Raina menatapi Dara dengan seksama, dia melihat betul senyuman dari wajah Dara jelas berbeda dengan sebelumnya. "Ini baru yang namanya cinta bang, ahh bang Baskara masih aja mengabaikan ciri ciri cinta" senyum Raina dalam hatinya
"Masih fokus sama kerjaan nya ya mba" tambah Raina pada Dara
Dara lalu mengangguk "Yap betul" jawab nya dengan begitu cepat
"Eh mba Raina bentar dulu yaa, saya mau ambilin perban baru untuk mba Raina. Gak papa saya di tinggalin sebentar?" ucap Dara pada nya
Dia segera mengangguk "Iya mba Dara" jawabnya
Dara pun pergi dengan senyuman pada Raina hendak membawa perban baru untuk nya. Raina pun mencoba untuk menutup matanya dan tidur sebentar. Rasa perih di permukaan kulitnya masih dia rasakan, apa lagi sakit di area kaki yang sempat tertimpa tiang besi rasa sakitnya jauh lebih membuatnya tidak tahan.
Dara berjalan dengan senyuman di wajahnya yang kian merekah, berbeda dengan hari hari sebelumnya Dara kini menjadi agak ceria. Begitu lah yang orang orang lihat. Dara gadis berambut pendek dengan kacamata yang menambah kecantikan nya itu jelas di sukai banyak pria, termasuk beberapa dokter dan juga perawat di sana. Namun siapa sangka Dara selalu mengabaikan nya, dengan mengatakan sangat blak blakan bahwa mereka bukan lah tipe lelaki idaman nya.
"Kok aura lain dari diri aku seakan semakin memancar aja yas? aura positive ini mungkin kah karena kedatangan Mba Raina dan Baskara yang tiba tiba masuk ke kehidupan aku? hah memang benar pepatah orang tua bergaulah dengan orang orang baik dan dengan orang orang positive maka dari itu kamu pun akan terbawa. Benar! aahhh sialan kok aku malah membicarakan itu" gerutu Dara pelan masih berjalan melewati lorong untuk memasuki ruangan penyimpanan
Dara pun masuk ke dalam ruangan setelah dia sampai di sana, ternyata di dalam ada cukup banyak orang. Seperti para perawat Linda, Agnes, Julian dan juga dua dokter di sana. Mereka lalu tersenyum menatapi ke datangan Dara yang jelas sekali mereka lihat Dara sekarang jauh lebih b*******h.
"Eh Dara?" sapa semua
Linda lalu tersenyum seakan kembali untuk mencoba menggodanya "Perlu apa nih yang lagi berbunga bunga?" gerutu Linda lalu di ikuti senyuman dari rekan rekan lainnya
"Hmm berbunga bunga apaan Lin ih, aku mau ambil perban baru buat pasien" jelas Dara sedikit tersenyum kaku pada mereka
Linda yang masih tersenyum lalu mengangguk angguk "Ini di sini" ujarnya
"Ayo Dara sini" ajak Agnes
Salah satu dokter itu tersenyum padanya, dia adalah Dokter Dion yang dulu sempat memiliki rasa spesial pada Dara. "Dara ini.." ujarnya lalu menunjuk ke perban perban di dalam lemari
"Hmm oke" angguk Dara kaku lalu berjalan ke arahnya dia pun membawa beberapa perban
*******
Sementara itu Baskara nampak ke atm untuk membawa beberapa uang yang sudah dia tabung di bank setelah tadi dia sudah kenyang makan di salah satu pedagang kaki lima. Jumlah tabungannya cukup banyak hingga dia mampu untuk membeli sebuah sepeda motor berukuran besar supaya dia lebih mudah untuk pergi kemana mana, mungkin saat dia kembali ke markas dia juga akan lebih mudah karena kendaraannya yang dulu jelas sudah hangus dan tak bisa di gunakan lagi. Setelah itu dia segera bergegas ke toko pakaian dan membeli beberapa pakaian untuknya dan untuk Raina nanti. Untuk sisa uang tabungannya dia berniat nanti Raina gunakan jika dia sudah sembuh dan bisa mengontrak untuk sementara. Jelas biaya pembangunan ulang akan jauh lebih banyak dan memakan waktu yang cukup lama.
"Ahh semuanya kayaknya udah beres" gerutu Baskara lalu keluar dari toko pakaian dengan dirinya yang sudah bersih dan memakai kaos putih oblong polos dan celana pendek berwarna hitam. Nampak membuatnya tidak terlihat seperti tentara dan lebih mirip model majalah.
