Tantangan baru Baskara..

714 Kata
Raina semakin terisak dengan d**a yang semakin sesak, rupanya orang orang di sana pun tidak tinggal diam dan mencoba untuk menegur ibu ibu itu. Salah seorang ibu ibu berdaster ikut masuk ke ruangan Raina dan menatapi bu Eva tak habis pikir. "Hentikan bu! memang nya ibu bisa mengubah takdir apa? ini semua udah di takdirkan tuhan! ibu engga bisa menyalahkan gadis ini yang jelas dia tidak tahu apa apa. Sekarang sebaiknya ibu pergi dari rumah sakit ini, ibu hanya bisa mengganggu pasien lain yang sedang beristirahat!" jelas dia dengan tatapan marah pada bu Eva Raina hanya terdiam dengan perasaan yang masih sama sama hancur, Bu Eva lalu menatapi ibu ibu yang nyolot dan menatapinya dengan sinis. "Situ emang tau apa soal semuanya? emangnya situ tau apa yang saya alami? anda engga tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak akibat salah memilih cintanya. Jadi jangan pernah ikut campur soal masalah ini kalau anda sendiri belum pernah merasakan apa yang saya rasakan sebagai seorang ibu" teriak bu Eva marah menatapi ibu ibu yang menurutnya rempong itu Si ibu itu tidak terima dan mendekati bu Eva dengan cepat dan tiba tiba menyerang rambutnya "Jangan sembarangan kalau bicara! sekalipun saya tidak pernah merasakan itu, setidaknya kamu jangan seenaknya nyalahin emba ini! emangnya salah dia kalau anak kamu cinta banget sama dia sampe bener bener rela buat mati" teriak dia sembari menarik rambut bu Eva Tangisan Raina seakan perlahan pudar karena justru melihat pertengkaran ke dua ibu ibu itu. "Tolong jangan bertengkar" lirih Raina dengan ketakutan Orang orang di sana pun langsung memisahkan mereka berdua yang justru terlibat pertengkaran. "Berani sekali kamu jambak rambut saya hahh! dasar engga tau diri" teriak bu Eva dengan kekuatan yang sepenuhnya dia gunakan Pertengkaran antara dua wanita paruh baya itu pun masih berlangsung dramatis dengan ke duanya yang sama sama menjambak cukup keras. "Tolong pisahin" lirih Raina masih dengan air mata di pipinya "Iyaa kamu jangan khawatir kita akan coba pisahkan kok" gerutu si bapa bapa yang nampak kesulitan saat memisahkan ke duanya itu Dara sudah selesai membawa perbannya dia lantas segera bergegas untuk menuju kembali ke ruangan Raina. Tiba tiba suara teriakan terasa semakin jelas ketika dia semakin mendekat ke ruangan Raina. Dia lalu segera masuk dan terkejut saat melihat ibu ibu yang tengah dalam perkelahian di ruangan Raina. "Apa apaan ini hah?" teriak Dara marah dan membuat mereka refleks berhenti saling jambak Dara lalu menatapi Raina yang nampak tertekan dengan air mata di pipinya. "Mba Raina kamu kenapa?" gerutu Dara yang langsung mendekat ke arah nya ****** Baskara kini berada di pemakaman ke dua orang tuanya. Perasaannya berkecamuk seakan hancur namun tak selayaknya dia terus seperti itu, batu Nisan bertuliskan nama bapak dan ibunya semakin membuat perasaan nya hancur. "Pak, Bu, maafin Baskara ya karena selama ini Baskara masih belum bisa memberikan apa pun sama kalian. Baskara juga engga bisa menyelamatkan nyawa kalian, maafin Baskara yaa" lirih dia dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca Baskara lalu mengingat adiknya yang nampak tegar dan di luar dugaan nya "Tapi pak bu, kalian engga usah khawatir soal Raina. dia ternyata perempuan kuat yang menerima kenyataan. Dia juga takut kalau Baskara merasa bersalah atas semua ini, tapi pak bu dia mengatakan kalau dia melihat beberapa orang saat itu. Baskara jadi tergerak untuk ingin mencari tahu siapa mereka dan apa benar dugaan Raina. Jika memang benar mencurigakan, Baskara akan menyelidiki semuanya sampai tuntas yaa. Baskara janji" lirih dia dengan sendu "Semoga bapak dan ibu tenang di sana yaa" lirih dia lagi lalu bangun dari duduknya di tanah dan tersenyum Baskara lalu hendak pergi dengan perasaan lega setelah dia mampu mengatakan semuanya di depan makam ayah dan ibunya. "Semoga aku sama Raina terus menjadi remaja yang semakin kuat ya. Meski pun tanpa kalian" lirih Baskara dalam hatinya "Meski kami berdua sendiri tahu, kami sangat tidak bisa tanpa kalian" ujarnya lagi langkah Baskara tiba tiba terhenti saat melihat batu Nisan baru yang bertuliskan nama seorang yang tidak bisa dia duga duga, bahkan saat melihatnya dia sangat tidak percaya. Baskara membelalak kaget. "Apa ini? engga mungkin! engga!" gerutu dia lalu mendekat untuk melihat lebih jelas tulisan apa itu Evan bin Natan Tulisannya terlihat semakin jelas membuat Baskara seakan harus menghadapi masalah baru yang akan lebih sulit dia hadapi. "Ya tuhan bagaimana ini" gerutu Baskara pelan lalu terjatuh ke tanah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN