Dara pun keluar dari ruangan Raina untuk menelpon Baskara. "Keadaan bisa membuat mba Raina kembali drop, aku engga mau hal itu terjadi. Semoga Baskara angkat telpon nya" gerutu Dara dalam hatinya dan langsung menatapi ponselnya
Dia mencari nama Tentara Baskara yang nomor telponnya dia simpan di kontaknya. Dara langsung menelponnya dan menunggu Baskara untuk mengangkatnya. Sambungan telpon terdengar nyaring beberapa detik, hingga di detik terakhir Baskara masih belum mengangkat telponnya. Dara lalu menatapi ponselnya heran "Kenapa dia engga angkat telpon nya yaa? dia lagi ada di mana? apa mungkin masih di pemakaman?" gerutu Dara pelan
Dia pun membuang nafasnya berat, dan menatap ke belakang tepat ke arah ruangannya Raina yang tertutup tirai. Namun isakan tangis dari dalam masih terdengar begitu jelas. Dara teramat kebingungan, dia pun membuang nafasnya begitu berat dan kembali menatap ke depan tepat ke arah jendela yang menampilkan pemandangan keluar rumah sakit."Baskara kemana sih, aku jadi bingung ngehadapinnya gimana. Saat ini Mba Raina membutuhkan waktu untuk sendiri, tapi jika dia terus terusan sendiri pun aku engga tega. Kalau aja sama Baskara dia pasti akan jauh lebih tenang" lirih Dara pelan
"Oke deh, aku coba lagi telpon dari pada mba Raina semakin berlarut dalam kesedihannya. Aku engga tega" ujar Dara lagi lalu kembali menelpon Baskara
Sambungan telpon terdengar beberapa kali, hingga tak lama pun Baskara mengangkatnya. "Hallo Baskara" ujar Dara segera
"Hallo? Dara ada apa?" jawab Baskara segera
Dara membuang nafasnya lega, merasa tenang karena sekarang Baskara sudah mengangkat telponnya. "Untung lah kamu sekarang angkat telpon nya" gerutu nya pelan
*******
Baskara keluar dari kantor polisi dan menatapi layar ponselnya tepat di menu log panggilan di mana ada nama "Perawat Hero" yang merupakan panggilan tak terjawab darinya.
"Kenapa dia telpon tadi ya? hah malah engga sempet aku angkat lagi" gerutu Baskara pelan sembari kebingungan
Tak lama Baskara pun kembali mendapat telpon dari Dara, Baskara saat itu langsung mengangkat panggilan telpon nya. "Hallo? Dara ada apa?" gerutu Baskara segera
"Baskara.. kamu lagi di mana" tanya Dara dengan tatapan serius
"Aku masih ada di kantor polisi nih, habis laporin kasus kebakaran yang janggal itu. Ternyata bukan hanya Raina yang lihat ada beberapa orang berpakaian hitam di malam kejadian, beberapa warga lain pun yang merupakan korban dan orang dekat korban melapor mereka melihat beberapa orang berpakaian hitam sebelum kebakaran itu terjadi. Aku pun semakin yakin untuk melaporkan kasus itu, tapi mereka seakan menolak untuk laporan nya. Para polisi mengatakan bahwa korban korban yang berkata seperti itu hanya halusinasi akibat trauma yang berlebih. Tapi aku merasa polisi itu menyembunyikan sesuatu, dia mengatakan padaku kalau 7 hari lagi keputusannya akan ada. Keputusan antara kasus ini di tindak lanjuti atau tidak, karena mereka pikir tuduhan tuduhan seperti ini bisa jadi acuan bahwa kami mencurigai pemerintah" jelas Baskara lagi menjelaskan secara detail
Dara membelalak "Apa? kok bisa mereka mengatakan para korban berhalusinasi? kurang ajar, mereka tak seharusnya berkata hal kasar seperti itu! apa lagi keputusan laporan akan di tindak lanjuti setelah 7 hari? yang bener aja. Jangan jangan emang bener nih Baskara, mungkin emang pemerintah dalang di balik semua ini! kita harus semakij bertindak nih" gerutu Dara lagi dengan suara pelan supaya tidak ada orang lain yang mendengar
Baskara mengangguk angguk setuju "Yap, aku juga jadi berpikir buruk seperti itu. Tapi sebaiknya kita jangan berspekulasi seperti itu dulu sebelum buktinya terungkap. Kamu juga jangan dulu mengatakan hal hal yang sembarang ya" jelas Baskara dengan suara yang menenangkan Dara seketika
Dara terlamun dalam suara Baskara, suara serak dan beratnya mampu membuatnya berhalusinasi jauh. "Ini suara manusia apa bukan sih? kok bikin aku tenang banget sih" gerutu Dara dalam hatinya
"Dara? kamu denger aku kan?" ujar Baskara dari sana
Dara pun segera bangun dari hayalannya dan kembali fokus ke telpon "Ya ya, aku denger Baskara. Aku engga akan bicara sembarangan kok, apa lagi soal pemerintahan. Bisa bisa kita berakhir di penjara iya kan?" senyum Dara terlihat malu malu
