat Dara. Abang cuma seneng aja kamu selamat dan masih bisa sama abang, yang artinya pun abang masih punya tujuan untuk hidup ya seengga nya abang tidak terlalu merasa bersalah" ujar Baskara lalu menunduk dengan tersenyum dan tatapan sendu di wajahnya Raina menarik nafasnya pelan lalu membuangnya dengan lirih "Hmm ini bukan salah abang jelas bukan salah abang, saat itu Raina sedang ngerjain beberapa berkas kantor yang belum selesai. Raina mengerjakannya di kamar dengan jendela kamar Raina yang terbuka, saat itu hampir tengah malam Raina tiba tiba denger suara beberapa langkah kaki di bawah tepatnya di luar rumah kita dan orang yang terdengar berbisik bisik. Raina agak takut saat itu, namun Raina penasaran dan mencoba perlahan mengintip ke sana saat itu Raina melihat beberapa orang berpakaian serba hitam yang nampak berjalan melewati gang gang rumah di kampung kita. Meski pun saat itu Raina agak takut tapi Raina kembali berpikir positive hingga Raina berpikir mungkin aja mereka remaja remaja kampung yang di jadwalkan untuk ngeronda dan iseng pakai baju item, Raina tidak terlalu memikirkan itu dan langsung menutup jendela karena malam semakin larut. Raina kembali mengerjakan kerjaan Raina tapi tak lama akhirnya Raina tertidur di meja, saat bangun semuanya sudah terbakar Raina mendengar beberapa ledakan di lokasi yang berbeda bahkan ledakan dari rumah tetangga pun terdengar nyaring. Sangat mengerikan dan tak pernah sekali pun Raina bayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi pada kita. Sekarang Raina mulai berpikir mungkin saja orang orang berpakaian hitam itu adalah dalang di balik semua ini, tapi jika benar untuk apa mereka melakukan hal keji untuk kita semua?" lirih Raina pelan dengan air mata yang mulai bercucuran sembari menatapi Baskara serius Baskara nampak menatapi Raina tidak percaya, rupanya apa yang Baskara pikirkan memang mungkin saja benar. Kebakaran ini jelas di lakukan oleh seseorang bukan karena hanya korsleting listrik biasa saja. Baskara lalu menarik nafasnya berat dan menatapi Raina serius. "Raina.. sebenarnya abang juga sudah mencurigai kejadian ini. Karena jelas kebakaran besar ini engga mungkin hanya karena korsleting listrik, kebakaran ini terjadi terlalu cepat. Abang akan coba selidiki ya, abang nanti mau ke kuburan nya bapak sama ibu abis itu mau ke kantor polisi untuk membuat laporan yaa" ujar Baskara lalu menatapi Raina supaya lebih tenan Raina segera mengangguk dan tersenyum "Seperti biasanya, abang selalu menjadi orang pertama yang menegakan ke adilan" gerutu Raina ***** Saat sampai di rumahnya, bu Eva dan pak Natan lantas kembali ke rumahnya dengan langkah lesu dan tatapan kosong. Jelas masih sangat melukai hati mereka tentang kepergian Evan anak semata wayang yang selama ini mereka bangga kan. Mereka sama sama masuk ke kamar, Bu Eva duduk di pinggir kasurnya. Sementara itu tanpa banyak bicara pak Natan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bu Eva nampak masih kesal dengan mengingat pacar dari mendiang anaknya. "Raina, rasanya kamu juga tidak pantas untuk hidup! aku tidak bisa menerima jika anak ku Evan harus mati matian untuk menyelematkan mu sementara sekarang kau masih leganya karena masih bisa bernafas, hah yang benar saja" senyum bu Eva lalu bangun dan keluar dari kamarnya juga dari rumahnya Dia memasuki mobil yang segera di masuki oleh seorang sopir yang memang selalu on time "Mau ke mana bu?" tanya dia ramah sembari mencoba tersenyum meskipun dja tahu keadaan di rumah majikan nya sedang tidak baik baik saja "Ke rumah sakit" jelas bu Eva dengan tatapan datar "Baik bu" jawab si sopir lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan normal ***** Dara dan Linda baru saja keluar dari ruangan nya dokter Anna, mereka nampak sedikit berbincang tentang tentara tampan yang menggemparkan seisi rumah sakit. Apa lagi di rumah sakit ini para dokter dan perawat kebanyakan masih muda yang lajang. "Eh eh Dar, aku tahu lho kamu deket kan sama tentara itu? hmm siapa namanya? Baskara yaa.. abangnya pasien yang pertama kamu temuin malam itu, hmm udah kayak kisah di film film aja yaa tidak di sengaja di pertemukan" goda Linda tersenyum pada teman perawat nya itu Dara memutar bola matanya "Linda kamu kenapa sih, tadi dokter Anna sekarang kamu.. kalian pada gibahin aku apa ya?" cerocos Dara sembari membenarkan kaca matanya nampak keren "Ihh kita bukan lebih ke gibah sihh, ya kita tau aja kemarin kalian ke atap berdua kan? dan bicara di sana? Yaa maka nya kita traveling otak nya Dar hahaa, udah