"Kenapa sekarang malah Evan?" Gerutu Baskara dengan tatapan tidak percaya lalu kembali menatapi batu nisan bertuliskan nama Evan dan ayahnya itu
Baskara menunduk dengan perasaan yang kembali tidak enak, bagaimana dia akan menelaskan pada adiknya tentang kematian kekasihnya yang selama ini sudsh dia tunggu tunggu.
"Bagaimana aku menceritakannya ke Raina? apa mungkin aku berpura pura tidak tahu saja sampai dia sembuh? aku harus apa sekarang, bagaimana ini? kenapa harus datang lagi masalah baru ya tuhann." lirih Baskara dengan suara pelan
Baskara memegangi batu nisan itu dengan lembut "Apa yang terjadi padamu Evan?" lirihnya dengan tatapan penuh kesedihan di sorot matanya
"Kenapa kamu meninggalkan Raina dengan semudah ini Evan? apa kamu tidak tahu? kami kehilangan bapak dan ibu, dan sekarang Raina harus di hadapkan oleh kematian mu. Bagaimana aku menghadapi kesedihan Raina lagi, bagaimana aku menjelaskannya pada dia Evan? kenapa?? aku harus bagaimana?." tanya Baskara lagi semakin terisak
Ia lalu menghapus air matanya setelah cukup puas menangis, dia lalu bangun dari duduknya di tanah dan kembali untuk pulang dari pemakaman baru itu.
"Bagaimana pun juga caranya, aku harus menjelaskan semua nya pada Raina. Cepat atau lambat pada akhirnya dia akan tahu semuanya" gerutu Baskara lalu menaiki motornya
Baskara lalu menyalakan motornya dan mulai mengendarainya, tatapan mata sendunya perlahan hilang setelah dia kembali mengingat ucapan dari Raina. Di mana dia sendiri menyaksikan bahwa ada orang orang yang mencurigakan tepat di malam itu. Bayangan orang orang baik yang telah meninggal seketika terlintas di benak Baskara, terutama ke dua orang tuanya dan juga Evan. Rasanya darah Baskara semakin mendidih untuk mencari tahu siapa kah pelaku utama yang telah membuat kampungnya hancur, dalang dari semua ini mau bagaimana pun caranya harus dia temukan, secepatnya.
"Seperti yang aku katakan pada Raina, aku tetap harus ke kantor polisi dulu. Aku harus segera mencari tahu siapa dalang dari semua ini" angguk Baskara dengan tatapan serius menatap jalanan
Hingga akhirnya Baskara pun sampai di depan kantor polisi, di mana banyak sekali polisi yang berlalu lalang dan ada juga beberapa warga yang sanak saudaranya meninggal akibat kasus kebakaran itu mereka rupanya juga melaporkan kasus yang sama di mana mereka menyaksikan orang orang asing yang menyelinap ke kampung mereka di malam hari.
"Pak tapi saya jelas jelas lihat meskipun hanya melihat dua orang yang berpakaian hitam, awalnya saya pikir itu remaja remaja kampung kami sehingga saya mengabaikannya tapi setelah kejadian ini saya rasa ini ada kaitannya dengan kebakaran nya. Saya mohon selidiki kasus ini pak saya mohon yaa" ujar ibu ibu yang mengenakan daster lusuh itu dengan tangisan di matanya
Polisi itu lalu tersenyum dengan tatapan tidak percaya "Ayo lah bu, jangan membuat cerita bohong seperti ini. Kasus seperti ini itu memang harus di terima dengan lapang d**a dan soal orang orang yang melewat itu pasti tidak ada kaitannya dengan kejadian ini, itu bisa jadi halusinasi seseorang setelah mengalami trauma berat seperti ibu." jelas polisi itu menatapi ibu ibu yang melapor
"Apa ini? jadi bukan hanya Raina yang tahu tentang semua ini? mereka juga melihat orang orang berpakaian hitam itu? Berarti ini semua memang harus di selidiki, tapi kenapa polisi polisi itu malah menolak mereka. Apa ini?" gerutu Baskara dalam hatinya setelah melihat pemandangan aneh yang tak sepatutnya terjadi
Beberapa korban yang berdiri di samping ibu ibu itu lalu tidak terima dengan ucapan dari sang polisi "Apa maksud bapak berhalusinasi? jelas istri saya yang lihat pak! bapak tau? anak kami jadi korbannya. Mana mungkin kami menyepelekan kasus ini dan melaporkan tentang halusinasi istri saya. Anda pikir kami bodoh pak?" teriak suami dari si ibu ibu itu tampak tidak terima dengan perkataan si polisi
"Iya mana ada sopan santunnya anda sebagai polisi berani mengatakan kalau dia berhalusinasi" teriak ibu ibu lainnya dengan mata yang memelotot
Para polisi itu pun nampak kewalahan dengan teriakan teriakan dari warga yang melapor. Namun Baskara mengabaikan mereka dan masuk ke dalam kantor polisi mencoba untuk meyakinkan polisi lain yang ada di dalam terlebih lagi dia adalah seorang tentara yang kemungkinan kesaksian adiknya bisa mereka terima dan selidiki.
