Polisi itu nampak takut melihat reaksi Baskara yang di luar dugaan, dia kebingungan dan perlahan meraih ponsel di samping mejanya. "Tolong tenang pak! anda tidak bisa berteriak teriak tidak sopan begitu di kantor polisi, sekali pun anda itu tentara! itu tidak bisa menjadikan alasan supaya anda bisa seenak nya di sini" jelas polisi itu mencoba untuk seberani mungkin meski pun di balik rasa takut di wajahnya
"Saya mengatakan itu untuk menegakan keadilan, opini dari adik saya mau pun Masyarakat lain tentunya harus di dengar kan oleh pihak kepolisian karena memang itu yang harusnya di lakukan polisi sebagai pengayom dan pelindung Masyarakat!" jelas Baskara dengan tatapan serius pada polisi itu
Polisi itu semakin panik dengan pikiran yang mulai buntu "Sialan, gue malah ngehadapin tentara model gini. Sulit nih pastinya ngehadapin nya, ya mau gak mau gue harus telpon dulu atasan" gerutu Polisi itu lagi dalam hatinya
Dia lalu mengambil ponselnya dan hendak bangun dari tempat duduknya "Sebentar, saya mau telpon atasan dulu soal masalah ini" jelas dia lalu berlalu pergi
"Hah?" gerutu Baskara dengan tatapan bingung saat menatapi kepergian polisi itu
Baskara lalu mencoba mengabaikan nya dengan meraih ponsel di saku celananya. Dia lalu tertarik untuk menatapi log panggilan. Tatapan nya lantas tertuju pada nama kontak seseorang di mana dia menamainya dengan "Perawat Hero" Tanpa dia sadari raut wajahnya berubah menjadi senyum bahagia.
"Kenapa dia sangat mudah mengubah mood ku? kenapa aku ini! fokus Baskara fokus" ujar dia dalam hatinya lalu menatapi serius log panggilan itu
Ternyata baru dia sadari nomor sama dengan kontak yang dia lihat sejak tadi berada di urutan paling atas dengan tanda panggilan tidak terjawab. Baskara lalu memelotot dan bangun dari duduknya. "Dara telpon? kok aku engga denger nada deringnya sih? ya tuhan, lupa! aku kan silent in suaranya. Kenapa sih?" gerutu Baskara dalam hatinya dengan perasaan yang gundah
Polisi itu kembali setelah selesai menelpon dengan atasannya "Kami bisa proses laporannya setelah 7 hari persetujuan dari pemerintah, mohon kerja samanya ya pak! karena kami pun harus memenuhi peraturan pemerintah pusat" jelas dia dengan tatapan serius
"Setelah bertelponan dengan atasannya dia seakan langsung mendapat kekuatan dan perlindungan. Hah sialan, ulah kalian semakin jelas saja. Kesaksian Raina benar, dan dugaan aku mau pun Dara ternyata benar adanya. Hmm aku harus merencanakan sesuatu, tapi untuk sekarang lebih baik aku ikuti saja kemauan dia. Sampai nanti sudah waktunya 7 hari aku akan kembali lagi untuk mempertanyakan kasus ini. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan jika polisi polisi ini masih menghindari kasus yang aku ajukan" gerutu Baskara dalam hatinya
Baskara lalu mengangguk dan menatapi dia dengan tajam "Hmm oke, saya akan ke sini lagi setelah 7 hari" angguknya
"Baik terima kasih atas pengertiannya pak" angguk si polisi nampak lega dengan reaksi Baskara
"Saya permisi dulu" jawab Baskara segera lalu melangkahkan kakinya pergi dari kantor polisi
Polisi itu semakin lega setelah kepergian Baskara, dia lalu kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Pak dia sudah pergi, biar saya perjelas lagi namanya Baskara Bisma Prakasa. Apa dia bawahan anda?" ujar polisi itu serius
"Haha ya si Baskara, tentara yang menyebalkan dan kemarin kemarin dia minta ijin untuk pulang dengan paksa. Ini bisa jadi alasan kuat untuk aku juga bisa menyingkirkan Baskara dari kemiliteran" gerutu orang itu dalam telpon, lebih tepatnya dia adalah tentara atasan Baskara yang waktu itu sempat menyulitkan Baskara untuk pulang ke kampung halaman nya