Baskara keluar dari toko dengan membawa beberapa paper bag hasil belanjaannya. Baskara lalu menyimpannya di motornya.
"Aku harus ke makam ibu sama bapak dulu" angguk Baskara dengan sorot mata yang sendu
"Setelah itu aku harus ke kantor polisi dan mengungkap beberapa fakta yang sempat Raina lihat" jelasnya lagi lalu segera menyalakan motornya
******
Ruangan mewah dengan nuansa abu dan putih, tepatnya di ruangan kerja seorang lelaki tampan, berrahang kokoh dan yang paling berkuasa di perusahaannya. Dia nampak sedang memainkan sebuah dadu di tangannya dengan tatapan mata yang kosong.
"Puluhan.. rumah, orang hangus.." gerutu dia perlahan seakan berbisik pada dirinya sendiri
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya, namun hal itu tak membuat dia terusik. "Masuk" jawabnya masih dengan tatapan yang sama dan tangannya yang masih memainkan dadu
Pintu ruangannya pun terbuka jelas menampilkan sosok seorang pria tua berjas lengkap dengan dasinya nampak tersenyum padanya, pria tua itu tak sendirian dia bersama dengan ke dua penjaganya. Si penguasa itu lantas tersenyum sangat tipis saat menatapi tamu nya yang baru datang.
"Hello.. bapak gubernur, mari masuk!" ajaknya
Pria tua yang di sebut dengan gubernur itu pun lalu tersenyum mengangguk dan berjalan ke arahnya. "Lama tak bertemu" sapa dia lalu duduk di hadapan penguasa itu
Ke dua body guard dari gubernur itu langsung menutup pintu ruangan dengan rapat supaya tidak ada orang yang bisa masuk. "Ya, lama sekali. Tepatnya setelah pertemuan terakhir tentang rencana hebat kita. Dan ya! rencana kita sudah berhasil sekarang dan kita di pertemukan lagi" gerutu si penguasa muda di perusahaannya itu
"Hmm betul, tolong jangan terlalu membahas rinci hal itu. Jangan sampai ada orang yang mendengarnya" bisik pak gubernur padanya
Si penguasa muda itu lantas tersenyum "Yap, kau kesini untuk meminta jatahmu kan! langsung saja katakan berapa yang kau minta, jangan berbasa basi padaku" gerutu dia pedas
"Hmm kalau untuk jumlahnya, itu terserah anda" ujar dia senyum senyum tidak jelas saat si penguasa mulai merogoh sakunya
si penguasa menatapi nya tajam "Berkat bantuan mu, saya jadi bisa menguasai tanah itu dengan harga murah! ya meskipun akan menghadapi beberapa kesulitan saat beberapa masyarakat tidak waras akan menolaknya. Tapi saya yakin sebagian besar dari mereka jelas akan menyetujui tawaran saya di keadaan yang miskin seperti itu haha" ujar dia
"Ya pak, saya sebagai gubernur juga tidak akan tinggal diam. Saya akan merekomendasikan pada masyarakat bahwa bapak sangat layak menjadi pembeli tanah hangus itu" jelas gubernur itu mencoba merayu si penguasa supaya di beri imbalan besar
Si penguasa itu sedikit tersenyum lalu mulai menulis check untuk gubernur yang haus akan uang. Tak lama dia lalu menyobek check itu dan memberikannya padanya. "Dua miliar, cukup?" tanya si penguasa datar
Gubernur yang sudah berusia lanjut itu lalu segera mengangguk angguk sembari tersenyum puas menatapi urutan nomor yang berjajar di check itu. "Terima kasih pak, senang sekali berbisnis dengan anda" ujar dia segera
"Berbisnis? hah" gerutu si penguasa muda itu sembari tersenyum tipis
"Lebih tepatnya pembunuhan berantai" tambah dia lalu tersenyum puas menatapi gubernur itu, senyuman gubernur itu perlahan pudar dia merasa takut saat melihat si penguasa muda yang justru terlihat seperti psiko.
******
Raina masih berada di ruangannya dengan menutup mata mencoba untuk tertidur namun dia sangat kesulitan. Terkadang bayangan ayah dan ibunya terus mengganggu pikirannya, terlintas kesedihan yang kian mendalam juga dia rasakan. Namun mau bagaimana pun dia tidak boleh terlalu bersedih apa lagi hal itu hanya bisa membuat Abangnya semakin merasa bersalah atas semua kejadian mengerikan yang jelas bukan salahnya.