"Hmm iya iya syukurlah kalau kamu paham, ehh betewe kamu kenapa barusan nelpon? udah gitu tadi ada panggilan tak terjawab lagi" tanya Baskara dengan serius
"Ya tuhan, aku kok lupa sama tujuan aku sih ishh! malah keasyikan ngomong sama Baskara" gerutu Dara dalam hatinya sembari menepuk keningnya pelan dan tersenyum bodoh
Dara lalu menatap ke belakang tepat ke Raina yang masih menangis "Hmm tolong cepet ke rumah sakit ya Baskara, di sini darurat banget. Maaf aku barusan malah lupa mau omongin hal pentingnya" ujar Dara pelan dengan suara lirih seakan merasa dirinya salah
"Ke rumah sakit sekarang? darurat? ada apa Dara?" tanya Baskara lagi dengan tatapan khawatir dan perasaan sudah tidak enak
Dara menarik nafasnya cukup dalam "Pacarnya mba Raina yang sejak kemarin mba Raina tunggu, ternyata dia udah meninggal. Barusan ada ibu ibu mungkin dia ibunya pacar mba Raina, dia kesini marah marah dan memaki mba Raina dia mengatakan menyesal karena dulu mengijinkan anaknya untuk berpacaran dengan mba Raina, Mba Raina bersedih dan terpukul dia menangis sampai saat ini dan aku engga bisa redain tangisannya. Orang orang di sini yang merasa terganggu sama kehadiran ibu itu mereka langsung mengusirnya, tapi ibu ibu itu engga terima hingga terlibat jambak menjambak dengan ibu ibu lain yang menegur. Aku yang waktu itu baru datang karena mengambil perban dulu, aku langsung memisahkan ke duanya dan mengusir ibu ibu pacarnya mba Raina itu" jelas Dara panjang lebar dan membuat Baskara membelalak tidak percaya
"Apa? jadi ibu Eva ke sana? jadi sekarang Raina udah tau semuanya? tentang kematian Evan? kamu serius Dara?" tanya Baskara bingung
"Ya, aku serius. jadi kamu udah tahu tentang kematian pacarnya mba Raina?" tanya Dara refleks
Baskara mengangguk dengan suara nafas yang berat "Ya aku tau, saat aku ke pemakaman aku engga sengaja lihat nama Evan yang merupakan pacarnya Raina di sana. Aku gak nyangka banget ternyata Evan sudah meninggal, aku pun bingung apa penyebab kematiannya. Aku juga bingung bagaimana cara menjelaskan nya pada Raina. Tapi sekarang dia sudah tahu, rupanya ibu Eva datang ke sana dan memaki maki Raina. Dia tega sekali" lirih Baskara sendu
Dara terlihat kesal setelah mengingat ibu ibu tadi "Iya emang dia ngeselin banget! mana bikin kerusuhan di rumah sakit mana maki maki mba Raina. Dia engga waras kali. Oke pokonya sekarang kamu cepet ke sini dan buruan tenangin mba Raina aku engga tega lihatnya nangis mulu" jelas Dara lagi
"Iya iya ini aku lagi mau naik motor, udah dulu yaa aku ke sana sekarang" jelas Baskara setelah menaiki motornya
Dara lalu mengangguk angguk refleks "Oke aku tutup telpon nyaa yaa" gerutu Dara lalu menutup sambungan telponnya
"Oke" jawab Baskara refleks
"Hati hati di jalan" gerutu Dara tersenyum sembari menatapi layar ponselnya yang sudah mati
Dara pun membuang nafasnya berat lalu kembali menatap ke belakang tepat di mana Raina masih menangis di balik ruangan itu. Dara menatapi nya sendu penuh kekhawatiran. "Aku engga begitu tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat amat kita cintai, tapi melihat mba Raina aku menjadi paham betul bagaimana rasanya tanpa harus benar benar terjadi di hidup ku. Ujian kalian benar benar berat, tapi setelah aku bertemu dengan kalian aku menjadi ingin lebih bersyukur dan menjalani kehidupan ini dengan banyak bersabar. Kalian orang orang kuat, aku merasa begitu bangga bisa bertemu dengan kalian. Apa lagi dengan mu, Baskara" lirih Dara dalam hatinya lalu kembali menatapi keluar Jendela dengan tatapan sendu di sorot matanya
*****
Polisi tadi rupanya memperhatikan Baskara saat sedang menelpon dengan tatapan tajam lalu beberapa detik setelah Baskara beranjak pergi ia tersenyum merekah. "Dia kayaknya menerima berita buruk, dan beberapa hari ke depan lagi berita buruk akan semakin bermunculan pada mu bapak tentara so jagoan! tunggu saja dan lihat saja" senyum dia dengan jahatnya
*****
Baskara melewati jalanan macet dengan kebut kebutan, perasaannya sudah kacau saat tahu adiknya sekarang sedang menangis atas kematian kekasihnya. Baskara mencoba untuk menenangkan dirinya dan lebih fokus ke jalanan namun dia tetap saja khawatir.
"Kamu sekarang sudah tau ya Raina, sabar dek! abang datang sebentar lagi. Kamu jangan bersedih sendirian! abang engga akan biarin itu" gerutu dia sembari semakin cepat melajukan motornya
Hingga tak terasa akhirnya dia pun sampai di rumah sakit, Baskara segera memarkirkan motornya di parkiran umum. Saat dia hendak bergegas ke dalam rumah sakit dia melihat beberapa orang yang berkerumun di luar.
"Eh bu tolong deh jangan ikutan ikutan urusan saya! dari tadi anda bisanya cuma ikut ikutan! emang situ siapa si Raina hah? jangan jangan so jadi ibu peri nya gitu?" teriak seorang ibu ibu yang berada di tengah tengah mereka
Baskara jelas tahu dengan suara si ibu itu, dia melangkahkan kakinya perlahan untuk melihat lebih jelas lagi siapa yang berteriak teriak itu. "Ibu Eva?" lirih Baskara pelan sembari semakin mendekat
"Bu! jaga attitudenya! sekali pun anda ini bangsawan peraturan tetaplah peraturan bu! jangan seenaknya di sini" teriak ibu lainnya lagi menjawab
Saat Baskara melihat jelas ternyata memang benar di sana ada ibu Eva yang terlihat sinis menatapi ibu ibu lain yang di sebutnya sebagai ibu peri. "Si Raina itu mantan menantu yang membawa kesialan! anda jangan ikut campur sama masalah saya, sekali pun sekarang dia terlihat lemah dan terbaring di rumah sakit saya engga peduli! yang pasti dia yang udah bunuh anak saya Evan! satu satunya anak saya yang saya miliki. Kalian pikir apa hah? saya marah dan bersedih karena saya cuma satu anak dan si Raina sialan itu udah bunuh anak saya" teriak ibu Eva semakin lantang menatapi ibu ibu itu sinis
Baskara terasa kesal dengan setiap ucapan yang ibu Eva katakan tentang adiknya, setelah semua kebaikan yang selalu Raina berikan pada Evan, ibu Eva dan ayahnya Natan rupanya tak membuat ibu Eva membuka mata. "Permisi bu Eva, apa maksud anda dengan menjelek jelekan adik saya seperti itu? Dia juga sama sama korban dari tragedi kebakaran itu, dia juga sama sama terluka dan memiliki luka berat! apa lagi setelah kematian orang tua kami dan sekarang Evan, dia sangat terpukul atas itu semua bu! lantas dari mana alasannya sehingga ibu mengatakan bahwa kematian Evan karena Adik saya Raina?" tanya Baskara lalu membuat deretan deretan orang yang berkerumun itu menjauh dan hanya menyisakan ke duanya yang kini saling tatap menatap tajam
"Bener tuh! apaan sih malah nyalah nyalahin orang? toh ini emang kejadian mengerikan yang jelas jelas engga di mau oleh semua orang"
"Tau tuh ibu ibu itu udah engga Waras kali"
"Dari tadi teriak teriak mulu kayak orang yang kerasukan! mana nyalahin orang yang lagi sakit"
"Penyebab kematian seseorang kan belum tentu dia yang membunuhnya"
Begitu lah reaksi orang orang di sekitar yang kini justru menatapi bu Eva sinis dan sangat tidak suka dengan attitude nya yang buruk. Bu Eva lantas tersenyum puas pada semua dan menatapi Baskara sinis.