"Oke pak, tolong urusi dia. Saya rasa dia berbeda dengan kalangan kita. Dia tidak mudah untuk di bayar meskipun triliunan dari pemerintah. Kita semua terlibat, gubernur, tentara cabang, polisi cabang. Jika sampai tentara yang bernama Baskara ini melaporkan kasus ini sampai ke pusat. Semuanya akan hancur pak, kita semua akan tertangkap! jadi saya mohon urusi Baskara yang merupakan bawahan bapak itu dengan sebaik mungkin" jelas polisi yang nampak ketakutan dengan suara yang cukup gemetar setelah menatapi Baskara dengan aura yang berbeda di wajahnya
Pria di telpon yang merupakan atasan nya Baskara itu lalu membuang nafasnya berat "Soal itu kayak nya sulit sih, tapi karena alasan tadi sudah aku katakan itu bisa mempermudah semuanya. Biar aku jelek jelekan Baskara ke atasan dengan berbagai hal misalnya, Baskara yang membangkan untuk ijin tanpa diberi ijin dan ke dua Baskara yang membuat opini buruk dan membawa nama adiknya yang koma lalu mengakak warga untuk memfitnah pemerintah cabang, polisi cabang dan organ organ di dalamnya. Begitu lah isi ajuan ku, kayak nya itu bisa menjadi hal kuat untuk Baskara di buang" jelas dia tersenyum puas
"Wow, sempurna pak! saya percaya sepenuhnya pada anda! akhiri jabatan Baskara sebelum dia merasa dirinya yang paling kuat karena dukungan dari warga lain yang juga sama sama merasa ada yang janggal dengan kejadian itu" angguk polisi itu dengan percaya penuh pada sekutunya
Tentara itu lalu kembali mengangguk "Oke serahkan saja semuanya pada ku! aku akan atasi masalah Baskara. Sudah ya" ujar dia untuk memutuskan hubungan telpon nya
"Oke, saya tutup" ujar dia lalu segera menutup sambungan telpon nya
*******
Dara yang mendengar teriakan teriakan dari ruangan Raina langsung berlari untuk semakin dekat ke dalam sana. Dia sangat panik dan gelisah dengan apa yang terjadi di ruangan Raina, padahal dia tidak cukup lama meninggalkan Raina.
"Mba Raina kenapa ya ya ampun" gerutunya semakin mempercepat laju berlarinya
Hingga dia pun sampai di ruangan Raina dengan pemandangannya yang membuat dia beberapa kali untuk berpikir. Ke dua ibu ibu berusia lanjut saling jambak menjambak tepat di hapadan tempat tidur Raina. Dara menatapi mereka marah "Hey ibu ibu! tolong hentikan ya! ini rumah sakit bukan tempat umum" ujar Dara lantang
Namun rupanya teriakan dari Dara tidak berbuah hasil, mereka masih saja saling jambak menjambak dengan teriakan teriakan lantang yang tidak terdengar begitu jelas. "Kami sudah berusaha untuk pisahkan mereka bu, tapi sulit sekali" jelas bapak bapak itu yang ada di samping ke dua ibu ibu yang saling jambak
"Oke saya sendiri yang harus bertindak!" ujar Dara lalu menyingsingkan lengan bajunya dan mulai membelah kerumunan mereka dengan sigap
Kini dia berdiri di antara ke dua ibu ibu yang saling jambak menjambak itu. Dengan tatapan datar Dara lalu menyiapkan tangannya dan memberinya sedikit pemanasan. Setelah itu pun dia langsung menarik kerah belakang baju ke duanya dengan kekuatan cepat dan penuh hingga membuat ke duanya terpisah dengan tangan yang di penuhi oleh rambut dari lawan masing masing. Dara lalu menjatuhkan ke duanya ke lantai dengan semudah itu. Hingga membuat semua orang yang ada di sana terpukau dengan aksi heroik Dara yang di luar dugaan. Tubuh perawat muda yang slim dan menjadi idaman semua orang itu rupanya menyimpan kekuatan besar di dalamnya. Dara yang merupakan perawat dengan fostur tubuh bagus layaknya model, dan berpenampilan menarik dengan rambut pendek dan kaca mata.