Raina lalu membuang nafasnya begitu berat, ia juga memikirkan dimana Evan berada. Kekasihnya yang biasanya paling perhatian dan pengertian padanya. Evan yang selalu mengingat Raina di saat apa pun tapi masih belum mencarinya mau pun menemuinya sampai saat ini.
"Sebenarnya kamu di mana Evan" gerutu dia dalam hatinya dengan tatapan sendu
Pikirannya mulai terganggu, dia semakin takut dengan pikirannya yang kian ke sana kemari. "Aku yakin kok Evan engga kenapa napa, aku yakin bentar lagi dia akan menemui aku" lirih dia lagi dalam hatinya
Tiba tiba tirai ruangannya Raina terbuka, Raina lantas tersenyum karena berpikir Dara lah yang datang padanya. Namun seketika senyumannya memudar saat dia melihat ibu Eva yang merupakan ibunda Evan kekasihnya kini berada di sana dengan tatapan penuh kebencian pada nya. Raina mematung beberapa saat. "Ibu Eva?" lirih dia pelan
"Ya! ini ibu Eva! ibunya Evan kekasih kamu yang telah mengorbankan hidupnya!" tegas ibu Eva lantang di hadapan Raina
Raina terdiam berusaha untuk mencerna ucapan yang baru saja bu Eva lontarkan. "Tu- tunggu maksud ibu?" lirih Raina pelan dengan tatapan sendu dan perasaan yang mulai tidak enak
"Apa maksud ibu? kamu udah gila Raina? kamu engga sadar apa yang saya katakan? apa kamu sampai saat ini engga bertanya kemana Evan??" teriak bu Eva lagi sembari mendekat ke arah Raina dengan sorot mata marah yang sudah ingin dia lakukan sejak tadi, padahal Raina jelas terbaring di sana dengan balutan perban di tubuhnya.
Suara keras bu Eva membuat semua yang ada di luar ruangan Raina sedikit melihat ke dalam karena tirai nya terbuka. "Aduh ada apa tuh"
"Kenapa tuh ibu ibu marah marah, udah tau gadis itu sakit"
"Gak berperi kemanusiaan banget"
Gerutu orang orang pelan "Dari kemarin saya juga cari Evan dan bertanya tanya Evan kemana dan di mana, Evan baik baik aja kan bu? saya juga khawatir banget sama Evan" lirih Raina dengan mata yang mulai berkaca kaca karena perasaan buruknya yang kian memenuhi isi pikirannya
"Baik baik aja kamu pikir hah? malam itu Evan berlari ke rumah kamu, rumah yang jelas jelas sudah di lalap api! dia berniat untuk selamatkan kamu tapi tiang besar dari rumah lain menimpanya dan membuatnya kehilangan nyawanya! semua berawal karena dia kehilangan akal karena dengan kekeuh mau tolongin kamu! Cinta membuat dia bodoh dan tidak tahu mana yang harus di lakukan dan mana yang jelas jelas tidak perlu untuk di lakukan! Evan sudah mati! puas kamu Raina hah?" teriak bu Eva semakin lantang dengan urat urat di kepalanya yang menyembul akibat amarah yang tak terbendung lagi
Raina seakan tersambar petir berkali kali, sosok lelaki yang selama ini dia tunggu rupanya juga telah meninggalkannya. Sama seperti bapak dan ibunya. d**a Raina semakin sesak dengan air mata yang mulai bercucuran. Raina kembali menatapi bu Eva dengan seksama.
"Ibu serius? Evan? engga mungkin bu, Evan pasti masih hidup! Evan pasti baik baik aja. Sejak kemarin Raina udah nungguin Evan untuk kemari, tapi kenapa?? kenapa Evan juga ninggalin Raina. Ibu, Bapak, sekarang Evan! kenapa???" gerutu Raina dengan isakan tangis yang semakin dalam dan membuat siapa pun di sana ikut tersentuh dengannya
Bu Eva justru tersenyum "Sudah saya bilang, dia bodoh! bodoh karena di butakan oleh cinta! bodoh karena mau mengorbankan nyawanya demi perempuan yang jelas jelas kini cacat di sini! Kamu udah meracuni pikiran anak saya Raina! seharusnya dari dulu saya tidak mengijinkan hubungan kalian ada! saya menyesal karena sudah mengijinkan anak saya pacaran sama kamu!" teriak Eva semakin lantang tanpa memperdulikan tentang trauma yang Raina alami