Baskara lalu masuk ke dalam kantor dan mulai menemui polisi yang duduk di meja itu. Baskara duduk di hadapan nya dan menyapanya dengan senyuman hangat. "Permisi pak, selamat siang" sapa Baskara dengan begitu ramah
Pak polisi yang sedang sibuk menulis di berkas berkasnya itu menatap Baskara dengan sudut matanya "Ya, selamat pagi. Dengan siapa dan perlu apa?" tanya polisi itu dengan nada suara yang datar dan nampak tidak peduli
"Hmm setelah mendengar reaksi dia kok aku jadi engga enak ya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya" gerutu Baskara dalam hatinya menatapi pak polisi itu dengan tatapan curiga
"Saya Baskara Bisma Prakasa dari tentara kemiliteran, saya tinggal di kampung yang terjadi kebakaran besar itu dan di malam itu keluarga saya menjadi korban. Ayah dan ibu saya meninggal dan sekarang adik saya berada di rumah sakit dengan luka dan trauma berat" jelas Baskara sembari menyodorkan kartu identitas kemilitiren nya
Polisi itu lantas terkejut saat mendengar Baskara berasal dari tentara kemiliteran, dia langsung menatapi identitas Baskara dengan seksama. Betapa semakin terkejut nya dia setelah membaca apa jabatannya. "Sial, ini gimana nih. Kayaknya saya harus chat dulu atasan soal hal ini. Karena jika sedikit saja saya salah berbicara saya bisa ketauan" gerutu polisi itu dalam hatinya dengan tatapan takut setelah melihat kartu Baskara
"Hmm dari tentara militer, ada perlu apa?" tanya dia mencoba untuk sedikit lebih santai saat menatap Baskara
Namun Baskara melihat dengan jelas reaksi dari polisi itu benar benar menganggunya dan membuatnya curiga. "Pertama para warga yang melapor tentang melihat orang orang berpakaian hitam di malam itu mereka menolak laporan dan menyebutnya hanya halusinasi. Dan sekarang kenapa tingkah polisi ini sangat mencurigakan" gerutu Baskara dalam hatinya, namun dia membuang pikiran itu dulu dan kembali untuk mencoba melapor
Baskara menarik nafasnya dan masih menatapi polisi itu dengan serius "Adik saya yang merupakan korban dari kebakaran itu mengatakan dia menyaksikan sendiri tepat sebelum kebakaran itu berlangsung, dia melihat orang orang berpakaian hitam yang bolak balik area perumahan kami. Saya saat itu tidak ada di rumah karena masih bertugas di markas. Tolong selidiki kasus ini sampai benar benar tuntas, setelah saya ke sini saya baru sadar ternyata bukan hanya adik saya yang menyaksikan orang orang mencurigakan itu. Para warga yang melapor di luar kantor pun nampak melaporkan hal yang sama" jelas Baskara dengan penuh tekanan di setiap katanya
Polisi itu sedikit berpikir ketika Baskara selesai melaporkan hal tersebut, dia lalu menarik nafasnya berat. "Tunggu soal kasus itu, kami menganggap orang orang yang menjadi korban hanya berhalusinasi karena efek trauma yang berat. Tapi saya sebagai polisi di sini saya akan coba untuk melaporkan ke atasan dulu terkait hal ini, karena jika saya sembarangan membuat laporan saya bisa di hukum karena menurut saya pun laporan ini bisa di sebut juga sebagai anda dari kemiliteran yang telah mencurigai pihak pemerintah mau pun kepolisian. Karena pihak kami lah yang menyatakan kebakaran itu dari korsleting listrik" jelas polisi itu dengan serius
"Tunggu tunggu tapi kenapa saya malah di tuduh menuduh Pemerintah dan pihak polisi ya? di sini saya cuma mau melaporkan kesaksian tentang adik saya dan anda sebagai polisi yang seharusnya merangkul masyakarat anda harus menyelidiki kasus ini bukan malah menyebut kami berhalusinasi. Jika memang dari pihak kami berhalusinasi kenapa halusinasi semua korban sama? apa itu juga hal yang biasa nya terjadi seperti itu?" tegas Baskara dengan raut wajah marah tak terima dengan semua ucapan polisi yang seakan akan mempermainkan hukum negara