"Sialan, kenapa kamu berani beraninya tarik tarik saya?" teriak bu Eva yang menatapi Dara dengan tatapan sinis
Dara juga membalas sinis padanya "Situ kenapa buat masalah di sini? sebaiknya kalian pergi deh" teriak Dara lantang menatapi bu Eva
"Tau tuh bu perawat! dia nih dari tadi bikin masalah di ruangan nya si eneng ini dan bikin dia nangis dari tadi engga berenti. Udah tau kan si eneng ini sakit makanya di rawat di sini" teriak ibu ibu di samping bu Eva yang sejak tadi bergelut dengan nya
Dara terkejut dengan ucapan ibu ibu itu, dan refleks menatapi Raina yang nampak tengah menunduk dan terisak. "Mba Raina ya ampun kamu kenapa?" tanya Dara lalu segera berlari ke arahnya dengan tatapan khawatir
"Oh pantesan jadi kamu perawatnya dia?" sinis bu Eva lalu bangun dari lantai
Dan kembali mendekati ke arah Raina dan Dara "Mba Dara, E- evan pacar aku yang sudah aku tunggu dari kemarin dia meninggal" ujar Raina dengan tersedu sedu
"Apa?" sahut Dara dengan tatapan mata yang berkaca kaca
"Iya dia udah bunuh Evan! anak saya sendiri mati karena cinta butanya sama Raina! saya sudah larang hubungan mereka sejak awal tapi entah apa yang merasuki Evan hingga dia sangat tergila gila sama Raina cewek yang sekarang cacat ini! Saya nyesel dulu engga melarang keras Evan buat pacaran sama kamu! kamu pasti udah guna gunain anak saya ya" teriak bu Eva dengan menunjuk nunjuk Raina dan amarah yang kian menjadi
"Hentikan!" teriak Dara marah menatapi bu Eva itu "Bu! anda jelas sudah menggangguk ketenangan di rumah sakit ini ya! saya mohon pergi dari sini! atau saya panggil satpam, bila perlu saya juga bisa panggil polisi" tambah Dara lagi semakin lantang
Semua orang yang ada di ruangan Raina lalu segera memegangi tangan Eva dan menyeretnya untuk keluar. "Gak papa bu biar kami yang atasi wanita gila ini" ujar bapak bapak itu
"Iya bu! kita seret aja kita keluar ayo" ajak ibu ibu lainnya
Dara membuang nafasnya lega lalu mengangguk "Terima kasih semuanya" angguknya
"Awas kamu Raina! saya engga terima dengan semua ini! saya engga terima atas kematian anak saya Evan, ini semua salah kamu! tunggu tuntutan dari saya, bahkan saya bisa menuntuk kamu ke polisi" teriak bu Eva sembari dengan suara yang perlahan menjauh dari ruangan Raina dan Dara
Dara lalu kembali membuang nafasnya begitu berat, dan dengan berat hati dia menatapi Raina yang masih terisak dengan mata lembab. Air matanya membuat perban nya basah. "Mbak Raina jangan menangis, bersabarlah ini ujian mba" ujar Dara dengan suara lirih
"Gimana aku bisa sabar mba? Evan meninggalkan aku begitu saja! dan ibunya datang datang malah menyalahkan aku untuk semuanya padahal aku engga tahu tentang kematian Evan dan apa yang terjadi padanya" lirih Raina lagi
Dara mencoba untuk menenangkan nya dan memegangi tangannya lembut "Mba Raina, jangan berlarut dalam kesedihan. Keluarkan semuanya sekarang mba, keluarkan" lirih Dara dengan mata yang sudah berkaca kaca
"Tapi mba Dara, kami berniat untuk bertunangan dua bulan lagi. Kenapa Evan juga malah meninggalkan aku? bapak, ibu dan sekarang Evan! mereka semua kehidupan penting di hidup ku" gerutu Raina sesenggukan
Dara semakin merasakan juga rasa sakitnya "Ya tuhan, apa lagi ini. Cobaan apa lagi ini. Setelah semua yang mereka hadapi, tahap demi tahap cobaan ini kian menambah. Dampak kebakaran ini jelas sangat membuat rakyat menderita" gerutu Dara dalam hati nya
"Mba Raina sabar mba, sekali lagi sekali lagi kita engga bisa menentukan apa yang kita inginkan. Apa yang kita harapkan. Semuanya sesuai dengan garis takdir tuhan mba, sabar ya mba" lirih Dara lagi menatapi Raina dengan tatapan sendu
Raina menunduk dengan tangisan yang masih begitu mendalam. Dara lalu berinisiatip untuk menelpon Baskara supaya lenih cepat pulang dan membuat Raina tenang. Karena dengan Basksara, semua kesedihan Raina selalu hilang dengan sekejap.
"Mba Raina sebentar ya, saya coba hubungi pak Baskara supaya cepat pulang. Saya engga tega melihat mba sedih terus begini" lirih Dara lalu bangun dari duduknya
Raina hanya mengangguk dengan tangisan yang masih begitu dalam dia rasakan.