lah Dar pepet aja terus pepet! lagian tentara itu ganteng banget sih asli" gerutu Linda Dara menaikan sudut bibirnya "Ihh kenapa kamu yang semangat gitu Lin?" ujarnya "Yaa oke, gini aja sistem nya yaa. Kalau engga cepet cepet kamu pepet, biar aku aja yang pepet ya siapa yang engga mau memperbaiki keturunan iya gak? haha" tawa Linda pecah membuat Dara juga lantas tertawa "Anjir banget ih Linda! udah mikir sejauh itu, sadar Lin sadar! kamu itu baru sebulan aja tunangan" ucap Dara mengingatkan Linda mengerutkan keningnya lalu menepuk keningnya pelan "Lhaa iya anjir lupa aku hahaa" tawa nya lagi sampai tidak bisa untuk berhenti "Ihh tau tau ahh kamu udah gila kali Lin" ujar Dara lalu belok ke arah toilet sembari masih tersenyum Linda hanya tersenyum "Haha gak papa di sebut gila yang penting bisa bikin orang ketawa malah sampe mau pipis haha" ujar Linda "Udah sana pergi Lin! kamu ada pasien yang harus di rawat kan" usir Dara yang sudah ada di toilet Linda lalu mengangguk angguk "Heem nih hampir aja lupa lagi, ya udah aku pergi yaa Dar byee" ujar Linda lalu melambaikan tangan nya refleks "Iyaa byee" jawab Dara segera cepat ***** Baskara bangun dari duduknya dan membawa mangkuk yang sudah kosong, jelas Raina makan cukup kenyang karena menghabiskan semuanya. "Bagus kamu makan nya banyak banget, adek abang yang pinter" senyum Baskara Raina sedikit tersenyum "Abang udah sarapan belum? abang segera cari makan yaa" gerutu Raina nampak khawatir "Iya iya abang abis ini mau cari makan yaa, kamu tunggu di sini sama perawat Dara aja yaa" jelas Baskara Raina lalu mengangguk pelan "Iya bang, meski pun engga di temenin gak papa kok. Raina mau nunggu abang aja ya" jelas dia lagi "Hmm iya Raina, kalau gitu abang keluar dulu yaa siapa tau ketemu sama Dara dan abang mau nitipin kamu ke dia. Abang agak lapar soalnya nih" ucap Baskara "Iyaa bang cepet gih! jangan sampe lemes karena belum makan" tambah Raina Baskara pun mengangguk "Oke, abang pergi yaa tunggu aja ya Raina abang engga lama kok sambil mau ganti baju juga abang" jelas Baskara lagi "Oke bang" jawab Raina cepat "Oke byee" ujar Baskara tersenyum lalu pergi dari ruangan Raina "Byee" jawab Raina cepat Baskara pun melangkahkan kakinya dan melihat ke sekeliling mencari apakah Dara ada di suatu tempat di sekitarnya namun nampaknya Dara tidak ada di sana. Baskara sejak kemarin sore belum makan makanya sekarang dia merasa badanya agak lemas. Saat hendak keluar dari rumah sakit Baskara lalu melihat Dara yang baru saja hendak masuk ke rumah sakit. "Eh perawat Dara" ujar Baskara menyapanya Dara langsung menatap ke arah Baskara dengan senyuman kaku "Hm ehh, iya ada apa?" tanya dia "Aku mau keluar dulu, mau cari makan sama beli beberapa baju untuk ganti aku sama Raina. Boleh kan aku titipin Raina ke kamu dulu? apa kamu engga lagi sibuk?" ujar Baskara tersenyum padanya Dara pun segera mengangguk dan tersenyum "Oke oke, aku pasti jagain kok iya kamu keluar aja tenang ada aku ya" jelas Dara lagi tersenyum manis padanya "Hmm oke makasih ya Dara aku jadi tenang kalau Raina di jagain sama kamu, aku pergi dulu kalau gitu" gerutu Baskara lagi lalu hendak pergi Dara tersenyum "Oke Baskara" jawabnya lalu menatapi kepergian Baskara "Gila sih siapa juga yang mau nolak dia, ganteng banget ihhhh" gerutu Dara dalam hatinya yang kian meronta ronta Dara lalu kembali masuk ke rumah sakit dan segera ke ruangan Raina untuk menemaninya. Raina lalu tersenyum setelah ke datangan Dara. "Mba Dara, udah ketemu sama bang Baskara?" tanya Raina Dara lalu mengangguk dan duduk di kursi di samping Raina "Iya barusan aku ketemu, dia katanya mau cari makan sama beli beberapa baju dulu" jelas Dara sembari tersenyum Raina pun mengangguk dan tersenyum "Hmm iya mba, maaf yaa aku malah ngerepotin mba Dara mulu" gerutu Raina dengan tatapan sendu "Ih ngerepotin apaan mba Raina, ini udah jadi tugas aku kerjaan aku. Udah yaa jangan mikirin itu lagi" senyum Dara pada nya Raina tersenyum semakin tulus "Andai aja mba Dara jadi pacarnya bang Baskara pasti kalian cocok banget, sama sama baik dan pengertian juga penyayang sama semua orang. kalian bakal cocok banget deh" gerutu dia "Pacar? aku belum mikirin soal pacar pacaran sih mba Raina, tapi gak tau kalau ke depan nya hehe lagian kan aku sama Baskara itu cuma di pertemukan karena kamu dan karena kebetulan" gerutu Dara sembari menggaruk kepala belakangnya "Engga mikirin soal pacaran, tapi kalau Baskara yang tembak gak tau deh hehe" ujar Dara dalam hati nya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN